Kamis, April 19, 2012

Ingin Tahu tentang Tahu


Masluhatun, XI IPS 1 SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Jum'at (13/04) pagi kemarin, siswa kelas IX IPA-IPS SMA 3 Annuqayah melakukan kunjungan belajar dan riset ke pabrik tahu UDFajar Menyingsing” di Desa Pore, Lenteng. Riset ini dilakukan untuk menambah pengetahuan siswa tentang proses pembuatan tahu. Juga sebagai pengayaan pembelajaran untuk pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes).

Rombongan siswa kelas XI yang berjumlah 50 orang dengan 3 pendamping disambut hangat oleh keluarga KH Wasik Syaikhol Umam, pemilik pabrik tahu, pada saat tiba di lokasi sekitar jam 8 pagi. Sedangkan Mus'idah Amien, S.Pd.I., guru pelajaran Penjaskes, tidak bisa menemani siswa karena harus menghadiri acara di Sumenep.

Sebagai formalitas, ada susunan acara yang dibawakan seorang MC dadakan dan spontan oleh Anisah, siswa kelas XI IPA karena sebelumnya dari siswa tidak ada yang ditunjuk sebagai MC.

K. Wasik yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pengasuh PP Annuqayah daerah Sabajarin pernah menjadi santri di PPA daerah Sabajarin, yaitu di daerah Al-Furqaan. Beliau menceritakan sedikit tentang masa kecilnya, bagaimana beliau bisa mondok di Al-Furqaan dan sampai mendirikan pabrik tahunya sekarang. Semuanya berlandaskan prinsip beliau: minta restu/ridho orang tua.

Pada sesi presentasi, K. Wasik menjelaskan bagaimana proses pembuatan tahu saja. Sedangkan penjelasan-penjelasan lainnya menyusul pada sesi tanya-jawab.

Dalam penjelasannya, beliau juga menuturkan banyaknya pembuat tahu yang berbuat curang agar tahu bisa tahan lama dengan menggunakan pengawet seperti formalin dan borax. K. Wasik adalah termasuk pembuat tahu yang tidak memakai pengawet apa pun. Bahan penbuat tahunya hanya kedelai (bahan baku), cuka, dan air.

Proses pembuatan tahu ada 3 tahap. Pertama, bahan baku kedelai direndam dalam air selama kurang lebih 1-2 jam, kemudian dicuci bersih, lalu digiling halus dengan dicampur air sampai menjadi seperti adonan tepung. Adonan kedelai direbus sampai memdidih 3 kali rebusan (atau sesuai kebutuhan). Kedua, hasil rebusan adonan kedelai disaring sampai ampas dan santannya benar-benar terpisah. Santan kedelai dicampur dengan cuka khas tahu sampai merata. Kemudian diaduk sampai bisa dibedakan antara cuka dan santan kedelai yang sudah mengkristal/mengendap. Ketiga, cuka dipisahkan/disedot dari santan kedelai yang sudah mengkristal, kemudian dimasukkan ke pres tahu. Dan dibiarkan kira-kira 25-40 menit untuk diiris dan diletakkan ke dalam bak penyimpanan tahu. Dan jadilah tahu yang siap dimasak.

Usah pembuatan tahu yang dirintis sejak tahun 1999 ini pernah mengalami kesulitan-kesulitan. Bahkan saat ini pun harga bahan baku pembuatan tahu (kedelai) mengalami kenaikan.

Walaupun demikian usaha K. Wasik ini memiliki banyak pelanggan di berbagai daerah seperti Saronggi, Dadda', Rubaru, Kalianget, Marengan, Toampar, Guluk-Guluk, Ganding, Payudan Nangger, dan di wilayah kota Sumenep.

Limbah tahu dari pabrik K. Wasik pada musim kering dibuang ke bak khusus (penampungan). Sedangkan pada musim hujan limbah dialirkan ke sungai. Selain itu, ada juga petani yang memanfaatkan limbah tahu sebagai pupuk organik cair di sawah. Dan limbah tahu juga bisa digunakan sebagai pakan ternak.

Menjelang Jum’atan, sekitar pukul setengah 12, rombongan meninggalkan tempat untuk pulang ke Guluk-Guluk.

Berita ini dikutip dari blog Madaris 3 Annuqayah.

2 komentar:

M. Faizi mengatakan...

Eh, Fajar Menyingsing (FM) itu letaknya di Daramista lho... masa Pore?

Pondok Pesantren Annuqayah mengatakan...

Terima kasih atas koreksinya. Benar, UD Fajar Menyingsing di Daramista. Dengan demikian pembetulan telah dilakukan. Pembaca diharap maklum.