Sabtu, Januari 14, 2012

Lubsel Rencanakan Bangun Asrama Baru

Paisun, PPA Lubangsa Selatan

Guluk-Guluk—Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Selatan (PPA Lubsel) tahun ini bermaksud membangun asrama baru. Asrama yang akan dibangun tersebut rencananya berjumlah 10 kamar dengan ukuran masing-masing 3m x 3m.

Pembangunan asrama ini amat penting dalam rangka untuk menyediakan tempat tinggal yang nyaman dan layak untuk santri. Hal ini karena jumlah santri semakin banyak sementara asrama pondok yang ada kurang mencukupi.

Untuk diketahui, saat ini, PPA Lubsel telah memiliki 22 kamar dengan rincian: 3 kamar permanen dengan ukuran 3x4m, 9 kamar semi-permanen berukuran 2x2m dan 10 kamar permanen berlantai dengan ukuran 4x4 m. Jumlah kamar tersebut tidak sebanding dengan jumlah santri yang mencapai 231 orang. Bahkan, dalam salah satu kamar semi-permanen, ada yang didiami hingga 11 orang.

Kesulitan Dana

Muhammad Hilman, S.Pd.I, koordinator pembangunan di PPA Lubsel, menyatakan bahwa sedianya proses pembangunan asrama baru tersebut akan dilaksanakan pada bulan ini. Namun, masalah klasik yang selalu menghantui adalah dana.

Menurutnya, estimasi biaya yang dibutuhkan sekitar Rp. 180 juta, sementara dana yang tersedia saat ini baru Rp. 40 juta. Selisih yang besar antara dana yang tersedia dengan dana yang dibutuhkan itulah yang menyebabkan ia ragu untuk memulai proses pembangunan tersebut. Menurutnya, proses pembangunan asrama kemungkinan besar akan dimulai pada bulan Februari mendatang.

Sebenarnya, fondasinya sudah selesai. Bahannya juga ada sebagian. Kita punya semen 20 sak, kusen lengkap, juga batu bata 7 truk. Tapi, bahan baku utama berupa pasir belum didapatkan,” ujar alumnus Instika pada tahun 2011 tersebut. Menurutnya, pada musim penghujan, pasir semakin sulit diperoleh.

“Saya sudah mencoba menghubungi beberapa alumni, khususnya yang dekat pantai. Tapi tetap masih belum berhasil,” pungkasnya.

Bergantung kepada Alumni   

Masih menurut Hilman, untuk menutupi dana pembangunan yang besar tersebut, ia bergantung kepada sumbangan dari alumni. Hal ini karena pengasuh PPA Lubsel, K. Moh. Halimi Ishom, S.H.I, sangat hati-hati terhadap sumber dana pembangunan tersebut. Beliau tidak ingin dana yang digunakan nantinya berasal dari sumber yang syubhat apalagi haram. Karenanya, panitia pembangunan tidak dibolehkan sembarangan mengajukan proposal. Setiap proposal yang hendak diajukan harus terlebih dahulu mendapat izin dari pengasuh.

Dengan begitu, panitia pembangunan berusaha memaksimalkan potensi alumni. Setiap 2 bulan, sebagian alumni PPA Lubsel mengadakan pertemuan rutin untuk turut memikirkan pembangunan pondok. Biasanya setiap pertemuan ada saja alumni yang memberi bantuan, baik berupa bahan bangunan maupun dalam bentuk dana.

Selain itu, panitia pembangunan juga mendapat suntikan dana dari alumni dan orang tua santri yang tergabung dalam Persatuan Santri dan Simpatisan (Pessan) PPA Lubsel yang rutin melakukan pertemuan selama 2 tahun satu kali.

“Kami juga mencoba menyebarkan infaq kepada masyarakat dan santri, meski jumlahnya tidak signifikan. Infaq bisa berupa jagung atau padi. Untuk tahun ini, hanya 250 plastik yang akan disebarkan,” tutur santri asal Kaduara tersebut.

Diakui bahwa hal tersebut masih belum mencukupi untuk pembangunan. Karenanya, ia sangat berharap kepada alumni dan simpatisan yang mempunyai kerelaan untuk memberi sumbangan agar proses pembangunan asrama baru tersebut bisa cepat selesai sehingga dapat segera ditempati oleh santri.

Tidak ada komentar: