Selasa, April 26, 2011

Diskusi Film, Amunisi Semangat untuk Guru Annuqayah


M. Mushthafa, guru SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Ahad siang (24/4) kemarin, dimulai sekitar pukul 12.00 WIB, SMA 3 Annuqayah mengadakan acara diskusi film dokumenter berjudul Science and Islam. Acara yang bertempat di aula Madaris 3 Annuqayah ini dihadiri oleh guru-guru di lingkungan Madaris 3 Annuqayah, sekolah/madrasah dan lembaga di lingkungan Annuqayah, dan juga beberapa sekolah mitra. Peserta guru yang hadir berjumlah hampir 50 orang,putra dan putri.

Acara ini diadakan untuk menyuntikkan semangat kepada guru-guru agar terus tekun berkhidmat di lembaga pendidikan dan mengembangkan minat keilmuan mereka masing-masing. Film dokumenter yang diputar, Science and Islam, sebenarnya adalah tiga seri dokumenter yang dipresentasikan oleh Jim al-Khalili, profesor fisika University of Surrey, Inggris, yang memaparkan kontribusi besar Islam pada perkembangan ilmu dan teknologi yang sering tak dituturkan secara tuntas dalam sejarah perkembangan peradaban dunia. Dalam film produksi BBC Channel Four tahun 2009 ini, Jim yang kelahiran Irak memberikan gambaran yang sangat jelas tentang semangat Islam yang merevolusi metode dan pendekatan atas ilmu dan pengetahuan. Menariknya, Jim banyak memberi ilustrasi dan membuka langsung karya-karya ulama Islam abad pertengahan untuk menggambarkan kehebatan dan semangat keilmuan mereka.

Karena keterbatasan waktu, film yang diputar hanya seri kedua dari tiga seri dokumenter ini. Sebagai pembanding dan pembuka, diputar juga film bertema sejenis berjudul Cosmic Voyage. Film produksi IMAX dan masuk nominasi Oscar film dokumenter tahun 1997 ini memberi gambaran singkat tentang perkembangan sains dalam perspektif Barat.

Dalam sesi diskusi, guru-guru berbagi kesan, komentar, dan masukan dengan penuh semangat. “Guru pemegang materi SKI, matematika, fisika, kimia, geografi, wajib menonton film ini, karena film ini memberi gambaran sangat penting tentang kelahiran ilmu-ilmu yang saat ini dipelajari di sekolah,” komentar K.H. Ahmad Hazim, guru sejarah SMA 3 Annuqayah.

K. M. Faizi, direktur Madaris 3 Annuqayah, menyampaikan bahwa film ini mendorong semangat para guru untuk terus belajar, di antaranya dengan membuat karya terjemahan. “Dalam film ini, digambarkan betapa Gerakan Penerjemahan yang dipelopori oleh Khalifah al-Ma’mun telah memberi dampak yang luar biasa bagi pengembangan ilmu,” tambahnya.

Banyak guru yang hadir menyatakan bahwa film ini harus ditonton oleh semua guru di Annuqayah, karena sangat mencerahkan. Seorang guru MA 1 Annuqayah Putra memberi usul konkret agar ada semacam forum diskusi di antara guru untuk menambah wawasan, seperti halnya forum diskusi kemarin yang digelar hingga hampir pukul 15.00 WIB. A. Muis, guru SMK Annuqayah, mengatakan bahwa film ini harus mendorong sekolah agar berinovasi dalam pembelajaran, termasuk dengan membuat eksprimen yang dialami langsung oleh murid dan guru.

Untuk diketahui, film dokumenter Science and Islam ini diterjemahkan oleh Fatima Jauhari, salah seorang alumni Annuqayah yang kini bermukim di Jember. Film ini adalah bagian dari proyek penerjemahan film-film bermutu untuk pendidikan yang sedang dilaksanakan oleh keluarga besar Madaris 3 Annuqayah. Beberapa film yang sudah diterjemahkan dan bertema lingkungan sudah pernah diputar terbatas di SMA 3 Annuqayah beberapa bulan yang lalu, yakni film Food Inc. (2008) dan The Cove (2009).

Berita ini dikutip dari blog Madaris 3 Annuqayah.

Sabtu, April 23, 2011

Dialog Reguler Markaz Bahasa Arab Menghadirkan Pembicara dari Mesir

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Bila dipukul rata, umat Islam di Indonesia tidak seutuhnya menguasai bahasa agamanya: bahasa Arab. Bahasa tersebut cenderung dinomorduakan daripada bahasa Inggris, misalnya. Hal ini tidak terlepas dari bergulirnya pemahaman bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional, sedangkan bahasa Arab ‘hanyalah’ bahasa agama yang tak begitu mendesak dikuasai sepenuhnya.

Lain dari itu, belajar bahasa pada ahlinya yang memang tiap hari bergumul dengan bahasa tersebut tentu beda dengan belajar pada orang yang bukan pemilik bahasa itu. Perbedaannya lebih pada misalnya penguasaan dalam perbendaharaan kata dan penyesuaiannya dengan maksud dalam perkataan serta dampak psikologis terhadap lawan bicara.

Itulah yang mendasari pengurus Markaz Bahasa Arab Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep untuk menyelenggarakan Dialog Bahasa Arab secara reguler bersama ulama muda kesohor Mesir, Syaikh Shalah Muhammad Abdul Aziz Wahbah. Beberapa bulan yang lalu, ulama yang punya tugas mengabdi di Pondok Pesantren Al-Amin selama setahun itu pernah satu kali menghadiri acara dialog yang diselenggarakan Markaz.

Karena pengabdiannya di pondok pesantren Al-Amin tinggal dua bulan lagi, Syaikh Shalah ingin juga berbagi ilmu dan pengalaman kepada santri dan guru di Annuqayah, yaitu dengan hadir sekali dalam seminggu tiap hari Jumat. Menurut Ketua Markaz, Abdul Muqid, Syaikh Shalah akan hadir selama enam kali pertemuan dimulai Jumat, 22 April 2011. Mengenai materi dialognya oleh pengurus Markaz dipasrahkan langsung kepada Syaikh Shalah.

Pada acara pembukaan, aula Syarqawi sudah ramai dengan perbincangan bahasa Arab, Jumat pagi (22/4). Abdul Muqid duduk di sebelah kanan Shaikh Shalah, menjadi moderator. Dengan fasihnya, dia memancing semangat 200 peserta dialog interaktif yang memang sudah disaring di masing-masing daerah Pondok Pesantren Annuqayah, baik santri putra maupun putri.

Dalam aula yang memuat ribuan orang itu, suasananya tetap terasa nyaman. Langit yang mendung menjadikan acara dialog interaktif tersebut tidak berlangsung secara menjemukan. Sekalipun nantinya matahari muncul dengan panasnya yang amat menyengat, bisa dipastikan tidak bakal mengusik jalannya acara. Sebab, aula Syarqawi yang berada di sebelah tenggaranya pondok pesantren Annuqayah itu berada di bebukitan bak puncak. Di sebelah bawah utaranya, berdiri kukuh Kampus Putih Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika).

Di luar acara, ketua panitia Lukman Yasir menyatakan puas dengan kinerja 20 panitia yang semuanya pengurus Markaz. Menurutnya, pengurus Markaz memiliki kepedulian yang sangat tinggi demi kemajuan bahasa Arab pada umumnya dan Markaz khususnya. Padahal, lanjut Lukman, dana acara dialog interaktif reguler ini yang tersedia hanya 1,5 juta, bersumber dari kas pesantren pusat Annuqayah. Demi pengabdian, panitia akan berusaha menabahkan diri kendati pun kesejahteraannya tak terjamin.

Minimnya dana tersebut karena memang dituntut keadaan. Pondok Pesantren Annuqayah kini sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur di samping program pengembangan sumber daya lainnya. Sehingga, efisiensi dana perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh.

Segalanya butuh dana, tapi dana bukanlah segala-galanya. Spirit mengabdi dan kesungguhan belajar secara istiqamah akan menjadi salah satu jalan keluar dari persoalan yang terjadi tiap kali mengadakan acara. Itulah yang pernah dinyatakan ketua pengurus Pondok Pesantren Annuqayah, Drs. KH. Hanif Hasan, beberapa waktu yang lalu.

Selasa, April 12, 2011

Diskopag yang Mencerahkan

Hairul Anam Al-Yumna, PPA. Latee

Lumrahnya, kantin Kampus Putih Instika itu ramai dengan dentang adu-piring-sendok mahasiswa yang sarapan tiap pagi. Mereka makan lahap dengan santainya. Tapi, selama sepekan ini suasananya tampil beda. Ada banyak mahasiswa yang duduk membundar, melakukan kajian mendalam terkait dengan persoalan kebangsaan dan keagamaan. Ada belasan mahasiswa yang tergabung dalam pertemuan itu.

Suasana seperti itu, masih berlangsung hingga Kamis (7/4) pagi. Tak ada yang makan nasi, hanya beberapa gelas kopi panas yang diminum secara bergantian. Karena yang tampak di dekat para mahasiswa Instika itu kopi dan buku, mereka pun menamai perkumpulan tersebut dengan Diskopag, akronim dari diskusi kopi pagi.

Pesertanya terdiri dari ragam jurusan; PAI, Muamalat, dan Tafsir Hadis. Dalam mencermati persoalan kebangsaan dan keagamaan, mereka menggunakan perspektif berlandaskan wewenang ilmiah yang mereka tempuh. Tetapi, mereka tetap terbuka terhadap bedanya pemikiran. Mereka benar-benar mengedepankan rasionalitas daripada egoisme diri.

Pada pertemuan ke-9 itu, mereka melakukan analisis kebijakan anggaran publik di Sumenep. Dalam pandangan mereka, kendatipun Sumenep merupakan kabupaten terkaya di Madura, ia belum juga mengentaskan kemiskinan secara optimal. Usaha pemerintah dalam menyikapi persoalan masyarakat luas, masih terbilang setengah hati.

Pernyataan tersebut bukanlah kata yang hampa makna. Mereka mendapatkan data bahwa, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) di dalam praktiknya ternyata lebih banyak menguntungkan penyelenggara kekuasaan daripada masyarakat. Setidaknya, hal itu sangat tampak sejak tahun 2005.

Pada tahun tersebut, APBD Sumenep Rp. 529 miliar 235 juta lebih, tepatnya 529.235.228.163. Untuk apa [siapa] uang sebesar itu? Mestinya untuk kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Sebab, masyarakat-lah sumber uang tersebut. Lewat karcis di puskesmas, retribusi masuk pasar, nonton televisi, naik kendaraan bermotor, dan segala gerak-gerik mereka yang umumnya terkena pajak.

Namun, upaya masyarakat yang mengucurkan banyak keringat masih dibenturkan dengan ragam keganjilan tiap kali dihubungkan dengan kebijakan pemerintah. Untuk Gaji Aparatur (gaji pegawai) di Sumenep mencapai Rp 240.976.346.942,-. Anggaran gaji ini memang tidak bisa digugat. Ini adalah hak pegawai.

Tetapi keganjilannya bisa ditemukan pada anggaran untuk biaya rutin/operasional aparatur [anggaran yang digunakan pejabat untuk melaksanakan tugas rutinnya, dan ini di luar gaji] misalnya, perjalanan dinas, anggaran makan minum, belanja alat tulis kantor (ATK), beli kendaraan dinas, beli komputer, dll., dalan APBD 2005 dianggarkan Rp 102.333.697.814,-. Perinciannya: Belanja Barang Jasa (seperti makan minum, beli ATK, dll) Rp 67.436.703.324,-, Belanja Perjalanan Dinas Rp 9.419.504.062,-, Belanja Pemeliharaan (ngecat kantor, perbaiki pintu rusak, dll) Rp 12.730.998.661,-, dan Modal Aparatur (beli komputer, kendaraan dinas, dll) sebesar Rp 12.746.491.767,-.

Anggaran yang cukup melambung tersebut berbanding terbalik dengan anggaran belanja pembangunan yang hanya dianggarkan Rp 84.639.452.885,-. Ini pun patut diragukan akan sampai semua pada masyarakat. Karena semua mafhum, korupsi di birokrasi kita sudah demikian ganasnya. Besar kemungkinan, anggaran yang cukup ganjil di atas kini makin mencuat mengingat tak sedikit harga kebutuhan kian membubung tinggi.

Para mahasiswa yang tergabung dalam Diskopag mampu melakukan analisis anggaran publik di atas karena memang tidak berangkat dengan pikiran kosong. Secara berkesinambungan, mereka melakukan pembacaan mendalam terkait dengan tema yang diangkat tiap pagi. Diskopag berlangsung tiap hari, kecuali hari Jumat karena tidak ada jadwal kuliah.

Senin, Maret 28, 2011

Selamat dan Sukses Para Pejuang Kami....

Bernando J. Sujibto, alumnus PP Annuqayah daerah Nirmala (1998-2005), kini mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dunia aktivisme bagi mahasiswa di kampus adalah bagian yang tak terpisahkan. Aktivisme mahasiswa di kampus menjadi salah satu bentuk aktualisasi diri yang paling mudah dan meriah. Ia ibarat ruang kesadaran sekaligus kepatutan bagi mahasiswa dalam upaya menunjukkan eksistensi diri mahasiswa sebagai agent of change, mempersiapkan diri untuk menatap dan menghadapi dinamika kehidupan riil di sosial masyarakat nantinya. Sehingga kesempatan beraktivitas secara ilmiah dan akademis di kampus, sebagai arena proses pendewasaan dan penciptaan karakter, menjadi kegandrungan mahasiswa selama ini.

Tahun 2011 (periode 2011-2012) ini adalah tahun yang sangat dan sangat spesial bagi keluarga alumni Annuqayah di Yogyakarta. Karena dunia aktivisme kampus telah dimanfaatkan sebagai arena pergerakan dan pembelajaran yang positif bagi mereka, setidaknya ditunjukkan dengan keterlibatan mereka sebagai pemegang peran penting (stakeholders), baik di jurusan, fakultas maupun di tingkat universitas! Alumni Annuqayah telah mengambil bagian penting dalam jajaran kepengurusan di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampus UIN Sunan Kalijaga. Setidaknya, ada 5 Alumni Annuqayah yang masuk dalam jajaran kepengurusan BEM baik di jurusan, fakultas, maupun di tingkat universitas. Berita ini tentu menjadi kebanggaan kami sebagai pengurus Ikatan Alumni Annuqayah Yogyakarta. Karena kader-kader kami sudah mulai beranjak menjadi aktor untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Jadi, kami pengurus IAA Yogyakarta mengucapkan selamat kepada Siswadi (Ugen), wakil Presiden Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga; Mandala Hasan Ma’ali (Ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN); A. Ali Manshur Sofyan (Ketua BEM Fakultas Dakwah, UIN); Maltuf Syam (Ketua BEM Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab, UIN); Maksum Muktie (Ketua BEM Jurusan Keuangan Islam Fak. Syariah dan Hukum); dan Badrianto (Ketua BEM Jurusan KPI, Fak Dakwah, UIN). Mereka insya Allah selama periode 2011-2012 akan menjadi pemegang kendali bagi masing-masing tugas dan tanggung jawabnya.

Akhirnya, pesan kami sebagai pengurus, sebagai teman seperjuangan di tanah rantau, adalah bahwa aktivisme di kampus harus dijadikan sebuah pijakan-proses untuk memupuk kesadaran serta kepekaan terhadap dinamika sosial masyarakat yang berasaskan kepada pijakan ilmu pengetahuan, akhlak, agama, dan budaya. Teman-teman tentu tahu bahwa jabatan adalah tanggung jawab, dan sekaligus titipan. Maka tanggung jawab tersebut harus dimaksimalkan sebagai proses partisipatif agar teman-teman bisa belajar dari semua itu. Gerakan dan aktivisme di kampus adalah sebuah ruang dimana teman-teman perlu mengisinya dengan berbagai kreativitas dan karya terbaik bersama mereka yang ada di bawah, yang bukan berarti bawahan, namun mereka adalah potensi-potensi besar yang harus diberikan ruang ekspresi dan aspirasi.

Selamat berjuang dan sekaligus mengabdi teman-teman, selamat berproses, dan selamat belajar selalu… Bawa, kibarkan dan harumkan almamater kalian!

Tulisan ini dikutip dari Blog Alumni Annuqayah Yogyakarta.

Jumat, Februari 04, 2011

Tiga Jam Bersama Binhad Nurrohmat

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Keseriusan adalah modal hidup. Inilah kunci utama untuk menjadi seorang penyair. Melalui keseriusan, pintu kharisma dalam kepenyairan bakal terbuka lebar. Kita pun mudah memasukinya.

Pernyataan tersebut disampaikan dengan santai oleh penyair kenamaan Indonesia, Binhad Nurrohmat, Selasa malam (1/2) di Langgar PP Annuqayah Al-Furqaan. Usai mengisi bedah buku Dari Kiai Kampung ke NU Miring di Aula Instika siang harinya, Binhad beristirahat di kediaman K M Faizi, pengasuh PP Annuqayah Al-Furqaan yang juga dikenal sebagai penyair Indonesia.

Tidak hanya istirahat, setelah shalat Isya’ Binhad juga berbagi ilmu dan pengalaman kepada para santri mulai sekitar pukul 20.00 WIB sampai 23.00 WIB. Pada awal pembicaraan, Binhad menceritakan bagaimana asyiknya berpetualang dalam dunia kepenyairan.

Dia pernah diundang menjadi penyair tamu selama sebulan oleh pemerintah Korea. Segala kebutuhannya ditanggung penuh oleh negara tersebut. Selain itu, banyak pengalaman berharga lainnya yang dijalaninya berkat kemampuannya merajut kata-kata bermakna, puisi. Keyakinannya pun kian mengental bahwa puisi adalah segala dalam hidupnya.

Bagi Binhad, puisi ibarat sekuntum bunga. Kelopaknya adalah bahasa, sedangkan puisi tardapat dalam aromanya. Antara kelopak dengan aroma dapat dibedakan tetapi tidak dapat dilepas-pisahkan. Artinya, tugas seorang penyair ialah menciptakan keindahan dan kedalaman makna.

Lebih jauh Binhad menjelaskan, puisi merupakan jalan hidup para sufi. Jalaluddin Rumi, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Thufail, dan lainnya merupakan para sufi yang menorehkan banyak puisi. Dan, karya-karya mereka menjadi pemantik peradaban dunia. Inilah yang menjadi salah satu alasan baginya untuk selalu mendengungkan “doa”: Puisi atau Mati!

Dia punya keyakinan, segala apa pun yang selama ini dipandang tidak berharga pasti mampu diangkat derajatnya melalui puisi. Dia mencontohkan salah satu puisinya yang telah lama diterjemahkan oleh orang Australia, Berak. Bahkan pernah diminta Kompas tapi tidak diberikan olehnya. Berikut petikannya:

Berak

anusmu yang bagus
saban pagi mengangkangi mulut kakus
yang tak bosan menunggu taimu
zakarmu sekuyu gelambir leher jompo
bungkuk dan malu-malu
mengintip puing tai
terjepit bongkah coklat bokongmu

Inti dari puisi di atas, menurut Binhad ialah kesetiaan. Tiap pagi manusia pergi ke kakus untuk memunuhi hajatnya. Tapi sayang, manusia cenderung mengacuhkan keberadaan kakus karena dianggap tempat barang najis. Begitu halnya dengan “tai”. Dia jadi perbincangan erotis hanya lantaran puisi.

Menurut penyair yang kini bermukim di Jakarta itu, kerja-kerja puitik bisa dari kebiasaan sehari-hari. Dia mengistilahkannya dengan “keintiman”. Semakin kita intim dengan apa yang dilakoni kita, “kharisma puitik” bakal muncul. Kemunculannya bersumber dari kejujuran. Oleh karena itu, menurutnya, berbahasa harus jujur, tidak memain-mainkan kata.

Penjelasan Binhad mendapat apresiasi yang sangat baik dari para peserta. Itu terlihat dari kesemangatan mereka bertanya sekaligus berbagi pengalaman dalam hal puisi. Dengan santai, sigab, dan sesekali diselingi humor, begitulah Binhad memperlakukan para peserta.

Kamis, Januari 06, 2011

Belajar Desain dari Koran Bekas


Muhammad-Affan, Waka Kesiswaan MI 3 Annuqayah

GULUK-GULUK—Pada hari Selasa, 4 Januari 2011, Madrasah Ibtidaiyah 3 Annuqayah melaksanakan kegiatan rutin mingguan, Sanggar Pelangi. Sore itu mereka belajar desain pakaian.

Sebelum kegiatan dimulai, anak-anak dibagi menjadi dua kelompok. Tampak beberapa tumpukan koran bekas, bahan untuk membuat desain baju. Mereka lalu berdiskusi untuk menentukan bentuk dan model pakaian yang akan dibaut. “Bahannya pake koran bekas, gunting, dan lem,” kata tutor kegiatan tersebut.

Setelah 30 menit berlalu, desain pakaian berbahan koran bekas sudah jadi. Kemudian masing-masing dari mereka tampil untuk mengenakan sembari diapresiasi oleh temannya yang lain.

“Saya senang sekali dengan kegiatan sore ini,” kata Colik, siswi kelas 3 yang hadir sore itu. Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut dihadiri sembilan anak dan berakhir jam 17.00 WIB.

Berita ini dikutip dari Blog Madaris 3 Annuqayah.

Rabu, Januari 05, 2011

Tim Lingkungan SMA 3 Annuqayah Merambah ke Isu Air


Ruka’iyah, PPA Al-Furqaan Putri

Guluk-Guluk—Pada hari Ahad (26/12) yang lalu, Komunitas Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah yang terdiri dari tiga tim yaitu tim sampah plastik, pupuk organik dan tim gula merah mengadakan workshop penyusunan program lingkungan di bidang air. Kegiatan ini difasilitasi oleh M.Mushthafa dan bertempat di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.

Acara ini berlangsung dari jam 08.00-11.15 WIB. dan dihadiri oleh siswa SMA 3 Annuqayah, bersama dua guru SMA 3 Annuqayah, yakni Mus’idah dan Syaiful Bahri.

Penyusunan program lingkungan di bidang air ini merupakan wujud pengembangan dari semangat cinta lingkungan yang akan diaplikasikan oleh siswa dan guru SMA 3 Annuqayah. Program ini merupakan pengembangan dan timnya nanti akan tergabung dengan tim PSG.

Dalam kegiatan ini, seluruh hadirin mencoba menggali aspek-aspek mendasar terkait dengan air, seperti pentingnya air bagi kehidupan, khususnya disekitar Pondok Pesantren Annuqayah, dan permasalahan yang muncul di bidang air.

Di antara permasalahan air yang teridentifikasi adalah adanya pencemaran dan penyusutan volume sumber air serta pencemaran atau penurunan kualitas air. Kedua masalah ini, di antaranya muncul akibat ketidaktahuan dan kekurangpedulian masyarakat.

Setelah menggali masalah, peserta bersama-sama mencoba membuat rumusan masalah dan tujuan proyek, yang akan menjadi dasar bagi proyek yang akan dilaksanakan.

Acara ini berjalan dengan lancar karena keaktifan dan kekompakan peserta, yang dibuktikan dalam bentuk gagasan dan pertanyaan.

Sebagai tindaklanjut dari kegiatan tersebut, akan diadakan pertemuan lanjuutan untuk menyusun bentuk program/kegiatan, waktu, dan hal-hal penting lainnya.

Berita ini dikutip dari Blog Madaris 3 Annuqayah.

Selasa, Januari 04, 2011

Kebangkitan Mahasiswa Pesantren

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Di awal tahun (1/1) ini, bertempat di gedung diniyah lantai II, santri PP Annuqayah Latee yang berstatus mahasiswa dan tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Latee (FKML) mengadakan pertemuan guna merumuskan gerakan yang bakal mewarnai organisasi yang berdiri 14 Desember 2010 itu. Mereka merajut kesadaran bahwa mahasiswa harus menjadi kekuatan sosial (sosial force) sebagaimana dielu-elukan selama ini, baik oleh mahasiswa sendiri maupun penilaian yang disematkan oleh masyarakat luas.

Visi-misi didirikannya organisasi yang semua pesertanya kuliah di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) ini ialah dalam rangka membangun solidaritas antar-mahasiswa dan memedulikan hak-hak masyarakat yang tertindas serta yang memerlukan pertolongan.

Berlandaskan pada visi-misi tersebut, gerakan yang akan dilakukan mereka pada tahun 2011 ini mengarah pada tiga hal: pemberdayaan, pendidikan, dan memperluas relasi kemahasiswaan. Semua itu telah terangkum dalam program kerja (proker) yang telah dirumuskan, baik dalam proker harian maupun di tiga divisi (divisi pendidikan dan penalaran, divisi pengembangan minat dan bakat, dan divisi humas).

Proker harian terdiri dari kunjungan ke beberapa kampus Islam, tadabbur alam, dan silaturahmi ke beberapa pesantren yang terdapat perguruan tingginya. Sedangkan proker divisi pendidikan dan penalaran lebih pada kajian-kajian filsafat, sastra, dan keagamaan. Proker divisi pengembangan bakat dan minat mengerucut pada dunia kepenulisan dan penerbitan.

Sedangkan divisi humas, prokernya mengarah pada pemberdayaan masyarakat, meliputi segala hal yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan masyarakat, menjembatani keluhan-keluhan masyarakat dengan instansi pemerintahan terkait, serta pelayanan publik berupa bakti sosial. Bakti sosial nantinya dikemas dengan membersihkan pemakaman desa dengan mengajak masyarakat setempat dan beberapa kegiatan lainnya. Selain sifatnya pemberdayaan, hal itu juga dalam rangka membangun kesadaran dalam diri masyarakat bahwa pesantren—terutama mahasiswanya—tetap peduli terhadap keberadaan mereka.

Menariknya, pertemuan yang dimulai usai Isya’ dan berakhir sekitar pukul 23.30 WIB itu diisi dengan kajian bertema “Eksistensi dan Peran Mahasiswa Pesantren”. Pembicaranya ialah koordinator departemen publikasi dan organisasi PP Annuqayah Latee.

Dalam kajian itu muncul kesadaran, mahasiswa pesantren selama ini cenderung eksklusif. Aktivitas kesehariannya tidak lebih hanya datang ke kampus untuk kemudian kembali lagi ke pesantren. Sangat jarang yang bisa mengadakan hubungan dengan masyarakat di luar pesantren. Akibatnya, jargon bahwa mahasiswa merupakan agen perubahan, bagi mahasiswa pesantren, jauh panggang dari api.

Selain itu, mahasiswa pesantren dipandang kaku dalam menyikapi persoalan. Jangankan persoalan yang melingkupi kehidupan masyarakat, persoalan komunikasi mereka dengan mahasiswa di luar pesantren masih memilukan. Dari segi kepandaian mungkin bisa diandalkan karena sudah terbiasa bergelut dengan buku atau kitab, tapi kecerdasan membaca problem masyarakat masih dalam tanda tanya besar.

Dari itu kemudian ditemukan akar masalahnya: mahasiswa pesantren cenderung eksklusif karena memang nyaris tidak ada organisasi yang mewadahi mereka. Organisasi yang mengakomudir seluruh mahasiswa pesantren diyakini kuasa melahirkan sikap inklusif dalam diri mereka. Konsekuensi logisnya, eksistensi dan peran mereka akan terasa bagi masyarakat. Muaranya, kebangkitan mahasiswa pesantren tidak dapat dielakkan lagi.

Minggu, Januari 02, 2011

LPM Instika Gelar Pelatihan Investigasi

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Sudah menjadi tradisi, tiap kali LPM Instika akan menerbitkan majalah, pelatihan investigasi merupakan rangkaian awal kegiatannya. Para pengurus, baik senior maupun yunior, lumrahnya dikarantina selama tiga hari. Keterampilan yang diperoleh selama pelatihan bakal menjadi bekal tatkala terjun ke lapangan, tepatnya ketika memburu data.

Dari hari Rabu siang sampai Jumat sore (29-31/12), bertempat di gedung baru lantai II Instika, pelatihan tersebut digelar kembali. Investigator majalah KRITIS Sumenep, M Thabri, tampil sebagai trainer. Lima belas pengurus LPM Instika masa khidmat 2010/2011 dituntut aktif selama pelatihan itu berlangsung.

Membangkitkan kesadaran serta menggenjot kepekaan dan daya kritis terhadap problematika sosial merupakan intisari dari pelatihan ini. Itulah yang membingkai data-data yang dijadikan bahan penerbitan majalah Fajar-LPM Instika selama ini. Majalah kampus yang telah terbit 16 edisi tersebut banyak yang mengapresiasi. Salah satunya Darmaningtyas, saat berkunjung ke PP Annuqayah beberapa bulan lalu. Apresiasi itu muncul karena majalah Fajar dipandang mampu menguak problem sosial yang selama ini cenderung diabaikan oleh media massa.

Jadwal pelatihan ini terbilang padat. Siang hari hanya istirahat ketika mau mandi, makan dan shalat. Malam hari dimulai dari pukul 20.00 WIB sampai 00.00 WIB. Meski begitu, para peserta tetap semangat mengikuti bimbingan M Thabri. Mereka sudah bertekad berlatih dengan serius demi masa depan bangsa.

Hari pertama, pelatihan lebih difokuskan pada teori-teori yang berkenaan dengan jurnalisme investigasi. Hari kedua, para peserta diarahkan mengkaji ulang masalah-masalah sosial yang sudah terangkum dalam majalah Fajar. Selanjutnya pada hari ketiga, pelatihan lebih difokuskan pada pembuatan outline majalah Fajar edisi ke-17.

Menurut M Thabri, setidaknya ada lima elemen yang harus dipenuhi dalam jurnalisme investigasi. Yaitu, mengungkapkan kejahatan terhadap publik atau tindakan yang merugikan orang lain; skala dari kasus yang diungkap cenderung terjadi secara luas atau sistematis (ada kaitan atau benang merah); menjawab semua pertanyaan penting yang muncul dan memetakan persoalan dengan gamblang; mendudukkan aktor-aktor yang terlibat secara lugas, didukung dengan bukti-bukti kuat; publik bisa memahami kompleksitas masalah yang dilaporkan dan bisa membuat keputusan atau perubahan berdasarkan laporan itu.

Tanpa kelima elemen tersebut, sebuah laporan panjang barangkali hanya bisa disebut sebagai laporan mendalam (in depth reporting). Dan, hal itu bukan termasuk jurnalisme investigasi melainkan sebatas penelitian saja.

Selain itu, M Thabri mengingatkan bahwa laporan investigasi sepatutnya dikembangkan dari hasil temuan-temuan sendiri, daripada mengekor hasil investigasi pihak lain. Sebab, ada perbedaan besar antara membuat liputan investigasi dengan memberitakan hasil investigasi (polisi, jaksa, atau KPK). Ada perbedaan besar antara melakukan investigasi dalam kasus pembunuhan yang diduga melibatkan Antasari Azhar dengan memberitakan hasil investigasi polisi dalam kasus tersebut.

“Kita perlu kembali meluruskan kesalahpahaman ini. Ada liputan-liputan yang sebenarnya hanya melaporkan hasil investigasi aparat hukum, lalu disebut sebagai liputan investigasi. Ini adalah kerancuan yang biasanya banyak terjadi dalam berita-berita korupsi atau kriminal,” ujarnya.