Sabtu, Juni 01, 2013

Mahasiswa Instika “Kuliah ke Jerman”


Imlaul Hasanah, PPA Latee II

Guluk-Guluk—M. Mushthafa, S.Fil., M.A., dosen muda Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika)  pengampu materi kuliah “Perbandingan Pendidikan”, membuat terobosan baru  dalam model perkuliahan di Instika. Pasalnya, selama delapan semester, mahasiswa semester VIII jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) belum pernah merasakan diskusi lintas-negara, kecuali kemarin pada Rabu (29/o5) yang merupakan hari terakhir perkuliahan untuk materi “Perbandingan Pendidikan.”

Informasi tentang diskusi siang itu dikirim via sms dua hari sebelum hari H yang kemudian menyebar cepat ke seluruh telepon seluler mahasiswa dan disambut dengan riang gembira.

Dalam kegiatan tersebut, M. Mushthafa membawa mahasiswa Instika jurusan PAI kelas VIII E, F, dan G “kuliah ke Jerman”. Melalui konferensi video, M. Mushthafa menghadirkan Suratno—kandidat doktor antropologi politik dan agama Goethe Universitat, Frankfurt, Jerman, sebagai nara sumber dalam diskusi tersebut. Diskusi lintas-negara tersebut digelar dengan tujuan untuk menambah wawasan mahasiswa dalam memahami berbagai model sistem pendidikan di dunia.

Diskusi konferensi video ini sebenarnya sudah dijanjikan M. Mushthafa saat memulai kuliah “Perbandingan Pendidikan”, yakni untuk menghadirkan nara sumber yang secara langsung punya pengalaman dengan sistem pendidikan di negara tertentu di luar negeri.

Sebagai pengantar diskusi, Suratno menyampaikan gagasan mengenai pentingnya teknologi di era globalisasi. Dia mengatakan bahwa saat ini dunia telah menjadi global village. Penduduk dunia bisa saling berkomunikasi tanpa peduli jarak dan waktu.

“Kehadiran dunia teknologi harus disambut bahagia karena menyajikan banyak dampak positif bagi manusia, meskipun di sisi yang lain abad teknologi juga menyediakan dampak negatif,” ujarnya.

Setelah menyampaikan sedikit pengantar, Suratno yang juga merintis berdirinya Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama di Jerman dan kini menjabat sebagai ketua pengurus tanfidziyah ini kemudian menjelaskan dengan sistematis penyelenggaraan pendidikan di Jerman. Dia memulai dengan memberikan informasi bahwa Jerman menggratiskan biaya pendidikan di semua tingkatan, karena pemerintah Jerman berpandangan bahwa pendidikan adalah Hak Asasi Manusia yang harus dipenuhi.

Beberapa perbedaan mendasar antara pendidikan di Indonesia dan Jerman adalah mengenai penyelenggaraan pendidikan di tingkat dasar. Di Jerman, pendidikan dasar ditempuh selama 4 tahun—berbeda dengan Indonesia yang harus ditempuh selama 6 tahun. Suratno juga menyampaikan bahwa partisipasi pendidikan masyarakat Jerman begitu tinggi sehingga angka pengangguran di Jerman sangat kecil.

Selain tentang dunia pendidikan, Suratno juga menjelaskan tentang kehidupan sehari-hari di Jerman. Menurutnya, penduduk Jerman sangat disiplin dan menghargai waktu.

Antusiasme mahasiswa kian tampak kala Pak Suratno menyudahi penjelasan dan M. Mushthafa menyilakan mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan. Imlaul Hasanah adalah mahasiswi yang mendapat kesempatan pertama untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaannya berkenaan dengan wacana aktual seputar perubahan kurikulum 2013 yang direncanakan akan dimulai Juli mendatang. Pertanyaan kedua diajukan oleh Puput yang menanyakan bagaimana agar pramuka di Indonesia bisa berkunjung ke Jerman. Pertanyaan pamungkas diajukan oleh Ririn. Ririn juga dengan polos menyatakan keinginannya untuk bisa ke Jerman—yang langsung disambut sorak sorak dari mahasiswi yang lain.

Setelah menjawab ketiga pertanyaan, diskusi lintas negara yang memakan waktu sekitar 120 menit itu diakhiri dengan applous meriah dari seluruh mahasiswi Instik Annuqayah.

Mahasiswa keluar ruangan, membawa masing-masing kesan di hati mereka. “Konferensi video semacam ini perlu ditingatkan, dengan catatan mengurangi jumlah peserta (mahasiswa) agar lebih kondusif,” ucap Atiqairiyah, mahasiswi semester akhir Instika.

“Namun demikian, kegiatan yang diprakarsai Mushthafa tersebut perlu mendapat apresiasi positif dari pihak Instika,” imbuhnya. Komentar Atiqairiyah tersebut menyimpan harapan agar Instika lebih progresif menyiapkan masa depan, demi mewujudkan lulusan yang juga berwawasan dunia.


2 komentar:

Unknown mengatakan...

Bagus itu. Lebih bagus lagi kalu para mahasiswa rekreasi ke Jerman.kuliah Majazi

Unknown mengatakan...

Selama kurang lebih 6 tahun petualangan di kampung pendidikan(Annuqayah), cuma 1 kali saya ikut diskusi lintas benua di madaris 3 Annuqayah yang pada saat itu di prakarsai langsung oleh ra Musthafa.
Sungguh, pengalaman berharga dalam hidup saya.
Annuqayah; terima kasih atas smuanya.