Minggu, Oktober 02, 2011

Menyelamatkan “Jendela” Santri Annuqayah

Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

Seberapa sering Anda mendengar kalimat yang menyatakan bahwa buku adalah jendela dunia? Seberapa besarkah perhatian masyarakat terhadap buku?

Pertanyaan-pertanyaan iseng itu muncul ketika saya melihat buku-buku milik Perpustakaan Pondok Pesantren Annuqayah yang berserakan di bawah tangga menuju lantai II di Kantor Sekretariat Bersama Pondok Pesantren Annuqayah. Ya, hampir tiga bulan buku itu berserakan di sana.

Buku yang jumlahnya sudah tidak sampai 150 eksemplar itu dipindah dari kantor Perpustakaan Annuqayah yang terletak di kompleks Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa guna mengantisipasi hilangnya buku lebih banyak lagi.

Niat awal memang baik, yakni menyelamatkan buku-buku yang tersisa setelah sekian banyak buku yang hilang dibandingkan dengan yang ada saat ini. Maksud hati ingin menyelamatkan buku, justru malah semakin menelantarkannya dan semakin membuat tidak jelas nasibnya. Buku yang menjadi “jendela” bagi santri Annuqayah itu berserakan tanpa ada yang mau peduli.

Lalu, muncul inisiatif Riyadi, kepala staf Pondok Pesantren Annuqayah, untuk memindahkan buku-buku itu ke kantor Penerbitan Pondok Pesantren Annuqayah di Sekretariat Bersama PPA lantai II. Inisiatif itu muncul karena perpustakaan Annuqayah dengan penerbitan Annuqayah masih berada dalam satu biro di dalam struktur pengurus Annuqayah, yaitu Biro Publikasi Informasi dan Kepustakaan Pondok Pesantren Annuqayah.

Maka, pada malam Kamis (28/09) yang lalu, atas persetujuan K.H. A. Hanif Hasan, ketua pengurus Pondok Pesantren Annuqayah, buku tersebut untuk sementara dipindah ke kantor penerbitan.

Buku itu dipindah dari tempat awal karena administrasi Perpustakaan Annuqayah amburadul sehingga santri yang meminjam buku banyak yang tidak mengembalikan dan pengurus perpustakaan tidak memiliki data yang valid untuk melacaknya.

Namun, buku-buku itu hanya dipindah saja. Tidak ada penyelamatan yang berarti ketika dipindah ke Sekretariat Bersama PPA sehingga santri yang berkunjung ke kantor itu bisa asal comot saja dan membawanya—entah, dikembalikan atau tidak. Selain itu, beberapa mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) semester VII yang kebetulan menjadi pengurus di salah satu kantor di Sekretariat Bersama PPA ini dan mulai menggarap proposal skripsi juga turut mengambil buku-buku tersebut..

Semoga dalam waktu dekat ini ada tindakan yang semestinya agar pondok pesantren tercinta ini bisa memandang dunia dengan lebih luas. Amien.

3 komentar:

Bernando J Sujibto mengatakan...

WaH WAH..... gimana kabar perpustkaan Annuqayah sekarang? Ayo rawat ya sisa buku2 masa lalu itu dan manfaatkan seadanya....

Aku lahir dari rahim perpus di sana...

salam

Bje

Fandrik Ahmad mengatakan...

mengenaskan! pondok Pesantren Segede Annuqayah perpusnya "la yamutu w la yahya" tak bermutu dan tak berdaya.............

Yuli Andriansyah mengatakan...

Semoga segera ada solusi untuk masalah ini. Teman-teman alumni Annuqayah yang kami kenal memiliki prestasi bagus sebagai pertanda kuatnya kerangka pendidikan di pesantren ini. Tentu akan lebih baik lagi jika kualitas perpustakaannya ditingkatkan.

Salam. Yuli Andriansyah, Prodi Ekonomi Islam, FIAI, UII