Rabu, Oktober 13, 2010

Pengurus Al-Farisi Canangkan Tujuh Macam Kursus

Hairul Anam al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Minggu malam (10/10), pembukaan kursus rayon Al-Farisi digelar. Acara yang ditempatkan di Auditorium Lantai II MI 1 Annuqayah tersebut dihadiri oleh pengurus PPA Latee serta 69 santri MTs yang bermukim di rayon Al-Farisi.

Sekitar pukul 21.15 WIB, acara dimulai dengan diawali pembacaan surat Al-Fatihah. Ketua rayon Al-Farisi, Khalili, dalam laporannya menyatakan bahwa kursus yang sudah dirumuskan dan ditetapkan oleh pengurus Al-Farisi periode ini ialah sebagai tindak lanjut dari kursus periode sebelumnya.

Namun, lanjutnya, untuk periode kepengurusan ini ada lima tambahan kursus. Kalau periode sebelumnya hanya kursus Bahasa Arab dan Tartilul Qur’an, kini ditambah dengan kursus Bahasa Inggris, Kaligrafi, Qari’, Baca Kitab Turats, dan Baca Tulis. Enam belas pengurus Al-Farisi bisa dipastikan mampu menangani semua itu.

Pada kesempatan itu, pembina rayon Al-Farisi (Abu Sairi, S. Pd. I) memberikan beberapa tausyiah kepada para santri. Dia menekankan agar mereka senantiasa menyeriusi kegiatan kursus yang diprakarsai oleh pengurus rayon Al-Farisi itu.

Tausyiah dari pembina rayon Al-Farisi di atas diperkuat oleh ketua pengurus PPA Latee, M Athwi Busthami. Dia menambahkan bahwa program kursus tersebut telah melalui pertimbangan optimal dan musyawarah antar pengurus harian PPA Latee dengan segenap pengurus Al-Farisi. Meskipun banyak macam kursus yang baru, dia optimis akan terealisasi sebagaimana harapan. Optimisme itu bersandar pada semangat mengabdi dari para pengurus rayon Al-Farisi.

Dalam pada itu pula, tatkala jam menunjukkan pukul 22.13 WIB, M Ahtwi Busthami membuka kursus rayon Al-Farisi masa bakti 2010/2011. Tepuk tangan para undangan pun menggema hingga ke luar ruangan. Terlihat juga para santri Al-Farisi pun tersenyum puas.

Meskipun dikemas secara serius, acara pembukaan tersebut tidak membuat santri bosan berada dalam ruangan. Hal itu tidak terlepas dari kreativitas pengurus Al-Farisi dalam memformat acara. Sebelum acara berakhir, ada semacam penampilan-penampilan, yaitu pidato Bahasa Inggris dan Bahasa Arab oleh Nurul Rizali dan Ach. Fudhaili. Keduanya merupakan pengurus sekaligus pembimbing di rayon Al-Farisi. Selain itu, Khairul Amin yang masih tercatat sebagai santri baru kelas 1 MTs membacakan puisi Sembahyang Rumputan dengan ekspresi yang cukup memukau.

Selasa, Oktober 12, 2010

Aktivitas Ekstra-Kurikuler MI 3 Annuqayah Sudah Dimulai


Muhammad-Affan, Waka Kesiswaan MI 3 Annuqayah

Sore itu, 1 Oktober 2010, beberapa anak MI 3 Annuqayah tampak sedang menyimak materi sains dari seorang tutor. Mereka membentuk lingkaran sembari menyimak pengantar. “Sore ini kita akan praktik materi sains tentang perkembangan dan pertumbuhan makhluk hidup,” kata Mega Eka Suciyanti, tutor pada sore hari itu.

Tak lama kemudian, anak-anak bergegas mengambil beberapa gelas air kemasan bekas. Mula-mula, mereka meletakkan kapas di dalamnya, kemudian membasahinya dengan beberapa tetes air. Lalu masing-masing gelas diisi 6-7 biji kacang hijau.

Bimsus sains merupakan kegiatan ekstra-kurikuler di MI 3 Annuqayah yang bertujuan memfasilitasi anak-anak untuk melakukan praktik secara langsung materi sains yang mereka dapatkan di ruang kelas formal pagi hari. Kegiatan tersebut menjadi semacam laboratorium sains untuk pembelajaran penelitian dan eksperimental.

Lima hari kemudian, tepatnya pada tanggal 5 Oktober 2010, untuk pertama kalinya MI 3 Annuqayah mengaktifkan kembali kegiatan Sanggar Pelangi. Kegaiatan ini merupakan kali pertama pasca libur panjang bulan Ramadhan. Dalam upayanya meningkatkan mutu dan kualitas proses belajar, tahun ini pula MI 3 Annuqayah mendatangkan K. M. Luqman El Hakim, kepala sekolah MI Nurul Islam, Bataal Barat, Ganding, sebagai pembimbing kegiatan tersebut. “Rencana ini sudah kami sampaikan dan komunikasikan pada pertengahan tahun pelajaran lalu. Alhamdulillah, tahun pelajaran ini beliau dapat berbagi di sini,” kata salah satu pengurus MI 3 Annuqayah.

Kegiatan Sanggar Pelangi merupakan salah satu ektra kurikuler di MI 3 Annuqayah yang lebih menekankan kepada pengembangan skill dan motivasi siswi. Di Sanggar Pelangi, proses belajar didesain serba bermain . Dengan demikian, anak-anak betah belajar dan tidak mudah jenuh.“Tahun ini saya akan belajar bersama adik-adik MI 3 Annuqayah. Minggu depan kita belajar keterampilan baru, ya,” kata Luqman di sela perkenalannya.

Selain bimsus dan Sanggar Pelangi, MI 3 Annuqayah juga memiliki kegiatan ekstra-kurikuler baru: menyulam. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat sore. Kegiatan menyulam baru berlangsung dua kali pertemuan dan langsung diminati oleh anak-anak.

Seperti kegiatan yang lain, kegiatan ini tidak diwajibkan bagi siswi MI 3 Annuqayah.. “Anak-anak memang tidak diwajibkan ikut kegiatan ekstra. Namun meskipun demikian, anak-anak sangat dianjurkan untuk mengikuti semua kegiatan di sini selama memungkinkan,” kata Mega, tutor menyulam pada sore itu.

Sementara untuk kegiatan pramuka tahun ini pelaksanaannya ditetapkan setiap hari Rabu sore. Pada pertemuan pertama, Kak Mumdarin berhalangan, tidak dapat hadir. Sore itu kegiatan pramuka MI 3 Annuqayah tampak dipandu oleh tiga kakak pembina pramuka dari Gudep Annnuqayah. Meski ini merupakan pertemuan pertama, anak-anak tampak bersemangat dan riang gembira mengikuti kegiatan pramuka. “Saya sangat senang dan eman kalau sampai ndak hadir kegiatan ekstra di sini” kata Icha, siswi kelas akhir MI 3 Annuqayah, yang tahun ini ditunjuk sebagai koordinator kegiatan.


Tulisan ini dikutip dari Blog Madaris 3 Annuqayah.

Kamis, Oktober 07, 2010

Pengurus Unit Kegiatan di Lubangsa Dilantik


Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

GULUK-GULUK—Panggung utama di depan Masjid Jamik Annuqayah berguncang. Hentakan alunan musik rebana Jam’iyyatul Hadrah Nurul Fata PPA Lubangsa memaksa para santri Lubangsa untuk berbondong-bongdong memadati halaman itu, sehingga pengurus keamanan Lubangsa tak perlu susah-susah menggiring mereka ke tempat itu.

Senin malam (04/10) kemarin, sekitar pukul delapan, pengurus PPA Lubangsa melaksanakan pelantikan pengurus unit-unit kegiatan di PPA Lubangsa periode 2010-2011. Pembacaan lagu Indonesia Raya dan Mars Annuqayah bergema sebelum prosesi pelantikan dimulai. Itu merupakan yang kedua kalinya pelantikan pengurus unit kegiatan di Lubangsa dilaksanakan berbarengan.

Unit-unit kegiatan tersebut adalah organisasi-organisasi santri yang berada di bawah naungan pengurus seksi tertentu di Lubangsa. Misalkan Majalah Muara yang berada di bawah naungan pengurus seksi Kepustakaan Pers dan Penerbitan (KP2) atau Sanggar Andalas yang berada di bawah naungan pengurus seksi kesenian.

Adapun pengurus-pengurus yang dilantik pada malam itu meliputi kru redaksi Majalah Muara dan Kompak (KP2), pengurus Usaha Kesehatan Pondok Pesantren (UKPP-KPO), pengurus Biro Pengembangan Bahasa Asing (BPBA-P2PK), pengurus Forum Organisasi Santri Lubangsa (FORSA-P2O) pengurus Jam’iyyatul Hadrah Nurul Fata, Tahsin al-Khot, Sanggar Andalas, dan CTL Pamor (Kesenian).

Abdul Wahid, ketua pengurus PPA Lubangsa, mengatakan bahwa penggabungan pelantikan ini diharapkan nantinya bisa memperkuat tali kekeluargaan antar-unit kegiatan yang ada, begitu juga di antara pengurus-pengurus yang menaungi unit kegiatan tersebut.

“Kami sangat bangga ketika semuanya (pengurus unit) berkumpul mengikuti prosesi pelantikan. Dalam hati saya mengatakan, inilah wajah-wajah santri Lubangsa yang bisa diharapkan potensinya untuk mengangkat PPA Lubangsa menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Dia juga mengimbau kepada semua pengurus unit kegiatan untuk secepatnya melaksanakan program kerja masing-masing setelah pelantikan ini.

Sabtu, Oktober 02, 2010

Menyulam, Ekstra Kurikuler Baru di MI 3 Annuqayah

Muhammad-Affan, PPA Al-Furqaan

Madrasah Ibtidaiyah 3 Annuqayah terus melakukan evaluasi dalam rangka mengembangkan mutu sekolah—khususnya dalam hal kegiatan ekstra kurikuler. Pada tahun ajaran ini, menyulam, dipilih sebagai kegiatan ekstra baru di Madrasah Ibtidaiyah 3 Annuqayah.

“Kegiatan ini sudah direncanakan pada tahun lalu. Alhamdulillah, dengan dukungan berbagai pihak sekolah, tahun ini menyulam bisa direaliasikan menjadi program,” kata Mega Eka Suciyanti, tutor menyulam dan membatik MI 3 Annuqayah. Kegiatan ini dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya di MI 3 Annuqayah dilaksanakan setiap sore secara bergiliran. “ Saya ingin belajar menyulam juga,” kata Roziqoh, salah satu guru MI 3 Annuqayah yang tampak hadir sore itu.

Selain menyulam, Madrasah Ibtidaiyah 3 Annuqayah tahun ini juga menghadirkan K. Lukman El Hakim, Kepala MI Nurul Islam, Bataal Barat, Ganding, sebagai fasilitator Sanggar Pelangi. Selama ini dia dikenal sebagai figur yang cukup lama mendalami dan berbaur dengan dunia anak-anak.

Tahun ini, kegiatan ekstra kurikuler menyulam, membatik, kursus matematika, sains, dan bahasa Indonesia, dipercayakan kepada Mega ESY. Sedangkan untuk kegiatan Sanggar Pelangi akan difasilitasi oleh K. M. Lukman El Hakim dan kegiatan pramuka akan dibimbing langsung oleh Mumdarin, S.Ag, yang saat ini menjabat sebagai pembina pramuka Annuqayah.

“ Ini semua dilakukan tidak lain untuk meningkatkan mutu kegiatan ekstra sekaligus komitmen sekolah untuk menfasilitasi anak-anak dalam mengembangkan bakatnya,” kata Mahfud Manaf, kata guru yang baru saja mengakhiri masa jabatannya sebagai Kepala MI 3 Annuqayah.


Berita ini dikutip dari Blog Madaris 3 Annuqayah.

Kamis, September 30, 2010

PPA Karang Jati Putri Resmikan 1 Kamar Mandi dan 4 WC Baru


Ummul Karimah, PPA Karang Jati Putri (Assaudah)

Guluk-Guluk––Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Karang Jati Putri (Assaudah), Nyai Hj. Thoyyibah Mahfoudh Rabu (29/09) kemarin meresmikan 1 kamar mandi dan 4 WC baru untuk santri Karang Jati Putri. Di tengah acara peresmian yang tidak formal itu tergambar raut kebahagian dari air muka para santri, tepatnya saat mereka menatap kamar mandi baru berukuran 7 x 5 meter itu.

”Kamar mandi adalah salah satu fasilitas yang sangat penting bagi keberlangsungan kegiatan di pondok pesantren. Terlebih di bidang kepribadatan. Karena dalam beribadah kita perlu berwudlu’. Dan itu memerlukan kamar mandi dan air yang memadai,” kata Rodhifah, salah satu pengurus senior di Karang Jati yang kini menjabat sebagai keamanan.

Pembangunan kamar mandi yang menghabiskan uang sejumlah Rp. 30.000.000,- tersebut tak lepas dari dukungan pengasuh PPA Karang Jati, selain dari biaya SPP sebesar Rp. 100.000,- per santri. Proses pembangunannya dimulai pada 13 Agustus dan berakhir pada 27 September kemarin.

Pak Maqbul, arsitek dan kepala proyek pembangunan kamar mandi, menuturkan bahwa selama pelaksanaannya ada beberapa kendala yang dialami. Salah satunya adalah hujan. “Apabila hujan turun, seluruh proses pengerjaan yang melibatkan 6 orang tukang itu diliburkan,” ungkapnya. Karena hambatan hujan ini, target menyelesaikan kamar mandi sebelum santri kembali pada 18 September yang lalu tak bisa terpenuhi.

Dengan diresmikannya 1 kamar mandi dan 4 WC tersebut, seluruh pengurus berharap agar para santri lebih bersemangat mengikuti seluruh kegiatan yang diprogramkan. Terutama bagi kegiatan amaliyah yang berkaitan dengan kepribadatan agar dapat berlangsung dengan baik.

Kamis, September 09, 2010

Sekolah Pengabdian Masyarakat V


Pada bulan Ramadhan kali ini, Biro Pengabdian Masyarakat (BPM) Pondok Pesantren Annuqayah menyelenggarakan Sekolah Pengabdian Masyarakat (SPM) V selama 15 hari, terhitung sejak tanggal 15-29 Agustus 2010. Serangkaian kegiatan itu merupakan agenda tahunan yang menjadi program dari Pesantren Mandiri.

Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mendidik santri yang memiliki kesadaran tanggungjawab sosial dan memiliki semangat pengabdian kepada umat dengan bekal pengetahuan dan keterampilan demi terciptanya masyarakat yang maju dan berperadaban.

Para peserta yang berjumlah 23 orang berasal dari lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat yang tersebar di daerah Sumenep dan Jember.

Acara dimulai pada Ahad pagi dengan agenda pembukaan. Kemudian dilanjutkan pada sesi siang dengan seminar yang mengambil tema, “Santri, Pesantren dan Perubahan Sosial”. Sesi ini disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir, pembantu rektor I IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Tema tersebut membincang tentang kegamangan pesantren dalam menerima perubahan sosial serta maraknya alumni-alumni pesantren yang mulai terikut aliran atau organisasi garis keras. Menurut K. A’la, semangat pluralisme sudah lama dikembangkan oleh pesantren dengan ajaran utamanya fiqih sufistik.

Esok harinya acara dilanjutkan dengan pengantar pelatihan analisis sosial. Belajar bersama ini dipandu oleh K. M. Zamiel el-Muttaqien, Direktur Eksekutif Biro Pengabdian Masyarakat. Selain belajar teori, K. Miming, panggilannya, juga memberikan praktek lapangan. Sesi ini dilakukan selama hampir satu hari, yaitu esok harinya, Selasa, 17 Agustus 2010, yang mengambil lokasi di tiga desa: Pananggungan, Dungdang, dan Bragung. Analisis sosial rencananya secara penuh akan didampingi oleh Ir. Hendro Sangkoyo, Ph.D, dari Sekolah Ekonomika Demokratik, Jakarta. Namun beliau hanya bersedia memfasilitasi selama tiga hari, yaitu mulai hari Rabu-Jum’at, sehingga untuk pengantar dipasrahkan kepada panitia SPM.

Hari pertama, bersama Pak Yoyok, panggilannya, peserta diajak untuk mengenal lebih jauh tentang analisis sosial, konten-konten serta konsepnya. Mula-mula peserta disuguhi istilah-istilah yang bagi sebagian mereka merupakan kosa-kata baru. Itu terdengar dari omongan-omongan dan tulisan dalam jurnal harian mereka. Selain itu, dipaparkan juga tentang peta krisis yang ada di Sumenep dan Madura pada umumnya. Contoh yang beliau berikan adalah peta blok migas yang mewarnai hampir seluruh Kabupaten Sumenep.

Hari berikutnya peserta disuguhi tugas praktek lapangan. Praktek ini dilakukan di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah dengan materi riset sampah. Masing-masing peserta diminta untuk datang ke lokasi tempat sampah, baik yang berada di kompleks masing-masing daerah maupun di TPA. Hasil penelitian itu kemudian dipresentasikan di hadapan peserta. Hasil akhir dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa problem sampah di Annuqayah dalam keadaan krisis.

Hari Sabtu-Senin, 21-23 Agustus 2010, dilajutkan dengan materi Pengorganisasian Masyarakat. Kali ini dibimbing oleh Madekhan Ali dari Lamongan. Pengalaman mengorganisir masyarakat di daerahnya menjadi modal untuk sharing pengetahuan bersama para peserta. Beliau menyampaikan beberapa tahapan menjadi community organizer (CO) serta apa saja yang menjadi tantangannya.

Dalam materi ini juga dilakukan praktek lapangan dengan mendatangi kelompok-kelompok masyarakat binaan BPM-PPA. Peserta yang dibagi dalam tiga kelompok diminta melakukan sosialisasi tentang budidaya tanaman tomat dan bawang, serta sosialisasi bahaya narkoba.

Kemudian pada keesokan harinya, Selasa, dilanjutkan dengan praktek membuat pupuk organik dengan dipandu oleh Mahfud, teman Pak Madekhan. Sehabis itu dilajutkan dengan tanya jawab soal pupuk organik.

Sesi pelatihan terakhir diisi oleh Tejo Wahyu Jatmiko dan Ida Ronauly dari organisasi Indonesia Berseru, Jakarta. Materi yang disampaikan adalah mengenai kampanye untuk desa sejahtera. Selama tiga hari mereka berdua menyampaikan proses mewujudkan desa sejahtera. Diawali dengan mengenal diri masing-masing peserta, kekuatan, potensi, pengaruh, dst. Menurutnya, tahapan ini menjadi modal awal bagi mereka yang ingin menjadi pemberdaya masyarakat.

Selain itu, mereka juga mengurai tentang konsep desa sejahtera yang mereka susun. Konsep itu, katanya, masih bersifat drafting sehingga perlu dibenahi.

Sekolah Pengabdian Masyarakat diakhiri dengan seminar pada Ahad, 29 Agustus 2010. Untuk sesi pagi, seminar mengangkat tema tentang “Pemiskinan dan Pendidikan”. Hadir sebagai pembicara, ketua Lakpesdam NU Sumenep, K. A. Dardiri Zubairi dan salah satu pengasuh PP. Annuqayah, K. M. Mushthafa.

K. Dardiri menyorot soal kasus bantuan dana block grant ke sejumlah sekolah di Kabupaten Sumenep yang mengalami banyak masalah. Sementara K.M. Mushthafa menyoal problem etis dalam pembiyaan pendidikan.

Sesi siang diisi oleh K. M. Zamiel el-Muttaqien dengan tema, “Perspektif Islam tentang Tanggung Jawab Sosial Tiap-tiap Muslim”.

SPM V resmi ditutup pada Ahad malam 29 Agustus 2010.


Berita ini dikutip dari website Biro Pengabdian Masyarakat PP Annuqayah.

Minggu, Agustus 22, 2010

MA 1 Annuqayah Putra Membuka Jurusan Baru

Faruqi Munif dan Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putra merupakan Madrasah Aliyah tertua di lingkungan PP Annuqayah. Madrasah yang berdiri pada tahun 1979 ini untuk tahun pelajaran 2010-2011 membuka jurusan baru, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Berikut petikan wawancara tertulis tim Pusat Data Annuqayah dengan K Muhammad ‘Ali Fikri, S.Ag., Kepala MA 1 Annuqayah Putra.

Kapan MA 1 Annuqayah Putra membuka Jurusan IPA?
Sejak tahun pelajaran 2010/2011. Jurusan ini diterapkan bagi siswa terpilih sejak kelas X, untuk menyiapkan potensi-potensi secara lebih dini.

Apa yang melatarbelakangi dibukanya jurusan ini?
Kami menilai, begitu minim kelahiran saintis dari pondok pesantren. Sebagian besar, saintis masih lahir dari kalangan non-pesantren. Kami ingin mempertegas perspektif kami menolak dikotomi ilmu.

Tujuannya?
Kami ingin menawarkan warna kurikulum dan konsentrasi studi yang “baru” bagi masyarakat, baik bagi mereka yang memiliki latarbelakang pendidikan pesantren maupun yang berlatarbelakang non-pesantren. Dengannya, kami ingin melahirkan saintis dari pesantren, sehingga santri dapat menyempurnakan perannya sebagai khalifatullah fil ard.

Proses apa saja yang dilakukan pihak lembaga untuk membuka jurusan IPA?
Yang terutama adalah penyaringan dan penyeleksian calon peserta didik melalui materi tes dalam masa penerimaan siswa baru; Merekomposisi dan reformulasi kurikulum. Memproyeksikan ketersediaan ruang dan dana untuk fasilitas laboratorium.

Apakah MA 1 Annuqayah Putra akan mendatangkan guru baru untuk jurusan IPA?
Ya, kami merekrut guru baru untuk jurusan ini, walaupun tidak seluruhnya. Dan kami juga mengubah strategi, bobot kurikulum dan materi pelajaran di dalamnya, untuk mempertegas kompetensi siswa.

Pesan Bapak pada siswa, utamanya jurusan IPA?
Jangan pernah berhenti belajar dan merasa puas dengan pembelajaran di ruang kelas. Pertegas kompetensi dengan tanpa mengenyampingkan kompetensi dasar sebagai seorang santri dan seorang muslim.

Minggu, Agustus 08, 2010

Peserta KKN 2010 STIK Annuqayah Ditarik

Hairul Anam al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Bertempat di kantor kecamatan Saronggi, Kamis pagi (5/8), sebanyak 198 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIK Annuqayah ditarik dari lokasi. Adapun serah terima dari Ketua STIK Annuqayah kepada Camat Saronggi berlangsung sebulan yang lalu (6/7). Sayangnya, pada acara penarikan tersebut, Ketua STIK Annuqayah berhalangan hadir sehingga diwakili oleh Pembantu Ketua (PK) I STIK Annuqayah, Drs. K. A. Washil Hasyim.

Dari laporan ketua panitia, A. Wahid Hasan, M. Ag, dapat diketahui bahwa peserta KKN 2010 ini tidak hanya berkegiatan di 14 desa se-kecamatan Saronggi. Kecamatan Batu Putih juga menjadi sasaran yang diamanahkan kepada 140 mahasiswi. Dari dua kecamatan ini, seluruh peserta KKN 2010 STIK Annuqayah berjumlah 338 orang.

Selain itu, Wahid menambahkan bahwa model KKN kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau tahun-tahun sebelumnya program yang dirumuskan para peserta bersifat “penawaran” tapi kali ini lebih pada bagaimana masyarakat juga terlibat dalam perampungan program tersebut. Harapannya, tatkala merealisasikannya mereka tidak kewalahan karena masyarakat bisa menjadi mitra yang bisa dibanggakan.

Lebih dari itu, program yang dibuat harus selaras dengan kebutuhan dan problem yang ada di masyarakat. Konsekuensinya, peserta KKN harus melakukan observasi dan wawancara terlebih dahulu untuk kemudian menentukan prioritas masalah. Prioritas masalah ini berdasarkan pada teori Problem Tree yang mengarah pada upaya menemukan masalah hingga ke akar-akarnya.

Dalam sambutannya, PK I STIK Annuqayah menyatakan bahwa salah satu tujuan dari pelaksanaan KKN ialah sebagai implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian. “Dengan adanya KKN, diharapkan mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah, meski harus diakui, teori di bangku kuliah adakalanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang terdapat di masyarakat,” katanya detail.

Dalam kesempatan itu, pihak kecamatan juga memberikan sambutan yang disampaikan oleh sekretaris Camat, Warsono, SH, MH. Dia berkali-kali memohon maaf apabila selama menempuh KKN, mahasiswa mengalami tidak sedikit rintangan terutama berkenaan dengan pelayanan yang diberikan oleh Kepala Desa. Dari informasi yang diterimanya, dia mengungkapkan bahwa ada beberapa Kepala Desa yang kurang responsif terhadap peserta KKN.

Acara penarikan itu diparipurnai ketika jam sudah menunjukkan pukul 10.34 WIB. Tampak terlihat wajah-wajah peserta KKN sedih bercampur bahagia. Kesan selama mengikuti KKN tidak akan pernah terlupakan.

Senin, Agustus 02, 2010

KBM PPA Al-Furqaan Mulai Aktif


Muhammad-Affan, PPA Al-Furqaan

Selain PPA Al-Furqaan Putra, terhitung sejak pertengahan Juli lalu, PPA Al-Furqaan Putri juga mengaktifkan kembali kegiatan Kelompok Belajar Mengajar (KBM). Tahun ini, KBM PP Al-Furqaan memasuki angkatan IV dengan peserta baru berjumlah 10 orang.

KBM merupakan kegiatan belajar mengajar, dimana yang berperan sebagai ‘guru’ dalam kegiatan ini yakni para santri sendiri. Mereka dijadwal secara bergiliran untuk ‘mengajar’ dan menentukan materi jauh hari sebelumnya. Secara umum, materi yang disampaikan meliputi materi pelajaran sekolah.

“Setiba di pondok, saya langsung bercerita pada para santri baru tentang kegiatan ini. Dan, alhamdulillah, mereka semua tertarik untuk bergabung di KBM,” ungkap Novia, koordinator KBM Putri.

KBM digagas oleh salah satu pengurus PP Al-Furqaan. Kegiatan ini pertama kali dimulai pada 2007 lalu. Salah satu tujuan KBM, selain sebagai media transformasi pengetahuan antarsantri, juga untuk mengasah kemampuan peserta dalam hal ‘mengajar’. Kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada para santri untuk mengeksplorasi dan mencari metode terbaik dalam menyampaikan pelajaran.

“Dengan kegiatan ini, saya termotivasi untuk belajar,” kata Erna, salah satu perserta KBM Al-Furqaan Putri yang sudah bergabung sejak 2 tahun lalu. “Kami dituntut menciptakan suasana kelas tidak jenuh. Untuk itu, hampir bisa dipastikan, dalam setiap pertemuan, teman-teman menyiapkan game,” lanjutnya.