Jumat, April 20, 2012

Ikstida Laksanakan Bahtsul Masail


Nur Faizah, PPA Lubangsa Putri

Guluk-Guluk—Banyak persoalan di masyarakat yang selama ini belum dituntaskan dengan sempurna oleh hukum Islam. Terkait dengan itu, salah satu langkah konkret yang telah dilakukan oleh para santri yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Santri timur daya (Ikstida) Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Putri adalah dengan melaksanakan bahtsul masail, yaitu membahas masalah-masalah hukum Islam yang dihadapi masyarakat terutama santri untuk dipecahkan bersama.

Kegiatan bahtsul masail ini dilaksanakan pada hari Rabu 11 April 2012 dan bertempat di aula Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri. Kegiatan yang dimulai pukul 13.45 WIB ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya dilaksanakan oleh Ikstida. Pada kegiatan bahtsul masail yang pertama, Ikstida menghadirkan Chairul Anam yang saat ini menjabat sebagai wakil Katib PC NU Sumenep periode 2010-2015 sebagai pembahas (bahits). Demikian juga pada bahtsul masail yang kedua ini.

Pada bahtsul masail yang pertama, kegiatan diformat dalam bentuk yang sederhana. Anggota Ikstida hanya mengumpulkan beberapa pertanyaan tentang hukum Islam dan meminta Ustadz Her, sapaan akrab Chairul Anam, untuk memberikan jawaban dan kejelasan hukum kepada anggota Ikstida.

Namun atas saran Chairul Anam sendiri, format bahtsul masail yang kedua ini sedikit berbeda. Bahtsul masail kali ini dikemas dalam bentuk diskusi kelompok yang dibagi menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok yang terdiri dari empat orang ini mendiskusikan satu permasalahan yang berbeda.

Dengan berbekal beberapa kitab klasik sebagai rujukan, tentu hasil diskusi menjadi berbeda bahkan berselisih pendapat. Jika hal ini telah terjadi, maka Chairul Anam meluruskan perselisihan pendapat tersebut.

Format seperti ini tentu jauh lebih efektif daripada sekadar mendengarkan penjelasan yang diberikan dan menerima jawaban secara instan dari bahits. Kali ini anggota Ikstida mencari jawaban sendiri atas persoalan yang ingin diketahui penyelesaian hukumnya. Hal ini tentu dapat melatih kepekaan dan daya nalar peserta bahtsul masail yang sebagian besar masih terdiri dari siswa Madrasah Aliyah itu.

“Bahtsul Masail seperti inilah yang saya inginkan. Peserta bahtsul masail melatih diri untuk berpikir dengan sungguh-sungguh dalam memecahkan satu masalah. Bahtsul masail yang sering dilakukan oleh NU juga seperti ini, bukan menjawab pertanyaan yang diajukan, tapi didiskusikan bersama. Ini namanya hasil kreasi kita bersama,ungkap Ustad yang rutin mengisi tanya jawab hukum Islam tiap bulan Ramadhan di RRI Sumenep ini dengan senyum khasnya.

Kegiatan yang memakan waktu 3 jam 20 menit ini dihadiri oleh 61 anggota Ikstida. 20 anggota sebagai peserta aktif yang terbagi dalam 5 kelompok dan sisanya sebagai peserta pasif yang memperhatikan pembahasan masalah yang diangkat pada kegiatan ini. Namun di akhir acara, peserta pasif ini juga diperbolehkan mempertanyakan hal-hal yang mengganjal terkait dengan masalah yang telah dibahas. Sayyidatun Azizah, ketua panitia, tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya ketika Chairul Anam menyarankan agar kegiatan ini dijadikan sebagai kegiatan rutin di Ikstida. Dia juga bersedia untuk menjadi bahits tetap.

Chairul Anam juga menambahkan agar bahtsul masail selanjutnya membahas satu masalah saja agar kajiannya lebih mantap dan mendalam. Hal ini senada dengan apa yang diinginkan oleh Nurul Alfiyah Kurniawati, ketua umum Ikstida.

Sebenarnya saya ingin masalah yang dibahas tidak lebih dari dua. Namanya belajar, pastinya dimulai dari yang sedikit dan mudah terlebih dahulu, tapi hasilnya memuaskan,tutur dara yang masih duduk di kelas XI Madrasah Aliyah ini dengan senyum merekah. Tepat pukul 17.05 WIB acara ini ditutup oleh Layyinah yang sejak awal memandu jalannya acara.

Tidak ada komentar: