Senin, Februari 20, 2012

FLP Gelar Presentasi Lomba Karya Tulis


Fitriyatus Sholihah, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Kamis (16/02) kemarin, sepuluh nominator lomba opini dan resensi anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting Pondok Pesantren Annuqayah Latee II mempresentasikan karya opini dan resensi mereka di  hadapan dewan juri. Naskah lomba diserahkan oleh pengurus FLP kepada dewan juri tiga hari sebelumnya.

Meski sebelumnya sempat turun gerimis, semangat anggota FLP untuk menghadiri acara presentasi tersebut tidak surut. Anggota dan beberapa pengurus FLP  tampak memenuhi tempat acara yang dilangsungkan di lantai II ruangan utara kampus Instika putri.

Lomba opini dan resensi yang diselenggarakan oleh pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting Pondok Pesantren Annuqayah Latee II ini diikuti oleh seluruh anggota FLP yang berjumlah 11 orang. Kemudian dipilih lima nominator pada masing-masing lomba opini dan resensi. Selain merupakan salah satu program pengurus FLP periode 2011-2012, lomba tersebut juga dimaksudkan untuk melatih kreativitas anggota FLP dalam tulis-menulis.

Acara presentasi ini sebelumnya direncanakan akan dimulai pada pukul 13.30 WIB. Akan tetapi, acara tersebut diundur hingga pukul 14.10 WIB disebabkan keterlambatan juri menghadiri acara. Selama menunggu, anggota FLP yang menjadi nominator lomba tersebut terlihat tegang mempersiapkan diri untuk mempresentasikan karya mereka masing-masing. Ketegangan yang dirasakan para nominator lomba tersebut diungkapkan oleh Helmawati salah satu nominator lomba.

Nominator lomba opini adalah Helmawati, Mumfarijah, Kamaliatus Zahrah, Isti’anatur Rahmah, dan Wahdatul Mufarrahah. Sedangkan untuk nominator lomba resensi adalah Helmawati, Qorina Shofiatur Rofiqoh, Nur Hidayati, Wahdatul Mufarrahah, dan Istianatur Rahmah.

Pada waktu presentasi, ada beberapa peserta presentasi yang tampak tersenyum kecut setelah mendapat kritikan pedas juri. Namun, ada pula yang hanya manggut-manggut mendengarkan kritikan beserta juga arahan yang disampaikan oleh Abd. Warits selaku juri pada acara tersebut. Arahan tersebut diharapkan tidak lain untuk dapat dijadikan pelajaran dan pijakan selanjutnya bagi para peserta sehingga dapat menjadi koreksi pada kesalahan-kesalahan yang seringkali terjadi dalam hal kepenulisan.

OSIS MA Tahfidh Annuqayah Genjot Spirit Kompetisi Siswa di Pekan Maulidiyah

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Spirit kompetisi siswa MA Tahfidh Annuqayah terus digenjot sepanjang waktu. Ragam potensi yang dimiliki mereka mesti terwadahi. Dari itulah OSIS MA Tahfidh Annuqayah memprogramkan acara Pekan Maulidiyah yang sudah terlaksana sejak tanggal 8 sampai 16 Februari 2012.

Demikian dituturkan ketua OSIS MA Tahfidh Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Ach Fatihul Abror, saat diwawancarai di serambi MA Tahfidh Annuqayah, Jumat (16/2) siang.

Fatih menjelaskan, di samping untuk mengagungkan kelahiran nabi Muhammad saw, dalam acara Pekan Maulidiyah juga dilangsungkan ragam lomba untuk menggenjot spirit kompetisi siswa MA Tahfidh Annuqayah.

“Pekan Maulidiyah ini sudah tiga kali dilaksanakan. Saya melanjutkan sekaligus mengoptimalkan program kerja dari pengurus OSIS sebelumnya. Kita bisa menemukan banyak lomba di dalamnya,” ujar Fatih dengan senyum manisnya.

Secara bersamaan, Steering Committee acara Pekan Maulidiyah, Ali Makki, menjabarkan bahwa lomba tersebut meliputi musabaqah fahmil kutub, musabaqah syarhil qur’an, musabaqah fahmil qur’an, musabaqah tilawatil qur’an, pidato 4 bahasa (Arab, Inggris, Indonesia, Madura), Musabaqah Alfiyah Ibnu Malik, dan tahfidz juz ‘amma.

“Selain itu, kami juga menggelar lomba teater dan drama, deklamasi puisi, catur, debat 2 bahasa (Arab dan Indonesia), terjemah 2 bahasa (Arab dan Inggris), cipta puisi spontan, resensi buku, lomba karya tulis ilmiah, mengarang cerpen, dan sporter mania,” jelas Ali Makki detail.

Menariknya, dalam acara yang menelan biaya sekitar Rp 4 jutaan tersebut, juga dilangsungkan lomba membuat Majalah Dinding (Mading) 3 Dimensi. Mading tersebut terhias rapi di beranda MA Tahfidh Annuqayah. Ada yang berwujud istana mini, rumah sederhana lengkap dengan halamannya yang asri dan diliputi pepohonan, dan ada juga yang berbentuk rumah susun berjejer penuh warna.

Di samping itu, pada malam sebelum malam puncak, tepatnya Rabu (15/2) malam, digelar pentas seni se-Annuqayah. Belasan pesantren daerah yang ada di Annuqayah ikut serta menyemarakkan acara Pekan Maulidiyah. Para pengurus daerah mengutus para santri berbakat untuk tampil memukau.

“Sengaja kami mencanangkan pentas seni se-Annuqayah ini tiada lain agar di MA Tahfidh Annuqayah tidak hanya dikenal kentalnya pengajaran agama saja, tetapi nilai seni juga menemukan titik labuhnya,” tegas Ali Makki yang kini juga menjabat ketua Teater Saksi Annuqayah.

Sekretaris OSIS MA Tahfidh Annuqayah, Moh Ainur Ridha, menambahkan bahwa acara Pekan Maulidiyah ini mendapat respons yang sangat positif dari kepala MA Tahfidh Annuqayah, KH M Syafi’ie Anshari.

“Apresiasi dari siswa dan lembaga sangat tinggi,” ujar Moh Ainur Ridha. Selain itu, ujar remaja yang juga tercatat sebagai pustakawan Perpustakaan PP Annuqayah Latee itu, kekompakan 23 panitia menjadi catatan tersendiri.

Pada malam puncak yang jatuh pada Kamis (16/2) malam, dilangsungkan penobatan siswa Teladan dan juara umum lomba Pekan Maulidiyah. Siswa teladan diraih oleh siswa kelas 3 A, Isbatul Haq. Adapun juara umum lomba Pekan Maulidiyah berhasil diraih oleh kelas 3 A.

Minggu, Februari 19, 2012

Lubangsa Membangun Gedung Baru

Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

Guluk-GulukSukses membangun gedung perpustakaan Lubangsa awal Januari lalu, pengurus PPA Lubangsa kembali membangun satu unit gedung. Lokasi yang dijadikan lahan pembangunan gedung baru tersebut adalah lapangan blok F yang selama ini digunakan sebagai tempat olahraga sepak bola.

Sabtu pagi kemarin (19/02), tampak beberapa pekerja sedang melakukan aktivitas penggalian tanah sedalam satu setengah meter untuk fondasi.

Gedung yang akan dibangun berlantai dua. Lantai pertama ada 12 ruangan, terdiri dari 6 ruang asrama, 4 ruang perkantoran, 1 kamar tamu, dan 1 aula kecil untuk unit kegiatan yang kapasitasnya tidak lebih dari 50 orang. Sedangkan lantai II adalah aula pertemuan dengan kapasitas kurang lebih 150 orang.

Karena aktivitas pembangunan gedung tersebut baru dimulai, bahan-bahan bangunan yang dibutuhkan masih banyak yang belum tersedia. Hingga berita ini ditulis, bahan bangunan yang sudah ada di lokasi hanya batu dan tanah lempung. Sedangkan untuk bahan lainnya masih dalam proses pengangkutan.

“Kalau tidak ada halangan, besok kami akan mengangkut pasir batu dari kecamatan Batu Putih sebagai bahan cor,” kata Rasyidi Rahman, Pengurus Sarana dan Prasarana yang ditunjuk sebagai ketua panitia pembangunan.

Beberapa pekerja terlihat merasa kesulitan untuk menggali tanah sebagai dasar fondasi. Pasalnya, hujan yang belakangan ini turun lebat membuat tanah di lokasi pembangunan menjadi basah dan liat, sulit untuk dicangkul.

Dengan adanya pembangunan tersebut, santri maupun pengurus PPA Lubangsa sangat optimis aktivitas kepesantrenan akan berjalan lebih mudah dan lancar, terutama kegiatan kepesantrenan yang bersifat seremonial. Selama ini, kegiatan-kegiatan PPA Lubangsa, utamanya yang bersifat seremonial, menggunakan ruang sekolah (MTs 1 Annuqayah dan MA 1 Annuqayah) dan terkadang serambi masjid jamik Annuqayah.

Jumat, Februari 17, 2012

Jalan Terjal Meraih Doktor

Ahmad Sahidah PhD
Dosen Sains Pemikiran dan Etika Universitas Utara Malaysia

Betapa pun, hubungan Indonesia dan Malaysia sering memburuk, namun pada waktu yang sama keduanya acapkali bertemu dan mengikat janji. Bahkan, setelah moratorium pengiriman tenaga kerja sektor pekerja tata laksana rumah tangga berlangsung dua tahun, kedua negara serumpun memeterai perjanjian untuk mencairkan pembekuan  ini. Pada saat bersamaan, investasi Malaysia ke Indonesia makin meningkat, namun ia pun tak menggoyahkan rasa nyinyir orang ramai. Apa pun, terkait dengan negara tetangga, buruk. Potret paling terang benderang  adalah rasa nasionalisme yang membuncah ketika pertandingan akhir Sea Games ke-26 di Gelora Bung Karno, betapa ratusan ribu orang memadati stadion kebanggaan itu dengan pesan jelas Ganyang Malaysia!

Tetapi, bola bundar itu menunjukkan wataknya. Ia bisa membalikkan keadaan karena faktor lain. Meskipun Garuda Muda bertaburan pemain bintang, belum lagi didukung tiga penyerang handal, namum tim besutan Rahmad Darmawan ini justeru tersungkur di babak adu penalti. Apa yang bisa dipelajar dari Harimau Muda? Adakah kita mau menyisakan sedikit rasa kagum terhadap anak-anak asuhan Ong Kim Swee? Pertanyaan ini perlu dilontarkan agar kita tak melulu melihat wajah jahat negara tetangga. Selain itu, ada hal lain yang juga perlu ditengok, yaitu pendidikan.  Bagaimanapun, isu ini perlu diperhatikan karena sebagaimana dikatakan oleh Lyndon B John son, At the desk where I sit, I have learned one great truth, the answer for all national problems - the answer for all the problems of world - come to a single word. That word is "education". 

Tentu saja, saya akan menyoroti salah satu isu penting di kalangan perguruan tinggi kita, kekurangan pengajar berkualifikasi S3.  Bagaimanapun, masalah kekurangan dosen berkualifikasi doktor terkait dengan prilaku birokrasi kebanyakan kampus di sini masih juga belum berubah. Mohammad Nuh, Menteri Pendidikan Nasional pun tak kalah bacul, kementerian yang dipimpinnya akan menggenjot usaha menambah tenaga pengajar bergelar doktor hingga 20 persen tahun 2015. Sementara, menurut Reza Muhida, ketua ILRAM (Indonesian Lecturer and Researcher Association Malaysia), ada 300 orang dosen asal Indonesia yang menyandang gelar doktor mengajar di Malaysia. Malah, ada kecenderungan pertambahan jumlah secara konsisten.  Apakah ada yang salah dengan keadaan di negeri sendiri?

Saya masih ingat cerita seorang pejabat di sebuah universitas negeri di Yogyakarta yang menyatakan bahwa ada seorang calon doktor yang belum menyelesaikan kuliahnya hingga 16 tahun. Selain itu, ada banyak dosen yang menyelesaikan program strata 3 ini menjelang pensiun. Baru saja meraih gelar doktor, ia harus hengkang dari kampus. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, banyak dosen muda yang meraih gelar doktor di kampus lokal, meskipun jumlahnya tidak menyenangkan, kurang dari 10 persen dari seluruh dosen di institusi pendidikan tinggi.

Lalu, mengapa perguruan tinggi di sini begitu seret melahirkan doktor? Adakah ini terkait dengan birokrasi kampus atau sistem perkuliahan yang memang memerlukan waktu lama? Biasanya, untuk menyelesaian program doktoral, mahasiswa mengambil mata kuliah selama empat semester. Setelah lulus semua subjek, mereka bisa menulis proposal disertasi. Nah, di sinilah cerita mulai seram. Pembimbing susah ditemui, karena selain menyelia mahasiswa, biasanya sang dosen mengajar di banyak tempat, bahkan terbang hingga ke negeri yang jauh. Tak jarang profesor itu mengingari janji dan kalau pun menepatinya hanya dalam waktu yang singkat memberikan bimbingan.

Harus diakui bahwa tugas akhir dari seorang calon doktor adalah penulisan disertasi. Sebagai penanda dari kualifikasi sebagai sarjana dalam jenjang terakhir dari sebuah lembaga pendidikan, ia menjadi karya yang harus memenuhi syarat ilmiah, seperti latar belakang, objek kajian, pendekatan, analisis dan temuan,  lalu diakhiri dengan kesimpulan secara meyakinkan. Sistem program doktoral di sini yang mengandaikan perkuliahan selama 4 semester tentu akan membantu promovendus untuk segera menyelesaikan tugas akhir. Dengan diskusi secara intensif bersama profesor dan rekan, mereka akan makin mudah untuk memperbaiki sistematika dan materi disertasi.

Dalam program-program illmu sosial dan alam tentu saja lembaga perguruan tinggi di sini akan mudah meluluskan mahasiswa karena universitas mempunyai sistem yang memungkinan  mahasiswa untuk segera menyelesaikan kuliah. Sejatinya birokrasi turut membantu mempercepat studi mahasiswa. Prof Musa Asy’arie, sekarang rektor UIN Yogyakarta, pernah menegaskan bahwa birokrasi dibuat untuk memudahkan urusan. Pada waktu yang sama, setiap urusan harus berhenti di satu titik. Ketika menjabat sebagai Direktur Pascasarjana, bekas santri Termas ini tidak mau direpotkan hal rutin, seperti tanda tangan untuk pengesahan judul tesis. Ini dilakukan agar birokrasi tidak terlalu panjang. Pada masanya, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga banyak meluluskan mahasiswa doktoral.

Pengalaman saya mengambil program S3 di Universitas Sains Malaysia mungkin perlu ditimbang. Setelah mendapatkan kelulusan untuk menyelesiakan program doktor falsafah, saya menemui seorang pembimbing, Prof Madya Zailan Moris. Dosen yang mengambil S3 di Universitas Washington  Amerika Serikat ini mengajak saya membahas kembali judul yang telah diberikan pada kampus dan membahas materi yang bisa dikembangkan dari judul. Lalu, dalam masa enam bulan, saya pun kembali menemuinya. Setelah dianggap layak untuk maju seminar proposal, bekas murid Seyyed Hossein Nasr tersebut menelepon tata usaha untuk memastikan jadual pembentangan. Betapa rampingnya birokrasi.

Selanjutnya, saya sebagaimana mahasiwa yang lain akan menyelesaikan bab-bab berikutnya di bawah bimbingan penyelia, sebutan pembimbing di negeri jiran. Tak hanya berurusan dengan tugas pokok ini, saya juga dilibatkan dengan proyek penelitian dengan hibah kampus. Banyak mahasiswa asal Indonesia yang juga memperoleh pendapatan tambahan  dari dana yang diperuntukan untuk dosen agar produktif menghasilkan artikel jurnal dan buku. Malah, meskipun beliau ke luar negeri, hubungan melalui surat elektronik menggantikan pertemuan tatap muka. Seringkali saya hanya memerlukan satu jam untuk berjumpa setelah sebelumnya memberitahu yang bersangkutan melalui telepon genggam.

Singkat cerita, setelah menyelesaikan seluruh bab, saya mengurus prasyarat ujian akhir. Ternyata otoritas pembimbing begitu besar. Dengan bermodal tanda tangan bersangkutan, saya tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan pengesahan dekan dalam waktu sehari. Kemudian sepuluh salinan disertasi diserahkan pada tata usaha untuk dicarikan penguji luar  dan dalam. Dengan hanya membayar RM 700 (setara Rp 2,1 juta ) pada Mei 2009, saya menjalani ujian selama hampir dua jam. Berbeda dengan di sini, mahasiswa di sana tak perlu menempuh ujian tertutup dan terbuka, yang banyak memerlukan biaya. Sebenarnya biaya ujian akhir bisa dipangkas, dengan cara mengundang penguji yang paling dekat dengan kampus sang promovendus.

Nah, dari cerita di atas, semestinya pihak pengelola kampus memikirkan kembali sistem perkuliahan dan pembimbingan untuk mahasiswa doktoral. Bukan semata-mata hanya untuk melahirkan banyak doktor sebagaimana dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional, tetapi lebih jauh untuk mendorong pegiat akademik (civitas academica)  bergegas menghasilkan gagasan dan bertukar pikiran dengan khalayak. Bagaimanapun, gelar doktor bukan terminal akhir dari perjalanan seseorang menekuni kegiatan pengetahuan. Tentu saja, buku dan jurnal merupakan kepanjangan dari pergulatan ide yang bersangkutan, namun pada waktu yang sama mereka senantiasa turut meramaikan opini di koran dan diskusi di media elektronik terkait isu-isu baru dan hangat. Kalau bisa dipermudah, mengapa banyak pihak mempersulit proses seseorang menyelesaikan jenjang terakhir dari institusi pendidikan di negeri ini? 

Ahmad Sahidah adalah alumnus PP Annuqayah Latee. Tulisan ini dikutip dari Majalah AlFikr, IAI Nurul Jadid Paiton Jawa Timur, Edisi Januari 2012.

Kamis, Februari 16, 2012

FLP Latee II Penuh Prestasi


Husnul Khatimah Arief, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Forum Lingkar Pena (FLP) PPA Latee II patut berbangga pada beberapa bulan terakhir ini. Walaupun terbentuk lebih akhir dari empat lembaga lain di Latee II, namun prestasi anggota FLP tak perlu ditanya dan diragukan. Berbagai lomba kepenulisan seperti Karya Tulis Ilmiah yang pernah diikuti anggota FLP membuahkan hasil yang cukup memuaskan.

Selasa (14/2) kemarin, Kamaliatus Zahrah, salah seorang anggota FLP Latee II, dinobatkan sebagai pemenang ke-2 lomba menulis artikel di PP Agung Damar, Telaga, Pakamban Daya, Pragaan, Sumenep.

Sebelum itu, anggota FLP yang mayoritas siswa MTs dan MA juga menjuarai lomba kepenulisan di Class Meeting dan Open House & Kampanye Lingkungan yang diadakan oleh MA 1 Annuqayah Putri pada Januari lalu.

Pada ajang Class Meeting MA 1 Annuqayah Putri, misalnya, tiga anggota FLP menyabet tiga tropi sekaligus dalam lomba Resensi Film. Dan yang lebih membanggakan, Qarina Shofiyatur Rafiqah dan Nur Hidayati masing-masing  berhasil memperoleh tropi sebagai pemenang ke-2 dan ke-3 dalam lomba LKTI se-Madura di ajang Open House & Kampanye Lingkungan MA 1 Annuqayah Putri dengan tema Lingkungan.

Kesuksesan berikutnya lalu diikuti oleh Kamaliatus Zahrah pada Selasa malam kemarin. Tulisan berjudul “Pendidikan Berbasis Internet Meningkatkan Mutu Siswa” berhasil menjadikan impiannya nyata. Menurut pengakuannya, sejak semula ia memang menginginkan menjadi pemenang dalam lomba kepenulisan. Akhirnya, dengan didampingi beberapa pengurus FLP, ia mendatangi PP Agung Damar untuk menerima penghargaan. Dengan perasaan bangga ia menyampaikan rasa bahagianya pada pengurus FLP yang kerap memberikan nyala spirit dan motivasi padanya.

“Alhamdulillah, ini anugerah buat saya. Saya semakin termotivasi untuk terus menulis. Penghargaan ini adalah apresiasi bagi saya agar tidak berhenti berproses,” ujar dara manis yang saat ini masih duduk di bangku X IPS 3 MA 1 Annuqayah Putri tersebut.

Hasil yang ia dapatkan berbanding lurus dengan usaha yang ia lakukan. Sejak pengumuman lomba ia peroleh, kira-kira 10 hari sebelum penyetoran naskah, ia sudah mempersiapkan referensi yang relatif banyak untuk tulisan yang akan ia garap. Mulai dari membaca buku di perpustakaan selama berhari-hari, mencari informasi di internet, sampai pada menghubungi seniornya yang dikira mampu menilai hasil tulisannya kelak. Dengan berbekal semangat, usaha dan doa, ia merasa optimis untuk menjadi pemenang. Lalu pada akhirnya, tropi itu benar-benar ia bawa ke Annuqayah.

Lomba menulis artikel ini diikuti siswa MTs dan MA se-kabupaten Sumenep (putra dan putri) yang diadakan dalam rangka memeriahkan maulid Nabi dan Haflatul Imtihan Madrasah Diniyah PP Agung Damar. Lomba tersebut diikuti oleh sekitar 16 peserta delegasi dari lima lembaga pendidikan, salah satunya adalah Annuqayah. Hal ini disampaikan oleh Moh. Faruqi, ketua panitia dalam acara tersebut.
           

Selasa, Februari 14, 2012

Latee II Selenggarakan Maulid Nabi


Husnul Khatimah Arief, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Setelah menikmati hari libur selama empat hari di rumah, pengurus PP Annuqayah Latee II segera merealisasikan salah satu program Perayaan Hari-hari Besar Islam (PHBI), yakni perayaan maulid Nabi saw. yang sebelumnya sempat tertunda. Pada Senin malam (13/1) kemarin, perayaan maulid Nabi ini resmi dibuka oleh ketua pengurus PP Annuqayah Latee II, Musyayyadah, S. Pd. I.

Acara yang melibatkan seluruh santri PPA Latee II tersebut bertempat di mushalla ar-Rahmah. Pada malam itu, pembukaan terkesan meriah dengan disuguhkannya sejumlah penampilan dari santri yang kompeten di bidang tarik suara. Mereka menghibur santri dengan berkaraoke menyanyikan tembang gubahan penyanyi Timur Tengah, Danna. Suasana yang pada awalnya tampak serius berubah menjadi lebih santai dan enjoy ketika Rizki Amalia dan Raudhatul Jannah, santri yang memiliki suara merdu, serempak memasuki mushalla seraya menyanyikan lagu berjudul “Murramas” dengan mengenakan busana hitam yang eksotis. Secara spontan mereka mendapat apresiasi dan tepuk tangan dari para penonton.

Dalam rangka menyemarakkan perayaan ini, panitia menyediakan berbagai macam lomba yang harus diikuti oleh santri melalui sistem delegasi dari delapan blok yang ada di PPA Latee II. Lomba-lomba tersebut berupa Ibarah Tematik, Nasyid, Diba’ Original, Cari Ayat Dalam Kamus dan Fiksi Spontanitas (surat untuk Rasulullah). Jumlah lomba yang relatif sedikit ini mengharuskan untuk dilakukan selama tiga hari saja, yakni pada 14-16 Februari. Sedangkan juri yang akan menilai performan peserta adalah santri Latee II sendiri yang militan di masing-masing lomba tersebut.

Tema acara yang dipilih panitia kali ini adalah “Meneladani Tapak Juang Rasulullah”. Dalam sambutannya, Lailatul Mukarramah yang dipercaya menjadi ketua panitia dalam acara ini menyampaikan bahwa perayaan maulid Nabi tidak sekedar ritual yang bersifat formal. Tetapi lebih dari itu, santri diharapkan mampu menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam sepak terjang Rasulullah menghadapi realitas hidup yang penuh dengan onak dan duri.

“Perayaan maulid Nabi bukan perayaan yang tanpa ruh dan esensi. Tetapi yang terpenting di sini, santri mampu meneladani segala tindak tanduk Rasulullah di berbagai segi kehidupan, karena diakui hanya beliaulah teladan sejati yang harus kita ikuti,” tutur Ila, panggilan Lailatul Mukarramah, dalam sambutannya dengan nada tulus dan sungguh-sungguh.

Tak jauh beda dengan Ila, ketua Pengurus Latee II juga menuturkan bahwa perayaan maulid tidak sekadar merealisasikan program pengurus Latee II yang tertera dalam program kerja. Acara ini adalah sebuah upaya untuk mengingat kembali perjuangan Nabi dalam menyikapi hidupnya, baik kaitannya dengan agama, umat, keluarga,  ataupun pribadinya. Tak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa maulid Nabi harus dijadikan bahan kontemplasi bagi umat Islam guna menghadapi kehidupan yang amat kompleks ini.

Untuk melakukan upaya tersebut, panitia menjadikan Nurul Yaqin, kitab tarikh, sebagai kitab yang akan dilombakan dalam lomba Ibarah Tematik atau yang biasa dikenal dengan Musabaqah Qiraatul Kutub. Dalam hal ini, tentu santri akan mempelajari kitab sejarah tersebut guna memahaminya. Paling tidak, santri sudah mendapat pengetahuan mengenai kehidupan Nabi melalui kitab tersebut yang kemudian akan diaktualisasikan dalam kehidupan nyata.  

Minggu, Februari 12, 2012

Markaz Bahasa Arab Annuqayah Siapkan Tim Lomba untuk Festival Bahasa Se-Jawa Timur

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Markaz Bahasa Arab Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep sudah melakukan persiapan matang untuk mengikuti festival bahasa se-Jawa Timur yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Bahasa Asing PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, 19-23 Februari mendatang.

Jumat (10/2) siang, atas prakarsa direktur Markaz Bahasa Arab Annuqayah, Ibnu Hajar, digelarlah seleksi santri yang dipandang layak menjadi perwakilan Annuqayah dalam lomba tersebut. Ada 2 lomba yang dipastikan hendak diikuti oleh Annuqayah, yaitu Pidato dan Debat Bahasa Arab.

“Kami optimis bisa menjadi juara dalam lomba ini. Keoptimisan saya tersebut berpijak pada upaya kami yang terbilang maksimal dan mendapat respons positif dari banyak pihak di Annuqayah. Salah satu upaya kami ialah melakukan seleksi ketat terhadap santri yang layak menjadi utusan Annuqayah nanti,” tutur Ibnu Hajar saat diwawancarai pada Jumat (10/2) malam.

Beberapa hari yang lalu, lanjut pemuda yang pernah didaulat sebagai juara 1 debat ilmiah bahasa Arab Internasional pada Desember lalu itu, pengurus Markaz Bahasa Arab Annuqayah sudah memusyawarahkan siapa saja santri yang akan diseleksi mengikuti lomba ini.

“Jadi seleksi awal ialah dengan rapat di internal pengurus Markaz yang terdiri dari pengurus beberapa pesantren daerah di Annuqayah. Kami melakukan analisis dan perdebatan panjang terkait dengan santi yang lolos dalam seleksi tersebut. Kecakapan dan pengalaman ikut lomba bahasa Arab menjadi catatan utama kami. Akhirnya, kami memilih 6 santri berbakat dalam pidato bahasa Arab. Sedangkan di debat bahasa Arab, ada 18 santri yang kemudian dipetakan menjadi 6 kelompok,” ujar Ibnu Hajar usai melakukan seleksi lanjutan terhadap semua santri yang lolos di seleksi awal.

Para santri yang lolos di seleksi awal ialah Mukhlis, Amirullah, Shofiyullah, Ainul Yaqin, Wildan Wahyudi (Annuqayah daerah Latee), dan Izzul Ma’ali (Annuqayah daerah Lubangsa). Sedangkan di debat bahasa Arab adalah Syaiful Umam, Moh Ali Makki, Mukhlis, Taufiqurrahman, Moh Arif Ali, Fahrur Rozi (Annuqayah daerah Latee), Izzul Ma’ali (Annuqayah daerah Lubangsa), dan Khozaini (Annuqayah daerah Nirmala).

“Sepuluh orang dalam debat bahasa Arab berhalangan ikut seleksi lanjutan. Ada yang sakit. Ada pula yang tidak hadir tanpa kejelasan. Pastinya, dengan berat hati kami gugurkan mereka dalam seleksi lanjutan ini,” tegas Ibnu Hajar.

Seleksi lanjutan tersebut ditangani oleh 4 pengurus Markaz. Mereka adalah direktur Markaz, Ibnu Hajar, bendahara, Ali Romzi, pengurus departemen pendidikan dan pengajaran (qismut ta’lim waddirasah), A Basili, dan koordinator departemen pengembangan dan motivasi (qismut tahriq wat tasyji’), Ahmad Fauzi.

Sehabis shalat Jumat, seleksi lanjutan dimulai. Seleksi peserta lomba pidato bahasa Arab ditempatkan di lantai II Sekretariat Bersama Annuqayah. Sedangkan seleksi lomba debat bahasa Arab digelar di ruang rapat Sekretariat Bersama Annuqayah.

Sudarmin Hamzah selaku Dewan Pendamping (Majlisul Murofiqin) Markaz Bahasa Arab Annuqayah berperan sebagai juri dalam pidato bahasa Arab. Sedangkan juri debat bahasa Arab ialah mantan ketua Markaz Bahasa Arab, Abdurrahman Ali.

Dalam pidato bahasa Arab, peserta diberi alokasi 8 menit. Penilaiannya meliputi isi 35 %, intonasi 30 %, kelancaran 20 %, dan mimik 15 %. Sedangkan pada debat bahasa Arab menggunakan sistem poin perindividu untuk menentukan the best speaker.

Setelah memakan waktu sekitar 3,5 jam, akhirnya juri memberikan kepastian para santri yang lolos ikut lomba bahasa Arab di PP Nurul Jadid nanti. Yang lolos dalam pidato bahasa Arab adalah Mukhlis dan Amanullah (Annuqayah daerah Latee). Sedangkan dalam debat bahasa Arab yang kemudian tergabung dalam satu tim Annuqayah ialah Fahrur Rozi (Annuqayah daerah Latee), Ali Makki (Annuqayah daerah Latee), dan Izzul Ma’ali (Annuqayah daerah Lubangsa).

“Pengurus Markaz Bahasa Arab Annuqayah sudah melakukan usaha yang maksimal. Kami memang sudah komitmen dari awal untuk selalu memfasilitasi dan mendorong santri agar semangat balajar bahasa Arab. Semoga usaha kami mendapat hasil yang memuaskan,” harap Ibnu Hajar, bersungguh-sungguh.

Dalam setiap even lomba, lanjutnya, target Annuqayah adalah juara.

“Kami optimis bisa menjadi jawara!” tegas Ibnu Hajar penuh semangat.