Jumat, Februari 17, 2012

Jalan Terjal Meraih Doktor

Ahmad Sahidah PhD
Dosen Sains Pemikiran dan Etika Universitas Utara Malaysia

Betapa pun, hubungan Indonesia dan Malaysia sering memburuk, namun pada waktu yang sama keduanya acapkali bertemu dan mengikat janji. Bahkan, setelah moratorium pengiriman tenaga kerja sektor pekerja tata laksana rumah tangga berlangsung dua tahun, kedua negara serumpun memeterai perjanjian untuk mencairkan pembekuan  ini. Pada saat bersamaan, investasi Malaysia ke Indonesia makin meningkat, namun ia pun tak menggoyahkan rasa nyinyir orang ramai. Apa pun, terkait dengan negara tetangga, buruk. Potret paling terang benderang  adalah rasa nasionalisme yang membuncah ketika pertandingan akhir Sea Games ke-26 di Gelora Bung Karno, betapa ratusan ribu orang memadati stadion kebanggaan itu dengan pesan jelas Ganyang Malaysia!

Tetapi, bola bundar itu menunjukkan wataknya. Ia bisa membalikkan keadaan karena faktor lain. Meskipun Garuda Muda bertaburan pemain bintang, belum lagi didukung tiga penyerang handal, namum tim besutan Rahmad Darmawan ini justeru tersungkur di babak adu penalti. Apa yang bisa dipelajar dari Harimau Muda? Adakah kita mau menyisakan sedikit rasa kagum terhadap anak-anak asuhan Ong Kim Swee? Pertanyaan ini perlu dilontarkan agar kita tak melulu melihat wajah jahat negara tetangga. Selain itu, ada hal lain yang juga perlu ditengok, yaitu pendidikan.  Bagaimanapun, isu ini perlu diperhatikan karena sebagaimana dikatakan oleh Lyndon B John son, At the desk where I sit, I have learned one great truth, the answer for all national problems - the answer for all the problems of world - come to a single word. That word is "education". 

Tentu saja, saya akan menyoroti salah satu isu penting di kalangan perguruan tinggi kita, kekurangan pengajar berkualifikasi S3.  Bagaimanapun, masalah kekurangan dosen berkualifikasi doktor terkait dengan prilaku birokrasi kebanyakan kampus di sini masih juga belum berubah. Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional pun tak kalah bacul, kementerian yang dipimpinnya akan menggenjot usaha menambah tenaga pengajar bergelar doktor hingga 20 persen tahun 2015. Sementara, menurut Reza Muhida, ketua ILRAM (Indonesian Lecturer and Researcher Association Malaysia), ada 300 orang dosen asal Indonesia yang menyandang gelar doktor mengajar di Malaysia. Malah, ada kecenderungan pertambahan jumlah secara konsisten.  Apakah ada yang salah dengan keadaan di negeri sendiri?

Saya masih ingat cerita seorang pejabat di sebuah universitas negeri di Yogyakarta yang menyatakan bahwa ada seorang calon doktor yang belum menyelesaikan kuliahnya hingga 16 tahun. Selain itu, ada banyak dosen yang menyelesaikan program strata 3 ini menjelang pensiun. Baru saja meraih gelar doktor, ia harus hengkang dari kampus. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, banyak dosen muda yang meraih gelar doktor di kampus lokal, meskipun jumlahnya tidak menyenangkan, kurang dari 10 persen dari seluruh dosen di institusi pendidikan tinggi.

Lalu, mengapa perguruan tinggi di sini begitu seret melahirkan doktor? Adakah ini terkait dengan birokrasi kampus atau sistem perkuliahan yang memang memerlukan waktu lama? Biasanya, untuk menyelesaian program doktoral, mahasiswa mengambil mata kuliah selama empat semester. Setelah lulus semua subjek, mereka bisa menulis proposal disertasi. Nah, di sinilah cerita mulai seram. Pembimbing susah ditemui, karena selain menyelia mahasiswa, biasanya sang dosen mengajar di banyak tempat, bahkan terbang hingga ke negeri yang jauh. Tak jarang profesor itu mengingari janji dan kalau pun menepatinya hanya dalam waktu yang singkat memberikan bimbingan.

Harus diakui bahwa tugas akhir dari seorang calon doktor adalah penulisan disertasi. Sebagai penanda dari kualifikasi sebagai sarjana dalam jenjang terakhir dari sebuah lembaga pendidikan, ia menjadi karya yang harus memenuhi syarat ilmiah, seperti latar belakang, objek kajian, pendekatan, analisis dan temuan,  lalu diakhiri dengan kesimpulan secara meyakinkan. Sistem program doktoral di sini yang mengandaikan perkuliahan selama 4 semester tentu akan membantu promovendus untuk segera menyelesaikan tugas akhir. Dengan diskusi secara intensif bersama profesor dan rekan, mereka akan makin mudah untuk memperbaiki sistematika dan materi disertasi.

Dalam program-program illmu sosial dan alam tentu saja lembaga perguruan tinggi di sini akan mudah meluluskan mahasiswa karena universitas mempunyai sistem yang memungkinan  mahasiswa untuk segera menyelesaikan kuliah. Sejatinya birokrasi turut membantu mempercepat studi mahasiswa. Prof Musa Asy’arie, sekarang rektor UIN Yogyakarta, pernah menegaskan bahwa birokrasi dibuat untuk memudahkan urusan. Pada waktu yang sama, setiap urusan harus berhenti di satu titik. Ketika menjabat sebagai Direktur Pascasarjana, bekas santri Termas ini tidak mau direpotkan hal rutin, seperti tanda tangan untuk pengesahan judul tesis. Ini dilakukan agar birokrasi tidak terlalu panjang. Pada masanya, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga banyak meluluskan mahasiswa doktoral.

Pengalaman saya mengambil program S3 di Universitas Sains Malaysia mungkin perlu ditimbang. Setelah mendapatkan kelulusan untuk menyelesiakan program doktor falsafah, saya menemui seorang pembimbing, Prof Madya Zailan Moris. Dosen yang mengambil S3 di Universitas Washington  Amerika Serikat ini mengajak saya membahas kembali judul yang telah diberikan pada kampus dan membahas materi yang bisa dikembangkan dari judul. Lalu, dalam masa enam bulan, saya pun kembali menemuinya. Setelah dianggap layak untuk maju seminar proposal, bekas murid Seyyed Hossein Nasr tersebut menelepon tata usaha untuk memastikan jadual pembentangan. Betapa rampingnya birokrasi.

Selanjutnya, saya sebagaimana mahasiwa yang lain akan menyelesaikan bab-bab berikutnya di bawah bimbingan penyelia, sebutan pembimbing di negeri jiran. Tak hanya berurusan dengan tugas pokok ini, saya juga dilibatkan dengan proyek penelitian dengan hibah kampus. Banyak mahasiswa asal Indonesia yang juga memperoleh pendapatan tambahan  dari dana yang diperuntukan untuk dosen agar produktif menghasilkan artikel jurnal dan buku. Malah, meskipun beliau ke luar negeri, hubungan melalui surat elektronik menggantikan pertemuan tatap muka. Seringkali saya hanya memerlukan satu jam untuk berjumpa setelah sebelumnya memberitahu yang bersangkutan melalui telepon genggam.

Singkat cerita, setelah menyelesaikan seluruh bab, saya mengurus prasyarat ujian akhir. Ternyata otoritas pembimbing begitu besar. Dengan bermodal tanda tangan bersangkutan, saya tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan pengesahan dekan dalam waktu sehari. Kemudian sepuluh salinan disertasi diserahkan pada tata usaha untuk dicarikan penguji luar  dan dalam. Dengan hanya membayar RM 700 (setara Rp 2,1 juta ) pada Mei 2009, saya menjalani ujian selama hampir dua jam. Berbeda dengan di sini, mahasiswa di sana tak perlu menempuh ujian tertutup dan terbuka, yang banyak memerlukan biaya. Sebenarnya biaya ujian akhir bisa dipangkas, dengan cara mengundang penguji yang paling dekat dengan kampus sang promovendus.

Nah, dari cerita di atas, semestinya pihak pengelola kampus memikirkan kembali sistem perkuliahan dan pembimbingan untuk mahasiswa doktoral. Bukan semata-mata hanya untuk melahirkan banyak doktor sebagaimana dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional, tetapi lebih jauh untuk mendorong pegiat akademik (civitas academica)  bergegas menghasilkan gagasan dan bertukar pikiran dengan khalayak. Bagaimanapun, gelar doktor bukan terminal akhir dari perjalanan seseorang menekuni kegiatan pengetahuan. Tentu saja, buku dan jurnal merupakan kepanjangan dari pergulatan ide yang bersangkutan, namun pada waktu yang sama mereka senantiasa turut meramaikan opini di koran dan diskusi di media elektronik terkait isu-isu baru dan hangat. Kalau bisa dipermudah, mengapa banyak pihak mempersulit proses seseorang menyelesaikan jenjang terakhir dari institusi pendidikan di negeri ini? 

Ahmad Sahidah adalah alumnus PP Annuqayah Latee. Tulisan ini dikutip dari Majalah AlFikr, IAI Nurul Jadid Paiton Jawa Timur, Edisi Januari 2012.

1 komentar:

Abd. Warits Ilham mengatakan...

Mencerahkan
ada banyak orang yang minder melanjutkan kuliah katnya bosen dengan tugas
ini karena tidak sedikit dosen hanya mau tugasnya diselesaikan oleh mahasiswa tanpa mau mendampingi mahasiswa yang mengerjakan tugasnya...
semoga tulisan tersebut menjadi setetes embun dan membuka "pikiran" pegiat civitas akademik