Senin, Januari 16, 2012

Latee II Laksanakan Ujian Diniyah


Husnul Khatimah Arief, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Santri Latee II belakangan ini disibukkan dengan aktivitas belajar dan menghafal materi-materi diniyah. Hal ini karena sejak Jumat kemarin (13/1), Madrasah Diniyah Latee II (Madal II) mengadakan ujian semester gasal. Ujian ini akan dilaksanakan selama lima hari, yakni sejak tanggal 13-17 Januari.

Pelaksanaan ujian ini memang sengaja dilakukan setelah ujian semester  siswa dan UAS mahasiswa. Pelaksanaan yang diakhirkan ini dimaksudkan untuk memberi keringanan pada siswa setelah beban mereka menghadapi ujian di madrasah formal hilang. Hal ini disampaikan oleh Ghayatul Ismiyah, ketua panitia ujian semester gasal.

Beda dari biasanya, kali ini banyak santri yang menggunakan metode diskusi dalam belajar daripada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat jelas dari banyaknya kelompok belajar yang digelar di mushalla dan perpustakaan.

Di serambi mushalla dan perpustakaan terlihat sekitar lima kelompok belajar dari tingkat Awwaliyah dan Wustha tengah menyibukkan diri dengan berdiskusi. Mereka mengakui bahwa belajar bersama (berdiskusi) lebih efektif dan efisien untuk mengingat pelajaran. Apalagi, mereka bisa melengkapi pengetahuan yang belum dipahaminya dengan pengetahuan yang dimiliki temannya.

“Saya lebih suka belajar seperti ini (berdiskusi) ketimbang belajar sendirian. Kalau belajar bersama teman-teman, saya pasti dapat pengetahuan baru dari mereka,” tutur Arini, siswa kelas VI Awwaliyah, saat ditemui di serambi mushalla kemarin.

Pelaksanaan ujian diniyah kali ini bisa dikatakan tidak memberatkan siswa, karena tidak ada penarikan biaya ujian. Hal ini karena Madrasah Diniyah Latee II mendapatkan nada BPPDGS (Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan Diniyah dan Guru Swasta) dari Dinas Pendidikan Jawa Timur senilai Rp. 64.000.000,- (enam puluh empat juta rupiah). Tentu saja kebijakan ini menjadikan siswa tenang dan bahagia. Tugas mereka sekarang hanya belajar mempersiapkan ujian.

Seperti tiga tahun sebelumnya, pihak Madal II mempersiapkan kartu ujian dan lilin untuk diberikan pada setiap siswa. Pemberian lilin ini pada awalnya diberlakukan saat ujian Madal II dilaksanakan malam hari setelah sebelumnya dilakukan pada siang hari. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi bila lampu padam.

“Kami harus memberikan lilin pada tiap siswa. Hal ini menjaga kemungkinan lampu padam. Yah, kalau nanti lampu padam tapi tidak ada lilin, ujiannya pasti akan ditunda. Sementara lembar soal sudah dibaca oleh siswa. Wah, ini tentu akan bermasalah,” ungkap Nashriyah Busadin, Wakil Kepala Madal II, dengan nada tegas.

Selain belajar pada siang hari, santri juga belajar pada malam hari. Ketekunan mereka terlihat ketika mereka rela menghabiskan waktu malam hanya untuk belajar.

Sebagian dari mereka lebih memprioritaskan ujian diniyah daripada ujian di madrasah formal. Hal ini diakui oleh Qurratul Aini, Siswa kelas V Awwaliyah, yang masih tercatat sebagai siswa XI Madrasah Aliyah Program Keagamaan. Baginya, diniyah lebih baik ia dahulukan daripada madrasah formal. Ia menilai bahwa berada di pondok pesantren pada hakikatnya adalah belajar agama, sedangkan madrasah formal hanya pendidikan pelengkap.

Tidak ada komentar: