Kamis, Januari 26, 2012

Ibnu Hajar: Mengajar Bahasa Arab Harus Profesional


Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Bahasa Arab mendapatkan tempat yang istimewa dalam Islam, sebab sumber utama ajarannya berupa Al-Qur’an dan Hadis Nabi menggunakan bahasa Arab. Karena itu, upaya peningkatan mutu pembelajaran bahasa Arab harus terus dilakukan.

Bertitik pijak pada alasan itulah ketua Markaz Bahasa Arab Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Ibnu Hajar, menggelar Pelatihan Mengajar Bahasa Arab selama dua hari, tepatnya pada tanggal 18-9 Januari 2012 atau 24-25 Shafar 1433 kemarin.

Pelatihan ini ditempatkan di salah satu ruangan di Lantai II Sekretariat Bersama Annuqayah. Ada 30 peserta yang mengikuti kegiatan ini; 20 pengurus Markaz Bahasa Arab Annuqayah dan 10 orang delegasi dari lembaga bahara Arab yang ada di pesantren-pesantren daerah di Annuqayah.

“Fasilitator dalam pelatihan ini ialah orang-orang yang memang sudah ahli dalam penguasaan pengajaran bahasa Arab. Mereka sama-sama alumni pengurus Markaz Bahasa Arab Annuqayah, yaitu KH Muhammad Muhsin Amir dan Fathorrachman Utsman,” tutur Ibnu Hajar saat diwawancarai Senin (23/1) pagi di rumahnya, Errabu, Bluto, Sumenep.

Sebenarnya, lanjut mantan Penasihat Perpustakaan Annuqayah Latee itu, pelatihan tersebut hendak mendatangkan 3 fasilitator. Karena berhalangan, seorang fasilitator, yakni K M. Naqib Hasan, tidak bisa menemani peserta belajar materi Pembelajaran Insya’ (mengarang) dan Muthola’ah (membaca).

“Namun begitu, Kiai Naqib (sapaan K M. Naqib Hasan, red.) menyanggupi kepada kami untuk mengajari peserta di lain kesempatan. Dan saya beserta teman-teman pengurus Markaz mengamini kesudian beliau,” tambah Ibnu Hajar dengan wajah serius, tanpa senyuman.

Adapun materi yang disampaikan oleh KH Moh Muhsin Amir dan Fathorrachman Utsman masing-masing ialah Metode Pembelajaran Bahasa Arab serta Model dan Strategi Pembelajaran Efektif.

“Kedua fasilitator tersebut mampu menarik hati semua peserta. Selama pelatihan dan pemaparan materi berlangsung, sulit dijumpai adanya peserta yang kurang serius mendengarkan dan mengikuti pelatihan secara utuh,” tambah mantan pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah itu.

Di samping kendala seorang fasilitator yang berhalangan hadir, ada kendala lain.

“Kendala tersebut berupa informasi dadakan dari Kiai Muhsin (sapaan KH Muhammad Muhsin Amir, red.) bahwa dirinya tidak bisa hadir Rabu pagi sebagaimana jadwal dari panitia. Akhinya, kami pun memindahkan pada sesudah Ashar hingga menjelang Magrib,” beber pemuda yang Desember kemarin didaulat sebagai Juara 1 Lomba Debat Ilmiah Bahasa Arab Internasional di UIN Malik Ibrahim Malang.

Kendala yang bersumber dari fasilitator pertama tersebut berdampak pada kendala lain, yaitu tersendatnya peminjaman LCD proyektor milik Annuqayah karena sore harinya dipakai dalam kegiatan di putri.

“Di surat peminjaman yang kami layangkan ke pengurus pusat Annuqayah, waktunya ialah pagi hari. Karena pagi hari Kiai Muhsin yang menjadi kepala MA 1 Annuqayah Putri ada rapat, jadinya beliau mohon dipindah ke sore harinya. Jadi kami masih harus mencari pinjaman LCD proyektor untuk Rabu sore,” keluh Ibnu Hajar.

Untunglah, Ibnu Hajar dan pengurus Markaz yang lainnya sigap mencari jalan keluar atas kendala yang menimpa pelatihan. Mereka langsung melayangkan surat permohonan peminjaman LCD proyektor ke MA 1 Annuqayah Putri. Dan alhamdulillah disetujui.

Dana yang dikeluarkan dalam pelatihan ini ialah Rp. 350 ribu bersumber dari kas Annuqayah. Kendatipun dananya tidak begitu besar, Ibnu Hajar menyatakan bahwa ilmu yang diperoleh dari pelatihan yang juga diikutinya itu amat besar sekali.

“Sejenak saya melakukan refleksi. Kemudian saya sadar bahwa hasil yang besar tidak harus diraih dengan dana yang besar,” tuturnya sembari mengembangkan senyuman.

Rabu, Januari 25, 2012

Zolinfil, Muhadlarah Puncak Mahasiswa Latee II


Imlaul Hasanah, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Senin (23/1) kemarin, Muhadlarah Puncak untuk mahasiswa di PPA Latee II dilaksanakan. Kelompok Zolinfil yang dipelopori oleh kelompok dua tampil menunjukkan performance segar mereka dengan bertemakan lingkungan.

Beragam tetumbuhan yang mereka kumpulkan berhasil menyulap  Mushalla ar Rahmah Latee II  tidak seperti hutan-hutanan. Konsep ruang yang didominasi daun berwarna hijau segar dan sebagian kecil berwarna kuning kering kecokelatan menjadi pilihan cerdas mereka, menggambarkan kelapukan alam dan aroma segar kehidupan.

Tidak sebagaimana mestinya, muhadlarah puncak kali ini dilaksanakan dua hari lebih awal dari jadwal semula. Ada beberapa alasan: pertama, selama pelaksanaan class meeting MA 1 Annuqayah Putri (mayoritas siswa Latee II tercatat sebagai pelajar MA 1 Annuqayah Putri), muhadlarah siswa libur selama dua pekan. Kedua, berkenaan dengan rampungnya pelaksanaan ujian Madrasah Diniyah Latee II semester pertama, maka selama satu minggu kegiatan belajar-mengajar dinonaktifkan. Oleh karena itulah pelaksanaan muhadlarah puncak digelar lebih awal.

Kelompok ini menamakan diri mereka Zolinfil. Menurut penuturan Khalisatun, ketua kelompok Zolinfil, kata ini berasal dari bahasa Biologi, yakni zo yang berarti akar, lin yang berarti batang, dan fil yang berarti daun.

Kami ingin kita semua peduli lingkungan mulai dari hal yang paling mendasar, yakni mulai dari menyayangi akar, batang, dan juga daunnya,”  jelas Khalisatun dalam sambutannya.

Jika kelompok Florecita (muhadlarah sebelumnya) menyuguhkan duet karaoke, maka kelompok ini memilih judul  lagu “agaya  jhe’ ra-sara” sebagai penampilan yang menyelingi pidato dengan juga menampilkan video klip lagu tersebut. Performance mereka yang satu ini mengundang tawa tak berkesudahan. Di samping para personil yang memang berbakat melawak (Kutsiya, Tiniyatun, Muthiatul Khairiyah, Qurrotul farohah, dan Kalisatun), video klip lagu ini memang sangat lucu dan menghibur.

Setelah melalui sesi orasi, tiba giliran mereka untuk menampilkan drama ilmiah yang dalam setiap muhadlarah selalu dinantikan. Drama ilmiah yang diberi judul “Bumi Menangis” dipentaskan cukup apik oleh para personil Zolinfil yang berkisah tentang hutan Babilon dan usaha untuk melestarikan serta melindungi hutan tersebut. “ Mari mencintai bumi,” teriak mereka di akhir kisah.

Pengurus Marla Banat Adakan Sosialisasi Program


Husnul Khatimah Arief, PPA Latee II

GULUK-GULUK—Perjalanan kepengurusan Markazul Lughah al-‘Arabiyah Puteri (Marla Banat) sudah menginjak bulan ketiga. Beberapa program yang dicanangkan oleh pengurus sudah ada yang terealisasi sesuai dengan rencana. Untuk melangkah pada bulan-bulan berikutnya, pengurus Marla Banat memandang perlu untuk mengadakan sosialisasi program pada seluruh anggota Bahasa Arab di Annuqayah guna memperkenalkan program-program yang sudah direncanakan tersebut.

Tidak sebagaimana umumnya sosialisasi program yang mesti dilakukan di awal periode kepengurusan, pengurus Marla Banat pada Senin kemarin (23/1) baru melakukan sosialisasi program setelah dua bulan berlalu masa kepengurusan. Hal ini karena pada dua bulan sebelumnya kegiatan Marla Banat yang perlu direalisasikan hanya satu program yaitu Ta’lim Usbu’iyah yang diisi langsung oleh Syaikh Shalah Wahbah yang merupakan kelahiran Mesir sekaligus alumni al-Azhar Kairo. Kegiatan ini memang sudah terealisasi pada periode sebelumnya.

Pengurus periode kali ini yang dipimpin oleh Hikmatun, santri PPA Lubangsa, hanya melanjutkan program tersebut. Jadi menurutnya, tidak ada masalah bila sosialisasi ini baru dilakukan kemarin. Peserta yang mengikuti Ta’lim Usbu’iyah ini adalah seluruh anggota Markazul Lughah al-‘Arabiyah.

Pengurus Marla Banat membentuk sosialisasi menjadi semacam rapat yang di dalamnya melibatkan seluruh pengurus Marla Banat, Ketua Pengurus dan ketua cabang bahasa Arab di masing-masing daerah di Annuqayah. Pada pertemuan ini hadir tujuh orang ketua cabang Bahasa Arab dan ketua pengurus yang meliputi ketua Raudlatul Lughah al-Arabiyah PPA Latee II, ketua Syu’bah al-Arabiyah PPA Lubangsa Putri, ketua an-Nasyath PPA al-Furqan, ketua an-Nabilah PPA Lubangsa Selatan, ketua pengurus Karang Jati, ketua pengurus Nirmala dan ketua pengurus Lubangsa Tengah.

Pada kesempatan itu, Hikmatun mengenalkan program-program yang dirancang oleh beberapa qism (divisi) yang terdapat di kepengurusan Marla Banat, yakni Qismu at-Ta’lim wa at-Tarbiyah (divisi Pembelajaran dan Pendidikan), Qismu at-Tahrik wa at-Tasyji’ (divisi Penggerak dan Motivasi), dan Qismu al-Ishdar (divisi Penerbitan). Hanya saja, ia menyosialisasikan program yang bersangkut paut dengan cabang bahasa Arab, seperti Kursus Intensif, Ta’lim Usbu’iyah, Halaqah Arabi, Diklat Arabi, Gebyar Arabi, Pentas Seni dan sebagainya.  

Hikmatun menyatakan bahwa selain untuk menyosialisasikan program kerja pengurus, rapat ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan cabang bahasa Arab. Dan yang tak kalah penting adalah melakukan sharing untuk memperbaiki program-program yang ada, karena partisipasi dari semua pihak, termasuk ketua pengurus dan ketua cabang bahasa Arab, sangat menentukan terhadap cerahnya masa depan Markaz.  

“Marla Banat saat ini membawahi cabang bahasa Arab di masing-masing daerah. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan cabang, tentu kami perlu mengadakan  rapat dengan mereka,” katanya setelah ditanya tentang maksud diadakannya rapat ini.

Ia melanjutkan bahwa sebagai bentuk kepedulian pengurus Marla Banat terhadap cabang-cabang bahasa Arab di Annuqayah, pengurus siap menjadi fasilitator bagi mereka yang membutuhkan, karena salah satu keluhan yang disampaikan oleh ketua cabang pada rapat kala itu adalah minimnya fasilitator di salah satu cabang yang kompeten di bidang bahasa Arab.

Di samping itu, pengurus membentuk program Halaqah Arabi yang ditangani Qismu at-Tahrik wa at-Tasyji’ guna meningkatkan kualitas bahasa Arab cabang. Dalam kesempatan ini, seluruh anggota cabang akan saling berkunjung untuk berbagi pengetahuan dan mengenalkan program masing-masing. Sederhananya, kegiatan ini bisa disebut studi banding antar cabang. Pengurus berharap dengan diadakannya Halaqah Arabi, anggota cabang semakin terstimulasi untuk meningkatkan kebahasa Arabannya.

Selasa, Januari 24, 2012

Mahasiswa Putri Tafsir-Hadits Instika Berlibur Sambil Belajar


Qiswatin Hasanah, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Mahasiswa putri Tafsir-Hadits semester I Instika mengisi liburan setelah ujian semester dengan berbagai bentuk kegiatan belajar. Kegiatan ini dimulai sejak Sabtu (22/1) lalu dan direncanakan berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa libur mahasiswa Instika, yaitu kira-kira di minggu ketiga Februari 2012.

Materi yang dipelajari ada tiga, yaitu baca kitab, Bahasa Inggris, serta jurnalistik. Untuk materi bahasa Inggris fokusnya hanyalah pada tata bahasa saja, karena waktu yang ada cukup terbatas.

Dari setiap materi, ada pembimbing yang menemani. Baca kitab dibimbing oleh Abdul Basith, S.Th.I dan Rafiq Syuja’, S.Th.I, M.Th.I, bahasa Inggris dibimbing oleh salah satu supervisor Aphrodite English Club (AEC), Lailatul Mukarramah, sedangkan untuk jurnalistik dibimbing oleh K. A. Maimun Syamsuddin, S.Ag, M.Ag. Kebetulan dia juga adalah Dekan Fakultas Ushuluddin Instika.

Kegiatan ini berawal dari saran Pak Maimun, sapaan akrab K.A. Maimun Syamsuddin, agar mahasiswa mengisi liburan panjang ini dengan sesuatu yang bermanfaat.

“Berlibur itu bukan berarti berhenti belajar, kita juga bisa belajar di tengah-tengah berlibur karena belajar sama halnya dengan berlibur juga,” tuturnya ketika menyampaikan petuahnya kepada mahasiswa semester I Tafsir-Hadits.

Mahasiswa Tafsir-Hadits semester I sangat antusias dalam mengikuti kegiatan, terbukti dengan keaktifan mereka ketika materi berlangsung. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena saat ini merupakan saat-saat libur  sehingga tidak ada beban tugas dan bisa fokus pada ketiga materi itu.

“Sekarang lebih tenang karena tidak ada tugas, jadi bisa lebih fokus,” ungkap mahasiswa semester I Tafsir-Hadits, Tsuwaibatul Islamiyah, ketika diwawancarai.

Dari kegiatan ini diharapkan mahasiswa dapat membaca kitab kuning dengan baik, paham dasar-dasar bahasa Inggris, dan bisa menghasilkan tulisan yang baik pula.

“Saya sendiri menginginkan teman-teman paham bahasa Inggris meski hanya dasarnya saja, juga bisa menulis,  dan yang paling utama adalah bisa baca kitab kuning karena kita akan selalu bergelut dengan kitabiyah sebagai mahasiswa Tafsir-Hadits,” lanjutnya seraya tertawa.


Festival Lan Fang Siap Meriahkan Temu Penyair BEM Putri Instika

Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

Guluk-GulukPanitia Temu Penyair se-Madura Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Putri Instika menyambut baik kerjasama dari Panitia Festival Lan Fang (FLF) untuk melaksanakan acara mengenang karya-karya mendiang sastrawan Lan Fang yang meninggal pada tanggal 25 Desember 2011 bertempat di Annuqayah.

Acara itu akan menjadi salah satu dari serangkaian acara Temu Penyair se-Madura pada tanggal 21-23 Februari 2012, bertempat di aula As-Syarqawi. Panitia temu penyair hanya menjadi tuan rumah, sedangkan untuk narasumber dan publikasinya ditanggung oleh panitia FLF.

Wina Bojonegoro, salah satu sahabat karib Lan Fang, mengungkapkan bahwa FLF sudah menyediakan format acara untuk mengenang Lan Fang, yaitu diskusi. Diskusi itu mengusung tema “Romantisme Karya-Karya Lan Fang”.

“Kami akan memasukkan ke agenda panitia FLF, karena malam Ahad (21/01) kami akan mengadakan rapat. Apabila dari panitia temu penyair memiliki format acara yang lain, tidak jadi masalah bila format acara dari kami tidak dilaksanakan,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari dinding Facebook Fandrik Ahmad, tanggal 21 Januari 2012.

Rosyiftul Ma’rifah, ketua BEM Putri Instika, menuturkan bahwa panitia temu penyair siap melakukan kerjasama. Namun, mengenai format acara, mereka masih ingin mengkonsultasikannya dengan K.M Faizi, penyair sekaligus pengasuh PP Annuqayah daerah Sabajarin, selaku dewan konsultan acara tersebut.

“Nanti sore kami melakukan rapat. Setelah itu kami akan mengkonsultasikannya kepada Kiai Faizi,” ungkapnya ketika diwawancarai pada Sabtu siang kemarin (21/01).

FLF adalah kegiatan sukarela yang digagas oleh kawan-kawan Lan Fang. Tujuannya ialah mengenang karya-karya sastrawan asal Surabaya yang meninggal di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura, karena mengidap penyakit kanker payudara.

Panitia FLF mengagendakan untuk mengadakan acara mengenang Lan Fang di berbagai tempat yang pernah atau sering disinggahi oleh Lan Fang. Karena Lan Fang pernah tiga kali ke PP Annuqayah, maka mereka ingin mengadakan acara di PP Annuqayah.

“Panitia FLF mempersilakan siapa saja yang mau jadi tuan rumah agenda sastra yang mau mendiskusikan atau mengapresiasi karya-karya Lan Fang,” lanjut Wina Bojonegoro.

Melalui Fandrik Ahmad, santri PP Annuqayah yang turut menyemarakkan Parade Cerpen untuk Sanie B Kuncoro yang pernah digagas oleh Lan Fang pada awal Juli tahun lalu, Wina Bojonegoro menawarkan agar PP Annuqayah juga bisa meyelenggarakan FLF.

Sejatinya, Wina Bojonegoro menawarkan tanggal 12 Februari acara FLF dilangsungkan di PP Annuqayah. Namun karena seminggu setelah tanggal itu BEM Putri Instika mengadakan acara temu penyair se-Madura, agar lebih semarak, Fandrik Ahmad mengusulkan untuk menggabungkan acara FLF dengan temu penyair. Dan, usulan itu diterima.  

Antisipasi Penyakit dengan Pengobatan Massal


Husnul Khatimah Arief, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Pengurus Departemen Kesehatan dan Kebugaran PPA Latee II mengadakan program pengobatan massal di serambi Mushalla ar-Rahmah Jumat kemarin (20/1). Program ini dilakukan setiap setengah bulan sekali. Pada kesempatan itu, santri mendapatkan jamu instan hasil olahan santri Latee II sendiri lengkap dengan air hangat.

Pada awal bulan, setiap blok di PPA Latee II memang ditugaskan untuk membuat jamu instan dari berbagai bahan, seperti laos, jahe, temulawak, kunyit, wortel dan sebagainya. Lalu pada minggu kedua, hasil olahan tersebut dibagikan pada santri yang berkenan meminumnya.

Pembuatan jamu instan yang diolah santri ini sangat sederhana. Santri mengolah satu bahan yang hanya dicampur dengan gula. Katakanlah temulawak dengan gula, jahe dengan gula, atau kunyit dengan gula. Sebelum pembuatan jamu instan, setiap blok akan menerima 2 kg bahan dari pengurus bidang kesehatan dan kebugaran untuk diolah.

Khasiat dari jamu instan yang diolah itu bermacam-macam, yaitu bisa menurunkan panas, penambah nafsu makan, menyembuhkan penyakit mata, penangkal diare dan mengurangi gatal-gatal.

Melalui pengobatan ini, pengurus menginginkan santri bisa menjaga kebugaran tubuhnya agar terhindar dari berbagai penyakit. Apalagi sekarang adalah musim hujan yang rentan menimbulkan penyakit. Tentu saja hal ini menjadi perhatian khusus seluruh pengurus, khususnya yang menangani bidang kesehatan. Mereka mengkhawatirkan kesehatan santri yang tidak terjaga akan meningkatkan kuantitas santri yang sakit.

Maka untuk mengantisipasi hal itu, pengurus berupaya mencegah potensi datangnya penyakit dengan menyediakan instan untuk kebutuhan santri.

“Saat ini santri memang rentan sakit. Terlebih penyakit diare. Ya mungkin karena saat ini musim hujan. Saya kira, wajar. Makanya, kami berusaha menjaga kesehatan santri dengan cara pengobatan massal ini,” tutur Daimah, Koordinator Kesehatan dan Kebugaran,  seraya memberi sebungkus jamu pada salah seorang santri.

Dalam kesempatan itu, sekitar 30 santri dari 600-an santri yang terdapat di PPA Latee II mendatangi serambi mushalla untuk meminta jamu instan. Sedikitnya santri yang datang disebabkan oleh minimnya jamu instan yang disediakan oleh pengurus Kesehatan dan Kebugaran, yaitu sekitar dua toples. 

Terbatasnya jamu instan yang tersedia, lanjut Daimah, juga tak lepas dari sedikitnya produk instan yang dihasilkan santri, sementara pengobatan massal dilakukan selama dua kali dalam sebulan. 

Senin, Januari 23, 2012

Muhadlarah Mahasiswa Latee II Kembali Digelar

Imlaul Hasanah, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Jum’at, 20 Januari 2012, Mushalla Arrahmah Latee II kembali semarak dengan dilaksanakannya muhadlarah mahasiswa keempat yang diprakarsai oleh kelompok V dengan mengusung tema pernikahan dalam Islam. Kegiatan  ini merupakan salah satu program kegiatan Departemen Pendidikan dan Pengembangan Intelektual (DPPI) yang bertujuan melatih kreativitas dan menajamkan kepekaan intelektual mahasiswa.

Dalam setiap muhadlarah mahasiswa terdapat enam penilaian wajib yang harus ditampilkan. Yaitu: master of ceremony (MC), qiraatul qur’an bittartil, shalawat in poem, sambutan ketua kelompok, pidato atau ceramah, dan drama ilmiah. Mahasiswa Latee II yang berjumlah 110 orang dibagi menjadi lima kelompok, dan masing-masing kelompok beranggotakan 22 orang

Berbeda dengan muhadlarah siswa yang berkesempatan menyiapkan segala sesuatunya selama seminggu, muhadlarah mahasiswa hanya memiliki waktu satu hari dua malam untuk mempersiapkan keseluruhan acara. Pada malam Rabu setiap dua minggu sekali, dilaksanakan pengundian untuk kelompok muhadlarah mahasiswa yang akan tampil pada pekan itu. Lalu pada Kamis malam, kegiatan muhadlarah akan dilaksanakan dengan durasi 2 jam 30 menit. Namun karena pada pekan ini ketua kelompok IV mendadak sakit panas, maka pelaksanaan muhadlarah molor sehari dan baru terlaksana Jum’at malam.

Dengan konsep ruang yang menyerupai suasana kamar pengantin, dekorasi ruangan didominasi warna-warna cerah yang menyiratkan keceriaan serta kebahagiaan di hari pernikahan. “Kami menamakan kelompok kami kelompok Florecita yang disadur dari bahasa Meksiko yang memiliki arti gadis-gadis pembawa bunga pengantin,” demikian penuturan Faiq Hairani ‘Aisyah, ketua kelompok Florecita, dalam sambutannya pada acara tersebut.

Acara pada malam hari itu berlangsung meriah sejak pertama suguhan performance mereka yang mengawali pra-acara dengan resepsi pernikahan.

Usia mahasiswa memang usia yang begitu sensitif dengan kata nikah sehingga antusiasme mahasiswa dapat terbaca sejak sebelum acara ini dimulai. Usai pra-acara, sang master of ceremony menampakkan diri dengan mengenakan gaun berwarna senada dengan warna ruangan yang disambut tepuk tangan meriah dari para mahasiswa.

Kelompok IV berhasil mengonsep acara seolah benar-benar terjadi pernikahan. Ada resepsi pernikahan yang ditampilkan di pra-acara dan juga penyampaian hikmah nikah yang disampaikan oleh lima muballighah dalam empat bahasa, yakni Madura, Inggris, Arab, dan Indonesia. Pidato bahasa Madura Indonesia disampaikan oleh Siti Fatimah, bahasa Inggris oleh Elliyatul Hasanah, bahasa Arab disampaikan oleh Shafwatul Husna, dan bahasa Indonesia disampaikan oleh Kinanah dan Tamamatul Karimah.

Mereka berlima adalah mahasiswa-mahasiswa yang cukup tangkas dalam menjawab setiap pertanyaan juri. Hal itu tampak saat mereka mampu menjawab setiap pertanyaan juri dan mahasiswa dengan cepat dan tepat.

Acara ini merupakan perlombaan yang dibingkai dalam muhadlarah yang dinilai langsung oleh tiga juri. Musyayyadah sebagai ketua pengurus PPA Latee II, Imlaul Hasanah sebagai koordinator DPPI serta Lailatul Mukarramah sebagai anggota DPPI. Masing-masing juri sekurang-kurangnya memberikan satu pertanyaan kepada setiap muballighah. Di samping itu, setiap muballighah juga menerima tiga pertanyaan dari tiga orang mahasiswa. Jadi, setiap muballighah mendapat minimal enam pertanyaan. Sesi orasi ini merupakan sesi yang sangat menentukan bagi nilai yang akan dikumpulkan para muballighah. Karena keluasan serta kekayaan pengetahuan mereka akan benar-benar diuji dengan beragam pertanyaan yang harus mereka jawab.

Setelah melalui acara ceramah yang cukup menyita waktu, kelompok Florecita menyuguhkan hiburan yang dibungkus dengan karaoke oleh dua mahasiswa anggota Florecita (Kamilatus Shalihah dan Khalifatur Rasyidah) yang pada malam itu membawakan lagu Sepanjang Hidup-nya Maher Zain. Setelah acara ditutup, koordinator DPPI menyampaikan evaluasi terhadap keseluruhan performance mulai dari dekor ruang hingga keluasan mengupas tema yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas muhadlarah pada pekan berikutnya.