Kamis, Januari 12, 2012

‘Mati Terkubur’ di Taman Baca sang Kiai


Anam Al-Yumna
Santri Annuqayah Latee Guluk-Guluk Sumenep
alyumna89@gmail.com

Terhitung sejak tahun baru 2012, saya merasa tercerahkan setiap hari. Puluhan buku mampu mengobati dahaga saya dalam membaca. Hidup di pulau Madura yang geliat baca masyarakatnya masih minim menuntut kecakapan tersendiri dalam membaca buku. Jangan sampai terikut arus destruktif. Dan saya boleh berbangga karena salah satu penyair nasional yang juga kiai saya, M Faizi, dengan suka rela memberikan keleluasaan kepada para santri untuk membaca bukunya. Setiap hari: pagi, siang, sore, maupun malam.

Saya mengenyam pendidikan keagamaan di salah satu pesantren Madura yang sudah berperadaban tinggi, Annuqayah. Tolok ukur yang saya gunakan untuk menyatakan itu ialah kepedulian pesantren yang berdiri 1887 itu terhadap urgensitas membaca. Terdiri dari belasan pesantren daerah dan ragam satuan pendidikan, di dalamnya berdiri kukuh belasan perpustakaan atau taman baca. Pengelolaannya ditangani oleh para santri dan atau siswa secara optimal. Siapapun pasti mengamini, pencerahan pasti terbangun dari taman baca tersebut.

Taman baca kiai M Faizi terbilang beda. Pengelolaannya tidak terlalu formal. Tidak ada petugas khusus yang menanganinya. Taman baca tersebut ditempatkan di serambi utara mushallanya, luasnya berkisar 7 x 3 meter. Buku-buku ditaruh di dalam lemari yang terdiri dari 4 rak. Dan tiap-tiap rak lemari itu terdiri dari buku-buku beragam jenis judul bacaan. Namun kalau dipukul rata, kebanyakan berjenis buku sastra. Memikat dan fantastik!

Menariknya, buku-buku tersebut tampaknya memang diniatkan untuk dibaca siapa saja. Setidaknya hal itu terlihat dari tempat yang dipilih oleh kiai M Faizi. Karena memilih serambi mushalla pesantren, tentu tak ada pintu. Konkretnya, taman baca itu dibuka non-stop sepanjang waktu. Dari situ tak heran ketika dijumpai beberapa santri terlelap tidur di dalamnya, dengan nyenyaknya berbantalkan buku.

Taman baca kiaiku itu amat besar manfaatnya. Para santri yang tak punya uang banyak untuk membeli buku, tentu terbantu. Mereka berpeluang tinggi memperluas cakrawala keilmuannya tanpa harus mengeluarkan uang untuk beli buku. Mereka cukup berbekal kemauan tinggi, memanfaatkan waktu secara optimal dengan rekreasi ke taman baca kiaiku itu. Bisa sendirian atau bahkan rombongan dengan para santri lainnya yang memiliki minat tinggi dalam membaca.

Secara pribadi, merenungi adanya taman baca kiaiku itu, saya kian tersadarkan bahwa selama ini memiliki mursyid yang wawasannya amat tinggi. Saya amat mujur memiliki kiai yang ”gila baca”. Sebelumnya saya menyangka kiaiku yang pernah diundang ke Jerman berkat produktivitas berkarya itu mendalami puisi an sich, hanya membaca buku-buku puisi. Tetapi pada akhirnya sangkaan saya keliru. Kiaiku itu ternyata membaca apa saja yang dapat mendongkrak pengetahuannya yang sudah mapan. Ini terbukti dari buku-buku miliknya yang terdiri dari ragam jenis bacaan: filsafat, sejarah, politik, budaya, dan tentu agama.

Tidak hanya buku, taman baca kiaiku itu juga dilengkapi dengan ragam majalah dan klipingan koran-koran edisi lama tapi tetap penting dibaca. Majalah National Geographic dan jurnal Ulumul Quran merupakan dua bacaan yang selalu menggoda selera bacaku. Siapapun tahu, terutama mereka yang sadar pentingnya informasi, National Geographic adalah bacaan yang dapat merangsang daya ingin tahu kita terhadap misteri kehidupan ini. Melaluinya, wawasan pengetahuan kita bakal bertambah tajam, melebihi tajamnya silet. Apalagi, majalah yang harganya berkisar Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu selalu ter-up-to-date. Entah dari mana kiai M Faizi mendapatkannya.

Belum lagi jurnal Ulumul Quran. Melaluinya, pembaca dapat memperdalam pemahaman keagamaannya secara kritis. Telaah pustaka dan hasil penelitian para penulis serta peneliti andal Indonesia mewarnai jurnal tersebut. Bahkan, karya-karya para penulis dan peneliti manca-negara pun hadir di dalamnya.

Saat membaca buku, sesekali saya mencermati halaman pertama sebelum daftar isi. Tak jarang saya jumpai tanda tangan penulisnya. Di situ tertera kata-kata yang menunjukkan bahwa buku tersebut hadiah buat kiai M Faizi dari penulis. Tanpa disadari, saya pun berdecak kagum atas luasnya persahabatan kiai M Faizi dengan para penulis, sastrawan, penyair, dan atau budayawan kenamaan Indonesia dan luar negeri seperti Jamal D Rahman, Joni Ariadinata, Binhad Nurrohmat, dan seterusnya.

Semangat membaca santri tampaknya tidak hanya terangsang dari buku-buku berkualitas di dalam taman baca kiaiku itu. Lebih dari itu ialah sambutan hangat dari pemiliknya. Bisa dipastikan, kalau ada pembaca berkunjung dan kebetulan kiai M Faizi tidak sedang bepergian, pengunjung tersebut bakal mendapatkan senyuman hangat. Adakalanya ia nyaris tidak dapat menahan sakit perut karena tertawa lepas atas humor-humor yang dilontarkan oleh kiai M Faizi, seringkali di luar dugaan.

M Faizi, bagi saya, merupakan sosok kiai bersahaja dengan segudang karya yang telah ’menerbangkan’ namanya ke mana-mana. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga lintas negara. Dan kini ia semakin menguatkan penilaian banyak kalangan selama ini bahwa dirinya termasuk kiai yang peduli terhadap peradaban dunia.

Bila anda masih ragu, berkunjunglah ke taman baca kiaiku itu.

Tulisan ini dimuat di Warteg Surya, 10 Januari 2012.

1 komentar:

M. Faizi mengatakan...

"Hampir berlebihan.."

di atas itu semua, terima kasih karena Anam termasuk yang paling sering tidur-tiduran di depan bekas lemari baju yang kini jadi rak buku itu...