Selasa, April 06, 2010

K Muzakki Beri Maw‘izhah Hasanah di Lubangsa


Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

GULUK-GULUK—Senin malam (5/4) kemarin, seperti biasa, bel berbunyi pertanda shalat Isya’ berjama’ah di Masjid Jamik Annuqayah akan dimulai. Seluruh santri berdiri untuk menyambut pengasuh yang akan datang sebagai imam shalat. Namun, pengasuh yang ditunggu-tunggu tidak hadir.

Malah seluruh santri dikagetkan dengan kedatangan KH Muzakki Zain dari arah timur. Beliau datang bukan untuk mengimami shalat Isya’ berjama’ah lantaran pengasuh berhalangan. Terbukti kiai yang berasal dari Lengkong Bragung tersebut menyuruh pengurus untuk mengimami, sedangkan ia menjadi makmum.

Seusai shalat, seluruh santri semakin dibuat penasaran ketika pengurus PP Annuqayah Lubangsa seksi Peribadatan dan Kepesantrenan (PK) menyuruh santri untuk mundur tiga shaf lagi ke belakang setelah sebelumnya sudah mundur dua shaf.

Lalu, Abdul Wasik, salah satu pengurus PK tampil ke depan untuk memandu acara. Barulah santri mengerti ketika ia menjelaskan maksud dan tujuan mereka (pengurus PK) mengundang K Muzakki pada malam itu.

“Acara itu adalah maw‘izhah hasanah yang memang sudah menjadi salah satu program kerja kami (pengurus PK) untuk memberikan spirit kepada santri dalam menimba ilmu di pesantren ini dan juga untuk memperbaiki moralitas santri,” ungkapnya ketika ditemui di biliknya, blok C/11, seusai acara.

Di dalam maw‘izhah yang berlangsung selama 30 menit tersebut, K Muzakki banyak memaparkan tentang pengalamannya ketika masih berstatus menjadi santri di PP Annuqayah Lubangsa.

Sekitar tahun ‘60 s/d ‘70-an ia pernah ditanya oleh (alm) K Amir Ilyas dengan redaksi bahasa Madura: “Sampeyan dheri roma entar ka pesantren nganuah apah? (Kamu dari rumah pergi ke pesantren untuk apa?). Karena tidak ada jawaban, lalu K Amir Ilyas menyarankan kepada seluruh santrinya untuk meluruskan dan membulatkan niat memilih mondok ke pesantren.

“Ada dua niat yang harus ditegaskan menurut beliau. Pertama niat mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan. Kedua, niat untuk belajar budi pekerti yang baik,” ungkap kiai yang mengajar kitab Mawahib al-Shamad setiap hari Senin pagi di Masjid Jamik Annuqayah itu.

Di samping itu, ia juga mengungkapkan mengapa tradisi pengajian kitab yang ada di Lubangsa diletakkan pada pagi hari. Pasalnya, (alm) K Ilyas Syarqawi pernah mengatakan agar santri tidak biasa tidur di pagi hari.

“Tidur pagi sangat merugikan kepada kita, sebab Allah menurunkan malaikat di pagi hari untuk menurunkan rizki. Rizki apa saja, baik berupa ilmu, kesehatan bahkan harta,” tambahnya.

Tidak ada komentar: