Kamis, September 30, 2010

PPA Karang Jati Putri Resmikan 1 Kamar Mandi dan 4 WC Baru


Ummul Karimah, PPA Karang Jati Putri (Assaudah)

Guluk-Guluk––Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Karang Jati Putri (Assaudah), Nyai Hj. Thoyyibah Mahfoudh Rabu (29/09) kemarin meresmikan 1 kamar mandi dan 4 WC baru untuk santri Karang Jati Putri. Di tengah acara peresmian yang tidak formal itu tergambar raut kebahagian dari air muka para santri, tepatnya saat mereka menatap kamar mandi baru berukuran 7 x 5 meter itu.

”Kamar mandi adalah salah satu fasilitas yang sangat penting bagi keberlangsungan kegiatan di pondok pesantren. Terlebih di bidang kepribadatan. Karena dalam beribadah kita perlu berwudlu’. Dan itu memerlukan kamar mandi dan air yang memadai,” kata Rodhifah, salah satu pengurus senior di Karang Jati yang kini menjabat sebagai keamanan.

Pembangunan kamar mandi yang menghabiskan uang sejumlah Rp. 30.000.000,- tersebut tak lepas dari dukungan pengasuh PPA Karang Jati, selain dari biaya SPP sebesar Rp. 100.000,- per santri. Proses pembangunannya dimulai pada 13 Agustus dan berakhir pada 27 September kemarin.

Pak Maqbul, arsitek dan kepala proyek pembangunan kamar mandi, menuturkan bahwa selama pelaksanaannya ada beberapa kendala yang dialami. Salah satunya adalah hujan. “Apabila hujan turun, seluruh proses pengerjaan yang melibatkan 6 orang tukang itu diliburkan,” ungkapnya. Karena hambatan hujan ini, target menyelesaikan kamar mandi sebelum santri kembali pada 18 September yang lalu tak bisa terpenuhi.

Dengan diresmikannya 1 kamar mandi dan 4 WC tersebut, seluruh pengurus berharap agar para santri lebih bersemangat mengikuti seluruh kegiatan yang diprogramkan. Terutama bagi kegiatan amaliyah yang berkaitan dengan kepribadatan agar dapat berlangsung dengan baik.

Kamis, September 09, 2010

Sekolah Pengabdian Masyarakat V


Pada bulan Ramadhan kali ini, Biro Pengabdian Masyarakat (BPM) Pondok Pesantren Annuqayah menyelenggarakan Sekolah Pengabdian Masyarakat (SPM) V selama 15 hari, terhitung sejak tanggal 15-29 Agustus 2010. Serangkaian kegiatan itu merupakan agenda tahunan yang menjadi program dari Pesantren Mandiri.

Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mendidik santri yang memiliki kesadaran tanggungjawab sosial dan memiliki semangat pengabdian kepada umat dengan bekal pengetahuan dan keterampilan demi terciptanya masyarakat yang maju dan berperadaban.

Para peserta yang berjumlah 23 orang berasal dari lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat yang tersebar di daerah Sumenep dan Jember.

Acara dimulai pada Ahad pagi dengan agenda pembukaan. Kemudian dilanjutkan pada sesi siang dengan seminar yang mengambil tema, “Santri, Pesantren dan Perubahan Sosial”. Sesi ini disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir, pembantu rektor I IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Tema tersebut membincang tentang kegamangan pesantren dalam menerima perubahan sosial serta maraknya alumni-alumni pesantren yang mulai terikut aliran atau organisasi garis keras. Menurut K. A’la, semangat pluralisme sudah lama dikembangkan oleh pesantren dengan ajaran utamanya fiqih sufistik.

Esok harinya acara dilanjutkan dengan pengantar pelatihan analisis sosial. Belajar bersama ini dipandu oleh K. M. Zamiel el-Muttaqien, Direktur Eksekutif Biro Pengabdian Masyarakat. Selain belajar teori, K. Miming, panggilannya, juga memberikan praktek lapangan. Sesi ini dilakukan selama hampir satu hari, yaitu esok harinya, Selasa, 17 Agustus 2010, yang mengambil lokasi di tiga desa: Pananggungan, Dungdang, dan Bragung. Analisis sosial rencananya secara penuh akan didampingi oleh Ir. Hendro Sangkoyo, Ph.D, dari Sekolah Ekonomika Demokratik, Jakarta. Namun beliau hanya bersedia memfasilitasi selama tiga hari, yaitu mulai hari Rabu-Jum’at, sehingga untuk pengantar dipasrahkan kepada panitia SPM.

Hari pertama, bersama Pak Yoyok, panggilannya, peserta diajak untuk mengenal lebih jauh tentang analisis sosial, konten-konten serta konsepnya. Mula-mula peserta disuguhi istilah-istilah yang bagi sebagian mereka merupakan kosa-kata baru. Itu terdengar dari omongan-omongan dan tulisan dalam jurnal harian mereka. Selain itu, dipaparkan juga tentang peta krisis yang ada di Sumenep dan Madura pada umumnya. Contoh yang beliau berikan adalah peta blok migas yang mewarnai hampir seluruh Kabupaten Sumenep.

Hari berikutnya peserta disuguhi tugas praktek lapangan. Praktek ini dilakukan di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah dengan materi riset sampah. Masing-masing peserta diminta untuk datang ke lokasi tempat sampah, baik yang berada di kompleks masing-masing daerah maupun di TPA. Hasil penelitian itu kemudian dipresentasikan di hadapan peserta. Hasil akhir dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa problem sampah di Annuqayah dalam keadaan krisis.

Hari Sabtu-Senin, 21-23 Agustus 2010, dilajutkan dengan materi Pengorganisasian Masyarakat. Kali ini dibimbing oleh Madekhan Ali dari Lamongan. Pengalaman mengorganisir masyarakat di daerahnya menjadi modal untuk sharing pengetahuan bersama para peserta. Beliau menyampaikan beberapa tahapan menjadi community organizer (CO) serta apa saja yang menjadi tantangannya.

Dalam materi ini juga dilakukan praktek lapangan dengan mendatangi kelompok-kelompok masyarakat binaan BPM-PPA. Peserta yang dibagi dalam tiga kelompok diminta melakukan sosialisasi tentang budidaya tanaman tomat dan bawang, serta sosialisasi bahaya narkoba.

Kemudian pada keesokan harinya, Selasa, dilanjutkan dengan praktek membuat pupuk organik dengan dipandu oleh Mahfud, teman Pak Madekhan. Sehabis itu dilajutkan dengan tanya jawab soal pupuk organik.

Sesi pelatihan terakhir diisi oleh Tejo Wahyu Jatmiko dan Ida Ronauly dari organisasi Indonesia Berseru, Jakarta. Materi yang disampaikan adalah mengenai kampanye untuk desa sejahtera. Selama tiga hari mereka berdua menyampaikan proses mewujudkan desa sejahtera. Diawali dengan mengenal diri masing-masing peserta, kekuatan, potensi, pengaruh, dst. Menurutnya, tahapan ini menjadi modal awal bagi mereka yang ingin menjadi pemberdaya masyarakat.

Selain itu, mereka juga mengurai tentang konsep desa sejahtera yang mereka susun. Konsep itu, katanya, masih bersifat drafting sehingga perlu dibenahi.

Sekolah Pengabdian Masyarakat diakhiri dengan seminar pada Ahad, 29 Agustus 2010. Untuk sesi pagi, seminar mengangkat tema tentang “Pemiskinan dan Pendidikan”. Hadir sebagai pembicara, ketua Lakpesdam NU Sumenep, K. A. Dardiri Zubairi dan salah satu pengasuh PP. Annuqayah, K. M. Mushthafa.

K. Dardiri menyorot soal kasus bantuan dana block grant ke sejumlah sekolah di Kabupaten Sumenep yang mengalami banyak masalah. Sementara K.M. Mushthafa menyoal problem etis dalam pembiyaan pendidikan.

Sesi siang diisi oleh K. M. Zamiel el-Muttaqien dengan tema, “Perspektif Islam tentang Tanggung Jawab Sosial Tiap-tiap Muslim”.

SPM V resmi ditutup pada Ahad malam 29 Agustus 2010.


Berita ini dikutip dari website Biro Pengabdian Masyarakat PP Annuqayah.

Minggu, Agustus 22, 2010

MA 1 Annuqayah Putra Membuka Jurusan Baru

Faruqi Munif dan Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putra merupakan Madrasah Aliyah tertua di lingkungan PP Annuqayah. Madrasah yang berdiri pada tahun 1979 ini untuk tahun pelajaran 2010-2011 membuka jurusan baru, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Berikut petikan wawancara tertulis tim Pusat Data Annuqayah dengan K Muhammad ‘Ali Fikri, S.Ag., Kepala MA 1 Annuqayah Putra.

Kapan MA 1 Annuqayah Putra membuka Jurusan IPA?
Sejak tahun pelajaran 2010/2011. Jurusan ini diterapkan bagi siswa terpilih sejak kelas X, untuk menyiapkan potensi-potensi secara lebih dini.

Apa yang melatarbelakangi dibukanya jurusan ini?
Kami menilai, begitu minim kelahiran saintis dari pondok pesantren. Sebagian besar, saintis masih lahir dari kalangan non-pesantren. Kami ingin mempertegas perspektif kami menolak dikotomi ilmu.

Tujuannya?
Kami ingin menawarkan warna kurikulum dan konsentrasi studi yang “baru” bagi masyarakat, baik bagi mereka yang memiliki latarbelakang pendidikan pesantren maupun yang berlatarbelakang non-pesantren. Dengannya, kami ingin melahirkan saintis dari pesantren, sehingga santri dapat menyempurnakan perannya sebagai khalifatullah fil ard.

Proses apa saja yang dilakukan pihak lembaga untuk membuka jurusan IPA?
Yang terutama adalah penyaringan dan penyeleksian calon peserta didik melalui materi tes dalam masa penerimaan siswa baru; Merekomposisi dan reformulasi kurikulum. Memproyeksikan ketersediaan ruang dan dana untuk fasilitas laboratorium.

Apakah MA 1 Annuqayah Putra akan mendatangkan guru baru untuk jurusan IPA?
Ya, kami merekrut guru baru untuk jurusan ini, walaupun tidak seluruhnya. Dan kami juga mengubah strategi, bobot kurikulum dan materi pelajaran di dalamnya, untuk mempertegas kompetensi siswa.

Pesan Bapak pada siswa, utamanya jurusan IPA?
Jangan pernah berhenti belajar dan merasa puas dengan pembelajaran di ruang kelas. Pertegas kompetensi dengan tanpa mengenyampingkan kompetensi dasar sebagai seorang santri dan seorang muslim.

Minggu, Agustus 08, 2010

Peserta KKN 2010 STIK Annuqayah Ditarik

Hairul Anam al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Bertempat di kantor kecamatan Saronggi, Kamis pagi (5/8), sebanyak 198 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIK Annuqayah ditarik dari lokasi. Adapun serah terima dari Ketua STIK Annuqayah kepada Camat Saronggi berlangsung sebulan yang lalu (6/7). Sayangnya, pada acara penarikan tersebut, Ketua STIK Annuqayah berhalangan hadir sehingga diwakili oleh Pembantu Ketua (PK) I STIK Annuqayah, Drs. K. A. Washil Hasyim.

Dari laporan ketua panitia, A. Wahid Hasan, M. Ag, dapat diketahui bahwa peserta KKN 2010 ini tidak hanya berkegiatan di 14 desa se-kecamatan Saronggi. Kecamatan Batu Putih juga menjadi sasaran yang diamanahkan kepada 140 mahasiswi. Dari dua kecamatan ini, seluruh peserta KKN 2010 STIK Annuqayah berjumlah 338 orang.

Selain itu, Wahid menambahkan bahwa model KKN kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau tahun-tahun sebelumnya program yang dirumuskan para peserta bersifat “penawaran” tapi kali ini lebih pada bagaimana masyarakat juga terlibat dalam perampungan program tersebut. Harapannya, tatkala merealisasikannya mereka tidak kewalahan karena masyarakat bisa menjadi mitra yang bisa dibanggakan.

Lebih dari itu, program yang dibuat harus selaras dengan kebutuhan dan problem yang ada di masyarakat. Konsekuensinya, peserta KKN harus melakukan observasi dan wawancara terlebih dahulu untuk kemudian menentukan prioritas masalah. Prioritas masalah ini berdasarkan pada teori Problem Tree yang mengarah pada upaya menemukan masalah hingga ke akar-akarnya.

Dalam sambutannya, PK I STIK Annuqayah menyatakan bahwa salah satu tujuan dari pelaksanaan KKN ialah sebagai implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian. “Dengan adanya KKN, diharapkan mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah, meski harus diakui, teori di bangku kuliah adakalanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang terdapat di masyarakat,” katanya detail.

Dalam kesempatan itu, pihak kecamatan juga memberikan sambutan yang disampaikan oleh sekretaris Camat, Warsono, SH, MH. Dia berkali-kali memohon maaf apabila selama menempuh KKN, mahasiswa mengalami tidak sedikit rintangan terutama berkenaan dengan pelayanan yang diberikan oleh Kepala Desa. Dari informasi yang diterimanya, dia mengungkapkan bahwa ada beberapa Kepala Desa yang kurang responsif terhadap peserta KKN.

Acara penarikan itu diparipurnai ketika jam sudah menunjukkan pukul 10.34 WIB. Tampak terlihat wajah-wajah peserta KKN sedih bercampur bahagia. Kesan selama mengikuti KKN tidak akan pernah terlupakan.

Senin, Agustus 02, 2010

KBM PPA Al-Furqaan Mulai Aktif


Muhammad-Affan, PPA Al-Furqaan

Selain PPA Al-Furqaan Putra, terhitung sejak pertengahan Juli lalu, PPA Al-Furqaan Putri juga mengaktifkan kembali kegiatan Kelompok Belajar Mengajar (KBM). Tahun ini, KBM PP Al-Furqaan memasuki angkatan IV dengan peserta baru berjumlah 10 orang.

KBM merupakan kegiatan belajar mengajar, dimana yang berperan sebagai ‘guru’ dalam kegiatan ini yakni para santri sendiri. Mereka dijadwal secara bergiliran untuk ‘mengajar’ dan menentukan materi jauh hari sebelumnya. Secara umum, materi yang disampaikan meliputi materi pelajaran sekolah.

“Setiba di pondok, saya langsung bercerita pada para santri baru tentang kegiatan ini. Dan, alhamdulillah, mereka semua tertarik untuk bergabung di KBM,” ungkap Novia, koordinator KBM Putri.

KBM digagas oleh salah satu pengurus PP Al-Furqaan. Kegiatan ini pertama kali dimulai pada 2007 lalu. Salah satu tujuan KBM, selain sebagai media transformasi pengetahuan antarsantri, juga untuk mengasah kemampuan peserta dalam hal ‘mengajar’. Kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada para santri untuk mengeksplorasi dan mencari metode terbaik dalam menyampaikan pelajaran.

“Dengan kegiatan ini, saya termotivasi untuk belajar,” kata Erna, salah satu perserta KBM Al-Furqaan Putri yang sudah bergabung sejak 2 tahun lalu. “Kami dituntut menciptakan suasana kelas tidak jenuh. Untuk itu, hampir bisa dipastikan, dalam setiap pertemuan, teman-teman menyiapkan game,” lanjutnya.

Jumat, Juli 02, 2010

Annuqayah di Dadaku

Ahmad Al Matin, alumnus PPA Latee (2003-2009), kini belajar di IAIN Sunan Ampel Surabaya

Jika boleh memplesetkan sebuah lagu, maka saya akan memplesetkan lagunya Netral yang berjudul ‘Garuda di Dadaku’ menjadi ‘Annuqayah di Dadaku’. Bagi saya, Annuqayah tidak hanya sebagai sebuah pesantren belaka. Annuqayah bagi saya adalah orang tua dan desa kedua saya. Ya, meskipun saat ini secara adiministratif saya bukan lagi santri Annuqayah, tapi bagi saya pribadi saya tetap dan akan selalu menjadi santri Annuqayah sampai kapan pun.

Banyak sekali yang saya alami dan saya dapatkan selama enam tahun tinggal di Annuqayah, baik berupa ilmu, pengalaman, guru, sahabat, dan banyak hal lainnya yang telah mewarnai hidup saya dan selalu menginspirasi saya untuk selalu menjadi lebih baik. Semua itu tidak akan pernah terlupakan.

Ada beberapa hal yang paling sering saya ingat dan saya rindukan saat ini dari Annuqayah. Yang pertama adalah sosok kiai yang paling bersahaja yang selalu sabar mengayomi santrinya meskipun santrinya sering berbuat tidak sesuai yang dinginkan beliau. Beliau adalah KH Ahmad Basyir AS. Sosok beliaulah yang paling saya rindukan dari Annuqayah.

Betapa tidak, dengan keadaan beliau yang saat ini sudah mencapai usia senja, beliau masih mempunyai semangat yang sangat besar untuk memberikan ilmu dan pendidikan yang terbaik pada santrinya. Beliau selalu menjadi imam shalat jama’ah di Mushalla Latee atau pun mengajar Madrasah Diniyah meskipun pada saat itu kondisi beliau tidak cukup kuat untuk itu.

Mengingat beliau membuat mata saya seketika penuh air mata. Rasa kagum dan rasa haru bercampur dalam hati saya saat saya mengingat semua tentang beliau. Mulai dari semangatnya hingga perkataan-perkataan beliau tetap saya rasakan hingga saat ini, saat saya berada di kota Surabaya ini. Dan saya akan senantiasa selalu mendoakan beliau semoga beliau tetap kuat memberikan yang terbaik untuk santrinya dan semoga beliau diberikan pahala dan surga kelak di akhirat nanti.

Yang kedua, yang sangat saya rindukan dari Annuqayah adalah suasana religius yang tak pernah hilang. Memang, sudah sepatutnya semua pesantren identik dengan suasana religius. Tapi bagi saya suasana religius yang ada di Annuqayah sangat berbeda dengan suasana religius yang ada di pesantren-pesantren lain yang pernah saya kunjungi. Seperti Al-Amien Prenduan, Al-Is‘af Kalaba’an ataupun Pesantren Tebuireng Jombang yang baru-baru ini saya kunjungi. Perbedaan suasana religius ini juga diakui beberapa teman saya di Annuqayah yang juga pernah mengenyam pendidikan di pesantren lain.

Saya tidak dapat menjelaskan secara detail letak perbedaan suasana religius tersebut. Namun saat saya berada di Annuqayah saya merasakan sebuah ketenangan, ketentaraman dan kesejukan yang tidak pernah saya rasakan di Surabaya. Selain itu, secara tidak langsung orang-orang yang ada di sana menantang saya untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Yang ketiga adalah tradisi menulis yang menjadi salah satu ciri khas Annuqayah. Ya, Annuqayahlah yang mengantarkan saya pada dunia yang sangat menyenangkan ini, dunia menulis. Berawal dari ketidaksengajaan saya masuk dunia tulis-menulis. Namun ketidaksengajaan tersebut telah membawa saya ke beberapa tempat-tempat seperti Jakarta dan juga memperkenalkan saya kepada orang-orang penuh semangat dalam menulis seperti Gus Muhammad Mushthafa, Gus M. Zamiel El-Muttaqien dan Gus M. Faizi. Merekalah yang selalu saya jadikan contoh dan guru-guru saya dalam menulis, yang terkadang saat saya melihat karya mereka saya terpacu untuk terus menulis dan berkarya.

Di Annuqayah ada sebuah kompetisi untuk menulis yang akan selalu mendorong sesorang untuk menulis, meskipun hal itu tidak tampak secara kasat mata. Dan kompetisi itu tidak pernah saya rasakan di sini, sehingga sejak saya tinggal di Surabaya sampai saat ini tulisan saya masih bisa dihitung dengan jari. Berbeda saat saya masih di Annuqayah yang dalam setiap hari setidaknya saya menghasilkan sebuah tulisan dalam bentuk apa pun.

Yang keempat adalah suasana akrab dan rasa persaudaraan di antara para santri Annuqayah. Hal itulah yang tidak pernah saya rasakan di Surabaya. Di sini, semua orang seakan hanya mementingkan diri sendiri saja. Semua bersifat individual. Bahkan meskipun Pesantren Mahasiswa IAIN yang saya tempati sekarang ini berbasis pesantren, tapi tidak sedikit pun saya merasakan adanya rasa persaudaraan mereka sama seperti rasa persaudaraan teman-teman di Annuqayah.

Semua orang yang tinggal di sini sulit untuk berkumpul dan bercerita-cerita seperti teman-teman di Annuqayah. Mereka hanya berkumpul dengan orang-orang yang menurut mereka satu derajat atau satu ideologi saja. Sungguh sangat tidak menyenangkannya kehidupan sosial di sini.

Hal-hal inilah yang selalu membuat saya merasa rindu pada Annuqayah. Dan satu hal yang ingin saya sampaikan pada semua orang, pada semua teman-teman saya terutama teman-teman di Annuqayah. Saya akan mengatakan bahwa seberapa besar pun kita ingin keluar dari Annuqayah maka sebesar itu pula rasa rindu yang akan kita rasakan saat kita jauh dari Annuqayah.

Dan jika suatu saat nanti, saat saya telah menyelesaikan semua proses studi saya, ada yang meminta saya untuk kembali ataupun menjadi bagian dari Annuqayah, maka saya akan senantiasa siap untuk menerimanya. Karena Annuqayah di dadaku.

Pustakawan Latee Seriusi Pengangkatan Kru Hijrah

Hairul Anam al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Setelah para pustakawan Latee menetapkan Romaiki Hafni sebagai Pemimpin Redaksi buletin Hijrah 2010/2011 pada Jum’at malam lalu (25/6), Ahad malam (27/6) kemarin mereka menggelar tes seleksi kru Hijrah yang baru. Kegiatan ini ditempatkan di bukit Lancaran, sebelah tenggaranya PP Annuqayah.

Menurut M Mahrus Busthami, ketua perpustakaan Latee, kegiatan tersebut bertujuan untuk menyaring santri-santri yang bisa diajak berproses di Hijrah. “Yang paling penting, ini adalah bagian dari proses kaderisasi. Sebagaimana sebelumnya, untuk menjadi pustakawan, para santri harus berproses dulu di Hijrah. Apalagi, di akhir kepengurusan nanti, buletin Hijrah akan diubah menjadi majalah,” katanya saat ditemui di Perpustakaan.

Diawali dengan penyebaran pamflet pendaftaran setengah bulan sebelumnya, ternyata tidak sedikit santri Latee yang tertarik menjadi kru. Ada 19 santri yang mendaftar. Mereka mematuhi aturan main sebagaimana tertera di pamflet: para pendaftar wajib menulis kelemahan diri, kelebihan, upaya mengatasi kelemahan, prestasi, dan karya-karya yang telah ditorehkan. Kesembilan belas pendaftar tersebut diseleksi menjadi 7 orang.

“7 orang itu yang akan di-interview nanti,” ujar Romaiki sebelum beranjak ke bukit Lancaran. Dari 7 orang tersebut, nantinya yang akan diloloskan sebanyak 5 orang.

“Jadi, 2 orang akan tereliminasi,” tambah redaktur pelaksana Hijrah, Musyfiqur Rahman.

Ketika jam menunjukkan pukul 19.15 WIB, kegiatan tersebut dimulai. Seluruh peserta dikumpulkan di Perpustakaan untuk diberi arahan oleh Romaiki dan Musyfiqur Rahman. Selang 5 menit kemudian, mereka diberangkatkan satu persatu. Mereka akan melewati 4 pos yang di masing-masing pos dijaga oleh 4 Pustakawan.

Rute yang akan mereka lewati menggunakan kode sinar lilin. Di masing-masing pos ada satu lilin yang menyala.

Pos 1 bertempat di area parkir STIK Annuqayah. Topik yang ditanyakan kepada para peserta di pos ini ialah tentang kepribadian dan pengalaman peserta. Untuk berlanjut ke pos 2, mereka harus menemukan sinar lilin yang berada di sebelah barat Aula Syarqawi. Di sana mereka akan ditanyakan hal-hal yang berkenaan dengan kepesantrenan.

Setelah itu, mereka berlanjut ke pos 3 yang berada di simpang empat sebelah timur bangunan STIK Annuqayah Putri yang baru. Di pos ini, mereka ditanyakan tentang kepustakaan. Pos 4 merupakan pos terakhir yang mereka harus lalui. Tepat di atas batu sebelah tenggara pos 3, sinar lilin berkelap-kelip. Di sana sudah siap 4 Pustakawan yang akan menanyakan tentang kepenulisan dan keorganisasian.

Santai dan serius mewarnai kegiatan yang menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam tersebut. Kegiatan itu berjalan dengan lancar, tidak ada gangguan santri karena kebanyakan sedang mengikuti acara pembukaan Haflatul Imtihan Madrasah Annuqayah (Hima) di Masjid Jamik Annuqayah.

Usai kegiatan, para pustakawan berkumpul di perpustakaan untuk menentukan siapa saja yang lolos seleksi. Seperempat jam kemudian, mereka sudah berada di kantin. Diiringi dengan canda ria, mereka makan bersama.

Kamis, Juli 01, 2010

Pembukaan HIMA 2010: Santri Banjiri Masjid Jamik Annuqayah


Ach. Fannani Fudlaly R., PPA Lubangsa

Guluk-Guluk—Ahad malam (27/06) setelah shalat Isya’, seluruh santri Annuqayah putra membanjiri Masjid Jamik Annuqayah dalam rangka mengikuti acara pembukaan Haflatul Imtihan Madrasah Annuqayah (HIMA) 2010.

Tepat pukul 19.30 WIB, rangkaian pembukaan HIMA 2010 dimulai. Terlihat Dewan Masyayikh dan beberapa pengasuh muda, serta beberapa undangan lain juga hadir dalam acara pembukaan tersebut.

Dalam sambutannya, ketua panitia HIMA 2010 mengatakan, lomba yang akan dihelat selama satu pekan itu bersifat edukatif dan berupaya mengembangkan potensi siswa. HIMA 2010 mengangkat tema “Mempertegas Jati Diri Santri sebagai Khalifah fi al-Ardh di Era Globalisasi.”

Selain itu, ketua pengurus PP Annuqayah memberikan imbauan kepada para santri agar lebih menjaga etika demi menjaga nama baik Pondok Pesantren Annuqayah serta anggapan negatif dari para alumni dan wali santri berkaitan dengan pelaksanaan Imtihan.

Setelah sambutan, Dewan Masyayikh Annuqayah, yang diwakili oleh KH Ahmad Basyir AS., resmi membuka acara HIMA 2010. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surat yasin dan tahlil bersama yang dipimpin oleh KH Bushiri Ali Mufi.

Senin, Juni 28, 2010

Bekali Pengurus dalam Mengemban Amanah


Hairul Anam al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Jumat malam (24/6) kemarin, bertempat di mushalla Latee, pengurus harian Latee mengundang seluruh pengurus, baik pengurus pusat maupun pengurus rayon. Agenda dalam undangan tersebut ialah silaturrahim dan konsolidasi antarpengurus dengan menghadirkan ketua pengurus PP Annuqayah, KH A Hanif Hasan, guna memberikan taushiyah kepada para pengurus.

Acara yang dikemas cukup sederhana itu diikuti secara khidmat oleh segenap pengurus. Di awal penjelasannya, K Hanif menyatakan bahwa menjadi pengurus itu sama halnya dengan mendidik diri. Dari sini kemudian pengurus dituntut dewasa. Ia juga diharuskan untuk berhati-hati dalam bertutur dan bertingkah laku.

Namun begitu, lanjut K Hanif, pendewasaan diri masih belum cukup bila tidak ditopang dengan kekompakan antarpengurus. “Inti dari organisasi adalah kekompakan,” tegas beliau.

Selain itu, ada beberapa catatan penting yang dipaparkan beliau untuk para pengurus. Pertama, kesejahteraan santri harus ditangani secara optimal. Kesejahteraan dimaksud berupa tersedianya air tiap hari, kitab untuk pengajian, obat-obatan bagi santri yang sakit, dan sebagainya.

Kedua, kebersihan. Inilah yang menurut K Hanif selama ini di beberapa daerah di Annuqayah kurang ditangani secara maksimal. Beliau menyayangkan sekali ketika banyak sampah yang berserakan. Beliau menawarkan solusi kepada pengurus agar menindak santri yang buang sampah sembarangan.

Ketiga, kesehatan. Bagi K Hanif, kesehatan tidak kalah pentingnya dengan kebersihan. Keduanya merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipertentangkan. “Lingkungan sehat itu tercermin dari kebersihannya,” katanya singkat.

Keempat, pendidikan santri. Kaitannya dengan pendidikan, K Hanif menegaskan bahwa ini merupakan inti dari didirikannya pesantren. “Dengan pendidikanlah keimanan dan ketakwaan bisa dibentuk. Tanpa ada upaya mengoptimalkan pendidikan di pesantren, maka pesantren sama halnya dengan mati. Pendidikan adalah ruh dari pesantren,” paparnya detail.

Seusai K Hanif memberikan taushiyah, Sekretaris I Latee, Abd. Rahem, memberikan kesempatan seperempat jam kepada segenap pengurus untuk menyampaikan aspirasinya. Beberapa koordinator dari beberapa departemen tampil ke depan.

Ta’arruf antarpengurus menutup acara yang berakhir pada pukul 21.23 WIB itu.