Jumat, April 20, 2012

Ikstida Laksanakan Bahtsul Masail


Nur Faizah, PPA Lubangsa Putri

Guluk-Guluk—Banyak persoalan di masyarakat yang selama ini belum dituntaskan dengan sempurna oleh hukum Islam. Terkait dengan itu, salah satu langkah konkret yang telah dilakukan oleh para santri yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Santri timur daya (Ikstida) Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Putri adalah dengan melaksanakan bahtsul masail, yaitu membahas masalah-masalah hukum Islam yang dihadapi masyarakat terutama santri untuk dipecahkan bersama.

Kegiatan bahtsul masail ini dilaksanakan pada hari Rabu 11 April 2012 dan bertempat di aula Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri. Kegiatan yang dimulai pukul 13.45 WIB ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya dilaksanakan oleh Ikstida. Pada kegiatan bahtsul masail yang pertama, Ikstida menghadirkan Chairul Anam yang saat ini menjabat sebagai wakil Katib PC NU Sumenep periode 2010-2015 sebagai pembahas (bahits). Demikian juga pada bahtsul masail yang kedua ini.

Pada bahtsul masail yang pertama, kegiatan diformat dalam bentuk yang sederhana. Anggota Ikstida hanya mengumpulkan beberapa pertanyaan tentang hukum Islam dan meminta Ustadz Her, sapaan akrab Chairul Anam, untuk memberikan jawaban dan kejelasan hukum kepada anggota Ikstida.

Namun atas saran Chairul Anam sendiri, format bahtsul masail yang kedua ini sedikit berbeda. Bahtsul masail kali ini dikemas dalam bentuk diskusi kelompok yang dibagi menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok yang terdiri dari empat orang ini mendiskusikan satu permasalahan yang berbeda.

Dengan berbekal beberapa kitab klasik sebagai rujukan, tentu hasil diskusi menjadi berbeda bahkan berselisih pendapat. Jika hal ini telah terjadi, maka Chairul Anam meluruskan perselisihan pendapat tersebut.

Format seperti ini tentu jauh lebih efektif daripada sekadar mendengarkan penjelasan yang diberikan dan menerima jawaban secara instan dari bahits. Kali ini anggota Ikstida mencari jawaban sendiri atas persoalan yang ingin diketahui penyelesaian hukumnya. Hal ini tentu dapat melatih kepekaan dan daya nalar peserta bahtsul masail yang sebagian besar masih terdiri dari siswa Madrasah Aliyah itu.

“Bahtsul Masail seperti inilah yang saya inginkan. Peserta bahtsul masail melatih diri untuk berpikir dengan sungguh-sungguh dalam memecahkan satu masalah. Bahtsul masail yang sering dilakukan oleh NU juga seperti ini, bukan menjawab pertanyaan yang diajukan, tapi didiskusikan bersama. Ini namanya hasil kreasi kita bersama,ungkap Ustad yang rutin mengisi tanya jawab hukum Islam tiap bulan Ramadhan di RRI Sumenep ini dengan senyum khasnya.

Kegiatan yang memakan waktu 3 jam 20 menit ini dihadiri oleh 61 anggota Ikstida. 20 anggota sebagai peserta aktif yang terbagi dalam 5 kelompok dan sisanya sebagai peserta pasif yang memperhatikan pembahasan masalah yang diangkat pada kegiatan ini. Namun di akhir acara, peserta pasif ini juga diperbolehkan mempertanyakan hal-hal yang mengganjal terkait dengan masalah yang telah dibahas. Sayyidatun Azizah, ketua panitia, tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya ketika Chairul Anam menyarankan agar kegiatan ini dijadikan sebagai kegiatan rutin di Ikstida. Dia juga bersedia untuk menjadi bahits tetap.

Chairul Anam juga menambahkan agar bahtsul masail selanjutnya membahas satu masalah saja agar kajiannya lebih mantap dan mendalam. Hal ini senada dengan apa yang diinginkan oleh Nurul Alfiyah Kurniawati, ketua umum Ikstida.

Sebenarnya saya ingin masalah yang dibahas tidak lebih dari dua. Namanya belajar, pastinya dimulai dari yang sedikit dan mudah terlebih dahulu, tapi hasilnya memuaskan,tutur dara yang masih duduk di kelas XI Madrasah Aliyah ini dengan senyum merekah. Tepat pukul 17.05 WIB acara ini ditutup oleh Layyinah yang sejak awal memandu jalannya acara.

Kamis, April 19, 2012

Ingin Tahu tentang Tahu


Masluhatun, XI IPS 1 SMA 3 Annuqayah

Guluk-Guluk—Jum'at (13/04) pagi kemarin, siswa kelas IX IPA-IPS SMA 3 Annuqayah melakukan kunjungan belajar dan riset ke pabrik tahu UDFajar Menyingsing” di Desa Pore, Lenteng. Riset ini dilakukan untuk menambah pengetahuan siswa tentang proses pembuatan tahu. Juga sebagai pengayaan pembelajaran untuk pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes).

Rombongan siswa kelas XI yang berjumlah 50 orang dengan 3 pendamping disambut hangat oleh keluarga KH Wasik Syaikhol Umam, pemilik pabrik tahu, pada saat tiba di lokasi sekitar jam 8 pagi. Sedangkan Mus'idah Amien, S.Pd.I., guru pelajaran Penjaskes, tidak bisa menemani siswa karena harus menghadiri acara di Sumenep.

Sebagai formalitas, ada susunan acara yang dibawakan seorang MC dadakan dan spontan oleh Anisah, siswa kelas XI IPA karena sebelumnya dari siswa tidak ada yang ditunjuk sebagai MC.

K. Wasik yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pengasuh PP Annuqayah daerah Sabajarin pernah menjadi santri di PPA daerah Sabajarin, yaitu di daerah Al-Furqaan. Beliau menceritakan sedikit tentang masa kecilnya, bagaimana beliau bisa mondok di Al-Furqaan dan sampai mendirikan pabrik tahunya sekarang. Semuanya berlandaskan prinsip beliau: minta restu/ridho orang tua.

Pada sesi presentasi, K. Wasik menjelaskan bagaimana proses pembuatan tahu saja. Sedangkan penjelasan-penjelasan lainnya menyusul pada sesi tanya-jawab.

Dalam penjelasannya, beliau juga menuturkan banyaknya pembuat tahu yang berbuat curang agar tahu bisa tahan lama dengan menggunakan pengawet seperti formalin dan borax. K. Wasik adalah termasuk pembuat tahu yang tidak memakai pengawet apa pun. Bahan penbuat tahunya hanya kedelai (bahan baku), cuka, dan air.

Proses pembuatan tahu ada 3 tahap. Pertama, bahan baku kedelai direndam dalam air selama kurang lebih 1-2 jam, kemudian dicuci bersih, lalu digiling halus dengan dicampur air sampai menjadi seperti adonan tepung. Adonan kedelai direbus sampai memdidih 3 kali rebusan (atau sesuai kebutuhan). Kedua, hasil rebusan adonan kedelai disaring sampai ampas dan santannya benar-benar terpisah. Santan kedelai dicampur dengan cuka khas tahu sampai merata. Kemudian diaduk sampai bisa dibedakan antara cuka dan santan kedelai yang sudah mengkristal/mengendap. Ketiga, cuka dipisahkan/disedot dari santan kedelai yang sudah mengkristal, kemudian dimasukkan ke pres tahu. Dan dibiarkan kira-kira 25-40 menit untuk diiris dan diletakkan ke dalam bak penyimpanan tahu. Dan jadilah tahu yang siap dimasak.

Usah pembuatan tahu yang dirintis sejak tahun 1999 ini pernah mengalami kesulitan-kesulitan. Bahkan saat ini pun harga bahan baku pembuatan tahu (kedelai) mengalami kenaikan.

Walaupun demikian usaha K. Wasik ini memiliki banyak pelanggan di berbagai daerah seperti Saronggi, Dadda', Rubaru, Kalianget, Marengan, Toampar, Guluk-Guluk, Ganding, Payudan Nangger, dan di wilayah kota Sumenep.

Limbah tahu dari pabrik K. Wasik pada musim kering dibuang ke bak khusus (penampungan). Sedangkan pada musim hujan limbah dialirkan ke sungai. Selain itu, ada juga petani yang memanfaatkan limbah tahu sebagai pupuk organik cair di sawah. Dan limbah tahu juga bisa digunakan sebagai pakan ternak.

Menjelang Jum’atan, sekitar pukul setengah 12, rombongan meninggalkan tempat untuk pulang ke Guluk-Guluk.

Berita ini dikutip dari blog Madaris 3 Annuqayah.

Jumat, April 13, 2012

Living Aswaja di Annuqayah

Ach. Khatib, alumnus PPA Lubangsa Selatan (2010), peserta Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Annuqayah, baik secara verbal maupun non verbal, telah menyatakan beraliran Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) syafi’iyah (Sitrul Arsy, dkk., Satu Abad Annuqayah, 2000: 23). Pilihan ini tentu tidak bisa diubah hanya dengan alasan tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman atau apa pun. Sebab, pilihan ideologi bukan persoalan sederhana yang bisa berubah sesuai arah angin. Selain itu, bagi Annuqayah sendiri, beriideologi aswaja telah melalui proses yang panjang. Paling tidak, ini terlihat dari beberapa hal: kitab-kitab yang dikaji dan diajarkan kepada santri sejak pendiri pertama, koleksi kitab, dan cara beribadah masyayikh Annuqayah, hingga hari ini.

Kitab-kitab yang dikaji Kiai Syarqawi, misalnya dalam masalah Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf, termasuk juga dalam masalah faham keagamaan, semuanya beraliran aswaja. Demikian pula dengan generasi Kiai Ilyas dan Kiai Abdullah Sajjad. Kitab Mandzumatur Risalah tentang akidah, ditulis pada 1360 H., berisi 98 bait nadlam adalah karya Kiai Abdullah Sajjad. Kitab-kitab yang dikaji Kiai Amir Ilyas dan diajarkan kepada santri di masa kepengasuhan beliau juga dalam lingkar yang sama: aswaja; yaitu: Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Shohih Bukhori dan Muslim, Riyadus Sholihin, Fathul Wahab, Fathul Mu’ien, Kifayatul Akhyar, Ibnu Aqil, al-Fiyah, ‘Imrithi, Kailani, Nadhamul Maqsud, Durratun Nashihin, Minhajul ‘Abidin, dan Jauharul Maknun (Tim, Direktori Pesantren, 1986: 231). Pada sumbu ini, terang kepada kita bahwa aswaja di Annuqayah memiliki akar historis yang sangat kuat; lebih dari 1 abad lamanya!

Wajar bila sekali tempo, almukarrom Kiai Warits men-dawuh-kan bahwa Aswaja tidak saja difahami sebagai Manhajul Qoul dan Manhajul Fikr, tapi juga Manhajul ‘Aqidah. Dengan kata lain, aswaja mesti menyeruak kedalam segala aspek kehidupan; dari pola pikir, cara hidup, hingga beribadah, dan pada perkembangannya akan menjadi tradisi juga tata nilai.

Atas dasar inilah, penulis menganggap aneh kalau sebagian kita galau oleh sinyalemen adanya “ideologi lain” yang telah masuk dan akan merusak ideologi aswaja sehingga kita menyalahkan sistem pendidikan di Annuqayah yang tidak memasukkan aswaja sebagai mata pelajaran; tapi di kesempatan yang sama, banyak dari kita yang kurang serius “membaca” aswaja yang telah berubah menjadi tradisi dan cara hidup, menyatu dengan budaya. Itulah Living Aswaja (aswaja yang hidup). Keseriusan “membaca” living aswaja akan menguatkan kita dari dalam.

Masyayikh Annuqayah merupakan uswah yang tepat, terutama bagi kita para santri, untuk mengetahui apa dan bagaimana implementasi aswaja dalam berbagai aspek dalam kehidupan. Dengan “melihat” masyayikh Annuqayah, kita tidak hanya akan mengetahui aswaja dari sisi sejarah kemunculannya, tokoh-tokohnya, karya, dan pemikirannya, tapi lebih dari itu: implementasinya! Cara hidup dan beribadah masyayikh Annuqayah adalah aswaja itu sendiri, aswaja yang hidup dan nyata (the living aswaja). Aswaja yang termanifestasi dalam kehidupan riil dan melebur dalam tata nilai kehidupan.

Sebab, paling tidak, ada dua faktor sebuah ideologi bisa bertahan: karena ideologi tersebut memang benar dan karena masifitas penyebarannya. Benar dilihat dari sudut agama, akal sehat, dan budaya. Masifitas penyebaran terpotret dari kecanggihan strateginya. Kalau dua faktor ini berkumpul, niscaya ideologi tersebut akan terus terjaga dan terwariskan dari generasi ke generasi.

Dari sisi ke-benar-an, aswaja tidak perlu lagi didebatkan. Namun dari sisi masifitas penyebaran inilah yang perlu terus ditingkatkan dengan mempertajam kecermatan para santri untuk selalu meniru cara hidup dan beribadah the living aswaja, yang tidak lain adalah masyayikh Annuqayah itu sendiri. Imam az-Zarnuji menyebut cara belajar jenis ini sebagai belajar tentang ‘ilmul haal (Ibrahim bin Ismail, Syarhu Ta’lim al-Muta’allim, 2007: 11). Inilah cara belajar yang paling baik dan utama.

Di samping itu, tujuan pendidikan di pesantren memang bukan semata-mata memperkaya pikiran santri dengan ilmu dan teori-teori, melainkan untuk meninggikan moral, mengajarkan tingkah laku, tata cara beribadah, bergaul, dan hidup mandiri (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 1982: 21). Tata tindak dan moral santri menjadi perhatian utama para kiai pesantren, bukan hanya pengembangan keilmuan. Ini semua bisa dicapai tak lain dengan meniru setepat-tepatnya kepribadian, cara hidup, dan beribadah masyayikh Annuqayah.

Varian-Varian Living Aswaja
Untuk memudahkan “membaca” living aswaja, ada tiga varian yang perlu diperhatikan: pertama, tradisi tulis. Tulisan masyayikh Annuqayah berupa khutbah, selebaran, makalah, artikel, buku, kitab, dan seterusnya tentang aswaja atau tema lainnya merupakan penampakan dari hasil pergulatan cara berpikir aswaja dalam memandang realitas.

Kedua, tradisi lisan yang berbentuk dawuh, pernyataan, petunjuk-petunjuk, keputusan, atau kebijakan. Bedanya dengan varian pertama hanya pada cara penyampaiannya. Secara prinsip sama: cara pandang aswaja atas teks, pemikiran, dan realitas yang berkembang. Ketiga, tradisi praktik; mewujud dalam koleksi kitab, praktik ibadah, wirid dan doa-doa, serta akhlak.

Banyak sekali contoh dari cara hidup dan beribadah masyayikh Annuqayah sebagai manifestasi dari aswaja dalam ketiga varian di atas, di antaranya: (1) tidak mendikotomi ilmu; (2) berdakwah tidak destruktif (merusak); (3) memulai pengajian hari rabu atau ahad; (4) menjaga tradisi pembacaan dhiba’ dan barzanji, maulid Nabi, tawasshul, dan ziarah kubur; (5) berpolitik untuk dakwah; (6) istiqamah sholat jamaah, meski dalam suatu perjalanan atau libur pesantren; (7) sangat tawaddlu’; serta (8) hormat pada yang lebih tua, sayang kepada yang lebih muda.

Dalam misal yang lain, masyayikh Annuqayah terbuka terhadap perubahan tapi tetap mempertimbangkan mashlahah pada pesantren dan kepribadian santri. Ini terbukti dari akomodasi Annuqayah terhadap kesenian dan keterampilan, namun mengharamkan facebook. Pengharaman facebook khusus santri ini tidak masuk kategori mengharamkan sesuatu yang dihalalkan, sebab ini dalam kerangka lit tarbiyah wat ta’lim dan hal ini dibolehkan (Muhammad Abdul Aziz, Al-Adabun Nawawi, Juz I: 60). Demikian pula dengan penyelenggaraan khatam-an kitab hadits saat bulan ramadlan. Tradisi ini dimaksudkan untuk mengisi ramadlan dengan kegiatan yang bermanfaat sekaligus menjaga salah satu warisan Rasulullah, Hadits. Kita bisa melihat juga living aswaja di kalangan kiai muda Annuqayah, di antaranya adalah tingginya rasa amanah dan tanggungjawab kiai muda Annuqayah dalam menjalankan tugas yang diembannya.

Sejumlah misal di atas merupakan bentuk dari living aswaja di Annuqayah dengan masyayikh sebagai uswah-nya. Untuk itu, pada aspek inilah seharusnya kita (santri) memberikan perhatian yang besar dan menjadikannya sebagai “buku terbuka” yang bisa dibaca kapan saja; “buku” yang “menjelaskan” secara detail, verbal, terang. Jika suatu waktu kita ragu, apakah membaca Sholawat Nariyah itu benar menurut aswaja atau berapa jumlah rokaat Sholat Tarawih yang benar menurut aswaja? Cukuplah kita perhatikan praktik ibadah masyayikh Annuqayah. Demikian halnya dalam soal pendidikan, politik, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain; berlaku “hukum” yang sama.

Pandangan penulis tidak bermakna bahwa kegiatan seminar, pemantapan, kajian ke-aswaja-an tidak penting, tetapi aspek living aswaja juga perlu diberi tempat tersendiri dalam perhatian kita. Dan, sekali lagi, mempelajari living aswaja merupakan hakikat dan prinsip dari penyelenggaraan pendidikan pesantren itu sendiri.

Memberi perhatian pada living aswaja di Annuqayah memiliki beberapa keuntungan, antara lain: memudahkan santri dalam memahami aswaja, terjaganya spiral transmisi pengetahuan dari masyayikh Annuqayah ke santri, dan dengan mudah mengetahui bentuk aplikasi aswaja dalam kehidupan riil. Sebab, sangat tidak gampang “mempertemukan” teks keagamaan dengan realitas sosial yang dinamis dan sangat kompleks. Melalui living aswaja (dengan masyayikh Annuqayah sebagai uswah), akan dengan mudah kita temukan bentuk idealnya.

Living aswaja adalah pandora pencerah asa dalam menjaga aswaja di Annuqayah. Karena dengan menyatukan aswaja dan budaya, akan membuatnya abadi, seperti abadinya Annuqayah.

Tulisan ini dikutip dari Website NU Sumenep.

Senin, April 09, 2012

PSG SMA 3 Annuqayah Presentasi di Nurul Huda Pekamban


Indah Susanti, PPA Karang Jati Putri

Guluk-Guluk—Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah setelah enam hari pulang dari Pondok Pesantren Ta’awun, Batang-Batang, selama tiga hari mengisi pelatihan yaitu, dari tanggal 29-31 Maret pekan lalu, baru-baru ini kembali mendapat undangan untuk memberi pelatihan. Tempatnya di Pesantren Nurul Huda, Pekamban Laok, Pragaan. Acara pelatihan ini berlangsung pada hari Jumat (6/ 4) kemarin.

Sementara itu, untuk dua bulan ini, PSG harus bekerja lebih ekstra lagi, karena banyaknya pesanan tas dan undangan dari berbagai lembaga pendidikan. Dua hari setelah pulang dari Batang- Batang, pembina OSIS SMA 3 Annuqayah, Mus’idah Amin, memberi tahu koordinator PSG bahwa ada undangan untuk mengisi pelatihan di Pesantren Nurul Huda Pekamban Laok.

Lembaga ini mengundang semua tim, yaitu tim sampah plastik, tim konservasi pangan lokal, dan tim pupuk organik. Dengan tiga siswa koordinator dari masing-masing tim, yaitu Indah Susanti, Qurratul Aini, Ummamah, dan Anisah yang didampingi guru SMA 3 Annuqayah, Mus’idah Amin, tim PSG SMA 3 Annuqayah berangkat ke Nurul Huda sekitar pukul 07:15 WIB Jum’at kemarin.

Rombongan tim PSG datang agak terlambat karena di pertengahan jalan di depan mobil yang ditumpangi ada kecelakaan antara pengemudi sepeda motor menabrak bus mini.

Tiba di Pesantren Nurul Huda, tim PSG disambut oleh KH Waris Anwar, kepala SMPI, dan Moh. Fadhili, mahasiswa pengabdian Instika, Guluk-Guluk. Setelah beberapa menit istirahat, acara pelatihan pun dimulai.

Acara dibuka dengan sambutan oleh KH Waris Anwar sebagai perwakilan dari satuan kepala lembaga Nurul Huda.

“Kita sebagai makhluk Allah mempunyai dua tanggung jawab. Selain kita diperintahkan belajar ilmu agama sebagai bekal akhirat, kita juga diwajibkan menjaga lingkungan kita. Meski kita hidup di pesantren, kita harus tahu keadaan bumi kita. Saya harap kalian menyimak dengan baik apa yang akan disampaikan oleh siswa SMA 3 Annuqayah ini,” pesan beliau sebelum mengakhiri sambutannya.

Peserta yang hadir kurang lebih 60 siswa, yaitu siswa SMPI dan SMK (putra-putri) Nurul Huda. Sebelum menyampaikan materi, Mus’idah memberi sedikit gambaran tentang PSG. Setelah itu, tim PSG menyampaikan materi secara bergiliran.

Pemaparan dimulai dari sejarah PSG, pemanasan global atau perubahan iklim, dan sekilas tentang tiga tim PSG. Di sela-sela penyampaian materi , tim PSG menyelingi dengan menampilkan foto-foto kegiatan PSG serta koleksi tas PSG.

Acara selanjutnya adalah praktik. Selama praktik, para peserta banyak bertanya sehingga terjadi dialog baik tentang masalah lingkungan maupun teknis pembuatan tas dan pemanfaatan sampah plastik.

Acara yang berlangsung selama setengah hari itu mendapat respons yang baik dari lembaga di Nurul Huda. Acara juga berjalan dengan lancar. 

Berita ini dikutip dari blog Madaris 3 Annuqayah.

Jumat, April 06, 2012

Menyulap Lemari Menjadi Toko

Fandrik Hs Putra, PPA Lubangsa

Ada saja “terobosan” yang dilakukan oleh teman saya yang satu ini, Ahmad Fawaid. Ia membuka toko di biliknya, blok A/7 PPA Lubangsa. Saya baru tahu bahwa ia memiliki usaha kecil itu ketika saya dengannya hendak mewawancarai wakil ketua DPRD kabupaten Sumenep, Hunain Santoso, di kediamannya, di Ganding, Sumenep.

Saat pulang dari Ganding, alangkah terkejutnya saya. Ia mencari rokok Intro 1 pres. Untuk apa membeli rokok sebanyak itu, tanya itu menggantung di benak saya. Tak habis keheranan saya, ia menuju sebuah toko aneka makanan/camilan: membeli cokelat eceran Rp. 100,- permen, dan lain-lain, yang semua apabila dijual eceran harganya tidak sampai mencapai Rp. 500,-.

Pada saat itulah ia berani berterus terang kepada saya bahwa ia memiliki usaha kecil di pondoknya di PPA Lubangsa. Ia mengaku “tokonya” benar-benar laris manis. Tetapi toko yang dimaksud bukan toko yang sebenarnya. Tokonya adalah sebuah lemari pakaian yang dijadikan penampung jualannya. Sungguh hebat!

Iseng-iseng saya bertanya, mengapa harus rokok Intro yang dicari? Bukankah banyak macam rokok lain selain Intro? Pertanyaan ini terlontar setelah persendian kaki saya merasa ngilu karena berkeliling pasar hanya sekadar mencari rokok yang dimaksud.

“Kalau rokok Intro cepat laku, bang,” akunya pada saya.

“Apa tidak ada rokok lain?”

“Sebenarnya ada seperti rokok Apache dan Pundi Mas. Tapi tak selaris Intro,” jawabnya senyum-senyum.

Kemudian santri asal Batu Putih, Sumenep, itu sedikit berbagi cerita mengenai rintisan usahanya tersebut. Ia berujar kalau sehari “tokonya” bisa menghabiskan rokok Intro satu setengah pres! Mengenai pembelian permen dan yang lainnya, itu masih dilakukan pertama kalinya hari ini.

“Yah, saya sedang mengembangkan usaha saya,” candanya.

Tahukah Anda berapa penghasilan tokonya selama sebulan? Katanya, penghasilan yang bisa didapat selama sebulan paling sedikit Rp. 45.000,-. Kalau mujur, penghasilannya mencapai seratus ribu rupiah lebih!

Modal awal usaha yang dikembangkan adalah milik temannya, Syamsi Arif. Ia meminjam uang Rp. 150.000,- untuk dijadikan modal usaha dengan perjanjian laba yang diperoleh dibagi dua.

Pada suatu kesempatan, aktivis pers yang saat ini mahasiswa akhir jurusan Tafsir-Hadits Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) tersebut bercerita kepada orangtuanya mengenai rintisan toko itu. Diketahui modalnya bukan miliknya sendiri, orangtuanya lantas menyuruh mengembalikan modal yang dari temannya itu. Kemudian oangtuanya memberikan sedikit uang untuk meneruskan pengembangan usahanya. 

Benar-benar nih orang!

Rabu, April 04, 2012

Perbandingan Pendidikan Tinggi di Negara Serumpun

Fandrik Hs Putra, PPA Lubangsa

Guluk-Guluk—Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep bukanlah perguruan tinggi favorit sekaliber UGM atau UI. Namun, komitmen untuk meningkatkan Pendidikan Tinggi (PT) berkualitas patut diacungi jempol.

Komitmen tersebut bisa dilihat pada seminar internasional dalam rangka kerja sama dengan Universiti Utara Malaysia (UUM). Bentuk kerja sama yang akan dilakukan berupa pertukaran mahasiswa dan dosen serta publikasi penelitian dalam bentuk karya tulis ilmiah.

Seminar Internasional bertajuk The Effective Learning for Obtaining Master and Ph.D in College or Universities: An Experience of Two Neighbour Countries mendiskusikan perbandingan PT di negara serumpun, khususnya di jenjang S-2 dan S-3. Sebagai pembicara adalah Dr. H. M. Afif Hasan, M.Pd, dosen Instika serta dosen pasca-sarjana di beberapa perguruan tinggi Indonesia, dan Ahmad Sahidah, Ph.D, dosen senior UUM.

Problem Akademik

Setidaknya ada tiga pilar utama fokus PT di Indonesia, yaitu berbasis mahasiswa, berbasis riset, dan berbasis filosofi. Akan tetapi, tiga pilar tersebut, menurut Dr. H. M. Afif Hasan, M.Pd, hanya sebatas diskursus di level pemegang otoritas PT karena komitmen akademik mahasiswa dan kualifikasi dosen sangat rendah.

Rendahnya komitmen akademik mahasiswa dan kualifikasi dosen, lanjutnya, dikarenakan beberapa faktor di antaranya karena pemerintah belum memberikan pengawalan, pengawasan, dan perhatian yang baik terhadap jalannya proses pendidikan.

Sementara Ahmad Sahidah, Ph.D menilai bahwa kualitas PT di Indonesia tidak jauh berbeda dengan Malaysia. Hanya saja, perhatian pemerintah terhadap PT lebih baik, baik di bidang infrastruktur, layanan pendidikan, perpustakaan, dan sarana teknologi. 

“Malaysia akan gagal menjadi negara maju kalau hanya mengandalkan fasilitas. Saya katakan kepada mahasiswa saya bahwa maju itu ada dalam pikiran bukan dalam bentuk fisik,” ujarnya.

Ketua Ikatan Sarjana NU (ISNU) cabang Malaysia tersebut mengakui bahwa kerangka berpikir mahasiswa Indonesia lebih diunggulkan, sebab di Malaysia tidak ada jurusan filsafat. Namun, karena perhatian pemerintah terhadap PT sangat besar, meskipun jurusan filsafat tidak ada, ketersediaan buku-buku filsafat sangat lengkap. Selain itu, gaji guru dan dosen jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia.

“Gaji dosen pangkat III-D di Indonesia hanya 5 juta rupiah sedangkan di Malaysia mencapai 30 juta. Profesor gajinya 50 juta. Itulah sebabnya mengapa saya lebih suka mengajar di Malaysia daripada di Indonesia,” tuturnya sambil tersenyum.

Jurnal Ilmiah

Fathorrahman Utsman, M.Pd, salah seorang peserta seminar membenarkan bahwa kebijakan dan perhatian pemerintah terhadap guru dan dosen masih kurang.

Ia juga menyatakan rasa sakit hatinya di depan forum, yaitu ketika menerima surat edaran dari Ditjen Dikti tentang kewajiban menerbitkan karya tulis ilmiah di jurnal ilmiah bagi calon sarjana. Ia mengkritik surat edaran Ditjen Dikti yang memberikan alasan bahwa Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia di bidang karya tulis ilmiah.

“Kenapa harus Malaysia? Bukan Inggris, Jepang atau Amerika,” katanya.

Di Malaysia, mahasiswa berkewajiban untuk membaca. Tanpa membaca, maka dianggap mengkhianati tugas sebagai mahasiswa. Sedangkan di Indonesia oleh Mendikbud ditambah dengan menulis. Tingkat kemampuan menulis di Indonesia lebih tinggi. Mahasiswa di PT Malaysia disibukkan dengan menghapal sehingga kreativitas menulis sangat minim atau bahkan “kering”. Di sinilah yang membuat Ahmad Sahidah, Ph.D bangga dengan pendidikan di Indonesia.

“Peluang kerja sama ini sebenarnya ingin memberikan kesempatan bagi para dosen untuk menulis di Malaysia baik menggunakan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, atau Bahasa Arab. Itu akan bernilai Internasional kalau ukurannya ditulis di luar negara,” tuturnya.

Pendidikan yang Membebaskan

Indonesia adalah negara demokrasi. Itu merupakan modal sangat besar untuk mencapai kemajuan di bidang pendidikan. Kebebasan berpikir dan kebebasan berpendapat merupakan kemajuan pendidikan. Tetapi persoalannya, apakah kemajuan itu bermanfaat untuk mengembangkan wacana? Apakah kemajuan itu membebaskan?

“Di Indonesia tentu saja kearangka berpikir mahasiswa lebih hidup dan lebih demokratis,” ujar Sahidah. 

Di Malaysia, mahasiswa berpikir dibayang-bayangi oleh ketakutan. Apabila salah bertanya atau mengemukakan pendapat akan mendapatkan sanksi. Malaysia maju tetapi menjadi semu karena masyarakatnya tidak bisa mengarahkan sendiri pokok pikirannya. Namun, karena sudah ada perubahan politik, kemudian pikiran-pikiran baru bermunculan, maka dunia kampus mulai dibebaskan dari panggung politik. Jika tidak dibebaskan, pemerintah yang sekarang akan dianggap mengekang kebebasan berpendapat dan itu tidak baik bagi negara demokrasi.

“Jadi sekarang dinamika pemikiran mahasiswa di Malaysia sudah bagus. Kehadiran para dosen dari Indonesia diharapkan memperbagus pola pikir orang melayu,” pungkasnya.

Sebelum seminar berakhir, Ahmad Sahidah, Ph.D kembali menekankan bahwa kemajuan bukan diukur dari segi fasilitas, tetapi dari segi pemikiran. Pendidikan di Indonesia lebih unggul di bidang pemikiran. Oleh karena itu, tradisi menulis tetap harus dilestarikan.

Minggu, April 01, 2012

Ikstida Adakan Tapak Tilas dan Baksos


Moh. Azhari, PPA Lubangsa

Pada Kamis (22/03) sore yang lalu, Ikatan Keluarga Santri Timur Daya (Ikstida) mengadakan kegiatan Tapak Tilas dan Bakti Sosial (Baksos). Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 16.00 WIB dan dimulai dari perbatasan antara daerah Batuan dan Lenteng hingga Asta Jokotole Desa Saasa Kecamatan Manding.

Peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut sebanyak 49 anggota dan 9 pengurus. Selain itu, pengurus ketua seksi Penerangan dan Pembinaan Organisasi (P2O) PPA Lubangsa, Imam Abdurrahman, juga berpartsipasi dalam kegiatan tersebut. Beliau juga dipasrahkan oleh panitia untuk menjadi juru bicara (jubir) dalam melepas pemberangkatan tapak tilas ke Asta Jokotole.

Hanya satu yang kami harapkan dalam kegiatan tapak tilas ini, yakni niat yang baik. Jadi perbaiki niat kalian semua dalam mengikuti tapak tilas ini,” pesan Kasi P2O terhadap peserta tapak tilas dan bakti sosial. Beliau juga menambahkan bahwa disamping kegiatan tapak tilas dan bakti sosial ini, terdapat momen yang penting untuk dirayakan, yaitu dalam rangka memperingati hari ulang tahun Ikstida yang ke-28.

Pada Jum’at pagi (23/03), peserta dan panitia mendengarkan kisah perjuangan Jokotole dari juru kunci yang sudah 30 tahun merawat asta jokotole tersebut.

Ke Jokotole panika ampon ngoasae Sumenep korang lebbi 45 taon se ekabdhi molae taon 1415 sampe’ taon 1460. (kiai Jokotole sudah menguasai Sumenep sekitar 45 tahun terhitung mulai tahun 1415 sampai tahun 1460),papar Yasin selaku juru kunci Asta Jokotole tersebut.

Setelah di Asta Jokotole, kegiatan dilanjutkan dengan bakti sosial yang dikemas dengan pembagian beras terhadap kaum duafa (kaum fakir miskin). Kegiatan ini mendapat respons positif dari kepala Desa Lanjuk, juru kunci, dan masyarakat sekitar.

Muhtadi, ketua panitia kegiatan ini, memaparkan bahwa tujuan diadakannya kegiatan ini tiada lain hanyalah untuk mempererat hubungan antar masyarakat sekitar dengan organisasi Ikstida. Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan antara masyarakat, melainkan juga dengan Allah SWT. Semisal tawashul di Asta Jokotole.

Kegiatan ini berakhir pada pukul 15.00 Wib yang ditutup dengan istighasah bersama dan bersih-bersih bersama di sekitar Asta Jokotole.