Sabtu, Maret 10, 2012

Membaca Geliat Bermusik Santri Lubangsa

Fandrik Hs Putra, PPA Lubangsa

Guluk-Guluk—Jumat pagi (2/3), Muhammad Kholis (16), salah seorang santri PPA Lubangsa keluar dari biliknya di blok B/5. Handuk bercokol di pundak kiri. Tangan kanannya memegang gayung berwarna biru langit. Gayung itu berisi sabun mandi, pasta gigi Close Up, dan sikat gigi bermerk Formula. Sedangkan tangan kirinya menggenggam sound portable yang bentuknya seperti kaleng susu berukuran 385 gram. Suara dangdut koplo menggema dari sound itu.

Langkahnya santai melewati beberapa santri yang sedang melakukan aktivitas olahraga bulu tangkis dan tenis meja di lapangan blok B, sampai tubuhnya menghilang setelah memasuki kawasan blok F. Dilihat dari handuk dan gayung yang berisi peralatan mandi yang dibawanya, tak perlu ditanya bahwa ia akan pergi mandi. Tapi, kenapa harus membawa sound portable?

“Mandi lebih enak kalau sambil bermusik. Lagian sekarang kan hari Jumat, waktu bebas bermusik,” katanya santai. Alunan Baik-Baik Sayang yang diaransemen menjadi dangdut koplo menggema di setiap sudut kamar mandi belakang Blok F.

Saat ini, geliat bermusik santri PPA Lubangsa memang tergolong cukup tinggi. Hal tersebut didorong oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih. Revolusi alat pendengar musik juga tampak, dari pemutar MP3 sampai sound portable yang kini banyak digandrungi oleh santri.

Ya, sound portable menjadi pilihan utama. Selain praktis dan mudah dibawa ke mana-mana, sound portable menjadi pilihan utama karena menggunakan memori micro SD dan baterai handphone BL-5C serta tidak perlu diribetkan oleh headset sebagaimana pemutar MP3. Hanya dengan harga 100-200 ribuan rupiah, sound portable itu mudah dibeli di toko-toko di pasar Ganding, Prenduan, atau Sumenep. Selain itu, daya tahannya juga lebih baik daripada pemutar MP3.

Selain sudah menjadi bagian dari gaya hidup, mendengarkan musik bagi santri merupakan hiburan tersendiri tatkala pikiran ruwet. Maklum, selain memiliki kegiatan kepersantrenan, santri juga dipadati oleh kegiatan sekolah sehingga musik berfungsi sebagai teman setia penghilang kejenuhan dan penyegar otak mereka.

“Kalau mendengarkan musik, pikiran saya terasa ringan sekali. Apalagi dangdut koplo, tanpa terasa kepala saya geleng-geleng sendiri tanpa disadari,” aku Kholis.

1 Bilik 1 Sound Portable

Dalam penjajakan kru Mading Satelit yang diterbitkan Ikatan Santri Annuqayah Jawa (Iksaj), setidaknya ada 94 sound portable dari 81 bilik santri di Lubangsa. Jadi, rata-rata setiap bilik memiliki 1 sound portable. Bahkan dalam satu bilik sampai ada yang memiliki 4 sound portable. Bisa dibayangkan betapa ramainya PPA Lubangsa dengan musik apabila setiap bilik menghidupkan alat musik, meskipun suaranya hanya di sekitar bilik saja.

Hitungan tersebut tidak termasuk alat musik di perkantoran: kantor pesantren, kantor Madrasah Diniyah, kantor redaksi majalah Muara, perpustakaan Lubangsa, kantor Usaha Kesehatan Pondok Pesantren (UKPP), Warpostel, Biro Pengembangan Bahasa Asing (Arab dan Inggris), dan kantin milik PPA Lubangsa, yaitu Kantin Sufi. Perkantoran dan kantin tersebut memang bebas dari aturan pesantren tentang jam bermusik karena termasuk kategori bekerja untuk kepentingan pesantren.

Untuk membeli sound portable, sebagian besar santri menggunakan uang pribadi. Sebagian lagi membeli dengan sistem patungan dengan teman sebiliknya. Sedangkan jenis musik yang cenderung digandrungi secara berurutan adalah lagu populer, dangdut koplo, hip-hop, kemudian musik yang bernuansa islami seperti hadrah dan kasidah.

Kepraktisan alat musik tersebut juga bisa berdampak pada penyalahgunaan alat musik di luar waktu yang telah ditentukan. Salah seorang santri PPA Lubangsa mengaku pernah menyetel musik di Aula Assyarqawi pada malam hari dengan menggunakan sound portable selain waktu yang diperbolehkan. Bahkan ia juga pernah menyetel musik di asta Kiai Abdullah Sajjad Syarqawi, sebelah selatan PPA daerah Kusuma Bangsa.

“Itu (mendengar musik) saya lakukan karena pikiran saya saat itu sedang kacau karena sakit hati,” kata M, salah seorang santri yang enggan disebut nama lengkapnya, yang tampak agak ragu-ragu saat mengatakannya.

Aturan Waktu

Kalau hanya mendengarkan musik, PPA Lubangsa memang terbuka. Jenis musik apa pun boleh didengarkan asalkan format file MP3, bukan MP4 atau semacamnya yang merupakan gambar bergerak. Namun demikian, PPA Lubangsa tetap memiliki seperangkat aturan tentang menyetel musik.

Aturan itu telah tertuang dalam Peraturan Dasar dan Tata Tertib PPA Lubangsa, yaitu Bab IV, Larangan-larangan, pasal 19 ayat 1 yang berbunyi: “Setiap santri dilarang bermain dan menonton video game, menyetel tape recoder, radio atau media elektronik lainnya di luar waktu yang telah ditentukan, kecuali berita dan kepentingan pesantren.”

Dalam penjelasan ayat itu, disebutkan bahwa waktu yang diperbolehkan menyetel musik sebagai berikut: pagi mulai pukul 05.30-06.30 WIB (bila tidak ada pengajian kitab turats), sore mulai pukul 16.30-17.30 WIB (saat shalawat sebelum azan Maghrib dikumandangkan), malam Jumat mulai bakda jamaah shalat Isya sampai 23.30 WIB (sampai bel tidur), dan hari Jumat pukul 05.30-17.30 WIB, kecuali pukul 11.00-12.30 WIB (saat pelaksanaan shalat Jumat).

Di luar waktu itu, santri tidak diperbolehkan menyetel dan mendengarkan musik, kecuali untuk kepentingan pesantren, semisal sedang bekerja merenovasi bilik atau memiliki kegiatan/acara, asalkan ada pemberitahuan kepada pengurus pesantren.

Pelanggaran dan Kepantasan

Muhammad Arifin, koordinator Keamanan dan Ketertiban (kamtib) PPA Lubangsa, mengatakan, apabila ada santri yang mendengarkan musik di luar waktu yang telah ditentukan, tindakan tegas tetap akan ia ambil, yaitu memberikan hukuman yang sepantasnya.

“Kalau cuma melanggar aturan tentang musik, kami akan menegur terlebih dahulu. Kalau teguran sudah tidak mempan, hukumannya bisa mengaji di depan kantor pesantren,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, ketika memang waktunya bermusik, santri dipersilakan mendengarkan musik di mana saja asalkan tetap berada di lingkungan PPA Lubangsa.

“Atur sendiri lah, tempat di mana saja yang pantas dan sopan untuk menyetel musik,” ungkapnya.

Mengenai besarnya volume musik, tidak ada aturan yang paten. Akan tetapi, akunya, volume janganlah terlalu keras. Cukup bisa didengar oleh teman sebilik saja.

Abdullah, penjaga Kantin Sufi, menyatakan banyaknya sound aktif di PPA Lubangsa turut memberikan tambahan pendapatan bagi Kantin Sufi meskipun tergolong sangat kecil. Pasalnya, setiap hari paling tidak ada sepuluh sound portable yang dicas di kantinnya. Dan, tarifnya cuma Rp. 500.

“Sebelum mereka (santri) banyak memiliki sound portable, saya sudah sering menerima jasa cas pemutar MP3. Toh tidak sampai mengganggu saya berjualan,” ungkap santri yang sudah nyantri sejak tahun 1993 itu.

Senin, Maret 05, 2012

PPL 2 Instika di MA Al-Falah Surga Gelar Lepas Pisah


Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Enam mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) 2 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Guluk-Guluk, Sumenep yang ditempatkan di MA Al-Falah Sumber Gayam (Surga), Kadur, Pamekasan menggelar lepas pisah, Rabu (29/2). Bertempat di Aula Workshop Pondok Pesantren Surga, acara tersebut diikuti 200-an siswa-siswi dan beberapa guru serta lima mahasiswa peserta PPL 2 Instika. Kelima mahasiswa tersebut adalah Syamsuni, Paisun, Ach Qusyairi Nurullah, Naofal, dan Fathorrahman. Sedangkan Taufiqurrahman yang juga peserta PPL 2 Instika tidak bisa hadir karena ada acara keluarga.

Acara tersebut dikemas secara seremonial. Dimulai dengan pembukaan, pembacaan ayat-ayat suci Alquran, sambutan-sambutan, dan diakhiri dengan pembacaan doa bersama. Kendati diformat secara sederhana, para siswa-siswi yang ada di tempat yang juga dijadikan ruangan kelas XII IPA itu tampak khidmat. Mereka mengikuti acara sejak sekitar 09.45 WIB hingga menjelang azan Dzuhur.

Selaku ketua panitia, Syamsuni menuturkan bahwa acara perpisahan tersebut tidak akan dikemas seformal mungkin. Cukup pamitan ala kadarnya. Namun, setelah dirembuk dengan teman-teman dan para siswa kelas akhir, muaranya disepakati untuk mengemas acara perpisahan yang melibatkan semua siswa-siswi MA Al-Falah Surga beserta para guru. Syamsuni dan teman-temannya rela sumbangan demi suksesnya acara tersebut.

Di samping itu, ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Instika tersebut berkali-kali menyatakan sangat berterima kasih kepada para guru, siswa, dan kiai di MA Al-Falah Surga.

“Maaf juga mesti diiringkan dengan ucapan terima kasih ini,” tegasnya sewaktu sambutan.

Syamsuni beserta teman-teman lainnya mengatakan amat berkesan menjalani praktik mengajar di MA Al-Falah Surga. Selain ilmu dan pengalaman, tambahnya, keakraban para guru menjadi hal yang sulit dilupakan.

“Sangat mengesankan,” kata Fathorrahman yang kini mengemban amanah sebagai sekretaris PAC IPNU Kadur Pamekasan.

Selama mengabdi, kendala utama mahasiswa Instika dalam melakukan PPL ialah masalah waktu.

“Adakalanya kami terlambat karena jarak tempuh antaran Sumenep dan Pamekasan yang lumayan jauh. Ditambah lagi padatnya kegiatan di pondok,” ujar Paisun.

Kendati demikian, papar Syamsuni, PPL di MA Al-Falah terbilang sukses.

“Saya puas dengan keseriusan adik-adik PPL,” ujar Syamsul Arifin, salah satu guru MA Al-Falah Surga.

“Saya banyak belajar dari kakak-kakak PPL. Mereka akrab sekaligus selalu sudi berbagi ilmu dan pengalaman dengan kami,” kata ketua OSIS MA Al-Falah Surga, Faisol Basori.

Kesan positif tersebut bisa dimaklumi mengingat para mahasiswa yang dikirim ke MA Al-Falah Surga adalah orang-orang yang memang ternama di Instika. Sebut saja misalnya Paisun (ketua Lembaga Pers Mahasiswa), Syamsuni (ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa), Ach Qusyairi Nurullah (Presiden Mahasiswa Instika), dan Taufiqurrahman (sekretaris Dewan Perwakilan Mahasiswa).
 

Kamis, Maret 01, 2012

Madrasah al-Qur’an, Terobosan Baru Latee

Umarul Faruq, PPA Latee

Guluk-Guluk—Berawal dari keresahan pengasuh PP Annuqayah Latee, KH Ahmad Basyir AS, terhadap menurunnya kemampuan santri dalam membaca al-Qur’an, Madrasah Diniyah hampir saja mengalami perombakan total. Pengasuh menginginkan Madrasah Diniyah dikonsentrasikan untuk pembelajaran al-Quran.

Akan tetapi dalam hal ini pengurus menyikapi dengan cara yang berbeda. Faishal Khair, wakil kepala Madrasah Diniyah Latee, memperjuangkan agar sistem yang telah tertata rapi di Madrasah Diniyah tidak diubah. Oleh karena itu, dia sowan ke pengasuh dan pada akhirnya muncul ide untuk membuat Madrasah al-Quran sebagai ganti dari pengajian al-Quran setelah shubuh.

Munculnya ide ini bukan tanpa alasan. Pengurus melihat bahwa merombak sistem Madrasah Diniyah yang sudah mapan bukanlah keputusan yang tepat. Oleh karena itu, mengubah sistem pembelajaran al-Quran merupakan langkah yang lebih baik.

Menurut Ach. Zairi, koordinator Departemen Pengajian al-Quran dan Kitab Kuning, pengajian al-Quran yang selama ini berjalan setiap setelah shubuh tidak efisien. Banyak santri yang tidur dan tidak mengaji al-Quran karena malas atau pembimbingnya tidak ada. Langkah yang dilakukan kemudian ialah mengubah pengajian al-Quran menjadi Madrasah al-Quran. Dengan demikian diharapkan pembelajaran al-Qur’an di PP Annuqayah Latee lebih tertata dan efisien.

Sesuai dengan namanya, Madrasah al-Qur’an tidak hanya diisi dengan kegiatan membaca al-Qur’an secara tadarus seperti di pengajian al-Qur’an pada umumnya. Tetapi juga diperkaya dengan materi tajwid, bimbingan tartil, dan kajian makna al-Quran. Madrasah ini mulai aktif sejak hari Rabu (29/2) kemarin dan dilaksanakan setiap pagi setelah jama’ah shubuh. Siswanya ialah semua santri Latee kecuali yang telah mengaji ke pengasuh atau dewan pengasuh, pengurus pusat dan pengurus rayon, serta santri yang tinggal di daerah otonom seperti Lembaga Tahfidhil Qur’an, English Area Latee, dan Darul Lughah.

Dalam realisasinya, Madrasah al-Qur’an ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu: Mubtadi’, Mutawassith, dan Mutaqaddim. Di tingkat Mubtadi’ ada 12 kelas dari kelas A sampai N, di Mutawassith ada 8 kelas dari A sampai H, sedangkan di Mutaqaddim hanya ada 4 kelas, yaitu A sampai D. Jadi total ada 24 kelas dan dibimbing oleh 31 orang tenaga pengajar.

Pembagian santri pada beberapa tingkatan dilakukan dengan tes seleksi yang dilaksanakan secara bertahap selama 2 malam, yaitu malam Selasa (20/2) dan malam Rabu (21/2) yang lalu.

Setiap kali masuk, siswa diabsen seperti di madrasah pada umumnya. Bagi siswa yang dalam satu bulan alpanya lebih dari empat kali akan mendapatkan sanksi dari pengurus. Hanya saja, walaupun pembelajaran al-Qur’an ini diformat dalam bentuk madrasah, sampai saat ini masih belum ada kejelasan apakah Madrasah al-Qur’an ini juga akan ditindaklanjuti dengan adanya ujian semester dan kenaikan kelas serta haflatul imtihan. Jadi, untuk sementara, jangan harap ada ranking kelas, apalagi siswa teladan.

Senin, Februari 27, 2012

PPL 2 Instika di SMA 3 Annuqayah Selenggarakan Lepas Pisah


Nur Faizah, PPA Lubangsa Putri

Setelah purna melaksanakan tugas Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) 2 di SMA 3 Annuqayah, mahasiswa Instika yang terdiri dari Mega Eka Suciyanti, Nur Faizah, Siti Khairiyah, Fauziyah, Siti Amaniyah, Zahrotul Jannah, Munawwarah, Mairani, Habibah, dan Hannani menyelenggarakan lepas pisah dengan siswa SMA 3 Annuqayah pada hari Jumat, 24 Februari 2012.

Acara yang dilaksanakan di laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah ini dimulai pada pukul 09.20 WIB dan usai pada pukul 11.05 WIB. Acara ini melibatkan seluruh siswa SMA 3 Annuqayah walaupun yang hadir hanya 30 orang dari 216 siswa. Selain itu, Kepala SMA 3 Annuqayah, M. Mushthafa, dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Moh. Afifi, juga turut hadir.

Menurut Mega Eka Sucianti, ketua kelompok sekaligus ketua panitia pada acara lepas pisah, acara ini sengaja tidak mengundang guru pamong karena pada awalnya peserta PPL tidak akan mengadakan acara apa pun. Namun karena permintaan dari sebagian siswa, akhirnya acara ini dilaksanakan. Selain itu keterbatasan dana juga menjadi pertimbangan sehingga tidak mengundang seluruh guru pamong.

Acara ini juga merupakan penarikan peserta PPL 2 Instika dari SMA 3 Annuqayah. Hal ini disampaikan oleh Moh. Afifi dalam sambutannya. Ia juga menambahkan bahwa selama tiga kali menjadi DPL PPL, baru kali ini ada acara lepas pisah yang melibatkan siswa dan ini merupakan hal yang membahagiakan.

Hal ini menunjukkan adanya kerja sama dan komunikasi yang baik antara siswa dengan peserta PPL, ungkapnya. Ia juga mengharapkan agar peserta PPL tetap menjaga hubungan yang baik dengan pihak sekolah sekalipun tugas PPL telah berakhir.

Pada kesempatan yang sama, M. Mushthafa selaku kepala sekolah mengungkapkan rasa senangnya ketika dia baru mendengar bahwa tahun ini akan ada peserta PPL 2 Instika yang bertugas di SMA 3 Annuqayah. Menurutnya, ini merupakan kesempatan bagi para mahasiswa untuk menerapkan teori-teori mengajar yang didapatkan di bangku kuliah selain juga mengetahui secara langsung kondisi lembaga pendidikan di lapangan. Di samping itu, dia berharap ada evaluasi dari siswa kepada mahasiswa peserta PPL.

Lepas pisah ini juga dimeriahkan oleh Paduan Suara SMA 3 Annuqayah. Mereka menyanyikan Mars Madaris 3 dan Hymne Annuqayah. Tidak hanya itu, pengurus OSIS SMA 3 Annuqayah juga menunjukkan kebolehannya dalam olah suara. Terbukti ketika mereka melantunkan shalawat di penghujung acara lepas pisah ini.

Minggu, Februari 26, 2012

Santri Annuqayah Sabet Empat Piala di Paiton

Umarul Faruq, PPA Latee

Walaupun diutus dari lembaga yang tidak sama, santri Annuqayah bisa dikatakan berjaya di tingkat Jawa Timur. Empat piala sekaligus dibawa pulang santri Annuqayah dari kegiatan Festival Bahasa (Arab-Inggris) se-Jawa Timur yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA) PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Kegiatan ini berlangsung sejak 20 Februari 2012 dan berakhir tanggal 24 Februari 2012.

Ada dua macam lomba yang diselenggarakan dalam festival ini, yaitu pidato dan debat. Lomba pidato terbagi menjadi dua tingkatan, yaitu tingkat SLTP dan SLTA. Sedangkan lomba debat hanya untuk tingkat SLTA saja. Masing-masing lomba terdiri dari dua jenis cabang, yaitu bahasa Arab dan Inggris.

Peserta berasal dari berbagai lembaga pendidikan di seluruh Jawa Timur, baik yang ada di pondok pesantren maupun yang bukan. Utusan dari Annuqayah terdiri dari 20 orang peserta dengan 7 orang ofisial. Rinciannya: 6 orang utusan MA Tahfidh Annuqayah dengan 1 ofisial, 5 orang utusan Markaz al-Lughah al-Arabiyah Annuqayah dengan 3 ofisial, 5 orang utusan MA 1 Annuqayah Putra dengan 2 ofisial, dan 4 orang utusan MTs. 1 Annuqayah dengan 1 ofisial.

Cabang lomba debat bahasa Arab dari Annuqayah dikuti oleh tiga tim, tapi hanya satu yang berhasil masuk ke babak final, yaitu tim yang diutus MA Tahfidh Annuqayah. Sementara dalam lomba pidato bahasa Arab tingkat SLTA, seluruh peserta dari Annuqayah berhasil masuk ke babak final, sehingga dari total sepuluh finalis, lima di antaranya adalah utusan Annuqayah. Sedangkan untuk lomba pidato bahasa Arab tingkat SLTP hanya satu orang yang tidak masuk final dan untuk lomba pidato bahasa Inggris, hanya satu peserta tingkat SLTA yang berhasil masuk sebagai finalis yang juga merupakan satu-satunya utusan Annuqayah di cabang lomba pidato bahasa Inggris tingkat SLTA.

Namun dari semua finalis utusan Annuqayah, hanya enam finalis yang berhasil merebut gelar juara, yaitu: Ach. Fauzi, juara 1 pidato bahasa Arab tingkat SLTA utusan MA Tahfidh Annuqayah; Moh. Ainur Ridha, juara 2 pidato bahasa Arab tingkat SLTP utusan MTs. 1 Annuqayah; Moh. Amirullah juara 3 pidato bahasa Arab utusan Markaz al-Lughah al-Arabiyah, dan satu tim utusan MA Tahfidh Annuqayah sebagai juara 2 debat bahasa Arab yang terdiri dari Moh. Lutfi, Musyfiqur Rahman, dan A. Munawwir.

“Prestasi ini patut disyukuri. Itu artinya perjuangan kita selama ini tidak sia-sia,” ujar Umarul Faruq, ofisial dari MA Tahfidh Annuqayah ketika melihat ada salah satu peserta dari Annuqayah menangis karena terharu. Dia juga menyampaikan bahwa latihan persiapan untuk lomba ini sudah lebih dari tiga minggu.

“Menariknya, walau diutus dari lembaga yang berbeda dan bakal menjadi lawan ketika lomba, mereka tetap kompak latihan bersama. Tidak tampak bahwa mereka sebenarnya rival,” katanya sambil memuji-muji kekompakan mereka. “Mungkin” lanjutnya, “hal itu karena latar belakang mereka yang sama, yaitu sama-sama santri Darul Lughah”.

Ibnu Hajar, ofisial dari Markaz al-Lughah, juga ikut mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, kita tidak pulang dengan tangan kosong,” katanya saat rombongan dari Annuqayah sedang berkemas-kemas untuk pulang. Dia sendiri saat itu sedang sibuk menghubungi bus yang akan menjemput rombongan Annuqayah. Sementara itu, peserta lain yang belum berhasil meraih juara mulai berlomba-lomba menodong para juara agar selamatan.

Sabtu, Februari 25, 2012

Lubangsa Selatan Selenggarakan Pelatihan Menulis Cerpen

Fahrur Rozi, PPA Lubangsa Selatan

Guluk-Guluk—Jum’at, 24 Februari 2012, Departemen Perpustakaan dan Pengembangan Wawasan (Puspenwas) PPA Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, bekerjasama dengan Perpustakaan PPA Lubangsa Selatan mengadakan pelatihan menulis cerpen. Acara tersebut merupakan program tahunan Puspenwas dalam upaya mengembangkan kemampuan santri menulis fiksi.

Didapuk sebagai fasilitator dalam pelatihan tersebut, Suhairi Rachmad memberikan beberapa tips menulis bagi pemula. Salah satunya adalah soal bekerja keras. Menurutnya, sering kali penulis pemula disibukkan oleh alasan akan banyaknya pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Padahal, sesibuk apapun orang, dia pasti punya waktu longgar.

Dia menganalogikakan wadah yang selalu bisa diisi oleh beragam benda. Wadah tersebut mungkin sudah terasa sesak ketika diisi batu, misalnya. Namun, wadah itu masih bisa diisi kerikil di sela-sela batu yang sudah penuh. Ketika kerikil penuh, wadah itu pun masih bisa diisi tanah. Tanah penuh, wadah itu masih juga bisa diisi air.

“Ruang yang kosong dalam wadah tersebut kita umpamakan sebagai waktu. Jadi, sebenarnya kita memiliki banyak waktu. Tapi sibuk dengan alasan-alasan yang tidak penting. Penulis harus menghilangkan kebiasaan tersebut,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Suhairi lebih banyak memberikan motivasi ketimbang bicara tentang teori menulis. Dia menjelaskan proses kreatifnya ketika awal-awal mulai menggemari dunia literasi. Alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Bata-Bata, Pamekasan, sekaligus mantan wartawan televisi Madura Channel ini mengaku, dulu ia sangat senang bukan main ketika tulisannya untuk rubrik “Suara Pembaca” dimuat di mading pondoknya.

“Saya senang bukan main. Saya selalu datang ke mading tersebut bukan untuk membaca, tapi melihat siapa yang membaca tulisan saya,” tuturnya. Pernyataan itu sontak membuat para peserta tertawa. Memang, sepanjang acara, Suhairi kerap menyelipkan humor-humor segar sehingga suasana menjadi gayeng.

Acara yang berlangsung pada pukul 14:50-16:47 WIB.  itu diikuti oleh 23 santri yang berasal dari komunitas-komunitas menulis di PPA Lubangsa Selatan. Tidak hanya komunitas yang bergerak di bidang penulisan cerpen (Komunitas Cinta Nulis), namun mereka juga berasal dari komunitas penulis puisi (Mangsen) dan karya ilmiah (Aliansi Penulis Ilmiah). Selain itu, para pustakawan Perputakaan PPA. Lubangsa Selatan juga ikut andil menjadi peserta dalam kegiatan tersebut.

Pelatihan ini diformat dengan cukup sederhana. Waktu sepenuhnya diserahkan kepada fasilitator setelah sebelumnya diberi pengantar oleh panitia. Acara ini ditempatkan di aula Madrasah Diniyah PPA Lubangsa Selatan.

 

Jumat, Februari 24, 2012

Jama’ah Lubangsa Rayakan Maulid Nabi


Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

Guluk-Guluk—Senin malam kemarin (20/02), pengurus Jam’iyyah al-Thalabah li Madrasah al-Diniyyah Baramij al-Tarbiyyah wa al-Ta’lim (biasa disingkat “Jama’ah”, yakni semacam OSIS di sekolah) PPA Lubangsa merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. bertempat di ruang kelas X-5 MA 1 Annuqayah.

Acara tersebut dihadiri oleh dewan guru Madrasah Diniyah Baramij al-Tarbiyyah wa al-Ta’lim (MDBTT), pengurus maslahah (semacam DPS di sekolah), dan delegasi siswa. Dari 16 kelas yang ada baik tingkat wustho dan ‘ula, masing-masing mendelegasikan siswa sebanyak 2 orang.

Format acara terbilang sederhana: pembacaan shalawat nabi, sambutan ketua Jamaah dan ketua MDBTT, dan ceramah keagamaan. Adapun yang mengisi ceramah adalah Rofik Suja’, santri senior PPA Lubangsa Selatan yang saat ini juga menjadi salah satu dosen di Instika.

M. Ali Wafi AM, sekretaris panitia, mengatakan, ada dua hal yang menjadi landasan pelaksanaan peringatan maulid nabi ini. Pertama, sebagai umat Islam sudah selayaknya memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Kedua, perayaan hari-hari besar Islam, termasuk maulid nabi, sudah menjadi salah satu agenda program kegiatan Jamaah.

“Kami sangat bersyukur bisa ikut serta merayakan hari kelahiran beliau (Nabi Muhammad saw.). Apa yang telah kami lakukan semata hanya untuk memupuk rasa cinta selaku umatnya,” ungkapnya.

Bila melihat daftar undangan, seharusnya yang hadir bisa lebih dari 40 orang. Akan tetapi yang menghadiri acara tersebut hanya 27 orang.

“Mungkin karena acara ini bertepatan dengan kegiatan rutin organisasi daerah (orda). Di samping itu, di saat yang sama orda Iksaputra juga merayakan acara maulid nabi,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, orda Ikatan Santri Pantai Utara (Iksaputra), salah satu orda yang memiliki anggota terbanyak di PPA Lubangsa, juga turut merayakan maulid Nabi Muhammad saw. bertempat di desa Kebbunan, kecamatan Kota, Sumenep.

Kamis, Februari 23, 2012

Yaspimu-Iksapansa Peringati Maulid Nabi

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Halaman SMA Islam Miftahul Ulum yang nyaris seluas lapangan sepak bola disesaki oleh ribuan orang, Kamis (16/2) malam. Di lokasi yang menyambung dengan halaman masjid Baiturrahman, Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan tersebut malam itu sedang berlangsung tasyakuran dan peringatan maulid nabi yang digelar oleh Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam Miftahul Ulum (Yaspimu) bersama Ikatan Santri Pamekasan-Sampang (Iksapansa) Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

Acara yang dimeriahkan oleh Drum Band Duta Yaspimu tersebut mendatangkan Pengasuh PP As-Syahidul Kabir, Sumber Batu, Blumbungan, K Mundzir Khalil, sebagai penceramah. Hadir pula kiai muda Annuqayah K Muhammad ‘Ali Fikri bersama ibundanya, Ny Hj Nafisah. Pengasuh Pondok Pesantren Sumber Gading, Bung Baru, Kadur, KH Alawi Fakih, juga hadir dalam acara yang disponsori oleh rokok 1001 itu.

“Di samping untuk memperingati kelahiran nabi Muhammad saw, acara ini juga merupakan tasyakuran Yaspimu yang baru saja menyelesaikan pembangunan SMA Islam Miftahul Ulum, salah satu lembaga pendidikan yang dinaungi Yaspimu. Pembangunan ini menelan biaya lebih dari Rp 400 juta,” ujar kepala SMA Islam Miftahul Ulum, Jam’an, M.Pd, dalam sambutannya mewakili ketua Yaspimu, K Ach. Suja’ie.

Acara tersebut diawali dengan penampilan lagu-lagu islami siswa Yaspimu. Setelah itu, secara beruntun tampil Samman Iksapansa Putri dan Hadrah Nurul Fata Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa. Dramatisasi Puisi Iksapansa Putra juga tak kalah semaraknya dan mampu menyedot perhatian para undangan dan pengunjung.

Kaderisasi & Pengorbanan

Menurut Jam’an, latar belakang Yaspimu menerima tawaran kerja sama Iksapansa beberapa waktu yang lalu ialah berkenaan dengan kaderisasi.

“Kaderisasi yang dimaksud ialah kemampuan para santri di Iksapansa untuk merasakan dan merenungi pengalaman di lapangan, terutama ketika berhubungan dengan masyarakat luas,” ujar ketua Iksapansa pada 1994 itu.

Selain itu, pria yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesanren Annuqayah Lubangsa tesebut juga menyinggung pentingnya pengorbanan dalam memperjuangkan agama Islam.

“Acara ini tidak sedikit menghabiskan dana dan material lainnya. Ini bentuk lain dari pengorbanan untuk dapat ridha dari Allah SWT,” tegasnya.

Dari itulah, Jam’an berharap agar semua pihak yang terlibat dalam penyuksesan acara tersebut mengedepankan keikhlasan. Sebab keikhlasan, tambahnya, adalah ruh dari semua pekerjaan.

Al-ikhlasu ruh al-‘amal. Begitu sabda nabi kita, Muhammad saw,” katanya.

Jam’an juga menyatakan bangga dengan generasi penerusnya di Iksapansa yang tetap semangat memajukan organisasi.

Dalam kesempatan itu, K Muhammad ‘Ali Fikri diberi kesempatan memberikan sambutan sekaligus tausyiah singkat. Kepala MA 1 Annuqayah ini menegaskan agar pembangunan infrastruktur juga diimbangi dengan pembangunan manusia seutuhnya.

“Pembangunan fisik yang tidak diimbangi dengan pembangunan mental manusianya tentu hanya akan sia-sia,” tegasnya.

Di samping itu, K Muhammad ‘Ali Fikri juga berharap agar aksi Yaspimu kian diperluas.

“Saya berharap agar aksi pendidikan yang selama ini digalakkan oleh Yaspimu juga merambah pada gerakan ekonomi masyarakat,” imbuhnya.