Selasa, Juli 31, 2012

Kronologi Kasus Ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah yang Dianggap Tidak Memenuhi Persyaratan Penerimaan Brigadir Brimob dan Dalmas Tahun 2012 oleh Polres Sumenep




1.      Pada tanggal 17 Juni 2012 pengurus Annuqayah telah menerima laporan dari pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah yang menuturkan bahwa Moh. Azhari, salah seorang lulusannya, dinyatakan tidak lulus dalam seleksi penerimaan brigadir brimob dan dalmas di Polres Sumenep. Penyebab ketidaklulusannya adalah karena ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah yang digunakan Moh. Azhari dalam pendaftaran itu oleh Polres Sumenep dianggap sebagai ijazah pesantren yang tidak diakui atau tidak memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan Polres.
2.      Anggapan tersebut didasarkan pada ketentuan persyaratan lain yang tercantum dalam brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas Polres Sumenep yang berbunyi:
1. Berijazah serendah-rendahnya SMU/MA jurusan IPA/IPS atau SMK yang sesuai dengan kompetensi dengan tugas pokok Polri (kecuali Tata Busana dan Tata Kecantikan) dgn nilai rata-rata HUAN (Hasil Ujian Akhir Nasional) min 6,25 (enam koma dua lima) untuk IPA dan 6,5 (enam koma lima) untuk jurusan IPS dan SMK;
2. Khusus untuk lulusan pondok pesantren sesuai dengan Surat Departemen Pendidikan Nasional yang diakui setara dengan SMU dan diperbolehkan mendaftar menjadi anggota Polri antara lain: a. Ponpes Gontor Ponorogo; b. Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep; c. Ponpes Mathabul Ulum Sumenep; d. Ponpes Modern Al-Barokah Patianrowo Nganjuk;
3.      Pada tanggal 18 Juni 2012 pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah mendatangi Polres Sumenep yang kemudian diterima oleh Kepala Bagian Sumber Daya (Kabag Sumda), Kompol Rahwini WTP, untuk menanyakan langsung penyebab ditolaknya ijazah Moh. Azhari tersebut. Kabag Sumda menjelaskan bahwa penolakan ijazah Azhari sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.
4.      Pada tanggal 20 Juni 2012, pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah melapor kejadian ini kepada Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.
5.      Pada tanggal 21 Juni 2012, jajaran Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep meminta klarifikasi kepada Kapolres Sumenep. Kapolres Sumenep, AKBP Dirin, melalui Wakapolres, Mohammad Fadil, menyatakan bahwa Polres Sumenep hanya menjalankan tugas dari Polda, dan penolakan ijazah Moh. Azhari sesuai dengan isi telegram Polda No. Tel ST/1361/VI/2012/ RO SDM tanggal 05/06/2012.
6.      Pada tanggal 5 Juli 2012, pengurus Yayasan Annuqayah, pengurus Pondok Pesantren Annuqayah, dan unsur Annuqayah yang lain serta pengurus LKP2M mendatangi DPRD Sumenep untuk menyampaikan pernyataan sikap dan permohonan agar DPRD Sumenep memfasilitasi pertemuan pihak Annuqayah dengan Polres Sumenep yang juga dihadiri oleh Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Dinas Pendidikan Sumenep, dan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep. Pernyataan sikap Annuqayah tersebut disampaikan juga dalam bentuk surat kepada DPRD Sumenep dengan tembusan kepada Polres Sumenep, Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Dinas Pendidikan Sumenep, dan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.
7.      Pada tanggal 16 Juli 2012, Annuqayah mengirimkan surat kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep yang berisi permohonan klarifikasi agar Kementerian Agama Kabupaten Sumenep memberikan penjelasan kepada Polres Sumenep bahwa ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah adalah sah dan diakui oleh sistem pendidikan nasional dan seharusnya diterima sebagai salah satu persyaratan yang sah dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas Polres Sumenep.
8.      Pada hari Senin tanggal 16 Juli 2012, sekitar pukul 16.00 WIB, Wakapolres Sumenep, Kabag Sumda Polres Sumenep, Kasat Intel Polres Sumenep, didampingi oleh Kapolsek Guluk-Guluk menemui K.H. Ahmad Basyir AS didampingi dengan K. M. Ainul Yaqin (Ketua Pelaksana Pengurus PPA), K.H. Muhammad Husnan A. Nafi’ (Bendahara Pengurus PPA), K. M. Mushthafa (Sekretaris Pengurus PPA), K. Moh. Naqib Hasan (Kepala Biro Madaris PP Annuqayah) dan K. A. Syauqi Ishom (Kepala Biro Keamanan PP Annuqayah). Wakapolres membawa surat dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Timur nomor B/4953/VI/2012/Ro SDM tertanggal 27 Juni 2012 yang menjelaskan masalah penerimaan brigadir brimob/dalmas. Surat itu berisi penjelasan tentang poin (2) persyaratan lain dalam brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas, yakni pengakuan terhadap beberapa lembaga pendidikan pesantren yang dianggap setara dengan SMA. Padahal ijazah yang diajukan oleh Moh. Azhari adalah ijazah Madrasah Aliyah/MA (yakni Madrasah Aliyah 2 Annuqayah), dan bukan ijazah pesantren, sehingga surat tersebut tidak relevan.
9.      Pada hari Jum’at tanggal 20 Juli 2012, Annuqayah menghadiri undangan DPRD Sumenep dalam rangka dengar pendapat bersama komisi A, komisi D, Kapolres Sumenep, Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, jajaran Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep, untuk membahas masalah tersebut. Dalam dengar pendapat tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep dan Kepala Dinas Pendidikan Sumenep menegaskan keabsahan status ijazah dan lembaga Madrasah Aliyah 2 Annuqayah sebagai lembaga pendidikan formal yang diakui negara. Kapolres Sumenep secara pribadi menyalahkan Dinas Pendidikan Sumenep yang dianggap telah memberikan masukan menyesatkan dengan menyetujui keputusan untuk menilai ijazah Moh. Azhari sebagai tidak memenuhi persyaratan administrasi. Namun pihak Annuqayah bersikukuh bahwa persoalan ini adalah persoalan internal Polres Sumenep dengan Dinas Pendidikan Sumenep sebagai bagian dari panitia penerimaan.
Dalam acara ini, Annuqayah menyampaikan pernyataan sikap yang di antaranya berisi tuntutan permohonan maaf dari institusi Polres Sumenep.
10.  Pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012, jajaran Polres Sumenep mendatangi Masyayikh Annuqayah yang diterima oleh K.H. Ahmad Basyir AS dan K.H. A. Warits Ilyas dan juga didampingi oleh pengurus Pondok Pesantren Annuqayah. Pada pertemuan ini, Kapolres menyampaikan permohonan maaf secara pribadi. Sedang untuk permohonan maaf secara institusi, Kapolres masih mau konsultasi kepada Kapolda Jawa Timur yang dijadwalkan pada hari Senin, 23 Juli 2012.
11.  Pada hari Senin tanggal 23 Juli 2012, sejumlah pengurus Annuqayah, yakni Drs. H. Taufiqurrahman (Ketua Yayasan Annuqayah), K. M. Ainul Yaqin (Ketua Pelaksana Pengurus PPA), K.H. Muhammad Husnan A. Nafi’ (Bendahara Pengurus PPA), K. M. Mushthafa (Sekretaris Pengurus PPA), K. M. Zamiel El-Muttaqien (Kepala Biro Pengabdian Masyarakat PP Annuqayah) dan K. A. Syauqi Ishom (Kepala Biro Keamanan PP Annuqayah), ke Surabaya untuk dua agenda. Pertama, menyampaikan surat permohonan dengar pendapat ke DPRD Jawa Timur. Kedua, menghadiri acara di Polda Jawa Timur untuk memastikan rencana Kapolres Sumenep meminta izin soal permohonan maaf secara institusi sebagaimana dituntut oleh Annuqayah.
Berdasarkan koordinasi sebelumnya dengan salah seorang anggota DPRD Jawa Timur, dengar pendapat bersama komisi E DPRD Jawa Timur rencananya dijadwalkan pukul 10.00 WIB. Namun, ternyata pada waktu itu ada Rapat Paripurna sehingga rombongan dari Annuqayah hanya sempat berbincang secara informal dengan beberapa anggota DPRD Jawa Timur, khususnya dari Fraksi Kebangkitan Bangsa. Jadwal dengar pendapat disepakati akan diatur setelah pertemuan di Polda.
Rombongan Annuqayah ke Polda Jawa Timur didampingi oleh 5 orang anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Jawa Timur, termasuk di dalamnya Drs. H. Fuad Mahsuni (Wakil Ketua Komisi E). Dalam acara di Polda Jawa Timur yang dimulai pukul 14.10 WIB dan dipimpin oleh Kepala Biro SDM  Kombes Pol Drs. Syaiful Zachri, M.M., disimpulkan bahwa memang ada kesalahan penafsiran oleh Panitia Pembantu Penerimaan Brigadir Brimob dan Dalmas di Polres Sumenep dalam memahami persyaratan yang tercantum di dalam brosur. Untuk itu, Polres Sumenep dijadwalkan akan segera memenuhi tuntutan Annuqayah, yakni permintaan maaf secara terbuka dari institusi Polres. Acara di Polda Jawa Timur ini dihadiri oleh Kompol Rahwini WTP (Kabak Sumda Polres Sumenep), Dr. Harun, M.Si., M.M. (Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur), Drs. H. Mahfud Shodar, M.Ag. (Kepala Mapenda Kementerian Agama Jawa Timur), Drs. H. Idham Chalid (Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep), Mery Margareta (Dinas Pendidikan Sumenep), dan jajaran Polda Jawa Timur.
12.  Pada hari Selasa, 24 Juli 2012, bertempat di Mapolres Sumenep, diadakan jumpa pers untuk pernyataan maaf Polres Sumenep memenuhi tuntutan Annuqayah terkait kesalahan tafsir Polres Sumenep dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas 2012 sehingga ijazah MA 2 Annuqayah dianggap tidak memenuhi persyaratan administrasi. Pernyataan maaf dibacakan langsung oleh Kapolres Sumenep, AKBP Dirin. Undangan dari pihak Annuqayah yang ikut hadir dalam acara ini adalah: Drs. H Taufiqurrahman (Ketua Yayasan Annuqayah), K.H. Muhammad Husnan A. Nafi' (Bendahara Pengurus PP Annuqayah), K. M. Mushthafa (Sekretaris Pengurus PP Annuqayah), K. Ahmad Syauqi Ishom (Kepala Biro Keamanan PP Annuqayah), dan K. Ahmad Faris Hamdi (Kepala Biro Bahasa PP Annuqayah). Acara ini dihadiri pula oleh K.H. Imam Hasyim (Ketua DPRD Sumenep), Drs. H. Idham Chalid, M.H. (Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep), dan Drs. H. Ataur Rahman, S.Pd., M.Si. (Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Sumenep). Acara ini diikuti oleh puluhan wartawan dari media massa cetak dan elektronik.

Selasa, Juli 24, 2012

Polres Sumenep Minta Maaf Kepada Annuqayah

Pada hari Selasa, 24 Juli 2012, bertempat di Mapolres Sumenep, telah diadakan jumpa pers untuk pernyataan maaf Polres Sumenep memenuhi tuntutan Annuqayah terkait kesalahan tafsir Polres Sumenep dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas 2012 sehingga ijazah MA 2 Annuqayah dianggap tidak memenuhi persyaratan administrasi.

Undangan dari pihak Annuqayah yang ikut hadir dalam acara ini adalah: Drs. H Taufiqurrahman (Ketua Yayasan Annuqayah), K.H. Muhammad Husnan A. Nafi' (Bendahara Pengurus PP Annuqayah), K. M. Mushthafa (Sekretaris Pengurus PP Annuqayah), K. Ahmad Syauqi Ishom (Kepala Biro Keamanan PP Annuqayah), dan K. Ahmad Faris Hamdi (Kepala Biro Bahasa PP Annuqayah). Turut hadir pula sejumlah alumni Annuqayah, seperti Drs. K.H. A. Halim Ismail, Drs. Masyhuri Drajat, Ali Mufti Ahmad, Qudsi Wahid, Yussalam Muhammad, Muhri Zain, dan sebagainya. 

Acara ini dihadiri pula oleh K.H. Imam Hasyim (Ketua DPRD Sumenep), Drs. H. Idham Chalid, M.H. (Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep), dan Drs. H. Ataur Rahman, S.Pd., M.Si. (Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Sumenep).



Sabtu, Juli 21, 2012

Pernyataan Sikap Yayasan Annuqayah tentang Kasus Ijazah MA 2 Annuqayah

Pada hari Jum'at tanggal 20 Juli 2012, Keluarga Besar Pondok Pesantren Annuqayah melakukan dengar pendapat di DPRD Kabupaten Sumenep perihal kasus ijazah Moh. Azhari yang tidak diakui atau dianggap tidak memenuhi persyaratan dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas sebagaimana ditetapkan Polres Sumenep.

Berikut ini kutipan pernyataan sikap Annuqayah yang dibacakan dalam acara tersebut.


PERNYATAAN SIKAP
Nomor : 12/SN.03/A/VII/2012

1.    Pada tanggal 17 Juni 2012 pengurus Annuqayah telah menerima laporan dari pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah yang menuturkan bahwa Moh. Azhari, salah seorang lulusannya, dinyatakan tidak lulus dalam seleksi penerimaan brigadir brimob dan dalmas di Polres Sumenep. Penyebab ketidaklulusannya adalah karena ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah yang digunakan Moh. Azhari dalam pendaftaran itu oleh Polres Sumenep dianggap sebagai ijazah pesantren yang tidak diakui atau tidak memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan Polres.
2.    Anggapan tersebut didasarkan pada ketentuan persyaratan lain yang tercantum dalam brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas Polres Sumenep yang berbunyi:
1. Berijazah serendah-rendahnya SMU/MA jurusan IPA/IPS atau SMK yang sesuai dengan kompetensi dengan tugas pokok Polri (kecuali Tata Busana dan Tata Kecantikan) dgn nilai rata-rata HUAN (Hasil Ujian Akhir Nasional) min 6,25 (enam koma dua lima) untuk IPA dan 6,5 (enam koma lima) untuk jurusan IPS dan SMK;
2. Khusus untuk lulusan pondok pesantren sesuai dengan Surat Departemen Pendidikan Nasional yang diakui setara dengan SMU dan diperbolehkan mendaftar menjadi anggota Polri antara lain: a. Ponpes Gontor Ponorogo; b. Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep; c. Ponpes Mathabul Ulum Sumenep; d. Ponpes Modern Al-Barokah Patianrowo Nganjuk;
3.    Pada tanggal 18 Juni 2012 pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah mendatangi Polres Sumenep yang kemudian diterima oleh Kepala Bagian Sumber Daya (Kabag Sumda), Kompol Rahwini WTP, untuk menanyakan langsung penyebab ditolaknya ijazah Moh. Azhari tersebut. Kabag Sumda menjelaskan bahwa penolakan ijazah Azhari sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.
4.    Pada tanggal 20 Juni 2012, pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah melapor kejadian ini kepada Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.
5.    Pada tanggal 21 Juni 2012, pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah dan jajaran Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep meminta klarifikasi kepada Kapolres Sumenep. Kapolres Sumenep, AKBP Dirin, melalui Wakapolres, Mohammad Fadil, menyatakan bahwa Polres Sumenep hanya menjalankan tugas dari Polda, dan penolakan ijazah Moh. Azhari sesuai dengan isi telegram Polda No. Tel ST/1361/VI/2012/ RO SDM tanggal 05/06/2012.
6.    Pada tanggal 5 Juli 2012, pengurus Yayasan Annuqayah, pengurus Pondok Pesantren Annuqayah, dan unsur Annuqayah yang lain serta pengurus LKP2M mendatangi DPRD Sumenep untuk menyampaikan pernyataan sikap dan permohonan agar DPRD Sumenep memfasilitasi pertemuan pihak Annuqayah dengan Polres Sumenep yang juga dihadiri oleh Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Dinas Pendidikan Sumenep, dan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep. Pernyataan sikap Annuqayah tersebut disampaikan juga dalam bentuk surat kepada DPRD Sumenep dengan tembusan kepada Polres Sumenep, Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Dinas Pendidikan Sumenep, dan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.
7.    Pada tanggal 16 Juli 2012, Annuqayah mengirimkan surat kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep yang berisi permohonan klarifikasi agar Kementerian Agama Kabupaten Sumenep memberikan penjelasan kepada Polres Sumenep bahwa ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah adalah sah dan diakui oleh sistem pendidikan nasional dan seharusnya diterima sebagai salah satu persyaratan yang sah dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas Polres Sumenep.
8.    Pada hari Senin tanggal 16 Juli 2012, sekitar pukul 16.00 WIB, Wakapolres Sumenep, Kabag Sumda Polres Sumenep, Kasat Intel Polres Sumenep, didampingi oleh Kapolsek Guluk-Guluk menemui K.H. Ahmad Basyir AS didampingi dengan K. M. Ainul Yaqin (Ketua Pelaksana Pengurus PPA), K.H. Muhammad Husnan A. Nafi’ (Bendahara Pengurus PPA), K. M. Mushthafa (Sekretaris Pengurus PPA), K. Moh. Naqib Hasan (Kepala Biro Madaris PP Annuqayah) dan K. A. Syauqi Ishom (Kepala Biro Keamanan PP Annuqayah). Wakapolres membawa surat dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Timur nomor B/4953/VI/2012/Ro SDM tertanggal 27 Juni 2012 yang menjelaskan masalah penerimaan brigadir brimob/dalmas. Surat itu berisi penjelasan yang sama dengan brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas, yakni pengakuan terhadap beberapa lembaga pendidikan pesantren yang dianggap setara dengan SMA.
9.    Dari awal hingga peristiwa ini mendapatkan perhatian publik yang luas dan diliput di beberapa media massa, masalah ini telah berdampak luas bagi banyak pihak, yaitu:
a.    Bagi Moh. Azhari, penolakan ijazahnya ini pada dasarnya adalah perampasan haknya untuk mendapatkan perlakuan yang sama berdasarkan ketentuan undang-undang.
b.    Kasus ini telah menyudutkan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah dan PP Annuqayah pada khususnya; Polres Sumenep telah menafikan fakta bahwa Madrasah Aliyah 2 Annuqayah telah mengikuti sistem pendidikan nasional dan terakreditasi B yang dikeluarkan oleh BAN-S/M Propinsi Jawa Timur tertanggal 21 Oktober 2009 berlaku sampai dengan tahun ajaran 2014/2015 serta diakui kesahannya oleh Kementerian Agama RI berdasarkan SK Kementerian Agama Republik Indonesia Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur terbaru, Nomor: Kw.13.4/4/PP.00.6/1050/2010 tertanggal 1 Juli 2010 dengan masa berlaku sampai dengan 1 Juli 2015, NSM: 131235290058. Selain itu, masyarakat dan aparat yang tidak mengerti duduk persoalannya mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tak berdasar dan merugikan kepada Madrasah Aliyah 2 Annuqayah dan Pondok Pesantren Annuqayah.
c.    Penolakan Polres Sumenep mengakibatkan semua lembaga pendidikan formal yang mengikuti sistem pendidikan nasional dan berada di bawah naungan pesantren yang memiliki badan hukum tidak diakui oleh kepolisian. Akibatnya, sangat wajar jika kemudian para pengelola lembaga pendidikan formal yang mengikuti sistem pendidikan nasional dan berada di bawah naungan pesantren yang memiliki badan hukum sangat resah dan bahkan melakukan unjuk rasa terhadap kepolisian yang dianggap mendiskriminasikan mereka.
d.    Menafikan kewenangan institusi negara yang lain yang telah diatur dalam perundangan-undangan negara (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003), yakni Kementerian Agama RI dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M).
10. Untuk itu, kami menuntut :
a.    Polres Sumenep menunjukkan dasar hukum yang sah dan relevan atas ditolaknya ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas secara langsung kepada kami dan kepada publik melalui sekurang-kurangnya 2 media cetak lokal, 2 media elektronik lokal, 3 media cetak nasional, dan 3 media elektronik nasional paling lambat 3 hari setelah tanggal 20 Juli 2012.
b.    Jika tuntutan poin (a) tidak terpenuhi, Polres Sumenep, sebagai institusi yang bertanggung jawab atas penolakan keabsahan ijazah Moh. Azhari, harus:
1)   Mengakui kesalahan pemahamannya atas persyaratan pendaftaran sebagaimana tercantum dalam brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas.
2)   Meminta maaf atas kesalahan pemahamannya itu secara terbuka melalui sekurang-kurangnya 2 media cetak lokal, 2 media elektronik lokal, 3 media cetak nasional, dan 3 media elektronik nasional paling lambat 3 hari setelah tanggal 20 Juli 2012. Permohonan maaf ditujukan kepada Madrasah Aliyah 2 Annuqayah, Pondok Pesantren Annuqayah, dan semua lembaga pendidikan formal yang mengikuti sistem pendidikan nasional dan berada di bawah naungan pesantren yang memiliki badan hukum.
3)   Menjamin lulusan sekolah/madrasah yang telah diakui resmi oleh negara sesuai undang-undang yang berlaku, khususnya sekolah/madrasah yang terkait atau berafiliasi dengan pondok pesantren, untuk diperlakukan sama dengan sekolah/madrasah pada umumnya dalam penerimaan calon anggota Polri.

Guluk-Guluk, 20 Juli 2012
Pengurus Yayasan Annuqayah,
Ketua Umum


Drs. H. Taufiqurrahman
               

Selasa, Juli 10, 2012

Sanggar Tikar Tampil di Pentas Seni se-Jawa Timur



Indah Susanti, PPA Karang Jati Putri

 
Guluk-Guluk—Sanggar Tikar SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, menghadiri undangan acara pentas seni se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumenep, Selasa (3/6) malam. Pentas seni ini adalah salah satu acara dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan se-Dunia yang dilaksanakan BLH Jawa Timur dan ditempatkan di Sumenep. Peringatan Hari Lingkungan se-Dunia ini mengangkat tema “Ekonomi Hijau: Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan”.

Acara yang cukup meriah tersebut dihadiri oleh lembaga pendidikan se-Jawa Timur, termasuk Badan Lingkungan Hidup se-Jawa Timur. Acara ini ditempatkan di Lapangan Giling Sumenep.

Sekitar pukul 18.35 WIB sesudah shalat maghrib, rombongan Sanggar Tikar SMA 3 Annuqayah berangkat ke Sumenep. Dengan jumlah anggota 12 orang dan 3 pendamping, yaitu K. M. Mushthafa, S. Fil., M.A, kepala SMA 3 Annuqayah, K. Muhammad Affan, S. Ap, guru SMA 3 Annuqayah, dan Khofiyatul Jannah.

Dalam perjalanan menuju  Sumenep, suasana sedikit tegang, karena ada keraguan untuk tampil di panggung yang akan disaksikan oleh ratusan penonton dari Jawa Timur, dengan persiapan latihan yang hanya 2 hari. Itu pun tidak maksimal, karena keterbatasan waktu.

Tiba di Giling, rombongan Sanggar Tikar langsung mencari tempat untuk mempersiapkan kostum serta alat-alat yang akan dipergunakan ketika pementasan.  Sebelum acara pentas dimulai, Indah Susanti, salah satu anak Sanggar Tikar, mendaftar ke panitia dan meminta konsumsi. Sekitar 5 menit konsumsi datang yang disambut senyum bahagia anak sanggar yang lain.

“Maklum Bak Atul (sapaan akrab Khofiyatul Jannah),  tidak usah kaget, melihat roti langsung ludes, perut kami sudah keroncongan,” ujar Darna Ningsih melihat ekspresi Khofiyatul Jannah kaget, melihat konsumsi langsung ambles, yang disambut tawa oleh yang lain.

Acara pun dimulai dengan sangat meriah. Sanggat Tikar mendapatkan giliran tampil urutan kelima. Sebelum tampil mereka doa bersama.

“Ba’ Indah, aku deg-degan nih!” ucap Novia Verawati. “PD saja Vi..anak sanggar pasti bisa,” kata Indah memberi semangat. Maklum, semua anak Sanggar Tikar sebelum tampil sedikit grogi, karena ini baru pertama kali tampil pentas se-Jawa Timur.

“Kalian tidak usah minder, dari tadi penampilan yang lain tidak ada hubungannya dengan lingkungan, jadi kalian harus semangatl,” ujar K. Muhammad Affan memberi semangat.

Sanggar Tikar tampil mulai pukul 20.45 WIB. Pukul 21.18 WIB, pementasan Sanggar Tikar usai, yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars Lingkungan yang diiringi musik lokal dan petikan gitar K. Muhammad Affan. Terdengar tepuk tangan meriah dan pujian dari ratusan penonton setelah pementasan teater yang dimainkan Sanggar Tikar berakhir, yang mengangkat  judul “Amarah Bumi “.

“Satu-satunya penampilan yang mampu menghipnotis penonton,” ujar K. Muhammad Affan, menghampiri anak Sanggar Tikar yang bersiap-siap berganti pakaian. Mereka pun mengucapkan syukur dengan tersenyum bahagia.

Menjelang pukul 10 malam, rombongan Sanggar Tikar bersiap untuk pulang. Dalam perjalanan menuju mobil, Darna Ningsih salah satu anak sanggar, dipanggil oleh salah seorang penontoh.

“Nak, kamu salah satu yang tampil tadi?” tanya bapak setengah baya menghentikan langkah Darna Ningsih. “Iya, Pak?” jawab Darna. “Kalian sungguh hebat! Pementasan kalian sangat bagus! Cara menjiwainya kalian sungguh bagus!” ujar bapak setengah baya itu mengangkat dua jempolnya. Darna hanya tersenyum.

Dalam perjalanan pulang, anak Sanggar Tikar sibuk bercerita, menyanyikan lagu Mars Lingkungan dengan diiringi lelucon Fatim, salah satu anak Sanggar Tikar yang memang terkenal dengan komedinya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, rombongan Sanggar Tikar tiba di sekolah.


Berita ini dikutip dari blog Madaris III Annuqayah.