Kamis, Juni 19, 2014

Siska ’14 MA Tahfidh Adakan Perpisahan



Moh. Ainur Ridha, MA Tahfidh Annuqayah

Jika ada pertemuan, maka pasti ada perpisahan. Itulah sunnatullah atau yang biasa disebut dengan hukum Tuhan. Setelah pada tahun 2011 yang lalu bertemu, seluruh siswa kelas akhir (Siska) ’14 MA Tahfidh Annuqayah pada hari Rabu (11/06) pagi mengadakan acara syukuran sekaligus perpisahan. Acara yang dikemas dengan sangat sederhana itu dihadiri oleh Kepala MA Tahfidh Annuqayah, Drs. K.H. M. Syafi’ie Anshari, dewan guru, dan seluruh karyawan MA Tahfidh Annuqayah.

Acara perpisahan tersebut terlaksana secara dadakan. Ach. Ainun Najib, sekretaris panitia acara itu, mengatakan bahwa acara perpisahan itu sebenarnya tidak dipersiapkan dengan matang. “Ide untuk mengadakan acara itu baru muncul ketika teman-teman sudah sibuk-sibuk mengurus kuliah. Maka, kami pun mempersiapkan acara ini hanya dalam waktu lima hari,” ungkapnya.

Ide itu pun muncul bukan dari siswa kelas akhir sendiri, tetapi atas inisiatif dan permintaan dari beberapa alumni dan karyawan MA Tahfidh. “Saat saya sedang ada di Jogja, saya mendapat pesan dari salah satu karyawan MA Tahfidh. Pesan itu mengingatkan agar Siska ‘14 MA Tahfidh mengadakan acara perpisahan seperti pada tahun yang lalu,” tutur Taufiqurrahman, ketua panitia acara tersebut.

Pesan yang disampaikan oleh salah satu karyawan MA Tahfidh itu direspons positif oleh Taufiqurrahman. Taufiq yang pada saat itu masih mengikuti tes seleksi di UGM, langsung mengontak teman-temannya yang ada di pondok agar membuat perencanaan waktu pelaksanaan. Setelah dimusyawarahkan dengan beberapa siswa kelas akhir dan juga dengan pihak sekolah, maka acara perpisahan itu disepakati akan dilaksanakan pada hari Rabu, lima hari setelah perencanaan.

Meskipun terkesan terburu-buru dan tidak memiliki persiapan yang matang, acara tersebut mendapatkan antusiasme yang besar dari seluruh siswa kelas akhir dan juga para guru. Dari 60 siswa kelas akhir, yang tidak hadir hanya tiga orang. Tiga orang itu tidak hadir karena mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi. Sementara para guru, dari jumlah keseluruhan 27 orang, yang berhalangan hadir sebanyak 7 orang.

Acara yang dikemas dengan acara seremonial itu dimulai pukul 08.00 WIB. dengan pembacaan surat al-Fatihah. Kemudian ada sambutan dari perwakilan siswa kelas akhir, setelah sebelumnya melewati pembacaan ayat-ayat suci al-Quran dan prakata dari panitia pelaksana. Sambutan dari perwakilan siswa kelas itu disampaikan oleh Taufiqurrahman.

Dalam hal ini, Taufiq sebagai wakil dari seluruh siswa kelas akhir menyampaikan terima kasih sekaligus juga permohonan maaf kepada para guru yang telah mengajar mereka selama tiga tahun.

“Sahabat-sahabat yang saya cintai dan juga para guru yang saya hormati. Bagaikan sebuah perjalanan, saat ini kita berada di persimpangan jalan. Sebuah jalan yang bercabang. Di persimpangan jalan ini kita akan menempuh jalan yang baru. Jalan yang akan memisahkan kita dengan teman yang telah lama kita kenal; dengan sekolah yang telah lama kita tempati; dan dengan para guru yang telah mendidik kita sepenuh hati. Kini, kami, siswa kelas akhir, sadar bahwa jasa para guru di sekolah ini kepada kami teramat besar. Mereka begitu ikhlas mengajar kami, sebab mereka datang ke sekolah setiap hari, walaupun tidak pernah digaji. Sementara kami terkadang suka bolos masuk sekolah, di dalam kelas suka bergurau, tidur, dan tidak menghargai mereka yang bicara di depan kelas. Oleh karena itu, di persimpangan jalan ini, sebelum kami melangkah lebih jauh, mohon maafkanlah kesalahan-kesalahan kami. Kami tidak ingin perjalanan kami selanjutnya masih dibebani oleh dosa-dosa yang masih belum terampuni. Kami adalah santri yang begitu percaya pada apa yang disebut dengan barakah. Maka, sebelum akhirnya kami hengkang dari sekolah ini, sekali lagi, kami mohon maafkanlah kesalahan-kesalahan kami,” demikian kutipan dari sambutan Taufiqurrahman.

Acara itu berlangsung dengan sangat khidmat. Di tengah-tengah sambutan Taufiqurrahman itu, seluruh siswa kelas akhir tertunduk haru, bahkan ada yang tak tahan membendung air mata. Mereka tersadarkan pada semua kesalahan-kesalahan mereka.

Rangkaian acara berikutnya adalah sambutan dari Kepala Madrasah dan pesan-pesan dari para guru. Dalam sambutannya, Drs. K.H. M. Syafi’ie Anshari mengingatkan agar siswa-siswa kelas akhir yang akan melanjutkan studinya ke luar jangan sampai meninggalkan salat yang lima waktu dan tetap menjaga ‘amaliyah yang telah ditradisikan di Annuqayah.

Sementara pesan-pesan dari para guru kepada siswa-siswa kelas akhir ini sangat beragam. Di antaranya, siswa kelas akhir yang akan berhenti dari MA Tahfidh jangan sampai memutus hubungan guru-murid, jangan melepas ‘amaliyah yang telah ditradisikan di Annuqayah, seperti salat berjamaah, dan selalu menjaga hubungan dengan Annuqayah.

Setelah rangkaian acara seremonial itu berakhir, dilanjutkan dengan pamitan siswa kelas akhir dengan bersalaman kepada semua guru yang hadir dalam acara itu. Pada sesi pamitan ini diikuti dengan pembacaan shalawat, sehingga terasa sangat khidmat. Kemudian acara itu diparipurnai dengan foto bersama seluruh siswa kelas akhir dengan para guru dan karyawan MA Tahfidh Annuqayah.

Minggu, April 27, 2014

Diva Press Bagi-Bagi Buku Gratis di Seminar Literasi SMA 3 Annuqayah

Jamilatur Rohma, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Seminar Hari Pendidikan Nasional bertema “Memajukan Kehidupan Bangsa dengan Jejaring Literasi di Sekolah” yang diselenggarakan di SMA 3 Annuqayah pada hari Kamis, 24 April 2014 lalu berlangsung cukup meriah.

Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat literasi khususnya di sekolah baik untuk guru maupun siswa. Dengan bekerja sama dengan Penerbit Diva Press Yogyakarta, SMA 3 Annuqayah mengundang 100 kepala sekolah (wilayah Sumenep dan Pamekasan), pengurus daerah PP Annuqayah, dan guru SMA 3 Annuqayah. Setelah acara selesai, para undangan yang mewakili lembaga menerima hibah buku sebanyak sekitar 100 eksemplar dan 10 eksemplar untuk guru.

Tidak sama seperti acara yang diadakan SMA 3 Annuqayah sebelumnya, sepenjang jalan menuju tempat acara para undangan disambut beberapa stand siswa SMA 3 Annuqayah yang ikut berpartisipasi memeriahkan acara seminar literasi ini. Stand pertama adalah milik Pemulung Sampah Gaul (PSG) yang memamerkan aneka macam kreasi daur ulang dari sampah plastik dan pupuk organik.

Setelah PSG, undangan langsung disambut oleh stand gabungan XI dan XII IPA. Di sini mereka menyediakan susu kedelai dan berbagai macam eksprimen seperti teropong bintang, roket air dan lainnya. Di stand ketiga terdapat macam-macam hiasan dan aksesoris dari stik ice cream. Stand ini adalah milik gabungan kelas XI dan XII IPS 1. Yang ketiga adalah stand milik XI dan XII IPS 2. Mereka memamerkan aneka kreasi gelang dari manik-manik dan juga lukisan kaligrafi dari pasir hitam. Dan stand terakhir yang merupakan gabungan dari XA dan XB memperlihatkan macam-macam rajutan dari benang wol, kain flannel yang mereka sulap menjadi gantungan kunci, tempat pensil dan lainnya.

Setelah undangan berbincang atau bahkan membeli dari stand tersebut, undangan langsung diantar ke tempat acara yaitu Laboratorium IPA.

Sambil menunggu lengkapnya undangan, tamu yang telah hadir disuguhi sebuah film dokumenter berjudul Science and Islam yang diproduksi oleh BBC.

Pukul 09.00 WIB, acara dimulai. Setelah pembukaan, K. M. Mushthafa, S.Fil., M.A. selaku kepala sekolah di SMA 3 Annuqayah memberi pengantar tentang latar belakang tujuan diadakannya acara ini. Ia menjelaskan bahwa acara semacam ini sebenarnya adalah salah satu program di SMA 3 Annuqayah untuk membangun literasi.

Acara ini menghadirkan H. Akhmad Nurhadi (Dinas Pendidikan Kab. Sumenep), Satria Dharma (ketua Ikatan Guru Indonesia), dan K. A. Dardiri Zubairi (kepala MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura).

Di sela acara pembukaan dan seminar, ada waktu sekitar 7 menit untuk istirahat. Undangan dipersilakan untuk menikmati suguhan pangan lokal berupa tattabun, kucur, poka’ dan lainnya yang disediakan oleh PSG SMA 3 Annuqayah.

Setelah istirahat selesai, Pak Nurhadi langsung memberikan pemaparan. Ia menjelaskan bahwa Indonesia menempati rangking ke-85 dengan tingkat melek huruf, kalah dengan negara Malaysia, Palestina, dan Suriname. Indonesia juga tidak menerapkan sistem wajib baca untuk siswa tingkat SMA. Pak Nurhadi juga menambahkan bahwa pada tahun 2012 di Sumenep terdapat sebanyak 111.124 orang yang buta huruf. Dengan angka buta huruf yang banyak itu, sebenarnya pemerintah Sumenep melalui Dinas Pendidikan sudah berupaya menekan angka tersebut dengan langkah cerdas membumikan budaya literasi di kalangan masyarakat.

Setelah Pak Nurhadi selesai dengan pemaparannya, langsung dilanjut ke penyaji kedua, yakni Pak Satria Dharma. Dalam pemaparannya beliau menjelaskan bahwa sebagai orang Islam seharusnya kita membaca. Beliau menyinggung wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad di goa Hiro’. Beliau juga menambahkan sebenarnya masalah terbesar suatu bangsa itu terletak di pendidikan. Beliau juga memberikan cara-cara kreatif agar siswa rajin membaca.

Setelah itu dilanjutkan oleh K. A. Dardiri Zubairi, berbeda dengan pemaparan dua penyaji sebelumnya, beliau lebih banyak menceritakan kegiatan literasi di sekolah yang dikelolanya. Menurut beliau, pengembangan literasi dapat merawat mimpi-mimpi anak-anak madrasah pinggiran.

“Buku menyediakan gizi yang luar biasa untuk membuat anak-anak tetap merawat mimpi-mimpi anak-anak madrasah pinggiran.”

Penulis buku Rahasia Perempuan Madura itu menambahkan, bahwa sekolah yang dikelolanya itu tidak hanya memberikan penghargaan kepada siswa yang punya prestasi akademik saja tetapi juga memberikan penghargaan kepada mereka yang memiliki keterampilan non-akademis seperti menulis, dll.

Setelah ketiga penyaji selesai dengan pemaparannya dan dilanjutkan dengan sesi dialog, K. M. Mushthafa, merangkum semua pemaparan penyaji dengan menambahkan beberapa informasi tentang pengembangan literasi yang ada di SMA 3 Annuqayah, dan juga menginformasikan bahwa malam harinya akan ada acara lanjutan yaitu peluncuran buku antologi Kisah Terpilih dalam bentuk pembacaan fragmen cerpen oleh Sanggar Tikar SMA 3 Annuqayah.

Dalam sesi tanya jawab para peserta banyak yang ingin mengajukan pertanyaan. Tetapi karena keterbatasan waktu, kesempatan bertanya hanya diberikan kepada tiga orang penanya. Tiga peserta yang bertanya itu mendapatkan buku dari salah seorang guru SMA 3 Annuqayah yang tahun lalu menerbitkan bukunya, yakni Ny. Fairuzah.

Acara ini diakhiri pada jam 12.30 WIB.


Tulisan ini dikutip dari blog Madaris III Annuqayah.

Senin, April 21, 2014

Annuqayah Juara Umum FTT 2014 Universitas Indonesia



Umarul Faruq, alumnus PPA Latee

Depok – Rabu malam (16/4) kemarin merupakan malam yang cukup bersejarah bagi Annuqayah. Setelah meraih sukses sebagai juara umum pada Festival Timur Tengah ketiga tahun 2012 lalu, pada malam itu Annuqayah kembali dinobatkan sebagai juara umum Festival Timur Tengah kelima tahun 2014.

Ini merupakan kali kedua Annuqayah menjadi juara umum sejak momen FTT mulai diadakan pada tahun 2010. Jika pada tahun 2012 Annuqayah meraih juara 1 dan 3 lomba Pidato dan juara 2 lomba Debat Bahasa Arab, maka pada tahun ini Annuqayah meraih juara 1 pada tiga lomba sekaligus, yaitu: lomba baca puisi, bercerita, dan pidato bahasa Arab.

“Tiga juara 1 sekaligus, sangat tidak mungkin tidak juara umum. Sebab, lomba untuk kategori siswa memang hanya tiga cabang itu saja,” ucap Ibnu Hajar selaku ketua rombongan kontingen Instika dan PP Annuqayah pada acara tersebut.

“Sebenarnya, kami awalnya tidak terlalu serius untuk ikutan acara ini. Eh, ternyata ada kesempatan lewat Markaz, ya udah, kami berangkat” kata Mahasin Fannani, juara 1 lomba Pidato Bahasa Arab.

Moh. Amirullah, juara 1 lomba Baca Puisi membenarkan perkataan Mahasin Fannani tersebut. Sebenarnya dia juga tidak menyangka akan dipilih oleh Markaz untuk mewakili Annuqayah mengikuti acara ini. Namun walau begitu tidak berarti mereka berangkat tanpa persiapan. Sebab, sejak jauh hari sebelum acara FTT dilaksanakan, sebenarnya mereka sudah punya keinginan untuk ikut. Hanya saja, kesempatan untuk itu bukan sesuatu yang pasti.

Markaz Bahasa Arab Annuqayah tidak sembarangan dalam memilih santri untuk diikutkan pada acara FTT. Markaz melakukan seleksi terlebih dahulu untuk menyaring siapa saja yang layak untuk mewakili Annuqayah nantinya. Belum lagi, peserta yang boleh diutus oleh satu kampus atau pondok pesantren jumlahnya dibatasi oleh panitia FTT. Beruntunglah Markaz Bahasa Arab PP Annuqayah memilih mereka untuk mewakili Annuqayah dalam momen tahunan ini.

Beda halnya dengan Fathur Rahim, Juara 1 Lomba Bercerita yang akrab dipanggil Ragem ini mengaku memang punya tekad kuat untuk membalas kekalahannya pada FTT tahun 2013. Pada tahun itu, dia juga mengikuti lomba yang sama, tapi tidak mendapatkan apa-apa, bahkan walau hanya sekedar juara harapan.

Berangkat dari kekecewaannya itulah pada tahun ini dia mempersiapkan diri dengan matang untuk membawa pulang gelar juara yang pernah diincarnya tahun lalu. Pada akhirnya gelar juara itu pun berhasil diraihnya dengan gemilang.

Namun tidak semua peserta yang diutus Markaz Bahasa Arab PP Annuqayah berjaya di FTT 2014. Satu peserta lomba Baca Puisi, A. Warits Hidayat harus rela pulang dengan tangan kosong karena nasib sedang tidak berpihak padanya. Dialah satu-satunya dari empat utusan Annuqayah yang tidak menjadi juara.

“Namun itu bukan masalah. Ini merupakan pengalaman pertama dia ikutan lomba bahasa Arab setingkat ini (nasional, red), jadi wajarlah jika tidak langsung juara,” kata Ahmad Basili selaku official kontingen Markaz Annuqayah di acara FTT 2014.

Namun bagaimanapun juga, Ahmad Basili merasa bangga dan senang sekali Annuqayah bisa menjadi juara umum pada acara bergengsi ini. Menurutnya, ini merupakan bukti bahwa Annuqayah memiliki potensi yang sangat besar. Secara pribadi dia baru pertama kali menjadi official kontingen Markaz Bahasa Arab PP Annuqayah di acara FTT, namun dia langsung berhasil membawa anak buahnya menjadi para juara.

“Apa pun itu, saya tidak bisa menafikan bantuan dari para pembimbing mereka yang telah melatih mereka sehingga bisa tampil maksimal dan menjadi juara, utamanya Ustadz Umarul Faruq dan Ibnu Hajar. Dari merekalah para peserta mendapatkan stimulasi dan kepercayaan diri sehinggal potensi yang mereka miliki berhasil mereka keluarkan dengan baik,” kata Ahmad Basili lagi.

Minggu, April 13, 2014

Menelusuri Pesan Sang Guru

Ahmad Sahidah, alumnus Annuqayah, dosen di Universiti Utara Malaysia

Kepergian sesepuh Annuqayah, KH A Warits Ilyas, mendatangkan duka. Ucapan bela sungkawa tidak hanya datang dari keluarga Annuqayah dan warga sekitar, tetapi dari warga seantero negeri. Doa-doa dipanjatkan oleh orang ramai, bahkan di dinding media sosial Facebook dan Twitter munajat diungkapkan. Tahlilan digelar untuk mendaras doa-doa agar almarhum mendapatkan jalan lapang menuju Tuhannya. Masjid Jami’ Annuqayah disemuti oleh warga untuk mengiringi sang kyai dengan selaksa doa. Bahkan, Tahlilan juga dilaksanakan di banyak tempat oleh mantan santri Annuqayah yang tergabung dalam Ikatan Alumni.

Bagi saya sendiri, beliau adalah pesona. Perasaan yang sama juga dirasakan oleh santri dan siswa yang pernah belajar dan mengikuti pengajian yang diampunya dulu. Ketika saya mengambil pelajaran ilmu Mantiq, untuk pertama kali saya mendengar nama filsuf, seperti aflaton (Plato) dan Aristo (Aristoteles). Sebelum kelas bermula, para siswa biasanya telah duduk dengan tenang dan tak bersuara sedikitpun. Kelas hening. Pelajaran berlangsung khidmat. Hanya sekali, kelas kami memantik tawa pak kyai dan para siswa karena salah seorang pelajar terjengkang dari kursi karena tertidur. Saya mengenal dengan baik kawan tersebut dan mengingatnya hingga kini. Kehadiran kawan ini memang selalu membuat kami riang.

Selain itu, pengalaman yang paling membekas hingga kini ketika saya aktif di Markaz al-Lughah al-Arabiyyah. Pak kyai adalah salah seorang yang mengajar kursus bahasa Arab. Tentu, penyampaian pelajaran yang sepenuhnya dengan bahasa Arab membuat kelas tampak terlalu tegang. Meskipun sebelumnya siswa telah menerima hal serupa dalam mata pelajaran Hadits, Tajrid al-Sharih, Kyai Ishomuddin AS. Untuk mencairkan suasana, pak kyai melontarkan lelucon keluarga Madura di Arab Saudi. Karena si anak keluarga ini sering meminta uang jajan, si ayah tampak gusar, sehingga mengatakan “fulus, fulus aina”. Jelas, kalimat ini merupakan terjemahan harfiyah dari Bahasa Madura yang menunjukkan uang yang mana lagi. Sontak, para siswa tak bisa menahan tawa.

Tentu sosok pak kyai yang tegas dan lugas begitu tertanam di benak kami pada waktu itu. Sebagai guru, panutan dan pengasuh, beliau adalah juga anggota wakil rakyat, bahkan pernah menduduki kursi Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Kedudukan inilah yang membuat putera Kyai Ilyas mendatangkan kesan tersendiri. Terkait aktivitas politik kyai, ayah saya sendiri pernah mendengar Kyai Ishomuddin menegaskan bahwa Kyai Warits tahu apa yang mesti dilakukan dalam dunia politik. Sebelum era Reformasi, sebagian masyarakat menganggap politik sebagai aktivitas yang tak mendatangkan manfaat bagi umat. Namun, pak kyai mengajarkan pada santri bahwa politik itu adalah salah satu jalan untuk perubahan. Malah, kegiatan ini tetap ditekuni dan menjadikan beliau sebagai sosok yang berpegang teguh para garis politik yang diyakini. Sebuah teladan yang layak untuk diikuti di tengah pragmatisme khalayak pada kekuasaan.

Ingatan yang hingga kini selalu diingat oleh kami adalah pesan beliau dalam pertemuan para kyai dengan alumni di Masjid Latee ketika saya masih belajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pertemuan yang dipandu oleh Kyai Ilyasi Siraj memang betul-betul menggambarkan perkembangan dinamis kaum santri setelah mereka meninggalkan Annuqayah untuk belajar di pelbagai institusi perguruan tinggi, baik jurusan agama maupun umum. Mengingat salah seorang santri menyodorkan kemungkinan pemahaman baru terhadap Islam, dalam sambutannya Kyai Warits menyatakan secara tegas bahwa alumni yang berpaling dari akidah ahlussunnah waljamaah, maka dengan sendirinya yang bersangkutan memutuskan hubungan intelektual dan spiritual dengan Annuqayah. Pernyataan ini jelas bukan retorika belaka. Pak kyai telah mengambil sikap dan secara konsisten berpijak pada keyakinan ini.  

Keteguhan sikap kyai ditunjukkan kepada siapa pun yang menemuinya di rumah kediaman. Salah seorang tua santri berkeluh-kesah bahwa sang anak telah mengambil jalan pemikiran dan kegiatan keagamaan baru, Pesantren Hidayatullah. Setelah disampaikan pada pak kyai, dengan lugas beliau menyatakan bahwa pemahaman baru itu tidak sejalan dengan Ahlussunnah waljamaah. Serta-merta si ayah  meminta si anak untuk memikirkan kembali pilihan ideologi yang diyakini. Apa lacur, hingga si ayah meninggal, si anak tetap merawat pemahaman barunya dan berkhidmat di organisasi tersebut sampai sekarang.

Dengan otoritas yang besar, sebagai kepala Madrasah Aliyah Annuqayah, kyai memberikan kesempatan pada guru untuk tidak hanya mengembangkan kecerdasan kognitif para siswa tapi juga kecerdasan sosial dan emosional mereka. Tak ayal, Pak Tohet dengan mudah menggerakkan para siswa untuk mengikuti Palang Merah Remaja (PMR). Terus terang, saya mengikuti kegiatan ekstra-kurikuler ini dengan riang. Organisasi ini mengenalkan saya secara tertib tentang pentingnya kesehatan dan olahraga. Tak hanya itu, melalui jambore PMR, saya bisa mengenal dunia ‘luar’ karena kami bertemu dengan rekan-rekan sebaya dari daerah lain.

Pengalaman pribadi bersilaturahim dengan kyai telah menebalkan keyakinan saya bahwa kyai telah mengajarkan tentang makna kesetiaan. Ketika bergiat di Asosiasi Mahasiswa Sumenep Yogyakarta (AMSY) pada tahun 2000, saya sowan untuk meminta pandangan kyai tentang calon pemimpin nomor satu kota Sumekar. Siapa pun yang memimpin mesti berpegang teguh pada nilai-nilai Ahlussunnah waljamaah. Pernyataan ini tentu ingin meyakinkan semua warga Annuqayah bahwa pegangan akidah mereka mesti kokoh dan berpijak pada ajaran yang ada di dalamnya terkait kehidupan sosial, kultural dan politik.

Catatan sekilas di atas tentu tidak mencatat semua pesona kyai mengingat keterbatasan penulis. Namun, siapa pun akan menemukan keteguhan sikap yang ditunjukkan sang guru yang mengilhamkan ini pada siapa pun. Di tengah godaan untuk meraih apa sehingga membuat iman goyah, kyai telah mewariskan teladan bahwa kesetiaan itu bukan pemanis mulut belaka, tetapi juga tindakan nyata. Menyambut perayaan 40 hari kepergian KH A Warits Ilyas, kita ingin mengenang kembali bahwa sang guru boleh pergi, tetapi sosoknya tetap di hati.

Tulisan ini dimuat di Koran Madura, 3 April 2014.

Sabtu, April 12, 2014

Menjelang LPJ, Pengurus PPAL II Adakan Sharing Akbar



Qiswatin Hasanah, PPAL II

Guluk-Guluk—Selasa, 8 April 2014 lalu, pengurus Pondok Pesantren Annuqayah Latee II mengundang seluruh pengurus PPA Latee II untuk menghadiri sharing akbar di mushalla.

Acara yang dimulai pada pukul 21.00 WIB ini merupakan acara sharing yang diadakan menjelang penyusunan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) oleh pengurus. Dengan diadakannya sharing akbar yang dikemas dengan format tidak formal ini, diharapkan santri dapat lebih terbuka untuk mengungkapkan uneg-uneg seputar program kerja pengurus yang sudah dilaksanakan kurang lebih setahun ini.

“Saya ingin santri PPAL II menyampaikan aspirasinya terhadap pengurus. Acara ini juga untuk mempererat persaudaraan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap PPAL II,” ucap Lailatul Mukarromah, ketua pengurus PPAL II ketika diwawancarai.

Meskipun acara ini dilaksanakan dengan cukup sederhana dan terhitung mendadak, namun santri PPAL II cukup apresiatif. Hal tersebut terlihat dari banyaknya kritikan dan masukan yang disampaikan mereka. Salah satu topik yang menjadi perbincangan hangat adalah soal kondisi kebersihan di PPAL II.

“Saya melihat tahun ini kebersihan di lingkungan PPAL II menurun, entah karena santri yang kurang menyadari pentingnya kebersihan atau karena kurangnya kontrol dari Pengurus Departemen Kebersihan,” tutur Yo’yo’, panggilan akrab Kamaliatus Zahroh, salah satu santri sekaligus pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting PPAL II ketika diberikan kesempatan menyampaikan aspirasinya.

Selain itu, Yo’yo’ juga memberikan masukan kepada pengurus Departemen Kebersihan dan Keindahan untuk lebih meningkatkan pemeriksaan piket di PPAL II.

Selain kritik dan masukan yang disampaikan kepada pengurus Departemen Kebersihan dan Keindahan, santri PPAL II juga memberikan kritik dan masukan kepada Pengurus Departemen Keamanan dan Ketertiban, Pengurus Departemen Kesehatan dan Kebugaran, Pengurus Departemen Peribadatan dan Pengembangan Spiritual, serta Pengurus Departemen Perpustakaan.

“Mungkin ada baiknya Pengurus Departemen Kesehatan dan Kebugaran mempelajari diagnosis penyakit agar lebih mudah mengetahui santri yang layak dibawa pulang atau masih bisa dilakukan upaya penyembuhan di PPAL II,” ungkap Fadhilatus Syarifah, salah satu Pengurus Blok as Shafie yang hadir pada acara tersebut.

Sharing akbar yang selesai pada pukul 23.30 WIB ini juga diharapkan mampu memberikan pelajaran kepada santri PPAL II untuk lebih berani menyampaikan aspirasinya nanti pada LPJ pengurus pusat serta untuk mengevaluasi pengurus ataupun santri itu sendiri untuk kemajuan Latee II ke depan.