Sabtu, November 21, 2009

Annuqayah Jadi Tuan Rumah Principal Mentoring Sampoerna Foundation


Fandrik Hs Putra, PPA Lubangsa


Dalam kerangka Program Peningkatan Mutu Madrasah kerja sama dengan Sampoerna Foundation, Pondok Pesantren Annuqayah mengadakan acara Principal Mentoring yang dihelat selama dua hari (18-19/11) di aula MA 1 Annuqayah Putri.


Pembukaan acara ini dimulai pada pukul 08.00 WIB, Rabu 18 November dengan diformat dalam bentuk diskusi bertema “Pendidikan Pesantren di Tengah Sistem Pendidikan Nasional” dengan narasumber Darmaningtyas, pengamat pendidikan yang telah menerbitkan beberapa buku tentang dunia pendidikan.


Acara ini diikuti oleh 21 kepala sekolah yang bekerja sama dengan Sampoerna Foundation, termasuk Kepala MA 1 Annuqayah Putra dan Kepala MA 1 Annuqayah Putri. Kepala-kepala sekolah itu berasal dari berbagai kota di Indonesia, seperti Padang, Bukit Tinggi, Menado, Makasar, Bandung, Depok, Surabaya, dan sebagainya. Termasuk juga dari Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang.


Dalam sambutannya, Drs H Amir Ma’ruf selaku program officer MQIP Sampoerna Foundation sedikit menguraikan tentang bentuk pendidikan di pesantren dan membandingkan dengan pendidikan non-pesantren.


Setelah itu, acara dibuka oleh Dewan Pengasuh PP Annuqayah, Drs KH A Warits Ilyas. “Pertama kali yang akan saya sampaikan, selamat datang kepada seluruh peserta di PP Annuqayah ini,” ungkapnya sebelum membuka acara tersebut.


Ia juga menuturkan sedikit banyak tentang sejarah berdirinya Annuqayah. Hal itu menurut beliau agar para peserta tahu tentang perjalanan pendidikan di PP Annuqayah.


Setelah acara itu dibuka, Darmaningtyas, selaku narasumber pada saat itu membahas tentang perbandingan pendidikan non-pesantren dengan pendidikan pesantren, baik sekolah formal maupun non-formal. Ia menuturkan beberapa kelebihan pendidikan pesantren, seperti biayanya yang relatif murah, dan sebagainya.


“Pendidikan pesantren menjadi solusi alternatif dari mahalnya pendidikan nasional. Meski relatif murah, tetapi tidak murahan, karena mereka (guru) lebih mementingkan atau percaya kepada barokah kiai atau pesantren,” ungkap penulis alumnus Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta itu.

Tidak ada komentar: