Jumat, Maret 20, 2015

Oase Keteladanan K.H. A. Warits Ilyas: Sebuah Ringkasan Buku



M. Faizi, PPA Al-Furqaan

“Gumpalan emosi tersebut membuat saya tidak ada keinginan mengkritik annuqayah menurut kebenaran subyektif saya, lebih-lebih menyerang dan menejelek-jelekkan program dan individu pemangku-pemangku kewenangan di Annuqayah”. Demikianlah salah satu kutipan dalam buku Oase Keteladanan K.H. A. Warits Ilyas yang ditulis oleh Jufri Halim, salah seorang alumni Pondok Pesantren Annuqayah (daerah Lubangsa) pada halaman 63. Buku yang diterbitkan secara kerjasama oleh Q-Media dan IAA Press ini berjumlah 131 halaman, berisi 20 tulisan ditambah satu pengantar dan satu bagian lagi perihal profil Kiai Warits.

Itulah salah satu petikan esai Jufri Halim, salah seorang alumni Annuqayah yang kini menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Dalam kesempatan terpisah, Jufri mengakui bahwa alasan mengapa ia juga memondokkan anaknya di Annuqayah adalah karena tabarrukan. Di samping itu, alasan ketertarikan lainnya adalah karena ia juga tahu bahwa satu hal yang tatap bertahan di pesantren yang berdiri sejak tahun 1887 ini adalah shalat berjamaah 5 waktu dengan imam langsung oleh pengasuh.

* * *                  

Artikel ini dibuat sebagai ringkasan buku “Oase Keteladanan K.H. A. Warits Ilyas” yang diterbitkan oleh IAA (Ikatan Alumni Annuqayah) atas kerjasama dengan Q-Media. Gagasan penerbitan buku ini muncul dari alumni dan atas restu dari keluarga besar almaghfurlah. Karena bersifat ringkasan, maka tulisan ini pun dibuat seringkas mungkin. Tujuannya adalah agar para santri yang belum sempat membaca dan memiliki buku yang dicetak terbatas ini dapat menimba teladan-teladan dari KH. A. Warits Ilyas agar juga dapat ditiru dan diterapkan dalam kehidupan. Artikel dibagi menjadi beberapa paragraf dengan persesuaian atas tema keteladanan.

DISIPLIN: tentang kedisiplinan Kiai Warits, Busri Toha menyatakan bahwa ia pernah mendapatkan testimoni dan pembenaran yang mengukuhkan bahwa nyaris tak ada anggota dewan (beliau pernah duduk di kursi dewan kabupaten Sumenep)—yang dapat meniru kedisiplinan ketua DPC PPP tersebut: datang dan pulang tepat waktu. Bukan hanya dalam hal itu saja, bahkan untuk menghadiri shalat berjamaah pun juga demikian, seperti ‘hadiran’ yang selalu jatuh pada pukul 13.00. Pernyataan Busri ini juga didukung oleh Ali Wafa dalam tulisannya yang berjudul ‘Tak Susah Dapat Barokah’.

LISANUL HAL: Kiai Warits adalah teladan dan panutan umat. Ia merupakan contoh yang tidak perlu diragukan lagi dalam banyak hal, namun langsung dapat disaksikan. Menurut Kiai Wafi Nuh, beliau adalah teladan yang nyata. Sesuai nama, Kiai Warits seolah-olah telah diproyeksikan sebagai pewaris ayahnya, yakni almaghfurlah Kiai Muhammad Ilyas Syarqawi. Dalam istilah Drs. Thabrani Rasyidi, beliau senantiasa mendidik santri dan umat dengan dengan ‘lisanul hal’, dengan praktik dan sikap.

PENDIDIK: sebagai pendidik, Sirajuddin Syamsul Arifin menjelaskan kemampuan Kiai Warits melalui frasa ‘tokoh yang inspiratif dan kreatif’. Pengalamannya yang sangat berkesan adalah manakala, suatu waktu, dia mengaji Ihya Ulumiddin kepada almaghfurlah. Pada saat itu, beliau menunjukkan sebuah kamus populer bernama Kamus Al-Munjid. Tidak hanya itu, Kiai Warits juga menjelaskan cara menggunakan kamus tersebut, padahal pelajaran yang sedang berlangsung ketika itu adalah tema tasawuf. Kiai Warits mengajar dengan metode yang kreatif, melibatkan banyak disiplin ilmu untuk satu contoh pembahasan.

Ahmad Sahidah, alumni yang notabene mahasiswa dan kini menjadi dosen filasat, mengaku bahwa ia justru mengenal nama Plato dan Aristoteles pertama kali dari Kiai Warits ini di saat beliau mengajar ilmu mantiq (logika) di tingkat madrasah aliyah. Itulah sosok Kiai Warits yang menurut Hasani Asro merupakan figur yang serbabisa; sebagai ulama, politisi, sekaligus pendidik.

SEMPAT: jika semua contoh di atas adalah bentuk keteladanan tersurat, maka di antara keteladanan Kiai Warits yang tersirat adalah ‘sempat’. Menurut Syamsul Arifin, jika Kiai Warits selalu ‘sempat’ itu disebabkan karena prinsip, bukan lantaran lowong dan menganggur. ‘Sempat’ hanya akan dimiliki oleh orang yang memiliki dedikasi tinggi. Kiai Warits yang terpandang sebagai tokoh dan berkedudukan tinggi sebagai pemimpin dan panutan namun selalu sempat untuk menunaikan berbagai kegiatan, di antara kesibukannya mengisi pengajian, tahlilan, mulang, ngantor (sebagai anggota DPRD maupun MPR-RI). Persaksian ini juga diamini oleh Bakir Ihsan (editor buku) yang juga menyatakan bahwa hampir setiap pagi, saat ia mondok dulu, ia melihat Kiai Warits dibonceng ke Sumenep untuk ‘ngantor’ di gedung dewan, namun tetap disiplin dan aktif mengimami masjid untuk shalat berjamaah 5 waktu.

Meskipun begitu, di antara kesibukan yang seabrek itu, Kiai Warits masih sempat ‘mulang’ Alquran secara ‘sorogan’ (satu per satu). Pengalaman yang dialami oleh Ahmad Taufik yang dituliskannya di dalam buku ini terurai bahwa sikap kiai tidak didoktrinkan kepada santri, termasuk dalam mulang Alquran, seperti membetulkan bacaan, namun diteladankan. Adakalanya kiai menegur melalui cara bagaimana santri bisa menyadari dan menemukan kesalahannya sendiri sehingga terdorong untuk memperbaikinya. Dalam hal bacaan Alquran, Kiai Warits terutama memberikan perhatian serius pada panjang pendeknya bacaan. Kesan ‘mengaji Alquran secara langsung kepada pengasuh’ dirasakan begitu kuat oleh banyak santri, termasuk oleh Muhdori AR. Ia merasakan baroakah pengajaran Alquran sebagai warisan dari Kiai Warits hingga ia menjadi pengajar Alquran dan menjadi salah satu imam Masjid Istiqlal.

TEGUH PENDIRIAN: menurut Kiai Syafiie Anshori, Kiai Warits terkenal teguh pendirian, termasuk dalam berpolitik, yaitu di PPP, meskipun beliau juga menjadi bagian dari ‘tim lima’ waktu pendirian PKB. Dalam keseharian, sikap teguh pendirian juga ditampakkan, misalnya, dalam menggunakan fasilitas negara. Di dalam buku ini, pengalaman Ida Royani yang menjadi saksi bahwa Kiai Warits sama sekali tidak pernah mau menggunakan mobil dinas untuk kepentingan pribadi ditulis dengan bahasa yang renyah. Hal serupa juga dibenarkan oleh pernyataan Hodri Ariev yang juga mengalami kisah serupa, yakni pada suatu waktu ketika Kiai Warits diundang para alumni. Saat dijemput dengan mobil plat merah, beliau menolak dan memilih kendaraan lainnya.  

Menurut Muqiet Arief, beliau termasuk sosok yang sangat bisa menempatkan diri untuk bertutur dan bertindak seperti apa dan di tempat yang mana. keteguhan sikap itu adalah bentuk memperjuangkan pesantren demi izzul Islam, bukan membawa-bawa nama lembaga sebagai kebanggaan namun justru untuk membesarkan diri sendiri.

Bagi masyarakat awam, prinsip semacam ini, sepintas akan tampak kaku, demikian komentar Hodri Ariev, padahal menurutnya, semua itu merupakan akibat daripada sikap sangat berhati-hati dan konsisten. Kiai Warits adalah contoh tokoh nyata yang terhadap hal-hal syubhat pun jelas tidak mau kompromi, apalagi untuk yang haram. “Dan sejauh yang saya tahu,” tulis Hodri, “ini adalah praktik masyayikh Annuqayah (secara umum).”

Beda perspektif dari sebelumnya, kesan teguh pendirian di mata Ahmad Sahidah (seorang alumni yang kini menjadi dosen di Universiti Utara Malaysia) tampak terutama dalam hal mempertahankan nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah.  Dalam sebuah kesemnpatan nyabis (sowan), Ahmad mengaku mendengar bagaimana  beliau sangat masgul kala ada kabar santri yang bergabung dengan sebuah pesantren dan menurutnya berbeda dengan ajaran ‘aswaja’ sebagaimana ditanamkan di Annuqayah.

Itulah sebagian pandangan para alumni akan keteladanan KH. A. Warits Ilyas yang dapat dicontoh. Butir-butir teladan di atas merupakan pandangan umum. Namun begitu, ada pula jenis tulisan lain yang bersifat kesan-kesan, di antaranya seperti yang ditulis oleh Jamal D. Rahman. Jamal merasakan kesan mendalam karena Kiai Warits merupakan kiai daripada dirinya, istri, sekaligus orang yang menikahkannya. Menurutnya, kamatangan seorang figur telah dicapai oleh Kiai Warits dalam usia yang barangkali masih belum lagi genap 30 tahun.

Tentu, situasi semacam ini akan berat bagi sembarang orang. Hanya figur yang matanglah yang siap mengembannya. Kesan itulah yang ditulis alumni yang lain, Mohammad Nabil. Ia menyatakan kesan pribadinya saat masih kecil dulu, ketika ia suka menyelusup masuk ke lingkungan ndalem pengasuh. Nabil mencatat dengan baik: “Seperti yang saya ketahui, trahnya adaklah trah raksasa yang menaklukkan penjajah belanda. Tak satu pun orang meragukan itu, setidaknya bagi yang tahu tentang lembaran sejarah Annuqayah, warisan luluhurnya. Lahir dari trah raksasa bukanlah hal yang mudah karena banyak beban sejarah yang harus ditanggung; kebesaran, herioisme, kesuksesan, dan kisah-kisah lain tentang pengabdian pada ummat.”

Satu-satunya tulisan yang berbeda dari semua esai yang ada di dalam buku ini adalah karya Sofyan RH Zaid. Sofyan menyampaikan kesan-kesannya dalam bentuk sajak. Dalam buku ini, ada dua karyanya yang dimuat; Suluk Salak dan Fajar Bermata Bulan. Sajaknya pun menggunakan metrum persamaan jumlah suku kata dan persamaan rima untuk setiap barisnya sehingga terciptalah saja yang sangat mirip dengan syair yang menggunakan bahar.

Adapun kesan  penutup ditulis oleh alumni senior, KH Muzakki Zain. Pada epilog bunga rampai ini, Kiai Muzakki mengungkapkan pengalaman pribadinya dalam mengenal sosok Kiai Warits yang menurutnya sudah tidak perlu diragukan lagi untuk ditahbiskan sebagai sosok yang tawaduk, menghargai pemberian orang lain, dan mengedepankan kepentingan umum. Kiai Muzakki bahkan berharap, keteladanan beliau dapat menjadi ‘nafas Indonesia’.

2 komentar:

Wahyu mengatakan...

Membaca tulisan ini, saya merinding, masih kah ada sosok seperti beliau di masa sekarang. Tulisan ini juga membuat saya ingin merasakan belajar di Annuqayah, tempat jauh dipelosok yang menghadirkan lulusan terbaik bagi negeri. Ah, kenapa saya ngga kenal Annuqayah saat masih SD dahulu, sehingga saya bisa mondok di sana.

Aby Kembar mengatakan...

subhanallaahhhh