Senin, Agustus 03, 2009

ISI Adakan Rapat Pleno Masa Bakti 2009-2010

Jamaluddin M Haz, PPA Lubangsa

Setelah mengadakan pelantikan pengurus baru, Ikhwanussyubban Al-Islamiyyin (ISI) melanjutkan aktivitas organisasinya dengan mengadakan rapat pleno yang membahas masalah program kerja selama satu tahun yaitu masa bakti 2009-2010.
Rapat pleno yang dilaksanakan pada hari Kamis malam (30/07/2009) itu dihadiri oleh seluruh pengurus ISI dan bertempat di salah satu ruangan MTs 1 Annuqayah Putra. Pada rapat pleno ini, seluruh seksi yang ada di organisasi ini dipanggil ke depan untuk membacakan program kerjanya yang diwakili oleh koordintor masing-masing seksi.
Rapat pleno ini dipimpin oleh tiga orang; dua orang dari pengurus harian dan satu dari dewan perwakilan anggota (DPA). Pengurus harian diwakili oleh ketua umum dan sekretaris yaitu Jauhari B dan Khabir, sedangkan dari DPA diwakili oleh ketua DPA yaitu Zubairi Anas.
Rapat ini diawali dengan pembacaan tatib (tata tertib) sidang. Setelah pembacaan tatib selesai, setiap seksi dipanggil untuk membacakan program kerjanya masing-masing. Pembacaan program kerja ini diawali oleh pengurus harian yang diwakili oleh Fauzi selaku wakil ketua umum periode 2009-2010. Setelah pembacaan program selesai, maka masuk pada seksi yang pertama yaitu seksi Pendidikan dan Penalaran (P2) yang diwakili oleh Abd. Wadud, dan selanjutnya setiap seksi mebacakan programnya masing-masing.
Dalam rapat pleno ini seluruh peserta sidang berhak memberikan tanggapan, masukan, menambah atau mengurangi program kerja yang disampaikan oleh setiap seksi, sehingga dalam rapat ini banyak terjadi tukar gagasan antara anggota rapat.
“Rapat ini diadakan demi kelancaran organisasi ke depan dan agar ISI bisa cepat melaksanakan programnya,” ungkap Jauhari B selaku Ketua Umum Ikhwanussyubban Al-Islamiyyin.
Acara ini berakhir sekitar pukul 22.00 WIB dan seluruh anggota sidang kembali ke pondoknya masing-masing.

Kamis, Juli 30, 2009

Gus Mus Hadiri Halaqah Islam dan Kebangsaan

Fahrur Rozi, Sekretariat PPA

Pesantren tidak perlu ikut-ikutan pemerintah. Karena pesantren memiliki spirit yang berbeda dalam hal misinya. Sangat lucu sekali jika spirit yang berbeda itu dikawinkan, apalagi coba digusur dari tatanan kehidupan pesantren yang sudah berlangsung lama di negara kita. Tapi, kita banyak menyaksikan peristiwa tersebut akhir-akhir ini seperti tidak terjadi apa-apa. Pesantren sudah banyak yang mengganti kurikulumnya dengan kurikulum pemerintah yang sangat tidak mendidik itu.

Demikian yang disampaikan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam acara Seminar dan Halaqah Kebangsaan dengan tema, “Islam dan Kebangsaan di Madura Pasca-Suramadu”, Sabtu (25/07), bertempat di Mushalla Sabajarin. Acara yang diprakarsai oleh tiga lembaga, yaitu Biro Pengabdian Masyarakat PP. Annuqayah, CMARS Surabaya, The Wahid Institute Jakarta, dan LibForAll Jakarta, mendatangkan dua penyaji, Gus Mus dan KH. D. Zawawi Imron.

Gus Mus dalam acara tersebut banyak menyorot tentang pesantren yang akhir-akhir ini kian menjauh dari jati dirinya. Beliau mengatakan, pesantren adalah benteng yang betul-betul benteng. Kalau benteng sudah ikut-ikutan dunia luar, maka alamat habis beberapa tahun ke depan. Indonesia akan banyak kehilangan potensi yang tidak dimiliki kelompok lain kecuali pesantren.

Tidak hanya Indonesia, dunia pun membutuhkan pesantren karena ia memiliki sikap al-tawassuth wal I’tidal. Mengenai ini, Gus Mus menceritakan tentang pengalamannya berbincang-bincang dengan seorang profesor dari Tokyo University. Sang profesor mengungkapkan kegelisahan negara Jepang tentang kondisi dunia saat ini. Ada dua ideologi yang merajai dunia dan keduanya sama-sama ekstrim, yaitu ideologi George Bush dan Usamah Bin Laden. Siapa yang tidak ikut Bush berarti teroris dan harus disikat, dan siapa yang tidak ikut Usama harus di bom. “Dilematis,” lanjut Pengasuh salah satu pesantren di Rembang ini. Sang profesor lalu mengatakan, tapi disela-sela dua ideologi yang sama-sama merusak ini, Jepang menaruh harap kepada Indonesia. Apa yang diharapkan Jepang dari Indonesia? Menurut Gus Mus adalah sikap al-tawassuth wal I’tidal tadi.

Selain Gus Mus, yang ikut menyamapaikan pemikirannya dalam acara tersebut adalah kiai dan penyair Madura dari Batang-Batang Sumenep, KH. D. Zawawi Imron. Beliau meneropong Islam dan kebangsaan dari perspektif kebudayaan. Sesuai dengan backgroud pemikiran beliau sebagai budayawan Madura. Beliau mengawali pemaparannya dengan mengritik ungkapan yang sering dipakai orang Madura untuk mengistilahkan pulang dan pergi dari Jawa ke Madura. Orang Madura kalau ingin pergi ke Jawa menyebut istilah “onggha” (naik) dan untuk datang dari Jawa menyebut “toron” (turun). Bagi penyair Celurit Emas ini, istilah tersebut kurang relevan jika terus dikembangkan saat ini. Sebab, baginya, istilah tersebut menggambarkan bahwa orang Madura lebih rendah derajatnya dengan orang Jawa.

Namun, pendapat ini diragukan oleh Gus Mus yang mendapat giliran berbicara setelah KH. D. Zawawi Imron. Beliau mengatakan, jangan-jangan bukan rendah diri tapi malah rendah hati. Sebab, kiai-kiai di pulau Jawa banyak belajar dari Kiyai Madura. Beliau mencontohkan murid-murid KH. Kholil Bangkalan yang ternyata banyak melahirkan Kiyai-Kiyai di Jawa yang sangat disegani.

Acara seminar dan Halaqah tersebut berlangsung kira-kira dari pukul 09:34-12:37 WIB. Acara yang dijadwalkan dimulai pada jam 08:00 WIB molor karena menunggu penyaji yang kebetulan masih ada di perjalanan. Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 48 undangan dari Kabupaten Sumenep dan Pamekasan, baik perorangan maupun dari lembaga-lembaga yang memiliki konsen terhadap keislaman, seperti NU, Ansor, LBM, MUI, perguruan tinggi Islam, dan beberapa lembaga pesantren.

Dalam laporan panitianya, Ahmad Zainul Hamdi, perwakilan dari CMARS, mengatakan bahwa acara ini pada awalnya hanya kontak-kontak saja melalui Facebook, lalu handphone, dan akhirnya bisa bertemu di BPM-PPA untuk membahas realisasi acara. Acara tersebut sebenarnya telah lama direncanakan. Namun, baru terealisi pada hari itu karena melihat ada momen yang tepat, yaitu dibukanya jembatan Suramadu.

Ada beberapa ketakutan, menurut Inung, sapaannya, dalam realisasi program tersebut. Salah satunya adalah khawatir disalahpahami, dijadikan tertuduh. Oleh karena itu, Gus Mus adalah orang yang tepat untuk menjadi media konsolidasi dan meluruskan kesalahpahaman tersebut.

Acara ini juga dihadiri oleh masing-masing perwakilan dari lembaga pemerakarsa. Salah satunya dari LibForAll, C. Holland Taylor, yang berkebangsaan Amerika.

Senin, Juli 27, 2009

IKSAJ Adakan Konferensi Akbar

Fandrik Hs Putra, PPA Lubangsa

Ikatan Santri Annuqayah Jawa (IKSAJ) kemarin mengadakan Konferensi Akbar yang dilangsungkan selama dua hari (24-25/07). Konferensi itu dibagi dalam tiga pertemuan, yaitu sidang pleno I yang bergulir pada jum’at siang pukul 14.00 s/d 16.30 WIB untuk mengesahkan tata tertib, sidang pleno II mengesahkan tatib pemilihan ketua Dewan Mustasyar (Dewan Kehormatan) dan ketua Dewan Syuriah (Dewan Penasehat) sekaligus pemilihannya yang berlangsung pada jum’at malam pukul 19.30 s/d 22.00 WIB, dan sidang pleno III yang isinya mengesahkan tatib pemilihan ketua dan wakil ketua Dewan Tanfidziah (Dewan Pengurus) sekaligus pemilihan umum pada malam Ahad pukul 20.00 s/d 22.20 WIB.
Acara yang ditempatkan di ruangan MTs 1 Annuqayah yang dihadiri oleh 43 peserta itu berjalan dengan tertib dan lancar, baik dari awal sampai akhir acara. "Karena kami bekerja sama dan sama kerja,” ungkap Luthfi Afif Az-Zainuri, ketua panitia Konferensi Akbar itu.
Pada sidang pleno I, ketika pengesahan tatib sidang Konferensi Akbar dibacakan, para peserta aktif dalam menyuarakan pendapatnya. Sidang pleno II adalah pengesahan dan pemilihan ketua Dewan Mustasyar dan ketua Dewan Syuriah. Suasana tak jauh beda dari sidang pleno I. Pada kesempatan itu yang terpilih sebagai ketua Dewan Mustasyar adalah Helmi A Kholili yang pada tahun lalu menjabat sebagai sekretaris Dewan Syuriah dan ketua Dewan Syuriah adalah Fandrik HS Putra yang pada tahun lalu menjabat sebagai anggota Dewan Syuriah.
“Saya ucapkan selamat pada ketua Dewan Mustasyar dan Dewan Syuriah baru yang sudah terpilih. Semoga bisa membimbing kader IKSAJ ke depan agar lebih baik dari tahun sebelumnya. Ini adalah sebuah tanggung jawab yang besar,” ungkap Abd Wasik, ketua Dewan Syuriah lama ketika serah terima jabatan kepada ketua Dewan Syuriah baru.
Sidang pleno III, pimpinan sidang sudah diambil alih oleh ketua Dewan Syuriah yang baru terpilih, Fandrik HS Putra. Sidang pleno yang terakhir ini adalah sidang pleno yang paling ditunggu-tunggu oleh semua peserta. Sebab, pada sidang inilah diadakan pemilihan ketua dan wakil ketua Dewan Tanfidzi baru yang akan memimpin IKSAJ ke depan dalam satu periode (2009-2010).
Pemilihan yang berlangsung secara Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia (Luber) itu diawali dengan pemilihan bakal calon (balon) yang akan lolos menjadi calon. Ada enam orang yang masuk keriteria pemilihan balon yaitu Umar Faruq, Rifqiyatussholihin, Khairul Umam (Sa’ong), Ustum Ali Wafa, Ulil Ansor, dan Luthfi Afif Az-Zainuri. Dan yang lolos pada pemilihan calon adalah Ulil Ansor dari Sukokerto, Jember, dan Luthfi Afif Az-Zainuri dari Antirogo, Jember .
Sebelum pemilihan dilangsungkan, panitia memberikan kesempatan kepada Juru Kampanye (Jurkam) dari masing-masing calon untuk berorasi di depan pemilih. Suasana berlangsung ramai ketika orasi berlangsung. Mereka saling mendukung para kandidat calon yang terpilih. Dan akhirnya, Luthfi Afif Az-Zainuri yang keluar sebagai ketua dengan perolehan surat suara yang mutlak yaitu 34 suara dan Ulil Ansor sebagai wakil ketua dengan 9 suara.
“Terima kasih atas semuanya yang telah memberikan kepercayaan pada saya sebagai ketua IKSAJ masa bhakti 2009-2010 M. Sebenarnya dalam hal kepemimpinan saya masih minim jam terbang dan masih perlu arahan dan bimbingan dari para senior IKSAJ. Semoga dalam kepemimpinan saya IKSAJ akan terus berkembang maju dan berjaya. Bukan hanya dari segi kuantitas melainkan kualitas,” ungkapnya ketika memberikan sambutan pada seremoni penutupan konferensi akbar itu.

Minggu, Juli 26, 2009

Lima Orda Adakan Pemilihan Pengurus Baru

Fandrik Hs Putra, PPA Lubangsa

Pasca dilantiknya pengurus PP Annuqayah Lubangsa masa bakti 2009-2010 beberapa minggu lalu, beberapa Organisasi Daerah (Orda) yang ada di Lubangsa yang berada di bawah naungan pengurus PPA Lubangsa seksi Pembinaan dan Penerangan Organisasi (P2O) mengadakan reformasi pengurus baru masa bakti 2009-2010 M.
Jum'at malam (24/07) kemarin, ada lima Orda yang sama-sama mengadakan reformasi pengurus baru yang meliputi pemilihan Dewan Syuriah/Dewan Perwakilan Anggota (DPA) dan Dewan Tanfidziyah/Badan Eksekutif Santri (BES). Lima Orda itu adalah Ikatan Santri Annuqayah Jawa (IKSAJ), Ikatan Santri Timur Daya (IKSTIDA), Ikatan Santri Beragung (IKSBAR), Persatuan Santri Lenteng (PERSAL), dan Ikatan Santri Pamekasan Sampang (IKSAPANSA) yang kesemuanya diletakkan di ruangan MTs 1 Annuqayah.
Bergulirnya pemilihan pengurus baru Orda sejatinya diletakkan setelah libur panjang bulan Ramadan. Namun tahun ini karena pihak pengurus pesantren Lubangsa mengubah jadwal pergantian pengurus pesantren baru dalam satu periode, dari acuan tahun Hijriyah menjadi tahun Masehi, maka Orda juga harus menyesuaikan diri dengan pihak pesantren agar tidak ada kesimpangsiuran terhadap akhir kepemimpinan pesantren dengan organisasi daerah.
“Memang sangat berpengaruh sekali terhadap kami. Salah satunya adalah perubahan AD/ART Orda kami tentang pemilihan ketua dan wakil ketua baru. Jika tidak diubah, konsekuensinya Orda kami tak akan sejalan dengan orda-orda yang lain,” ungkap Faisol Amin, ketua DPA Persal sekaligus salah satu pengurus P2O.
Hal itu juga diakui oleh ketua Dewan Syuriah IKSAJ, Abd Wasik. Ia menuturkan beberapa perubahan AD/ART pesantren juga mempengaruhi AD/ART Orda. "Sebagai organisasi yang berada di bawah naungan salah satu pengurus Lubangsa (P2O), seharusnya kami menyesuaikan diri dan terus berbenah,” ungkap pria asal Randu Agung, Jember itu.

Sabtu, Juli 25, 2009

Suasana Lubangsa di Awal Ajaran Baru

Ach. Fannani Fudlaly R, PPA Lubangsa

Suasana pesantren pada awal ajaran baru terlihat sangat berbeda dengan hari-hari biasanya. Banyak masyarakat yang berdatangan menambah ramai suasana pasantren, Mereka yang berasal dari berbagai daerah datang untuk memondokkan anaknya ke pesantren.
PP Annuqayah Daerah Lubangsa, misalnya, sejak beberapa minggu yang lalu sudah mulai membuka pendaftaran bagi para santri baru. Setiap hari, banyak santri baru yang datang mondok. Seperti Bapak Fathol Bari yang datang dari Gapura untuk memondokkan Muhammad Faiqi (anaknya) di Lubangsa. Dia mengaku sangat senang melihat antusiasme masyarakat yang hilir mudik datang ke pesantren untuk memondokkan putra-putrinya, karena dengan itu dia merasa masyarakat masih memandang pesantren sebagai tempat yang paling tepat untuk anaknya belajar agama.
“Saya sangat senang melihat masyarakat yang masih antusias memondokkan anaknya ke pesantren. Mungkin mereka masih memandang bahwa pesantren sebagai tempat pendidikan sosial keagamaan yang tepercaya untuk menegakkan syiar-syiar Islam, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan melaksanakan tugas-tugas kemasyarakatan,” ungkap Bapak Fathol Bari, ketika ditemui di depan Masjid Jamik Annuqayah, hari Selasa (21/07) kemarin.
Bapak dari Muhammad Faiqi itu juga menambahkan, banyaknya masyarakat yang datang ke pesantren juga harus mendapat perhatian dan pelayanan yang baik dari pihak pesantren, baik dari santri maupun pengurus. “Saya juga mengharap dari pihak pesantren dapat memberikan pelayanan yang lebih dari segi fasilitas. Seperti, jeding atau kamar mandi khusus bagi para tamu yang datang, agar mereka tidak repot-repot antre dengan santri. Karena kasihan mereka yang datang jauh-jauh tapi tidak mendapat pelayanan yang baik,” tambahnya sambil menghisap rokok yang terselip di antara jari-jarinya.

Rabu, Juli 22, 2009

Tim Pupuk Organik SMA 3 Annuqayah Masuk 15 Besar Lomba SCC British Council


Anisah, PPA Karang Jati Putri

Tidak disangka, tepat pada hari Senin tanggal 13 Juli 2009 salah satu guru pembimbing kami, Tim Pupuk Organik School Climate Challenge (SCC) Competition British Council SMA 3 Annuqayah, yaitu Bapak Mahmudi, S.Sos menerima telepon dari Siswoyo selaku salah seorang tim verifikasi Lomba SCC British Council. Pak Siswoyo memberi kabar bahwa Tim Pupuk Organik SCC SMA 3 Annuqayah masuk 15 besar dari 71 tim proyek SCC yang sudah mengirimkan laporan ke panitia. Kabar tersebut merupakan kabar yang sangat membahagiakan bagi kami, Tim Pupuk Organik, dan juga dua tim SCC SMA 3 lainnya.

Menurut informasi yang kami terima, awalnya peserta lomba SCC ini sebanyak 183 tapi yang mengirimkan laporan hanya sebanyak 71 tim. Dari 71 tim tersebut dipilih 15 besar untuk kemudian akan diseleksi lagi menjadi 3 besar lagi sebagai pemenang.

Pada hari Rabu 15 Juli 2009, kami Tim Pupuk Organik kedatangan tamu dari Yayasan Kaliandra Sejati Pasuruan sebagai tim verifikasi lomba SCC ini. Beliau adalah Bapak Siswoyo dan Bapak Mas’ud selaku tim observer SCC. Maksud kedatangan mereka ingin menilai langsung (verifikasi) kegiatan tim kami selama 3 bulan sebelumnya. Apa sesuai dengan laporan yang kami kirimkan, dan bagaimana tindak lanjutnya.

Tepat pada pukul 08.30 WIB kami memulai acara kami dalam bentuk berdialog, yang tempatnya dilaksanakan di Laboratorium IPA SMA 3 Annuqayah. Acara tersebut dihadiri 2 orang tim obsever SCC dan kepala sekolah dari masing-masing lembaga yang ada di lingkungan Madaris 3 Annunqayah sekaligus juga dihadiri oleh dua tim SCC lainnya, yakni Tim Gula Merah dan Tim Sampah Plastik.

Sebagai pembuka, pertama terlebih dahulu kami saling memperkenalkan diri agar saling mengenal satu sama lain dan juga agar dapat memperkuat tali silaturrohim. Selanjutnya, salah satu di antara Tim Pupuk Organik menjelaskan sedikit tentang kegiatan proyek kami. Di antaranya kami menjelaskan mengapa kami memilih limbah pertanian khususnya jerami untuk dijadikan sebagai pupuk organik. Sesudah kami menjelaskan, kedua tim observer SCC tersebut ingin melihat bukti-bukti kegiatan kami dan ingin melihat lahan kami yang akan dijadikan tempat percobaan dari hasil pembuatan pupuk kami.

Tapi sebelum pergi ke lahan tersebut, terlebih dahulu kami mengantarkannya ke tempat pembuatan pupuk kami dan sekaligus menunjukkan hasil dari pembuatan pupuk kami itu. Kami juga memperlihatkan bukti-bukti kegiatan kami ini dalam bentuk foto. Sesudah itu kami mengantarkannya ke lahan kami di lahan milik K.H. Ahmad Hazim, salah seorang guru SMA 3 Annuqayah. Setelah itu, kami juga mengantarkan tim observer ke Green House yang juga akan dijadikan tempat eksprimen hasil dari pupuk kami. Setelah dari Green House, kami semua langsung menuju ke ruang Laboratorium IPA kembali untuk makan-makan bersama. Kebetulan menunya hasil dari buatan Tim Gula Merah yang terdiri dari tattabun dan jubete, sedangkan minumannya terdiri dari la’ang dan poka’—semuanya berbahan gula merah.

Sekitar pukul 10.00 WIB kami berangkat ke dua daerah untuk melihat langsung hasil tanam para petani yang selama ini memakai pupuk organik. Pertama yang kami kunjungi yaitu ke Desa Bragung dulu. Kebetulan lahan tersebut milik Bapak Mahmudi sendiri selaku pembimbing kami (Tim Pupuk Organik). Selama 2 tahun ini beliau sudah memakai pupuk organik dan ternyata hasilnya lebih bagus dari pada memakai pupuk kimia.

Selanjutnya kami langsung menuju ke Desa Berekas Deje yang bertempat di dhelemnya K.H. Masyhuda, salah seorang guru SMA 3 Annuqayah. Kebetualan di sana yang selama ini memakai pupuk organik adalah Nyi. Zulfa, putri dari beliau sendiri. Setelah sampai di sana, kami masih duduk sebentar untuk menghilangkan rasa lelah kami. Kemudian kami diajak oleh beliau untuk melihat langsung hasil tanam beliau yang selama ini memakai pupuk organik dan setelah dilihat langsung ternyata hasilnya lebih bagus dari pada yang memakai pupuk kimia. Tapi sebelum beliau memakai pupuk organik, beliau memakai pupuk kimia dengan menggunakan lahan yang lain hanya untuk sebagai perbandingan, lebih bagus yang mana antara memakai pupuk kimia dengan memakai pupk organik. Dan setelah dilihat langsung ternyata hasilnya lebih bagus yang memakai pupuk organik dibandingkan dengan memakai pupuk kimia.

Kunjungan kami ke dua tempat itu bersama tim observer SCC berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Kami langsung kembali ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, ternyata tim observer SCC langsung minta izin kepada kami untuk pulang, karena mereka masih ada tugas lain yang harus diselesaikan.



Tulisan ini dikutip dari Blog Madaris 3 Annuqayah.

Minggu, Juli 19, 2009

Santri Baru Membludak, Jalan Annuqayah Macet

Fandrik Hs Putra, PPA Lubangsa

Memasuki tahun pelajaran baru 2009/2010, ratusan masyarakat dari berbagai daerah membanjari PP Annuqayah. Tujuan mereka tidak lain untuk mengantarkan putra-putri mereka untuk “menggali” ilmu di PP Annuqayah.
Dalam kitab Ta’limul Muta’allim disebutkan bahwa hari yang baik untuk berangkat mencari ilmu adalah hari Rabu dan Ahad, sehingga mereka memilih hari-hari itu untuk dijadikan momentum sebagai pemberangkatan awal mencari ilmu.
Ketika saya dan Khalilurrahman, staf Sekretariat PPA, pergi mengantarkan surat ke seluruh lembaga yang ada di lingkungan PP Annuqayah dengan mengendarai sepeda motor Honda “Revo” milik Yayasan pada hari Rabu (15/07), kami terjebak macet dua kali. Pertama, di sepanjang jalan Masjid Jamik Annuqayah sampai di PP Annuqayah Nirmala, dan kedua di jalan sepanjang Kantor Sekretariat Bersama PP Annuqayah sampai musholla PP Annuqayah Latee.
Kemacetan itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB, karena banyaknya kendaraan yang memasuki kawasan PP Annuqayah. Kemacetan yang sangat parah terjadi di sepanjang jalan Masjid Jamik Annuqayah sampai kawasan Nirmala. K Arsyad, penjaga koperasi pelajar PP Annuqayah Lubangsa, salah satu saksi mata menuturkan, kemacetan itu terjadi sekitar 20 menitan.
“Kerikil yang akan dibuat untuk perbaikan jalan di lingkungan Annuqayah yang diletakkan di sisi jalan membuat jalan semakin sempit. Apalagi ketika ada tujuh rombongan mobil dari utara (PPA Nirmala) yang akan menuju Lubangsa, kemacetan semakin tak terkendali,” ungkapnya.

Sabtu, Juli 18, 2009

Workshop Web Design BPM-PPA


Subaidi, Sekretariat PP Annuqayah

Selasa-Rabu (14-15/07), BPM-PPA (Biro Pengabdian Masyarakat Pondok Pesantren Annuqayah) mengadakan workshop web design dan sistem informasi BPM PPA. Kegiatan yang dikoordinatori oleh Ach. Sunandar ini bertempat di kantor BPM-PPA, dengan memanfaatkan 3 buah komputer yang biasa dipakai sehari-hari.
Kegiatan yang merupakan bagian program kemitraan dengan Yayasan Kehati Jakarta ini, difasilitasi oleh Tim IT dari ITS (Institute Tekhnologi Surabaya) sebagai trainer. Tim dari ITS berjumlah 6 orang, Dr. Agus Zainal Arifin, S,Kom, M.Kom, sebagai koordinator trainer, dan dibantu oleh Nurvan Indra Praja, S. Kom, Hudan Studiawan, S. Kom, Moh Yasin, Muh Nur Yasin, dan Abdul Wafi sebagai asisten trainer.
Sebenarnya, fokus kegiatan ini hanya untuk intern Pengurus BPM PPA, namun melihat materi kegiatan ini sangat bermanfaat, maka beberap orang dari luar pengurus BPM PPA pun diundang sebagai peserta. Mereka adalah Muhammad Afnan, guru TIK SMA 1 Annuqayah, Subaidi Guru TIK MTs 1 Annuqayah Putra, Abdurrahman Staf STIK Annuqayah, dan Fahmi Staf PP Annuqayah.
Pak Agus, panggilan akrab Dosen yang pernah belajar di Jepang ini, dalam sesi pembukaan mengatakan, digitalisasi khazanah kekayaan keilmuan berbasis database, merupakan cara modern untuk melestarikan dan menyebarkan manfaat kekayaan itu kepada masyarakat. Apalagi ilmu yang tersurat itu hanya 20%, sementara 80%-nya merupakan ilmu yang tersirat (tacit knowlegde). Jadi workshop kali ini adalah untuk memantik yang 80% tersebut.
Menurut penanggung jawab program ini, Ach. Sunandar, secara khusus, tujuan kegiatan ini, pertama, untuk membangun sistem informasi BPM-PPA. Sehingga informasi dan koordinasi antar elemen di BPM PPA tidak berbasis kertas lagi, melainkan terkomputerisasi. Baik dalam internal BPM sendiri, atau dengan mitra BPM lainnya. Seperti KSM (kelompok swadaya masyarakat), lsm, dan lain sebagainya. Kedua, untuk membuat web BPM PPA.
Ketika ditanya mengenai manfaat kegiatan ini, Muhammad Afnan, peserta dari SMA Annuqayah ini mengatakan, “sangat bermanfaat, apalagi ke depan, kita tidak dapat mengelak lagi dengan sistem informasi seperti ini, namun dua hari workshop tidak cukup, jika tujuannya untuk membuat website, apalagi ditambah dengan sistem databasenya itu”
“Kegiatan ini akan ada tindak lanjutnya sampai BPM PPA benar-benar merengkuh mimpinya untuk memiliki website,” demikian tandas Sunandar.

Minggu, Juli 05, 2009

Mubes Perpustakaan PPA Lubangsa Selatan Bahas AD/ART

Fahrur Rozi, PPA Lubangsa Selatan

Kamis (02/07) malam, Perpustakaan PPA Lubangsa Selatan mengadakan musyawarah besar (mubes) dengan agenda membahas Anggara Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Acara yang ditempatkan di ruang Perpustakaan itu dihadiri oleh Dewan Penasihat, mantan pustakawan, dan pustakawan yang baru. Departemen Perpustakaan dan Pengembangan Wawasan (Puspenwas) yang dijadwalkan hadir tidak tampak selama acara berlangsung.
Acara ini molor dari jadwal yang ditetapkan. Mestinya pukul 20.30 WIB. musyawarah sudah dimulai. Namun, sampai kira-kira pukul 21.15 WIB. acara baru bisa dilangsungkan. Hal itu karena Dewan Penasihat hadir tidak tepat waktu. Menurut Ach. Qusyairi Nurullah, salah satu mantan Pustakawan periode 2007-2008, musyawarah besar yang tidak dihadiri oleh penasihat itu kurang sah, karena struktur tertinggi setelah Puspenwas adalah Penasihat. “Apalagi, Puspenwas sekarang tidak bisa hadir. Kalau mereka (Penasihat, Red.) tidak hadir juga, apa masih akan dikatakan mubes?” tanyanya.
Acara dimulai dengan sambutan sekaligus penentuan ketua sidang oleh Ketua Perpustakaan PPA Lubangsa Selatan yang baru, Rudi Hartono. Rudi, panggilannya, meminta kepada peserta sidang untuk menunjuk siapa kira-kira yang pantas menjadi pemimpin sidang. Melihat tidak ada yang angkat bicara, Faizun, salah satu Dewan Penasihat, angkat tangan menawarkan diri menjadi pimpinan sidang. Hadirin pun setuju.
Niat untuk membahas AD/ART memang telah lama direncanakan namun terkatung-katung hingga tidak jelas juntrungannya. Padahal, dalam kerangka organisasi, AD/ART merupakan dasar kebijakan dalam merumuskan undang-undang yang dibuat oleh pustakawan. Maka dari itu, seorang pustakawan memang harus mengetahuinya. Ketidakseriusan dalam rencana pembahasan AD/ART sebelumnya membawa dampak yang cukup signifikan dalam diri pustakawan tahun-tahun yang lalu. Banyak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi disebabkan mereka tidak mengerti AD/ART.
Sebagian draf AD/ART yang dibuat beberapa tahun yang lalu itu sudah usang. Beberapa bagian harus melewati perombakan. Salah satunya adalah program bahasa. Program bahasa yang menjadi wadah mengembangkan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris dihapus karena sudah ada program khusus dari Departemen Pendidikan dan Peribadatan (Dikdat) PPA Lubangsa Selatan. Semata-mata untuk memfokuskan program lain agar lebih total dalam merealisasikannya. Selain dari substansi materi AD/ART, juga disempurnakan tata bahasa yang dianggap kurang benar.
Pukul 12.08 WIB. musyawarah baru usai. Namun, tidak seluruh draf AD/ART berhasil dibahas malam itu juga. Peserta musyawarah hanya berhasil menyelesaikan bagian Anggaran Dasarnya. Dan bagian Anggaran Rumah Tangga akan dilanjutkan pada keesokan malamnya.
Dalam musyawarah tersebut juga terjadi pergantian pimpinan sidang. Faizun yang awalnya memimpin sidang diganti oleh Syafiqurrahman, juga dari dewan Penasihat. Terlihat Faizun kewalahan membaca draf secara rinci.
Malam berikutnya, Jum'at (03/07), juga terjadi kemoloran waktu. Namun, peserta lebih bisa dikondisikan dari pada malam sebelumnya. Terlihat peserta lebih banyak ketimbang musyawarah pertama. Pimpinan sidang pada pembahasan ART ini masih dipegang oleh Faizun. Seperti juga pada malam pertama, terjadi pergantian pimpinan sidang. Masih tetap Syafiqurrahman yang menggantikan Faizun, namun dia hanya memimpin sebentar karena terburu-buru untuk suatu pekerjaan yang tak dapat ditinggalkan.
Masih seperti malam sebelumnya, terjadi banyak perombakan dan koreksi terhadap substansi maupun dari tata bahasa. Ada yang dipangkas bahkan ada yang dihapus. Namun, kondisi peserta tidak semeriah pada musyawarah pertama. Peserta lebih ayem dan tak banyak komentar. Hampir seluruh komentar didominasi oleh mantan Pustakawan dan Dewan Penasihat sendiri.
Pembahasan ART malam tersebut juga harus nunggak. Musyawarah hanya menghasilkan beberapa poin di awal draf ART. Hal itu karena banyaknya koreksi yang harus dilakukan terhadapnya. Pembahasan sisanya dijadwalkan nanti setelah liburan akhir tahun usai.
Ditemuai saat usai musyawarah, Faizun mengatakan, sebenarnya dia tidak berani kalau acara tersebut dikatakan musyawarah besar (mubes). Persoalannya, mubes harus dihadiri oleh beberapa elemen penting, baik dari struktur maupun dari luar struktur pengurus perpustakaan, semisal departemen Puspenwas, dan Penasihat. “Hal itu untuk mengakomodir suara dari semua pihak yang memiliki ikatan dengan perpustakaan. Kalau Puspenwas tidak hadir, kan keputusannya bisa berat sebelah,” katanya. Memang, sebagai bagian integral dari pengurus pesantren, perpustakaan harus melibatkan divisi yang membawahinya, yaitu Puspenwas. Jika mereka tidak hadir, suara-suara dari pihak pesantren tidak terakomodir.
Selain itu, menurutnya, membahas AD/ART harus dipikirkan dengan matang. Tidak bisa hanya dalam waktu yang amat singkat. Dalam hal ini, Faizun lebih suka menyebutnya sebagai sosialisasi AD/ART bagi pustakawan yang baru resmi menjabat pada periode ini.