Senin, Maret 28, 2011

Selamat dan Sukses Para Pejuang Kami....

Bernando J. Sujibto, alumnus PP Annuqayah daerah Nirmala (1998-2005), kini mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dunia aktivisme bagi mahasiswa di kampus adalah bagian yang tak terpisahkan. Aktivisme mahasiswa di kampus menjadi salah satu bentuk aktualisasi diri yang paling mudah dan meriah. Ia ibarat ruang kesadaran sekaligus kepatutan bagi mahasiswa dalam upaya menunjukkan eksistensi diri mahasiswa sebagai agent of change, mempersiapkan diri untuk menatap dan menghadapi dinamika kehidupan riil di sosial masyarakat nantinya. Sehingga kesempatan beraktivitas secara ilmiah dan akademis di kampus, sebagai arena proses pendewasaan dan penciptaan karakter, menjadi kegandrungan mahasiswa selama ini.

Tahun 2011 (periode 2011-2012) ini adalah tahun yang sangat dan sangat spesial bagi keluarga alumni Annuqayah di Yogyakarta. Karena dunia aktivisme kampus telah dimanfaatkan sebagai arena pergerakan dan pembelajaran yang positif bagi mereka, setidaknya ditunjukkan dengan keterlibatan mereka sebagai pemegang peran penting (stakeholders), baik di jurusan, fakultas maupun di tingkat universitas! Alumni Annuqayah telah mengambil bagian penting dalam jajaran kepengurusan di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampus UIN Sunan Kalijaga. Setidaknya, ada 5 Alumni Annuqayah yang masuk dalam jajaran kepengurusan BEM baik di jurusan, fakultas, maupun di tingkat universitas. Berita ini tentu menjadi kebanggaan kami sebagai pengurus Ikatan Alumni Annuqayah Yogyakarta. Karena kader-kader kami sudah mulai beranjak menjadi aktor untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Jadi, kami pengurus IAA Yogyakarta mengucapkan selamat kepada Siswadi (Ugen), wakil Presiden Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga; Mandala Hasan Ma’ali (Ketua BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN); A. Ali Manshur Sofyan (Ketua BEM Fakultas Dakwah, UIN); Maltuf Syam (Ketua BEM Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab, UIN); Maksum Muktie (Ketua BEM Jurusan Keuangan Islam Fak. Syariah dan Hukum); dan Badrianto (Ketua BEM Jurusan KPI, Fak Dakwah, UIN). Mereka insya Allah selama periode 2011-2012 akan menjadi pemegang kendali bagi masing-masing tugas dan tanggung jawabnya.

Akhirnya, pesan kami sebagai pengurus, sebagai teman seperjuangan di tanah rantau, adalah bahwa aktivisme di kampus harus dijadikan sebuah pijakan-proses untuk memupuk kesadaran serta kepekaan terhadap dinamika sosial masyarakat yang berasaskan kepada pijakan ilmu pengetahuan, akhlak, agama, dan budaya. Teman-teman tentu tahu bahwa jabatan adalah tanggung jawab, dan sekaligus titipan. Maka tanggung jawab tersebut harus dimaksimalkan sebagai proses partisipatif agar teman-teman bisa belajar dari semua itu. Gerakan dan aktivisme di kampus adalah sebuah ruang dimana teman-teman perlu mengisinya dengan berbagai kreativitas dan karya terbaik bersama mereka yang ada di bawah, yang bukan berarti bawahan, namun mereka adalah potensi-potensi besar yang harus diberikan ruang ekspresi dan aspirasi.

Selamat berjuang dan sekaligus mengabdi teman-teman, selamat berproses, dan selamat belajar selalu… Bawa, kibarkan dan harumkan almamater kalian!

Tulisan ini dikutip dari Blog Alumni Annuqayah Yogyakarta.

Jumat, Februari 04, 2011

Tiga Jam Bersama Binhad Nurrohmat

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Keseriusan adalah modal hidup. Inilah kunci utama untuk menjadi seorang penyair. Melalui keseriusan, pintu kharisma dalam kepenyairan bakal terbuka lebar. Kita pun mudah memasukinya.

Pernyataan tersebut disampaikan dengan santai oleh penyair kenamaan Indonesia, Binhad Nurrohmat, Selasa malam (1/2) di Langgar PP Annuqayah Al-Furqaan. Usai mengisi bedah buku Dari Kiai Kampung ke NU Miring di Aula Instika siang harinya, Binhad beristirahat di kediaman K M Faizi, pengasuh PP Annuqayah Al-Furqaan yang juga dikenal sebagai penyair Indonesia.

Tidak hanya istirahat, setelah shalat Isya’ Binhad juga berbagi ilmu dan pengalaman kepada para santri mulai sekitar pukul 20.00 WIB sampai 23.00 WIB. Pada awal pembicaraan, Binhad menceritakan bagaimana asyiknya berpetualang dalam dunia kepenyairan.

Dia pernah diundang menjadi penyair tamu selama sebulan oleh pemerintah Korea. Segala kebutuhannya ditanggung penuh oleh negara tersebut. Selain itu, banyak pengalaman berharga lainnya yang dijalaninya berkat kemampuannya merajut kata-kata bermakna, puisi. Keyakinannya pun kian mengental bahwa puisi adalah segala dalam hidupnya.

Bagi Binhad, puisi ibarat sekuntum bunga. Kelopaknya adalah bahasa, sedangkan puisi tardapat dalam aromanya. Antara kelopak dengan aroma dapat dibedakan tetapi tidak dapat dilepas-pisahkan. Artinya, tugas seorang penyair ialah menciptakan keindahan dan kedalaman makna.

Lebih jauh Binhad menjelaskan, puisi merupakan jalan hidup para sufi. Jalaluddin Rumi, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Thufail, dan lainnya merupakan para sufi yang menorehkan banyak puisi. Dan, karya-karya mereka menjadi pemantik peradaban dunia. Inilah yang menjadi salah satu alasan baginya untuk selalu mendengungkan “doa”: Puisi atau Mati!

Dia punya keyakinan, segala apa pun yang selama ini dipandang tidak berharga pasti mampu diangkat derajatnya melalui puisi. Dia mencontohkan salah satu puisinya yang telah lama diterjemahkan oleh orang Australia, Berak. Bahkan pernah diminta Kompas tapi tidak diberikan olehnya. Berikut petikannya:

Berak

anusmu yang bagus
saban pagi mengangkangi mulut kakus
yang tak bosan menunggu taimu
zakarmu sekuyu gelambir leher jompo
bungkuk dan malu-malu
mengintip puing tai
terjepit bongkah coklat bokongmu

Inti dari puisi di atas, menurut Binhad ialah kesetiaan. Tiap pagi manusia pergi ke kakus untuk memunuhi hajatnya. Tapi sayang, manusia cenderung mengacuhkan keberadaan kakus karena dianggap tempat barang najis. Begitu halnya dengan “tai”. Dia jadi perbincangan erotis hanya lantaran puisi.

Menurut penyair yang kini bermukim di Jakarta itu, kerja-kerja puitik bisa dari kebiasaan sehari-hari. Dia mengistilahkannya dengan “keintiman”. Semakin kita intim dengan apa yang dilakoni kita, “kharisma puitik” bakal muncul. Kemunculannya bersumber dari kejujuran. Oleh karena itu, menurutnya, berbahasa harus jujur, tidak memain-mainkan kata.

Penjelasan Binhad mendapat apresiasi yang sangat baik dari para peserta. Itu terlihat dari kesemangatan mereka bertanya sekaligus berbagi pengalaman dalam hal puisi. Dengan santai, sigab, dan sesekali diselingi humor, begitulah Binhad memperlakukan para peserta.

Kamis, Januari 06, 2011

Belajar Desain dari Koran Bekas


Muhammad-Affan, Waka Kesiswaan MI 3 Annuqayah

GULUK-GULUK—Pada hari Selasa, 4 Januari 2011, Madrasah Ibtidaiyah 3 Annuqayah melaksanakan kegiatan rutin mingguan, Sanggar Pelangi. Sore itu mereka belajar desain pakaian.

Sebelum kegiatan dimulai, anak-anak dibagi menjadi dua kelompok. Tampak beberapa tumpukan koran bekas, bahan untuk membuat desain baju. Mereka lalu berdiskusi untuk menentukan bentuk dan model pakaian yang akan dibaut. “Bahannya pake koran bekas, gunting, dan lem,” kata tutor kegiatan tersebut.

Setelah 30 menit berlalu, desain pakaian berbahan koran bekas sudah jadi. Kemudian masing-masing dari mereka tampil untuk mengenakan sembari diapresiasi oleh temannya yang lain.

“Saya senang sekali dengan kegiatan sore ini,” kata Colik, siswi kelas 3 yang hadir sore itu. Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB tersebut dihadiri sembilan anak dan berakhir jam 17.00 WIB.

Berita ini dikutip dari Blog Madaris 3 Annuqayah.

Rabu, Januari 05, 2011

Tim Lingkungan SMA 3 Annuqayah Merambah ke Isu Air


Ruka’iyah, PPA Al-Furqaan Putri

Guluk-Guluk—Pada hari Ahad (26/12) yang lalu, Komunitas Pemulung Sampah Gaul (PSG) SMA 3 Annuqayah yang terdiri dari tiga tim yaitu tim sampah plastik, pupuk organik dan tim gula merah mengadakan workshop penyusunan program lingkungan di bidang air. Kegiatan ini difasilitasi oleh M.Mushthafa dan bertempat di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.

Acara ini berlangsung dari jam 08.00-11.15 WIB. dan dihadiri oleh siswa SMA 3 Annuqayah, bersama dua guru SMA 3 Annuqayah, yakni Mus’idah dan Syaiful Bahri.

Penyusunan program lingkungan di bidang air ini merupakan wujud pengembangan dari semangat cinta lingkungan yang akan diaplikasikan oleh siswa dan guru SMA 3 Annuqayah. Program ini merupakan pengembangan dan timnya nanti akan tergabung dengan tim PSG.

Dalam kegiatan ini, seluruh hadirin mencoba menggali aspek-aspek mendasar terkait dengan air, seperti pentingnya air bagi kehidupan, khususnya disekitar Pondok Pesantren Annuqayah, dan permasalahan yang muncul di bidang air.

Di antara permasalahan air yang teridentifikasi adalah adanya pencemaran dan penyusutan volume sumber air serta pencemaran atau penurunan kualitas air. Kedua masalah ini, di antaranya muncul akibat ketidaktahuan dan kekurangpedulian masyarakat.

Setelah menggali masalah, peserta bersama-sama mencoba membuat rumusan masalah dan tujuan proyek, yang akan menjadi dasar bagi proyek yang akan dilaksanakan.

Acara ini berjalan dengan lancar karena keaktifan dan kekompakan peserta, yang dibuktikan dalam bentuk gagasan dan pertanyaan.

Sebagai tindaklanjut dari kegiatan tersebut, akan diadakan pertemuan lanjuutan untuk menyusun bentuk program/kegiatan, waktu, dan hal-hal penting lainnya.

Berita ini dikutip dari Blog Madaris 3 Annuqayah.

Selasa, Januari 04, 2011

Kebangkitan Mahasiswa Pesantren

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Di awal tahun (1/1) ini, bertempat di gedung diniyah lantai II, santri PP Annuqayah Latee yang berstatus mahasiswa dan tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Latee (FKML) mengadakan pertemuan guna merumuskan gerakan yang bakal mewarnai organisasi yang berdiri 14 Desember 2010 itu. Mereka merajut kesadaran bahwa mahasiswa harus menjadi kekuatan sosial (sosial force) sebagaimana dielu-elukan selama ini, baik oleh mahasiswa sendiri maupun penilaian yang disematkan oleh masyarakat luas.

Visi-misi didirikannya organisasi yang semua pesertanya kuliah di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) ini ialah dalam rangka membangun solidaritas antar-mahasiswa dan memedulikan hak-hak masyarakat yang tertindas serta yang memerlukan pertolongan.

Berlandaskan pada visi-misi tersebut, gerakan yang akan dilakukan mereka pada tahun 2011 ini mengarah pada tiga hal: pemberdayaan, pendidikan, dan memperluas relasi kemahasiswaan. Semua itu telah terangkum dalam program kerja (proker) yang telah dirumuskan, baik dalam proker harian maupun di tiga divisi (divisi pendidikan dan penalaran, divisi pengembangan minat dan bakat, dan divisi humas).

Proker harian terdiri dari kunjungan ke beberapa kampus Islam, tadabbur alam, dan silaturahmi ke beberapa pesantren yang terdapat perguruan tingginya. Sedangkan proker divisi pendidikan dan penalaran lebih pada kajian-kajian filsafat, sastra, dan keagamaan. Proker divisi pengembangan bakat dan minat mengerucut pada dunia kepenulisan dan penerbitan.

Sedangkan divisi humas, prokernya mengarah pada pemberdayaan masyarakat, meliputi segala hal yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan masyarakat, menjembatani keluhan-keluhan masyarakat dengan instansi pemerintahan terkait, serta pelayanan publik berupa bakti sosial. Bakti sosial nantinya dikemas dengan membersihkan pemakaman desa dengan mengajak masyarakat setempat dan beberapa kegiatan lainnya. Selain sifatnya pemberdayaan, hal itu juga dalam rangka membangun kesadaran dalam diri masyarakat bahwa pesantren—terutama mahasiswanya—tetap peduli terhadap keberadaan mereka.

Menariknya, pertemuan yang dimulai usai Isya’ dan berakhir sekitar pukul 23.30 WIB itu diisi dengan kajian bertema “Eksistensi dan Peran Mahasiswa Pesantren”. Pembicaranya ialah koordinator departemen publikasi dan organisasi PP Annuqayah Latee.

Dalam kajian itu muncul kesadaran, mahasiswa pesantren selama ini cenderung eksklusif. Aktivitas kesehariannya tidak lebih hanya datang ke kampus untuk kemudian kembali lagi ke pesantren. Sangat jarang yang bisa mengadakan hubungan dengan masyarakat di luar pesantren. Akibatnya, jargon bahwa mahasiswa merupakan agen perubahan, bagi mahasiswa pesantren, jauh panggang dari api.

Selain itu, mahasiswa pesantren dipandang kaku dalam menyikapi persoalan. Jangankan persoalan yang melingkupi kehidupan masyarakat, persoalan komunikasi mereka dengan mahasiswa di luar pesantren masih memilukan. Dari segi kepandaian mungkin bisa diandalkan karena sudah terbiasa bergelut dengan buku atau kitab, tapi kecerdasan membaca problem masyarakat masih dalam tanda tanya besar.

Dari itu kemudian ditemukan akar masalahnya: mahasiswa pesantren cenderung eksklusif karena memang nyaris tidak ada organisasi yang mewadahi mereka. Organisasi yang mengakomudir seluruh mahasiswa pesantren diyakini kuasa melahirkan sikap inklusif dalam diri mereka. Konsekuensi logisnya, eksistensi dan peran mereka akan terasa bagi masyarakat. Muaranya, kebangkitan mahasiswa pesantren tidak dapat dielakkan lagi.

Minggu, Januari 02, 2011

LPM Instika Gelar Pelatihan Investigasi

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Sudah menjadi tradisi, tiap kali LPM Instika akan menerbitkan majalah, pelatihan investigasi merupakan rangkaian awal kegiatannya. Para pengurus, baik senior maupun yunior, lumrahnya dikarantina selama tiga hari. Keterampilan yang diperoleh selama pelatihan bakal menjadi bekal tatkala terjun ke lapangan, tepatnya ketika memburu data.

Dari hari Rabu siang sampai Jumat sore (29-31/12), bertempat di gedung baru lantai II Instika, pelatihan tersebut digelar kembali. Investigator majalah KRITIS Sumenep, M Thabri, tampil sebagai trainer. Lima belas pengurus LPM Instika masa khidmat 2010/2011 dituntut aktif selama pelatihan itu berlangsung.

Membangkitkan kesadaran serta menggenjot kepekaan dan daya kritis terhadap problematika sosial merupakan intisari dari pelatihan ini. Itulah yang membingkai data-data yang dijadikan bahan penerbitan majalah Fajar-LPM Instika selama ini. Majalah kampus yang telah terbit 16 edisi tersebut banyak yang mengapresiasi. Salah satunya Darmaningtyas, saat berkunjung ke PP Annuqayah beberapa bulan lalu. Apresiasi itu muncul karena majalah Fajar dipandang mampu menguak problem sosial yang selama ini cenderung diabaikan oleh media massa.

Jadwal pelatihan ini terbilang padat. Siang hari hanya istirahat ketika mau mandi, makan dan shalat. Malam hari dimulai dari pukul 20.00 WIB sampai 00.00 WIB. Meski begitu, para peserta tetap semangat mengikuti bimbingan M Thabri. Mereka sudah bertekad berlatih dengan serius demi masa depan bangsa.

Hari pertama, pelatihan lebih difokuskan pada teori-teori yang berkenaan dengan jurnalisme investigasi. Hari kedua, para peserta diarahkan mengkaji ulang masalah-masalah sosial yang sudah terangkum dalam majalah Fajar. Selanjutnya pada hari ketiga, pelatihan lebih difokuskan pada pembuatan outline majalah Fajar edisi ke-17.

Menurut M Thabri, setidaknya ada lima elemen yang harus dipenuhi dalam jurnalisme investigasi. Yaitu, mengungkapkan kejahatan terhadap publik atau tindakan yang merugikan orang lain; skala dari kasus yang diungkap cenderung terjadi secara luas atau sistematis (ada kaitan atau benang merah); menjawab semua pertanyaan penting yang muncul dan memetakan persoalan dengan gamblang; mendudukkan aktor-aktor yang terlibat secara lugas, didukung dengan bukti-bukti kuat; publik bisa memahami kompleksitas masalah yang dilaporkan dan bisa membuat keputusan atau perubahan berdasarkan laporan itu.

Tanpa kelima elemen tersebut, sebuah laporan panjang barangkali hanya bisa disebut sebagai laporan mendalam (in depth reporting). Dan, hal itu bukan termasuk jurnalisme investigasi melainkan sebatas penelitian saja.

Selain itu, M Thabri mengingatkan bahwa laporan investigasi sepatutnya dikembangkan dari hasil temuan-temuan sendiri, daripada mengekor hasil investigasi pihak lain. Sebab, ada perbedaan besar antara membuat liputan investigasi dengan memberitakan hasil investigasi (polisi, jaksa, atau KPK). Ada perbedaan besar antara melakukan investigasi dalam kasus pembunuhan yang diduga melibatkan Antasari Azhar dengan memberitakan hasil investigasi polisi dalam kasus tersebut.

“Kita perlu kembali meluruskan kesalahpahaman ini. Ada liputan-liputan yang sebenarnya hanya melaporkan hasil investigasi aparat hukum, lalu disebut sebagai liputan investigasi. Ini adalah kerancuan yang biasanya banyak terjadi dalam berita-berita korupsi atau kriminal,” ujarnya.

Senin, Desember 20, 2010

Pengurus PPA Lubangsa Optimalkan Belajar Santri

Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

Guluk-Guluk—Untuk mengoptimalkan santri dalam menempuh ujian semester ganjil yang baru saja mulai dilaksanakan di sekolah formal Annuqayah, pengurus PPA Lubangsa perketat pengawasan belajar santri.

Imam Abdurrahman, pengurus seksi Pendidikan, Pengajaran dan Pengembangan Keilmuan (P2PK), malam sabtu kemarin (17/12) seusai shalat Isya’ berjama’ah di Masjid Jamik Annuqayah menyampaikan beberapa poin penting terkait hal tersebut kepada santri Lubangsa.

Di antara upaya yang dilakukan adalah menonaktifkan bunyi-bunyian (musik), kegiatan rutin organisasi daerah, dan jam olahraga selama ujian semester ganjil berlangsung. Madrasah Diniyah yang biasanya dilaksanakan setelah shalat jama’ah Isya’ juga diliburkan.

Kegiatan yang masih tetap diaktifkan adalah pengajian al-Qur’an usai jama’ah shalat Maghrib dan pengajian kitab turats usai jama’ah shalat Subuh dan shalat ‘Ashar. “Tahun ini kedua kegiatan itu tidak kami nonaktifkan. Tahun kemarin kami telah mencoba menonaktifkan keduanya, tetapi santri kurang mengoptimalkan kesempatan itu untuk belajar. Misal, usai shalat Subuh santri banyak yang tidur, tidak belajar,” ucap Imam Abdurrahman.

Selain itu, pengurus P2PK juga telah membuat jadwal piket pengawasan santri setiap jam belajar berlangsung. Masing-masing blok ada 5 pengurus yang menjaga. Pengawasan itu diperketat karena dibandingkan pada tahun kemarin prestasi santri Lubangsa mengalami penurunan.

“Ketika saya masih siswa, Lubangsa menjadi yang terbaik di antara daerah yang lain. Banyak yang berprestasi, seperti juara kelas. Tapi saat ini prestasinya sudah kalah dengan santri Latee,” kata pengurus yang kini sudah semester VII itu.

Rabu, Desember 15, 2010

Markaz Bahasa Arab Annuqayah Adakan Pelatihan Mengelola Media Massa

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Ahad siang (12/12), pengurus Markaz Bahasa Arab Annuqayah (selanjutnya disebut Markaz) menggelar pelatihan mengelola media massa yang bertempat di lantai II kantor Sekretariat Bersama PP Annuqayah. Fasilitator pelatihan tersebut ialah ketua Lembaga Pers Mahasiswa Instika.

Pelatihan itu merupakan bagian dari program kerja Departemen Penerbitan dan Pers (Qismu Isdar wa Asshohafi) yang dikomandani Ahmad Nafi’uddin. Periode kepengurusan sebelumnya, pelatihan itu diprogramkan tapi tidak terlaksana karena ada kendala.

Menurut mahasiswa Instika fakultas Syari’ah jurusan Mu’amalah semester lima itu, pelatihan tersebut bertujuan mengenalkan pengelolaan media massa yang baik kepada pengurus Markaz. Selama ini, Markaz telah menerbitkan media massa berupa buletin. Tapi, lanjut Nafi’uddin, hasilnya banyak dikritik karena dipandang tidak selaras dengan aturan dalam jurnalistik.

“Markaz memiliki buletin bernama Ad-Dirasah. Buletin ini telah terbit empat kali. Hanya saja, penanganannya belum maksimal karena keterbatasan pengalaman redaksi dalam bidang penerbitan,” ujarnya kepada fasilitator sebelum pelatihan diakhiri.

Dalam kesempatan itu, struktur keredaksian dirampungkan. Secara aklamasi, pemimpin redaksi dipercayakan kepada Nafi’uddin.

Malam harinya, redaksi langsung mengadakan musyawarah persiapan penerbitan. Tema yang disetujui sementara ialah kebebasan berpikir (hurriyyatul afkar). Pemastian tema akan ditindaklanjuti pada Senin malam (13/12).

“Tema tersebut belum disetujui secara penuh karena ada beberapa redaksi yang berhalangan hadir ketika rapat penentuan tema. Besok malam (Senin malam, red) insya Allah akan siap dengan out line-nya,” paparnya saat ditemui di kantor Markaz.

Selasa, Desember 14, 2010

Nirmala Buka Pekan Kepramukaan dan Monitoring

Sumarwi, PPA Nirmala

GULUK-GULUK—Ahad (12/12) sore kemarin, Pengurus Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Nirmala membuka kegiatan rutin tengah tahun yaitu Pekan Kepramukaan dan Monitoring yang biasa dilaksanakan menjelang waktu ujian semester ganjil di sekolah formal. Pembukaan kegiatan ini dilaksanakan di Mushalla Lantai II PP Annuqayah Daerah Nirmala dan diikuti oleh seluruh santri.

Semula pembukaan akan dilangsungkan di halaman MTs 1 Annuqayah Putra dengan format pembukaan berbentuk upacara tapi kemudian dialihkan ke Mushalla Lantai II Nirmala. Pemindahan tempat pembukaan tersebut bukan tanpa alasan melainkan karena terkendala hujan.

A. Wahid, ketua panitia kegiatan ini, mengatakan bahwa PP Annuqayah Nirmala mempunyai tiga kegiatan pekan yakni Pekan Orientasi, Pekan Kepramukaan dan Monitoring, dan Pekan Evaluasi dan Haflah Akhir Sanah.

“Kegiatan Pekan Kepramukaan dan Monitoring ini dilaksanakan agar para santri sekalian lebih aktif dan efektif dalam belajar untuk menghadapi ujian semester pertama,” kata pengurus asal Desa Bakiong ini.

“Oleh karena itu saya dan teman-teman panitia berharap agar para santri berpartisipasi aktif dalam mengikuti kegiatan ini,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus PP Annuqayah Nirmala, Lutfi Imam, S.Pd.I, mengungkapkan bahwa kegiatan pekan monitoring ini akan lebih ditekankan pada proses belajar. Diharapkan santri bisa belajar dengan tenang dan nyaman karena beberapa kegiatan akan diliburkan, seperti kegiatan Madrasah Diniyah.

Sebelum mengakhiri sambutannya Lutfi Imam membuka kegiatan ini dengan pembacaan Al-Fatihah dan disambut dengan meriah oleh para santri.