Sabtu, Mei 22, 2010

Santri Latee Belajar Membuat Jamu Obat Hepatitis


Hairul Anam al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Di saat hampir berakhir masa kepengurusan, lagi-lagi pengurus Olahraga, Kesenian, dan Kesehatan (Orkestra) PPA Latee mengadakan kegiatan. Kegiatan tersebut berupa pelatihan membuat jamu yang bisa dimanfaatkan sebagai obat penyakit Hepatitis.

Bertempat di dapur Pesantren, Jum’at pagi (21/5), sekitar 24 orang santri bergerombol. Mereka bukan menanak nasi sebagaimana biasanya, melainkan meracik jamu yang dibimbing langsung oleh Abdurrahman, mantan pengurus Balai Kesehatan Pondok Pesantren Annuqayah (BKPPA).

Lima hari sebelum pelatihan ini dimulai, pengurus Orkestra menyebar pamlet pendaftaran. Salah satu yang menjadi syarat pendaftaran ialah pendaftar dikenakan uang kontribusi sebesar Rp. 5.000,-. Sayangnya, sampai H-1, tak satu pun ada santri yang mendaftar.

“Kami pun (pengurus Orkestra, red.) melakukan evaluasi. Ternyata permasalahannya kami temukan pada kontribusi pendaftaran. Kami menganggapnya terlalu mahal, sehingga dikurangi secara drastis dari Rp. 5.000,- menjadi Rp. 1.000,-. Syukurlah keesokan harinya banyak adik-adik santri yang mendaftar,” papar Ahmad Faidhal, Koordinator Orkestra, di kantor Pesantren.

Ahmad Faidhal juga menyatakan bahwa pelatihan tersebut merupakan tindak lanjut dari acara penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan satu hari sebelumnya (20/5).

“Kami memang sudah merumuskannya dalam program kerja di Departemen Orkestra. Tidak sekadar mengadakan penyuluhan, melainkan ada semacam langkah lebih lanjut setelah itu,” katanya sambil menuangkan air ke dalam nampan.

Selain itu, dia mengurai kembali segala hal yang berkenaan dengan masalah kesehatan yang dialami santri selama ini. Mereka harus menanggung biaya yang cukup besar mengingat biaya berobat ke dokter bisa dikatakan mahal.

“Salah satu tujuan dari pelatihan ini ialah agar santri mampu mandiri dalam menjaga staminanya. Obat ini bisa dijadikan minum-minuman guna menambah kesegaran tubuh. Tidak harus kena penyakit hepatitis dulu untuk meminumnya. Dengan begitu, lebih baik mencegah daripada mengobati,” tambah mahasiswa Mu’amalah STIK Annuqayah semester akhir itu.

Pelatihan yang dimulai sekitar pukul 07.45 WIB ini ditanggapi serius oleh Husnol Khuluq, salah satu santri Latee yang sampai saat ini tidak sembuh total karena dikena penyakit hepatitis.

“Selama setengah bulan, banyak uang yang telah saya keluarkan guna membeli obat tradisional yang bahannya sebagaimana yang terdapat dalam pelatihan ini. Dengan pelatihan ini, saya tidak harus repot-repot membelinya lagi,” katanya sambil memerhatikan arahan yang diberikan Abdurrahman.

Alat-alat yang digunakan dalam pelatihan ini cukup sederhana: kompor gas, panci, alat pemarut, dan nampan. Begitu pula dengan bahan-bahannya: temulawak 1 kg dan gula 1 kg. Proses pembuatannya juga tidak sulit: setelah temulawak diparut dan dicampur dengan gula, langkah selanjutnya ialah memasaknya sambil lalu diaduk.

Bila dicermati, tampak sekali keceriaan dari para peserta. Mereka serius selama proses pembuatan jamu berlangsung. “Kami sangat senang bisa belajar membuat jamu seperti ini. Ketika liburan pesantren nanti, saya akan coba membuatnya di rumah agar dimanfaatkan oleh keluarga,” kata Abd Majid, peserta pelatihan yang kini tercatat sebagai Koordinator Rayon al-Qurthubi.

Tidak ada komentar: