Kamis, Februari 16, 2012

FLP Latee II Penuh Prestasi


Husnul Khatimah Arief, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Forum Lingkar Pena (FLP) PPA Latee II patut berbangga pada beberapa bulan terakhir ini. Walaupun terbentuk lebih akhir dari empat lembaga lain di Latee II, namun prestasi anggota FLP tak perlu ditanya dan diragukan. Berbagai lomba kepenulisan seperti Karya Tulis Ilmiah yang pernah diikuti anggota FLP membuahkan hasil yang cukup memuaskan.

Selasa (14/2) kemarin, Kamaliatus Zahrah, salah seorang anggota FLP Latee II, dinobatkan sebagai pemenang ke-2 lomba menulis artikel di PP Agung Damar, Telaga, Pakamban Daya, Pragaan, Sumenep.

Sebelum itu, anggota FLP yang mayoritas siswa MTs dan MA juga menjuarai lomba kepenulisan di Class Meeting dan Open House & Kampanye Lingkungan yang diadakan oleh MA 1 Annuqayah Putri pada Januari lalu.

Pada ajang Class Meeting MA 1 Annuqayah Putri, misalnya, tiga anggota FLP menyabet tiga tropi sekaligus dalam lomba Resensi Film. Dan yang lebih membanggakan, Qarina Shofiyatur Rafiqah dan Nur Hidayati masing-masing  berhasil memperoleh tropi sebagai pemenang ke-2 dan ke-3 dalam lomba LKTI se-Madura di ajang Open House & Kampanye Lingkungan MA 1 Annuqayah Putri dengan tema Lingkungan.

Kesuksesan berikutnya lalu diikuti oleh Kamaliatus Zahrah pada Selasa malam kemarin. Tulisan berjudul “Pendidikan Berbasis Internet Meningkatkan Mutu Siswa” berhasil menjadikan impiannya nyata. Menurut pengakuannya, sejak semula ia memang menginginkan menjadi pemenang dalam lomba kepenulisan. Akhirnya, dengan didampingi beberapa pengurus FLP, ia mendatangi PP Agung Damar untuk menerima penghargaan. Dengan perasaan bangga ia menyampaikan rasa bahagianya pada pengurus FLP yang kerap memberikan nyala spirit dan motivasi padanya.

“Alhamdulillah, ini anugerah buat saya. Saya semakin termotivasi untuk terus menulis. Penghargaan ini adalah apresiasi bagi saya agar tidak berhenti berproses,” ujar dara manis yang saat ini masih duduk di bangku X IPS 3 MA 1 Annuqayah Putri tersebut.

Hasil yang ia dapatkan berbanding lurus dengan usaha yang ia lakukan. Sejak pengumuman lomba ia peroleh, kira-kira 10 hari sebelum penyetoran naskah, ia sudah mempersiapkan referensi yang relatif banyak untuk tulisan yang akan ia garap. Mulai dari membaca buku di perpustakaan selama berhari-hari, mencari informasi di internet, sampai pada menghubungi seniornya yang dikira mampu menilai hasil tulisannya kelak. Dengan berbekal semangat, usaha dan doa, ia merasa optimis untuk menjadi pemenang. Lalu pada akhirnya, tropi itu benar-benar ia bawa ke Annuqayah.

Lomba menulis artikel ini diikuti siswa MTs dan MA se-kabupaten Sumenep (putra dan putri) yang diadakan dalam rangka memeriahkan maulid Nabi dan Haflatul Imtihan Madrasah Diniyah PP Agung Damar. Lomba tersebut diikuti oleh sekitar 16 peserta delegasi dari lima lembaga pendidikan, salah satunya adalah Annuqayah. Hal ini disampaikan oleh Moh. Faruqi, ketua panitia dalam acara tersebut.
           

Selasa, Februari 14, 2012

Latee II Selenggarakan Maulid Nabi


Husnul Khatimah Arief, PPA Latee II

Guluk-Guluk—Setelah menikmati hari libur selama empat hari di rumah, pengurus PP Annuqayah Latee II segera merealisasikan salah satu program Perayaan Hari-hari Besar Islam (PHBI), yakni perayaan maulid Nabi saw. yang sebelumnya sempat tertunda. Pada Senin malam (13/1) kemarin, perayaan maulid Nabi ini resmi dibuka oleh ketua pengurus PP Annuqayah Latee II, Musyayyadah, S. Pd. I.

Acara yang melibatkan seluruh santri PPA Latee II tersebut bertempat di mushalla ar-Rahmah. Pada malam itu, pembukaan terkesan meriah dengan disuguhkannya sejumlah penampilan dari santri yang kompeten di bidang tarik suara. Mereka menghibur santri dengan berkaraoke menyanyikan tembang gubahan penyanyi Timur Tengah, Danna. Suasana yang pada awalnya tampak serius berubah menjadi lebih santai dan enjoy ketika Rizki Amalia dan Raudhatul Jannah, santri yang memiliki suara merdu, serempak memasuki mushalla seraya menyanyikan lagu berjudul “Murramas” dengan mengenakan busana hitam yang eksotis. Secara spontan mereka mendapat apresiasi dan tepuk tangan dari para penonton.

Dalam rangka menyemarakkan perayaan ini, panitia menyediakan berbagai macam lomba yang harus diikuti oleh santri melalui sistem delegasi dari delapan blok yang ada di PPA Latee II. Lomba-lomba tersebut berupa Ibarah Tematik, Nasyid, Diba’ Original, Cari Ayat Dalam Kamus dan Fiksi Spontanitas (surat untuk Rasulullah). Jumlah lomba yang relatif sedikit ini mengharuskan untuk dilakukan selama tiga hari saja, yakni pada 14-16 Februari. Sedangkan juri yang akan menilai performan peserta adalah santri Latee II sendiri yang militan di masing-masing lomba tersebut.

Tema acara yang dipilih panitia kali ini adalah “Meneladani Tapak Juang Rasulullah”. Dalam sambutannya, Lailatul Mukarramah yang dipercaya menjadi ketua panitia dalam acara ini menyampaikan bahwa perayaan maulid Nabi tidak sekedar ritual yang bersifat formal. Tetapi lebih dari itu, santri diharapkan mampu menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam sepak terjang Rasulullah menghadapi realitas hidup yang penuh dengan onak dan duri.

“Perayaan maulid Nabi bukan perayaan yang tanpa ruh dan esensi. Tetapi yang terpenting di sini, santri mampu meneladani segala tindak tanduk Rasulullah di berbagai segi kehidupan, karena diakui hanya beliaulah teladan sejati yang harus kita ikuti,” tutur Ila, panggilan Lailatul Mukarramah, dalam sambutannya dengan nada tulus dan sungguh-sungguh.

Tak jauh beda dengan Ila, ketua Pengurus Latee II juga menuturkan bahwa perayaan maulid tidak sekadar merealisasikan program pengurus Latee II yang tertera dalam program kerja. Acara ini adalah sebuah upaya untuk mengingat kembali perjuangan Nabi dalam menyikapi hidupnya, baik kaitannya dengan agama, umat, keluarga,  ataupun pribadinya. Tak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa maulid Nabi harus dijadikan bahan kontemplasi bagi umat Islam guna menghadapi kehidupan yang amat kompleks ini.

Untuk melakukan upaya tersebut, panitia menjadikan Nurul Yaqin, kitab tarikh, sebagai kitab yang akan dilombakan dalam lomba Ibarah Tematik atau yang biasa dikenal dengan Musabaqah Qiraatul Kutub. Dalam hal ini, tentu santri akan mempelajari kitab sejarah tersebut guna memahaminya. Paling tidak, santri sudah mendapat pengetahuan mengenai kehidupan Nabi melalui kitab tersebut yang kemudian akan diaktualisasikan dalam kehidupan nyata.  

Minggu, Februari 12, 2012

Markaz Bahasa Arab Annuqayah Siapkan Tim Lomba untuk Festival Bahasa Se-Jawa Timur

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Markaz Bahasa Arab Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep sudah melakukan persiapan matang untuk mengikuti festival bahasa se-Jawa Timur yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Bahasa Asing PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, 19-23 Februari mendatang.

Jumat (10/2) siang, atas prakarsa direktur Markaz Bahasa Arab Annuqayah, Ibnu Hajar, digelarlah seleksi santri yang dipandang layak menjadi perwakilan Annuqayah dalam lomba tersebut. Ada 2 lomba yang dipastikan hendak diikuti oleh Annuqayah, yaitu Pidato dan Debat Bahasa Arab.

“Kami optimis bisa menjadi juara dalam lomba ini. Keoptimisan saya tersebut berpijak pada upaya kami yang terbilang maksimal dan mendapat respons positif dari banyak pihak di Annuqayah. Salah satu upaya kami ialah melakukan seleksi ketat terhadap santri yang layak menjadi utusan Annuqayah nanti,” tutur Ibnu Hajar saat diwawancarai pada Jumat (10/2) malam.

Beberapa hari yang lalu, lanjut pemuda yang pernah didaulat sebagai juara 1 debat ilmiah bahasa Arab Internasional pada Desember lalu itu, pengurus Markaz Bahasa Arab Annuqayah sudah memusyawarahkan siapa saja santri yang akan diseleksi mengikuti lomba ini.

“Jadi seleksi awal ialah dengan rapat di internal pengurus Markaz yang terdiri dari pengurus beberapa pesantren daerah di Annuqayah. Kami melakukan analisis dan perdebatan panjang terkait dengan santi yang lolos dalam seleksi tersebut. Kecakapan dan pengalaman ikut lomba bahasa Arab menjadi catatan utama kami. Akhirnya, kami memilih 6 santri berbakat dalam pidato bahasa Arab. Sedangkan di debat bahasa Arab, ada 18 santri yang kemudian dipetakan menjadi 6 kelompok,” ujar Ibnu Hajar usai melakukan seleksi lanjutan terhadap semua santri yang lolos di seleksi awal.

Para santri yang lolos di seleksi awal ialah Mukhlis, Amirullah, Shofiyullah, Ainul Yaqin, Wildan Wahyudi (Annuqayah daerah Latee), dan Izzul Ma’ali (Annuqayah daerah Lubangsa). Sedangkan di debat bahasa Arab adalah Syaiful Umam, Moh Ali Makki, Mukhlis, Taufiqurrahman, Moh Arif Ali, Fahrur Rozi (Annuqayah daerah Latee), Izzul Ma’ali (Annuqayah daerah Lubangsa), dan Khozaini (Annuqayah daerah Nirmala).

“Sepuluh orang dalam debat bahasa Arab berhalangan ikut seleksi lanjutan. Ada yang sakit. Ada pula yang tidak hadir tanpa kejelasan. Pastinya, dengan berat hati kami gugurkan mereka dalam seleksi lanjutan ini,” tegas Ibnu Hajar.

Seleksi lanjutan tersebut ditangani oleh 4 pengurus Markaz. Mereka adalah direktur Markaz, Ibnu Hajar, bendahara, Ali Romzi, pengurus departemen pendidikan dan pengajaran (qismut ta’lim waddirasah), A Basili, dan koordinator departemen pengembangan dan motivasi (qismut tahriq wat tasyji’), Ahmad Fauzi.

Sehabis shalat Jumat, seleksi lanjutan dimulai. Seleksi peserta lomba pidato bahasa Arab ditempatkan di lantai II Sekretariat Bersama Annuqayah. Sedangkan seleksi lomba debat bahasa Arab digelar di ruang rapat Sekretariat Bersama Annuqayah.

Sudarmin Hamzah selaku Dewan Pendamping (Majlisul Murofiqin) Markaz Bahasa Arab Annuqayah berperan sebagai juri dalam pidato bahasa Arab. Sedangkan juri debat bahasa Arab ialah mantan ketua Markaz Bahasa Arab, Abdurrahman Ali.

Dalam pidato bahasa Arab, peserta diberi alokasi 8 menit. Penilaiannya meliputi isi 35 %, intonasi 30 %, kelancaran 20 %, dan mimik 15 %. Sedangkan pada debat bahasa Arab menggunakan sistem poin perindividu untuk menentukan the best speaker.

Setelah memakan waktu sekitar 3,5 jam, akhirnya juri memberikan kepastian para santri yang lolos ikut lomba bahasa Arab di PP Nurul Jadid nanti. Yang lolos dalam pidato bahasa Arab adalah Mukhlis dan Amanullah (Annuqayah daerah Latee). Sedangkan dalam debat bahasa Arab yang kemudian tergabung dalam satu tim Annuqayah ialah Fahrur Rozi (Annuqayah daerah Latee), Ali Makki (Annuqayah daerah Latee), dan Izzul Ma’ali (Annuqayah daerah Lubangsa).

“Pengurus Markaz Bahasa Arab Annuqayah sudah melakukan usaha yang maksimal. Kami memang sudah komitmen dari awal untuk selalu memfasilitasi dan mendorong santri agar semangat balajar bahasa Arab. Semoga usaha kami mendapat hasil yang memuaskan,” harap Ibnu Hajar, bersungguh-sungguh.

Dalam setiap even lomba, lanjutnya, target Annuqayah adalah juara.

“Kami optimis bisa menjadi jawara!” tegas Ibnu Hajar penuh semangat.

Minggu, Februari 05, 2012

Pengurus Tarqiyatul Lughah Al-Arabiyah Daerah Sabajarin Dilantik



Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Bertempat di Aula Madaris III Annuqayah, Pengurus Markaz Bahasa Arab Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep menggelar peringatan Maulid Nabi, Kamis (2/1) malam. Pada kesempatan itu, organisasi bahasa Arab yang sedang dinakhodai Ibnu Hajar tersebut melantik 9 pengurus Tarqiyatul Lughah Al-Arabiyah daerah Sabajarin. Tarqiyatul Lughah Al-Arabiyah daerah Sabajarin merupakan gabungan dari pesantren daerah Al-Furqaan dan Karang Jati yang dinaungi langsung oleh Markaz Bahasa Arab Annuqayah.

Acara yang diformat dengan ceramah agama ini mengundang utusan dari 4 pesantren daerah putra yang memiliki komunitas bahasa Arab di lingkungan Annuqayah.

“Rinciannya: Annuqayah daerah Latee 25 orang, Lubangsa 25 orang, Nirmala 15 orang, Lubangsa Selatan 15 orang, Karang Anyar 5 orang, Kusuma Bangsa 5 orang, Karang Jati 20 orang, dan Al-Furqaan 20 orang,” tutur Ibnu Hajar, ketua Markas Bahasa Arab Annuqayah yang pernah mengukir prestasi juara 1 Debat Ilmiah Bahasa Arab Internasional Tingkat Mahasiswa pada 13 Desember yang lalu.

Penceramahnya, tambah pemuda kelahiran 10 Agustus 1990 itu, adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Bustan Banyugiri, Pordapor, Sumenep, KH Fakhrihul Haq.

Sebelum memasuki ceramah agama, acara diawali dengan menonton film berbahasa Arab Laila Majnun, dengan memanfaatkan LCD Proyektor yang meminjam ke Yayasan Annuqayah. Atraksi hadrah daerah Sabajarin menempati urutan berikutnya sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad sekaligus menyambut pelantikan pengurus Tarqiyatul Lughah Al-Arabiyah Annuqayah daerah Sabajarin.

Tujuan umum acara ini, lanjut Ibnu Hajar, di samping untuk mengagungkan kelahiran Nabi, juga dalam rangka menghidupkan bahasa Arab di Annuqayah daerah Sabajarin. Karena selama ini daerah Sabajarin kurang disentuh oleh kegiatan markaz.

“Sejak saya diberi amanah sebagai ketua Markaz, saya akan berusaha membenahi hal itu. Saya berkomitmen, belasan pesantren daerah di Annuqayah harus memiliki komunitas bahasa Arab secara resmi. Pengurus Markaz akan selalu siap memberikan yang terbaik,” kata Ibnu Hajar penuh semangat.

Dalam acara tersebut, ada beberapa kendala yang menyapa. Kendala itu ialah molornya acara yang dijadwalkan sehabis Isya’, baru dimulai pukul 20.30 WIB. Hujan menjadi penyebabnya. Ditambah lagi banyaknya undangan yang berhalangan hadir.

“Dari 7 undangan, yang hadir hanya K M Faizi dari pesantren daerah Al-Furqaan dan K Majdi Tsabit dari daerah Nurul Hikmah. Sedangkan 5 undangan kiai lainnya berhalangan hadir,” ungkap Ibnu Hajar.

K Faizi dan K Majdi inilah yang menyambut dan menemani penceramah selama acara dilangsungkan. K Majdi Tsabit adalah perwakilan undangan KH M. Tsabit Khazin.

K M Mushthafa (pengasuh Annuqayah daerah Karang Jati), tambahnya, tidak bisa memenuhi undangan karena sedang bepergian ke Yogyakarta. KH Ah Syamli Muqsith (Koordinator Biro Pengembangan Bahasa Asing Annuqayah) juga bepergian. Sedangkan KH A Hanif Hasan (ketua pengurus Annuqayah) dan KH Abdul Wadud Munir (salah satu dewan mustasyar Markaz Bahasa Arab Annuqayah) memang tidak bisa kalau undangan malam terkait dengan kesehatan.

“Begitu halnya dengan K Muhammad Affan (kiai muda yang berperan aktif di lembaga pendidikan daerah Sabajarin) dan KH M Tsabit Khazin (pengasuh Annuqayah daerah Sabajarin) juga berhalangan hadir,” ujar Ibnu Hajar. Demikian halnya dengan undangan delegasi dari beberapa pesantren daerah di Annuqayah.

“Daerah Lubangsa Selatan juga sedang mengadakan Maulid Nabi, sehingga tidak bisa mengutus santri ke acara ini. Begitu pula Lubangsa yang sedang mengadakan kegiatan rutin baca shalawat tiap malam Jumat dan para santri tidak diperkenankan meninggalkan area pesantren Annuqayah daerah Lubangsa selama kegiatan itu berlangsung. Daerah Kusuma Bangsa juga tidak ada yang hadir. Saya tidak tahu kendalanya,” tutur Ibnu Hajar agak kecewa.

Menyikapi kenyataan tersebut, atas instruksi Ibnu Hajar, panitia langsung bergerak sigap. Mereka memohon agar pengurus Annuqayah daerah Latee mewajibkan kepada 70 santri yang bermukim di Darul Lughah untuk hadir ke acara yang diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp. 1,4 juta itu. Menurut Ibnu Hajar, apresiasi dari pengasuh daerah Sabajarin sangat tinggi.

“K Faizi sampai menawarkan mobil miliknya untuk menjemput penceramah. Karena khawatir panitia merepotkan beliau, akhirnya kendaraan tetap memanfaatkan mobil pribadi penceramah,” ungkap Ibnu Hajar dengan nada bicara yang amat senang.

Jamuan penceramah, lanjutnya, juga dari Penyair Nasional itu.

“Kamera digital yang dipakai panitia juga milik Kiai Faizi,” kata Ibnu Hajar.

Sabtu, Februari 04, 2012

Diniyah Sore Latee Sanksi Lebih dari 100 Santri Bermasalah

Umarul Faruq, PPA Latee

Guluk-Guluk—Madrasah Diniyah Annuqayah Latee, yang disingkat Madal, kembali menunjukkan keseriusannya dalam menangani santri yang jarang masuk kelas. Selama tiga malam berturut-turut, terhitung sejak Ahad malam (29/1) hingga Selasa malam (31/1) kemarin, pengurus Madal yang bekerja sama dengan Pengurus Departemen Pengajian Al-Quran dan Kitab Kuning PPA Latee memanggil lebih dari 100 orang santri ke kantor Madal untuk disanksi. Mereka adalah para santri yang bermasalah dengan absensi di Madrasah Diniyah Sore PPA Latee.

Madrasah Diniyah Sore merupakan program baru Madal yang dilaksanakan secara bekerja sama dengan Departemen Pengajian al-Quran dan Kitab Kuning PPA Latee. “Karena terbilang baru, program ini tidak begitu mendapat perhatian dari santri,” kata Ach. Zairi selaku penanggung jawab dari Diniyah Sore ini.

“Kami perlu membuktikan bahwa program ini bukan main-main. Oleh Karena itulah kami bertindak tegas,” tambahnya.

Program yang hanya diwajikan untuk tingkat Isti’dadi dan tingkat Ibtida’i kelas 1 dan 2 ini baru berjalan selama satu bulan. Hasil rekap absensi untuk bulan pertama menunjukkan ada 139 santri yang kehadirannya bermasalah. Rinciannya: 26 santri dari kelas Isti’dadi A, 7 santri dari Isti’dadi B, 15 santri dari Isti’dadi C, 15 santri kelas 1A, 22 santri kelas 1B, 21 santri kelas 1C, 9 santri kelas 2A, 18 santri kelas 2B, dan 6 santri kelas 2C.

“Mereka adalah santri yang alpanya mencapai minimal angka 4 dalam satu bulan,” jelas Ach. Zairi.

Banyaknya santri yang absen, menurutnya, disebabkan oleh tiga faktor utama. Pertama, program ini masih baru, sehingga santri tidak menanggapinya seserius Diniyah Malam. Kedua, terjadinya benturan waktu dengan kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan setiap SLTA di Annuqayah. Ketiga, semarak haflah tengah tahunan yang berupa Class Meeting di beberapa lembaga sekolah formal.

Untuk faktor yang kedua, pengurus Madal memberikan toleransi bagi santri yang mengiikut kegiatan ekstra di lembaga sekolah formal. Tapi dengan syarat harus ada surat pemberitahuan dari pihak lembaga bersangkutan tentang nama-nama santri peserta kegiatan ekstra tersebut dan disertai dengan jadwal kegiatannya.

Namun, menurut pengakuan Ach. Zairi, hingga saat ini data yang masuk ke pengurus Madal masih ada dua, yaitu dari MA Tahfidh Annuqayah dan SMA Annuqayah. Itu pun yang dari SMA hanya kelas XII saja, yaitu peserta bimbingan khusus (bimsus) untuk persiapan Ujian Nasional. Hal ini menurutnya juga berpengaruh terhadap banyaknya alpa santri di Diniyah Sore. Sebab santri yang tidak masuk Diniyah Sore tanpa adanya keterangan yang dapat dipercaya akan dicatat alpa, apa pun alasannya.

Namun dari total 139 santri yang tercatat bermasalah, tidak semuanya diberi sanksi. 36 santri di antaranya dinyatakan lolos dari sanksi dengan alasan betul-betul mengikuti kegiatan ekstra di sekolah formal. Sedangkan 103 santri sisanya harus rela mengaji al-Qur’an sambil berdiri di depan kantor Madal sebagai sanksi. Panjang surat yang dibaca tergantung pada jumlah alpa yang dibuatnya.

Jumat, Februari 03, 2012

Perpustakaan Lubangsa Diresmikan


Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

Guluk-Guluk—Selasa malam (31/01) kemarin, pengurus PPA daerah Lubangsa divisi Kepustakaan Pers dan Penerbitan (KP2) melaksanakan acara peresmian Perpustakaan Lubangsa. Acara itu ditempatkan di ruang perpustakaan Lubangsa, yakni di kawasan blok F bagian paling utara.

Acara peresmian perpustakaan Lubangsa ini hanya melibatkan sebagian pengurus PPA Lubangsa, yakni pengurus harian dan seluruh ketua divisi dan wakil ketua divisi yang semuanya berjumlah 26 orang.

Sejatinya, menurut Roziq Aminullah, pengurus KP2 yang sekaligus ketua perpustakaan, peresmian Perpustakaan Lubangsa itu akan ditempatkan di lapangan blok F, melibatkan semua pengurus dan santri agar lebih semarak.

“KP2 juga merencanakan nonton film bersama untuk acara peresmian. Namun, rencana itu urung dilakukan mengingat anggaran dana yang dikeluarkan tidak sedikit. Dan anggaran perpustakaan yang ada sangat terbatas,” ungkapnya.

Selain itu, KP2 sebenarnya berencana untuk bekerja sama dengan pengurus divisi Pendidikan, Penalaran, dan Pengembangan Keilmuan (P2PK), dengan bersama-sama melaksanakan peresmian gedung Biro Pengembangan Bahasa Asing (BPBA) yang juga masih belum diresmikan. Tetapi, program kerja P2PK yang padat membuat kerjasama itu juga urung dilaksanakan.

“Oleh karena itu kami membuat format acara sesederhana mungkin. Dalam peresmian itu, acaranya berupa sambutan ketua perpustakaan, sambutan sekaligus peresmian oleh ketua pengurus, dan pembacaan surat yasin bersama,” tambah pengurus asal Desa Cempaka, Kecamatan Pasongsongan itu.

Pengurus perpustakaan akan membuka pendaftaran anggota setelah liburan maulid nabi dan langsung mengoperasikan perpustakaan. Untuk sementara, perpustakaan hanya melayani santri Lubangsa.

“Kalau santri di luar Lubangsa masih kami tangguhkan. Maklum, perpustakaan ini kan masih baru berdiri. Kalau sudah banyak perkembangan, kami akan memperluas keanggotaan,” jelasnya.
 

Kamis, Februari 02, 2012

Ikstida Siapkan Kader Militan


Nur Faizah, PPA Lubangsa Putri

Guluk-Guluk—Ikatan Keluarga Santri Timur Daya (Ikstida) PPA Lubangsa Putri Divisi I Pelatihan dan Kaderisasi untuk yang kedua kalinya menyelenggarakan kegiatan berupa pelatihan yang diberi nama Pelatihan Kader Militan (PKM). Pelatihan ini dilaksanakan pada hari Sabtu 28 Januari 2012 di aula kampus II Instika Putri. Kegiatan yang secara resmi dibuka oleh koordinator pengurus seksi Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (P2O) PPA Lubangsa, Siti Khairiyah, ini dimulai pada pukul 14.15 WIB dan berakhir pada hari Senin 30 Januari 2012.

Dalam sambutannya, Siti Khairiyah yang akrab disapa Cihuy mengharapkan bahwa kegiatan ini dapat berbuah kesuksesan, dan hal ini ditandai dengan kemajuan Ikstida ke depan. Hal ini senada dengan pernyataan ketua panitia PKM, Zuwaibatul Islamiyah, bahwa tujuan diadakannya pelatihan ini adalah membangkitkan militansi yang tertanam dalam jiwa anggota Ikstida yang dapat membawa Ikstida pada kematangan organisasi sebagai organisasi daerah tertua di Lubangsa Putri.

“Kami mengharapkan dengan lahirnya kader-kader militan di Ikstida, Ikstida tidak hanya besar secara kuantitas keanggotaan namun juga kualitas organisasi,” tegasnya.

Pembukaan acara ini juga dimeriahkan oleh alunan suara Paduan Suara Ikstida (Parada) yang menyanyikan Mars Annuqayah dan Mars Ikstida. Panitia juga menghadirkan K. A. Maimun Syamsuddin sebagai penyaji pada stadium general yang bertemakan “Militansi Kader Menuju Ikstida Bersatu”, dengan Siti Romlah Ahsan sebagai moderator.

“Berorganisasi merupakan kesempatan untuk learn to know, learn to understand dan learn to live together. Maka berarti berorganisasi adalah belajar menghargai orang lain. Orang yang masih suka mengintimidasi dan tidak menghargai orang lain berarti prosesnya belum berhasil dalam organisasi,” ungkap dosen Instika ini dengan mantap.

Kegiatan yang dihadiri oleh 25 orang peserta ini pada hari pertama tidak hanya menyajikan materi stadium general, namun juga berlanjut pada sesi pertama yakni materi rencana strategis dan analisis SWOT yang difasilitasi oleh Abu Sofyan, S. Pd. I.  Sementara pada hari kedua dilanjutkan dengan materi analisis program kerja yang dipandu langsung oleh K.H. Moh. Husnan A. Nafi’, S.Ag dan manajemen organisasi oleh K. Muhammad ‘Ali Fikri yang saat ini memangku jabatan sebagai Kepala Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putra. Sedangkan hari ketiga adalah pelatihan kepemimpinan yang difasilitasi oleh Luthfiyah Syaf, serta sistem kaderisasi dan wilayah gerakan Ikstida yang dipandu oleh mantan ketua Ikstida masa bakti 2009-2010 yakni Qurratul Aini yang saat ini menjabat sebagai ketua pengurus PPA Lubangsa Putri.

Nurul Alfiyah Kurniawati selaku ketua umum Ikstida mengungkapkan rasa senangnya karena acara ini berlangsung dengan lancar meskipun pembukaan sedikit molor dari waktu yang direncanakan.

“Alhamdulilah, kami seneng banget dan tetap semangat walaupun peserta yang hadir ini hanya 25 orang. Seharusnya ada 42 orang. Kami sengaja tidak melibatkan seluruh anggota Ikstida karena peserta dari pelatihan ini adalah anggota pilihan yang diharapkan militansinya serta dapat menularkan militansi tersebut pada anggota yang lain,” pungkas dara asal Batuputih ini.

Rabu, Februari 01, 2012

Saat Santri Menggenggam Dunia

Anam Al-Yumna
Jurnalis Ponpes Annuqayah Latee Madura
alyumna89@gmail.com

Annuqayah, salah satu pesantren besar di Madura, dengan ribuan santri di dalamnya, selama ini dikenal sebagai pesantren yang peduli terhadap informasi. Banyak sumber informasi yang bersentuhan langsung dengan kehidupan santri setiap harinya. Puluhan koran lokal dan nasional yang hadir setiap hari di pesantren melejitkan cakrawala pengetahuan santri di pesantren yang berdiri pada 1887 itu. Belum lagi majalah-majalah semisal Horison, Ijtihad, Kopi, Sidogiri, IstinbaT, dan sebagainya yang sudah menjadi bagian hidup para santri.

Minat tinggi dan tradisi baca santri terhadap ragam media massa tersebut, tak lepas dari kepedulian para kiai dan pengurus pesantren yang setiap waktu sudi mengabdi tanpa pamrih. Mereka berlomba bukan dalam rangka mendapatkan harta sebagaimana dicontohkan oleh kebanyakan pemangku jabatan pemerintahan di negeri ini, melainkan betul-betul menajamkan cakrawala pemikiran anak bangsa, menguatkan iman para santri tanpa harus mengabaikan urgensitas informasi sebagai bagian dari anak globalisasi.

Konsekuensi positifnya, tidak sedikit santri terpantik semangatnya untuk tak sekadar menjadi pengonsumsi informasi. Mereka tidak hanya hadir sebagai penikmat kata, tapi juga membentuk dirinya sebagai ’pencipta kata’. Dengan kata lain, para santri tersebut juga bergerak mengelola media massa yang tentunya berlandaskan pada visi misi pesantren. Tak heran di Annuqayah kini terserak puluhan media massa yang berbentuk jurnal, majalah, buletin, newsletter, dan majalah dinding santri. Semuanya terbit secara eksis; mingguan, setengah bulanan, bulanan, setengah tahunan, ada pula yang tahunan.

Tanpa dirasa sebelumnya, Annuqayah telah menjelma sebagai bagian dari jurnalisme pesantren. Ini prestasi besar di tengah masih maraknya pesantren di Indonesia yang kurang peduli terhadap urgensitas informasi. Di Madura saja, alih-alih merangsang santri menerbitkan media sebagai sumber informasi, justru yang terlihat ialah melemahnya minat banyak pesantren terhadap informasi.

Dalam batas tertentu, mereka masih terjebak pada sistem pembelajaran eksklusif, menutup diri terhadap perkembangan masa yang diwarnai oleh derasnya gelombang arus globalisasi.

Annuqayah merupakan ’pesantren federasi’. Ia terdiri dari belasan pesantren daerah yang dipayunginya. Dan di masing-masing pesantren daerah tersebut tak sedikit yang memiliki media massa tersendiri. Pengelolanya adalah santri. Di dalamnya—untuk sekadar menyebut beberapa media massa besar—dapat ditemui majalah Hijrah, Fajar, Dinamika, Iltizam, Inspirasi, Infitah, Jurnal Pentas, Buletin Variez, Kejora, dan masih banyak lagi.

Melalui media-media lokal tersebut, santri dapat belajar banyak hal. Dengan sendirinya mereka bakal tahu bagaimana manajemen keredaksian, rubrikasi, proses hunting data, analisis data, membangun kerja sama dengan iklan-iklan, strategi pemasaran, editing naskah, dan serumpun aktivitas keredaksian lainnya yang bisa dipastikan bakal melejitkan kreatifitas mereka.

Dengan begitu, para santri yang tak jarang disandangi status sebagai pemuda kolot, gaptek, minim wawasan, dan ungkapan buruk lainnya, dengan sendirinya bakal bermetamorfosa menjadi insan yang hebat serta memiliki daya survival yang tinggi. Sebab, siapapun mengamini, pers merupakan salah satu kekuatan untuk menggenggam dunia.

Tulisan ini dikutip dari Harian Surya, 23 Januari 2012.

CPK Lubri Adakan Outbound di Instika Putri

Nur Faizah, PPA Lubangsa Putri

Guluk-Guluk—Setelah menggelar nonton bareng (nobar) filmDi Bawah Lindungan Ka’bah” yang diadaptasi dari novel karya HAMKA dengan judul yang sama sebagai pembuka dari seluruh program dan kegiatan, Conglet Paguyuban Karya (CPK) PPA Lubangsa Putri melaksanakan outbound di halaman kampus putri Instika bagian selatan. Kegiatan ini merupakan kegiatan pertama yang dilaksanakan oleh CPK setelah pembukaan aktivitas CPK pada hari Kamis, 5 Januari 2012 lalu.

Outbound yang dilaksanakan Jumat 27 Januari 2012 ini merupakan momen untuk memompa semangat baru anggota CPK dalam menghidupkan CPK kembali setelah beberapa bulan mati suri.

“Semangat menulis kami takkan pernah mati, sampai kapan pun!” ungkap  Roro, panggilan akrab Mariatul Humaira’, salah satu anggota CPK.

“Kami berangkat pagi-pagi pukul 05.00 WIB ke Instika untuk membuktikan bahwa semangat kami masih menyala, dan CPK tak akan pernah mati!” tegas Rahmah, anggota lama CPK yang diamini oleh seluruh anggota CPK yang hadir.

Dengan ditemani oleh hangatnya cahaya matahari yang baru menampakkan dirinya di ufuk timur, anggota CPK mengambil tempat masing-masing yang dirasa strategis untuk mulai menumpahkan isi perasaan dan pikirannya pada selembar kertas.

Pada kesempatan ini, koordinator dan sekretaris pengurus seksi Pengembangan Pers (PP) yang membawahi CPK dan Majalah Yasmin juga hadir. Muthmainnah Jafar, sekretaris pengurus PP, memberikan dukungan sekaligus mengungkapkan harapannya agar CPK tetap bisa eksis berkarya untuk Annuqayah, lebih-lebih untuk Lubangsa Putri. Ia juga menyinggung penyebab mati surinya CPK beberapa bulan terakhir ini.

Nurul Alfiyah Kurniawati pengurus CPK, mengungkapkan bahwa CPK mandeg karena semangat anggotanya yang juga menurun. “Kami jadi tidak semangat di CPK karena kegiatan CPK terkesan formal. Jadi ketika kami diminta untuk berkumpul, yang terbayang di benak saya adalah forum yang kaku dan formal. Tidak seperti sekarang yang lebih menonjolkan spirit berkarya dan ikatan emosional, curhat siswa yang masih kelas XI IPA MA I Annuqayah Putri ini.

Menanggapi itu semua, Hadiratul Qudsiyah, ketua CPK, mengatakan bahwa kegiatan CPK ke depan tidak akan lagi sekadar formalitas. Ia dan pengurus CPK yang lain telah berkomitmen untuk lebih menitikberatkan pada proses dan karya anggota CPK.

“Kegiatan outbound ini akan dijadikan sebagai kegiatan rutin mingguan sekaligus penarikan karya anggota CPK yang telah ditulis selama sepekan. Namun kegiatan ini bukan hari Jumat lagi melainkan setiap hari Rabu pukul 05.00-06.30 WIB, ungkapnya.

Karya-karya yang dikumpulkan akan diedit oleh penulis Annuqayah yang kompeten di dua bidang yaitu fiksi dan non-fiksi. Para penulis yang akan dimintai bantuannya telah disepakati oleh seluruh anggota CPK untuk mengedit tulisan serta memberikan masukan kepada mereka. Qud, panggilan akrab Hadiratul Qudsiyah, menambahkan bahwa masukan-masukan itu nantinya akan dijadikan motivasi agar anggota CPK berkarya lebih baik lagi. Ia juga mengharapkan kepada seluruh anggota CPK untuk tidak ragu mengirimkan karya ke berbagai media.

Mari kita tunjukkan pada semua orang bahwa CPK masih ada dan bernyawa. Kuncinya hanyalah semangat kita. CPK milik kita semua. Mari bergerak untuk CPK. Kita diam dan tak melakukan apa-apa, berarti CPK mati!” pungkasnya ketika outbound usai.