
Pada saat makan siang sehabis shalat Jum’at, kami kebetulan makan bersama dengan ustadz-ustadz Al-Hikmah yang lain, namun lain meja. Sehabis makan, karena kebiasaan di rumah atau di pondok, kami membiarkan saja piring-piring dan gelas tergeletak begitu saja di atas meja seperti kapal pecah (yang makan delapan orang), dan kami akan beranjak pergi untuk pamit pulang kepada pimpinan SMA Al-Hikmah di ruang kerjanya. Namun, sebelum kami benar-benar meninggalkan meja, Ustadz Mukhtar mendatangi kami, “Ustadz, kami biasa membereskan peralatan makan sehabis isinya dimanfaatkan,” ujar beliau sopan disertai dengan senyuman. Hik!
Ada tiga indikator kebersihan yang diterapkan di Al-Hikmah: bebas sampah, bebas debu, dan bebas noda. Di setiap ruangan di Al-Hikmah terdapat lembar kontrol kebersihan. Dalam lembaran itu tercatat semua jenis barang yang ada di ruangan itu, misalnya lantai, dinding, meja-kursi, dan sebagainya. Jika selesai dibersihkan, petugas akan memberikan tanda centang pada item yang telah dibersihkan sesuai dengan tanggal yang tertera. Maka kontrol pimpinan tinggal melihat lembar itu dan memeriksa apakah tiga indikator tersebut sudah terpenuhi. Dan selama saya berada di sana, satu pun tidak pernah saya temui ada sampah liar yang dibiarkan. Menurut Ustadz Edy, di setiap lantai terdapat satu orang yang bertanggung jawab menjaga dan memelihara kebersihan dan kerapihan.
Al-Hikmah juga bebas rokok. Ketika rombongan studi visit dan magang baru tiba di Masjid Al-Akbar Surabaya, salah seroang staf Al-Hikmah telah berpesan agar jika tiba di Al-Hikmah nanti mohon tidak ada yang merokok. Walhasil ketika rombongan tiba, beberapa “ahli hisap” dari Annuqayah harus berpuasa tidak merokok. Pada hari pertama magang, pesan sebaiknya tidak merokok juga diulang lagi oleh Ustadz Mukhtar yang mengantar jemput kami. “Jika tidak ingin ditegur murid-murid, sebaiknya yang “ahli hisap” menahan tidak menghisap dulu”, katanya sambil bercanda.
Selama saya di sana, saya belum mendapatkan kekurangan di Al-Hikmah. Kecuali satu: jika sekarang saya punya anak, mustahil saya bisa menyekolahkan anak saya ke SMA Al-Hikmah. Tentu saja karena saya tidak punya duit satu juta lima puluh ribu rupiah tiap bulan untuk SPP-nya saja. Tapi jika saja saya diterima di Al-Hikmah sebagai karyawan, minimal sebagai tenaga kebersihan, maka tiap bulan saya mendapatkan penghasilan satu juta lebih. Apalagi bisa jadi ustadz. Anak saya bisa sekolah di sana dengan hanya membayar SPP 10 %-nya saja. (Habis)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar