Selasa, Januari 20, 2009

Kisah Pilu Anak-Anak di Medan Perang


An’amah, PPA Al-Furqaan Putri

GULUK-GULUK—Hari Ahad (18/01/09) kemarin sekitar pukul 08.30 wib Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah mengadakan pemutaran film berdurasi 95 menit berjudul Turtles Can Fly. Acara ini dihadiri oleh sekitar 41 peserta dari berbagai delegasi: OSIS SMA 3 Annuqayah, OSIS MTs 3 Annuqayah, OSIS MA 1 Annuqayah, LPM STIK Annuqayah serta beberapa pengurus perpustakaan dari berbagai komplek di Annuqayah, dan lain-lain.
Sebelum menyaksikan film ini bersama-sama, Siti Nujaimatur Ruqoyyah, siswi XI IPA SMA 3 Annuqayah, tampil membacakan satu cerpen karya Asma Nadia berjudul “Merah di Jenin”, sebuah cerpen yang mengisahkan tragedi keluarga muslim Palestina yang diserbu tentara Israel.
Turtles Can Fly, yang disutradari oleh Bahman Ghobadi, ini pernah memenangi beberapa penghargaan pada tahun 2004: San Sabastian International Film Festival Best Film dan San Paulo International Film Festival International Jury and Audience Award. Dan, pada tahun 2005 film ini kembali menyabet beberapa penghargaan: Rotterdam International Film Festival Audience Award, Chichago International Film Festival Special Jury Award, Tbilisi Internatonal Film Festival Golden Prometheus Best Film dan Berlin Film Festival Best and Feature Film and Peace Film Award.
Berlatar belakang Suku Kurdi yang menggambarkan tentang kemiskinan, kepedihan dan bagaimana beratnya menjalankan kehidupan dalam peperangan, film ini berkisah tentang sekelompok anak yang menghidupi diri mereka dengan menggali ranjau-ranjau darat yang tersebar di sekitar mereka di sebuah kamp pengungsi di desa Kanibo dalam tekanan rezim Saddam Hussein dimana kehidupan di sana sangat terbatas. Termasuk betapa sulit dan sangat terbatasnya mendapatkan informasi melalui saluran televisi di tengah simpang-siurnya isu bahwa Amerika akan menyerang Irak.
"Setelah nonton film ini saya merasa menjadi anak yang sangat beruntung sekali tinggal di Indonesia yang terbebas dari perang walaupun belum sepenuhnya 'merdeka'," komentar Ummul Karimah, ketua OSIS SMA 3.
Setelah menyaksikan bersama film ini, para hadirin memberi apresiasi. Ada yang berpendapat bahwa sebenarnya film yang dirilis tahun 2004 ini tidak terlalu menguras emosi. Cerita juga dibangun tidak begitu kuat, namun, sang sutradara, Bahman Ghobadi mampu menutupinya dengan iringan instrumen yang cukup menggugah dan menyentil perasaan.
Ada pula yang menyayangkan mengapa Ghobadi tidak menampilkan apa yang terjadi pada Satellite dan rakyat Irak—pada garis besarnya—setelah pasukan Amerika tiba di Irak.
Namun, apapun alasannya, perang tetap akan menyisakan derita kemanusiaan dan hanya akan menimbulkan luka masa lalu yang akan begitu sangat menyakitkan dalam jiwa anak-anak yang merasa tak lagi memiliki masa depan cukup cerah. Kira-kira demikianlah kesimpulan apresiasi para peserta acara nonton bareng ini, yang memang selaras dengan tujuan diadakannya acara pemutaran film ini.

Tidak ada komentar: