Ummul Karimah, PPA Karang Jati Putri (Assaudah)
GULUK-GULUK—Dalam rangka Olimpiade Sains tingkat Kabupaten Sumenep, Rabu (15/4) kemarin SMA 3 Annuqayah mengirimkan 14 siswi untuk berpartisipasi dalam ajang tersebut. Sebenarnya SMA 3 berangkat tanpa persiapan yang cukup matang. Tapi karena keyakinan kuat dan ingin berpartisipasi, maka 14 siswi tersebut berangkat bersama 2 guru pendamping, yaitu Bekti Utami dan Syarifah.
Siti Nujaimah, salah satu peserta bidang kimia dari SMA 3 Annuqayah, mengatakan bahwa ia sempat grogi sebab pasti saingannya sudah memiliki persiapan matang. Namun Bekti Utami selaku pembimbing pelajaran kimia mencoba membuatnya tangguh. “Maklum, saya kan serius belajarnya baru tadi malam. Ia kan Bu?” kata Nuno, sapaan akrab Siti Nujaimatur Ruqayyah, pada guru pendampingnya yang langsung merespons dengan anggukan.
Tepat pukul 07.15 WIB rombongan SMA 3 Annuqayah tiba di STKIP Sumenep, gedung tempat mereka akan berlomba. Guru pendamping lainnya, Syarifah, mengaku kewalahan untuk mencari ruangan yang akan anak-anaknya tempati. “Terlalu banyak gedung dan kami harus berputar-putar ke sana kemari,” latanya dengan raut lesu.
Kedua pembimbing itu menebarkan senyum bangga pada anak-anaknya sebelum mereka memasuki ruangan masing-masing. “Tenang Bu, kami semua pasti bisa!” tambah Nu yang tampaknya ingin menenangkan hati kedua pembimbingnya.
Kendati pun begitu, Moh. Ya’kub, Kepala SMA 3 Annuqayah, tetap berharap bahwa pada Olimpide kali ini ada siswinya yang akan membawa prestasi untuk SMA 3 tercintanya. Beliau berharap ada generasi R. Restu Putri Wulandari dan Anik Rozanah, yang tahun lalu telah mengharumkan nama SMA 3 Annuqayah lewat prestasi yang mereka raih pada Olimpide tingkat Kabupaten Sumenep tersebut. “Untuk sekarang, saya juga berharap mereka semua bisa lulus untuk dikirim ke tingkat Jawa Timur. Saya doakan semoga berhasil,” tambah Ya’kub.
Berita ini dikutip dari www.madaris3annuqayah.blogspot.com
Jumat, April 17, 2009
Ikhwanussyubban al-Islamiyyin (ISI) Adakan Gebyar Lomba Pendidikan
Jamaluddin M Haz, PPA Lubangsa
GULUK-GULUK—Senin malam (13/4) kemarin, organisasi daerah (ORDA) Ikhwanussyubban al-Islamiyyin (ISI) mengadakan lomba pendidikan untuk seluruh aggotanya. Lomba ini dimulai pada pukul 20:30 WIB dan bertempat di kelas XI IPS II MA 1 Annuqayah Putra.
Lomba yang diikuti oleh seluruh anggota ISI itu berlangsung dengan meriah, karena lomba ini adalah yang pertama kalinya diadakan oleh organisasi tersebut. Lomba ini diadakan karena melihat seluruh anggota merasa bosan dengan acara rutin yang dilaksanakan setiap malam selasa. Format acara yang digunakan tidak pernah berubah dan selalu sama, sehingga seluruh peserta merasa jenuh dan tidak bersemangat untuk hadir ke acara rutin orda. “Saya merasa bosan dengan rutinitas yang dilaksanakan tiap malam Selasa itu, karena format acaranya sama dan tidak ada suasana barunya,” ucap Mahfud, salah seorang angota ISI.
Ikhwanussyubban al-Islamiyyin yang selama ini memang masih selalu berbenah, menyempurnakan pengelolaan administrasi dan bidang keorganisasian yang lain dengan mencoba melakukan terobosan-terobosan baru untuk memajukan organisasi ini.
“Kami akan melakukan yang terbaik untuk organisasi ini, karena walau bagaimanapun kami pengurus ISI harus bertanggung jawab atas kemajuan ISI ke depan. Salah satu yang kami lakukan untuk ISI adalah mengadakan lomba pendidikan ini,” papar Subairi, ketua umum ISI. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari bakat dan minat yang ada pada anggota ISI.
Ada beberapa lomba yang di laksanakan oleh pada kegiatan ini. Salah satunya adalah lomba membaca puisi dan pidato. Para pengurus ISI merasa senang dengan adanya lomba ini. Lomba ini berakhir sekitar pukul 23:15 WIB.
GULUK-GULUK—Senin malam (13/4) kemarin, organisasi daerah (ORDA) Ikhwanussyubban al-Islamiyyin (ISI) mengadakan lomba pendidikan untuk seluruh aggotanya. Lomba ini dimulai pada pukul 20:30 WIB dan bertempat di kelas XI IPS II MA 1 Annuqayah Putra.
Lomba yang diikuti oleh seluruh anggota ISI itu berlangsung dengan meriah, karena lomba ini adalah yang pertama kalinya diadakan oleh organisasi tersebut. Lomba ini diadakan karena melihat seluruh anggota merasa bosan dengan acara rutin yang dilaksanakan setiap malam selasa. Format acara yang digunakan tidak pernah berubah dan selalu sama, sehingga seluruh peserta merasa jenuh dan tidak bersemangat untuk hadir ke acara rutin orda. “Saya merasa bosan dengan rutinitas yang dilaksanakan tiap malam Selasa itu, karena format acaranya sama dan tidak ada suasana barunya,” ucap Mahfud, salah seorang angota ISI.
Ikhwanussyubban al-Islamiyyin yang selama ini memang masih selalu berbenah, menyempurnakan pengelolaan administrasi dan bidang keorganisasian yang lain dengan mencoba melakukan terobosan-terobosan baru untuk memajukan organisasi ini.
“Kami akan melakukan yang terbaik untuk organisasi ini, karena walau bagaimanapun kami pengurus ISI harus bertanggung jawab atas kemajuan ISI ke depan. Salah satu yang kami lakukan untuk ISI adalah mengadakan lomba pendidikan ini,” papar Subairi, ketua umum ISI. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari bakat dan minat yang ada pada anggota ISI.
Ada beberapa lomba yang di laksanakan oleh pada kegiatan ini. Salah satunya adalah lomba membaca puisi dan pidato. Para pengurus ISI merasa senang dengan adanya lomba ini. Lomba ini berakhir sekitar pukul 23:15 WIB.
Kamis, April 16, 2009
SMA 3 Annuqayah Adakan Kegiatan Observasi
Siti Nujaimatur Ruqayyah, PPA Karang Jati Putri (Assaudah)
SUMENEP—Hampir setiap tahun SMA 3 Annuqayah mengadakan kegiatan observasi. Ahad (12/4) kemarin, siswi kelas XI IPA-IPS SMA 3 Annuqayah mendatangi berbagai situs bersejarah di kabupaten Sumenep, tepatnya asta Sayyid Yusuf Talango, Asta Joko Tole di Manding, dan Asta Panaongan di Pasongsongan. Kegiatan observasi tersebut merupakan inisiatif Bapak Mahmudi, S.Sos., guru bidang studi Sejarah SMA 3 Annuqayah. Belajar di luar kelas dan mengadakan penelitian langsung dirasa lebih menyenangkan daripada terus-menerus belajar di dalam ruangan.
Ahad pagi kemarin, sekitar pukul 06.45 WIB, seluruh peserta telah berkumpul di SMA 3 Annuqayah. Siswi yang hadir berjumlah 46, yang kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Pendamping dari sekolah adalah beberapa guru, yakni Mahmudi, K. Kholis, K. Nurul Huda, Moh. Ya’kub, Bekti Utami, dan Mus’idah. Sebelum berangkat, Mus’idah, yang juga Pembina OSIS, terlebih dahulu menyampaikan peraturan yang harus dipatuhi saat kegiatan berlangsung, termasuk mengontrol perlengkapan yang harus dibawa. “Ibu harap kalian tidak akan mengecewakan kami dan menjaga nama baik sekolah ini,” paparnya.
Tiga mobil yang mereka tumpangi itu berangkat pada pukul 07.20 WIB. Asta Sayyid Yusuf adalah tujuan pertama. Untuk pergi ke sana, rombongan harus menyeberangi selat kecil terlebih dahulu. Setelah mengaji Yasin dan tahlil bersama dengan dipimpin K. Nurul Huda di Asta, para siswi menghimpun informasi sejarah di tempat tersebut dengan wawancara.
Pak Tahir, juru kunci asta Sayyid Yusuf dengan sabar menceritakan asal-usul dan sejarah asta tersebut. Mereka yang bertugas mencari informasi di sana menyampaikan berbagai pertanyaan kepada Pak Talib. Dengan tangkas Pak Talib menjawab pertanyaan- pertanyaan itu. Namun karena usianya yang semakin tua, suara beliau terdengar parau tak begitu jelas, sehingga siswi yang ikut rombongan agak kesulitan menangkap informasi darinya.
Tugas pertama selesai. Saat menyeberang kembali, ada yang naik kapal dan sebagian lagi naik perahu. Inilah kejadian yang dianggap paling mengasyikkan. Moh. Ya’kub, Kepala SMA 3 Annuqayah yang kebetulan juga naik perahu tampak sangat menikmati, turut mengambil gambar-gambar siswi yang sedang berpose. Beliau terlihat lebih akrab dengan siswi-siswinya.
Asta Joko Tole, lokasi kedua yang didatangi sangat sepi. Juru kuncinya pun tak ada di sana. Jadi setelah bersama-sama mengaji Yasin, rombongan langsung menuju tempat terakhir, asta Bujuk Panaongan.
Berbeda dengan Pak Talib, Pak Syafi’ie, juru kunci Asta Panaongan, malah sangat telaten melayani pertanyaan-pertanyaan siswi. Dia memberikan penjelasan dengan sangat terperinci, dan penuturannya pun sangat jelas.
Sebelum pulang, rombongan shalat Asar di mushalla Asta Panaongan. Setelah itu, rombongan masih menyempatkan diri menyerbu warung yang ada di sekitar Asta Panaongan, membeli rujak lontong. Sudah satu hari perut mereka tak disentuh makanan berkarbohidrat.
Saatnya pulang. Mereka segera bergegas naik mobil, bersiap-siap untuk pulang setelah para pendamping menghitung jumlah seluruh peserta. Nurul Elmi, siswi kelas XI IPA mengaku kurang puas. “Untung saja nanti masih mau mampir di pasar Ganding, jadi saya bisa beli oleh-oleh buat teman-teman di pondok,” tambah siswi yang mondok di PPA Nirmala ini.
Hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan. Jarang sekali mereka keluar lingkungan pondok, bepergian bersama teman-teman. Apalagi ini tak hanya bepergian biasa, tapi belajar.
Berita ini dikutip dari www.madaris3annuqayah.blogspot.com
SUMENEP—Hampir setiap tahun SMA 3 Annuqayah mengadakan kegiatan observasi. Ahad (12/4) kemarin, siswi kelas XI IPA-IPS SMA 3 Annuqayah mendatangi berbagai situs bersejarah di kabupaten Sumenep, tepatnya asta Sayyid Yusuf Talango, Asta Joko Tole di Manding, dan Asta Panaongan di Pasongsongan. Kegiatan observasi tersebut merupakan inisiatif Bapak Mahmudi, S.Sos., guru bidang studi Sejarah SMA 3 Annuqayah. Belajar di luar kelas dan mengadakan penelitian langsung dirasa lebih menyenangkan daripada terus-menerus belajar di dalam ruangan.
Ahad pagi kemarin, sekitar pukul 06.45 WIB, seluruh peserta telah berkumpul di SMA 3 Annuqayah. Siswi yang hadir berjumlah 46, yang kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Pendamping dari sekolah adalah beberapa guru, yakni Mahmudi, K. Kholis, K. Nurul Huda, Moh. Ya’kub, Bekti Utami, dan Mus’idah. Sebelum berangkat, Mus’idah, yang juga Pembina OSIS, terlebih dahulu menyampaikan peraturan yang harus dipatuhi saat kegiatan berlangsung, termasuk mengontrol perlengkapan yang harus dibawa. “Ibu harap kalian tidak akan mengecewakan kami dan menjaga nama baik sekolah ini,” paparnya.
Tiga mobil yang mereka tumpangi itu berangkat pada pukul 07.20 WIB. Asta Sayyid Yusuf adalah tujuan pertama. Untuk pergi ke sana, rombongan harus menyeberangi selat kecil terlebih dahulu. Setelah mengaji Yasin dan tahlil bersama dengan dipimpin K. Nurul Huda di Asta, para siswi menghimpun informasi sejarah di tempat tersebut dengan wawancara.
Pak Tahir, juru kunci asta Sayyid Yusuf dengan sabar menceritakan asal-usul dan sejarah asta tersebut. Mereka yang bertugas mencari informasi di sana menyampaikan berbagai pertanyaan kepada Pak Talib. Dengan tangkas Pak Talib menjawab pertanyaan- pertanyaan itu. Namun karena usianya yang semakin tua, suara beliau terdengar parau tak begitu jelas, sehingga siswi yang ikut rombongan agak kesulitan menangkap informasi darinya.
Tugas pertama selesai. Saat menyeberang kembali, ada yang naik kapal dan sebagian lagi naik perahu. Inilah kejadian yang dianggap paling mengasyikkan. Moh. Ya’kub, Kepala SMA 3 Annuqayah yang kebetulan juga naik perahu tampak sangat menikmati, turut mengambil gambar-gambar siswi yang sedang berpose. Beliau terlihat lebih akrab dengan siswi-siswinya.
Asta Joko Tole, lokasi kedua yang didatangi sangat sepi. Juru kuncinya pun tak ada di sana. Jadi setelah bersama-sama mengaji Yasin, rombongan langsung menuju tempat terakhir, asta Bujuk Panaongan.
Berbeda dengan Pak Talib, Pak Syafi’ie, juru kunci Asta Panaongan, malah sangat telaten melayani pertanyaan-pertanyaan siswi. Dia memberikan penjelasan dengan sangat terperinci, dan penuturannya pun sangat jelas.
Sebelum pulang, rombongan shalat Asar di mushalla Asta Panaongan. Setelah itu, rombongan masih menyempatkan diri menyerbu warung yang ada di sekitar Asta Panaongan, membeli rujak lontong. Sudah satu hari perut mereka tak disentuh makanan berkarbohidrat.
Saatnya pulang. Mereka segera bergegas naik mobil, bersiap-siap untuk pulang setelah para pendamping menghitung jumlah seluruh peserta. Nurul Elmi, siswi kelas XI IPA mengaku kurang puas. “Untung saja nanti masih mau mampir di pasar Ganding, jadi saya bisa beli oleh-oleh buat teman-teman di pondok,” tambah siswi yang mondok di PPA Nirmala ini.
Hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan. Jarang sekali mereka keluar lingkungan pondok, bepergian bersama teman-teman. Apalagi ini tak hanya bepergian biasa, tapi belajar.
Berita ini dikutip dari www.madaris3annuqayah.blogspot.com
Jumlah Pengunjung Perpustakaan Lubangsa Selatan Meningkat
Fahrur Rozi, PPA Lubangsa Selatan
GULUK-GULUK—Usia perpustakaan PPA Lubangsa Selatan kini tak bisa dibilang muda lagi. Ia sudah menginjak dua puluh empat tahun-an. Berdiri pada tahun 1985, membuat perpustakaan ini telah banyak memberikan kontribusi keilmuan terhadap kehidupan para santri. Pertama kali perpustakaan ini didirikan oleh beberapa orang yang merasa perlu membuat sebuah lembaga yang menampung kebutuhan akan buku. Koleksi buku yang ada pada waktu itu adalah milik beberapa santri yang dikumpulkan dalam satu ruangan yang sangat sempit. Namun beberapa tahun kemudian, dengan koleksi yang terus bertambah hasil dari hibah para donatur tidak tetap dan beberapa penerbit, lokasi penampungan buku diperlebar. Dua ruangan digabung menjadi satu.
Hingga kini koleksi buku yang disediakan oleh perpustakaan PPA Lubangsa Selatan sudah mencapai angka 2.700-an judul. Dengan rincian, buku ilmiah sebanyak 1.700 eksemplar, kitab sebanyak 112 eksemplar, buku sastra sebanyak 470 eksemplar, komik dan cerita silat sebanyak 230 eksemplar, majalah sebanyak 170 eksemplar, dan kamus sebanyak 24 eksemplar. Selain itu, ada sekitar 500-an buku pelajaran diniyah dan bendel majalah yang tidak didata, karena tidak ada yang menggunakan. Koleksi buku yang ada di perpustakaan mayoritas adalah sumbangan dari beberapa instansi pemerintah, perorangan (alumni), dan lembaga. Memang ada dana insentif dari pesantren, namun jumlahnya tidak bisa memenuhi kebutuhan koleksi bahan pustaka. Tiap bulan perpustakaan menerima dana sebesar Rp. 25.000,-. Dana yang minim tersebut hanya cukup untuk biaya operasional saja. Selain dana dari pesantren, pemasukan dari anggota juga lumayan bisa melengkapi kekurangan. Dari penghasilan inilah biasanya perpustakaan menambah koleksi bukunya, tentu dalam jumlah yang sangat terbatas.
Ditanya mengenai jumlah pengunjung, Abd. Wahid Muslim, Senin siang (13/4) mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir jumlahnya mengalami kemajuan. Dari data yang terhimpun melalui buku pengunjung, rata-rata dalam setiap malamnya pengunjung tidak kurang dari 15 sampai 20-an orang. Dan kalau sedang ramai-ramainya bisa mencapai 50-an orang. Ruang perpustakaan yang berukuran 6x5 m² itu menjadi sesak karena juga dipadati oleh rak buku. Para pengunjung tidak hanya terdiri dari santri Lubangsa Selatan, mereka juga datang dari beberapa daerah, baik Latee, Lubangsa, Nirmala, Kusuma Bangsa, dan beberapa daerah lainnya. Menurut sekretaris perpustakaan ini, jumlah pengunjung bertambah setelah perpustakaan mengadakan acara dialog kepustakaan dan bedah mading Gaung beberapa waktu lalu. Dalam acara tersebut memang diadakan sharing tentang perpustakaan dan pernak-pernik di dalamnya. Banyak aspirasi yang diserap perpustakaan pada acara itu yang akan menjadi pandangan perjalanan perpustakaan ke depan.
Banyaknya pengunjung itu tidak searah dengan jumlah anggota. Karena banyak juga pengunjung yang tidak mendaftar menjadi anggota. Namun, mereka yang tidak terdaftar dan diperbolehkan menggunakan jasa perpustakaan hanya khusus santri PPA Lubangsa Selatan. Menurut Hadidurrahman, salah satu pustakawan yang menemani Abd. Wahid Muslim saat itu, sampai saat ini jumlah anggota telah mencapai 267-an orang. 55 orang dari putri dan 212 orang dari putra. Jumlah anggota kebanyakan dari luar Lubangsa Selatan. Menurut Muslim, indikasinya karena mereka tidak dekat dengan perpustakaan. Tidak seperti santri Lubangsa Selatan yang bisa tiap malam berkunjung ke perpustakaan.
Khusus untuk anggota putri, sistem yang dipakai adalah sistem tertutup. Mereka hanya bisa menulis judul buku yang akan dipinjam melalui katalog yang telah dipersiapkan oleh perpustakaan. Catatan itu diserahkan kepada pustakawan putri yang telah ditunjuk oleh pustakawan putra. Lalu pustakawan putri itu memberikannya kepada pustakawan putra untuk dicarikan buku yang dibutuhkan oleh anggota putri. Sistem ini memang cenderung merepotkan. Namun apa boleh buat sistem itu telah berjalan dan seakan tak bisa dirombak lagi.
Dari data statistik perpustakaan, jumlah buku yang dibaca memang mengalami peningkatan dalam tiga bulan terakhir. Bulan Januari jumlah buku yang dibaca sebanyak 28 buku, bulan Februari sebanyak 702 buku, dan bulan Maret sebanyak 716 buku. Data pada bulan April masih belum selesai, karena perekapan biasanya dilakukan pada akhir bulan. Namun menurut Muslim dirinya yakin data yang akan diperoleh nanti akan melebihi angka yang tertera dalam rekap bulan-bulan sebelumnya.
GULUK-GULUK—Usia perpustakaan PPA Lubangsa Selatan kini tak bisa dibilang muda lagi. Ia sudah menginjak dua puluh empat tahun-an. Berdiri pada tahun 1985, membuat perpustakaan ini telah banyak memberikan kontribusi keilmuan terhadap kehidupan para santri. Pertama kali perpustakaan ini didirikan oleh beberapa orang yang merasa perlu membuat sebuah lembaga yang menampung kebutuhan akan buku. Koleksi buku yang ada pada waktu itu adalah milik beberapa santri yang dikumpulkan dalam satu ruangan yang sangat sempit. Namun beberapa tahun kemudian, dengan koleksi yang terus bertambah hasil dari hibah para donatur tidak tetap dan beberapa penerbit, lokasi penampungan buku diperlebar. Dua ruangan digabung menjadi satu.
Hingga kini koleksi buku yang disediakan oleh perpustakaan PPA Lubangsa Selatan sudah mencapai angka 2.700-an judul. Dengan rincian, buku ilmiah sebanyak 1.700 eksemplar, kitab sebanyak 112 eksemplar, buku sastra sebanyak 470 eksemplar, komik dan cerita silat sebanyak 230 eksemplar, majalah sebanyak 170 eksemplar, dan kamus sebanyak 24 eksemplar. Selain itu, ada sekitar 500-an buku pelajaran diniyah dan bendel majalah yang tidak didata, karena tidak ada yang menggunakan. Koleksi buku yang ada di perpustakaan mayoritas adalah sumbangan dari beberapa instansi pemerintah, perorangan (alumni), dan lembaga. Memang ada dana insentif dari pesantren, namun jumlahnya tidak bisa memenuhi kebutuhan koleksi bahan pustaka. Tiap bulan perpustakaan menerima dana sebesar Rp. 25.000,-. Dana yang minim tersebut hanya cukup untuk biaya operasional saja. Selain dana dari pesantren, pemasukan dari anggota juga lumayan bisa melengkapi kekurangan. Dari penghasilan inilah biasanya perpustakaan menambah koleksi bukunya, tentu dalam jumlah yang sangat terbatas.
Ditanya mengenai jumlah pengunjung, Abd. Wahid Muslim, Senin siang (13/4) mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir jumlahnya mengalami kemajuan. Dari data yang terhimpun melalui buku pengunjung, rata-rata dalam setiap malamnya pengunjung tidak kurang dari 15 sampai 20-an orang. Dan kalau sedang ramai-ramainya bisa mencapai 50-an orang. Ruang perpustakaan yang berukuran 6x5 m² itu menjadi sesak karena juga dipadati oleh rak buku. Para pengunjung tidak hanya terdiri dari santri Lubangsa Selatan, mereka juga datang dari beberapa daerah, baik Latee, Lubangsa, Nirmala, Kusuma Bangsa, dan beberapa daerah lainnya. Menurut sekretaris perpustakaan ini, jumlah pengunjung bertambah setelah perpustakaan mengadakan acara dialog kepustakaan dan bedah mading Gaung beberapa waktu lalu. Dalam acara tersebut memang diadakan sharing tentang perpustakaan dan pernak-pernik di dalamnya. Banyak aspirasi yang diserap perpustakaan pada acara itu yang akan menjadi pandangan perjalanan perpustakaan ke depan.
Banyaknya pengunjung itu tidak searah dengan jumlah anggota. Karena banyak juga pengunjung yang tidak mendaftar menjadi anggota. Namun, mereka yang tidak terdaftar dan diperbolehkan menggunakan jasa perpustakaan hanya khusus santri PPA Lubangsa Selatan. Menurut Hadidurrahman, salah satu pustakawan yang menemani Abd. Wahid Muslim saat itu, sampai saat ini jumlah anggota telah mencapai 267-an orang. 55 orang dari putri dan 212 orang dari putra. Jumlah anggota kebanyakan dari luar Lubangsa Selatan. Menurut Muslim, indikasinya karena mereka tidak dekat dengan perpustakaan. Tidak seperti santri Lubangsa Selatan yang bisa tiap malam berkunjung ke perpustakaan.
Khusus untuk anggota putri, sistem yang dipakai adalah sistem tertutup. Mereka hanya bisa menulis judul buku yang akan dipinjam melalui katalog yang telah dipersiapkan oleh perpustakaan. Catatan itu diserahkan kepada pustakawan putri yang telah ditunjuk oleh pustakawan putra. Lalu pustakawan putri itu memberikannya kepada pustakawan putra untuk dicarikan buku yang dibutuhkan oleh anggota putri. Sistem ini memang cenderung merepotkan. Namun apa boleh buat sistem itu telah berjalan dan seakan tak bisa dirombak lagi.
Dari data statistik perpustakaan, jumlah buku yang dibaca memang mengalami peningkatan dalam tiga bulan terakhir. Bulan Januari jumlah buku yang dibaca sebanyak 28 buku, bulan Februari sebanyak 702 buku, dan bulan Maret sebanyak 716 buku. Data pada bulan April masih belum selesai, karena perekapan biasanya dilakukan pada akhir bulan. Namun menurut Muslim dirinya yakin data yang akan diperoleh nanti akan melebihi angka yang tertera dalam rekap bulan-bulan sebelumnya.
Jelang UN, Kelas XII MA Tahfidh Adakan Belajar Kelompok
Ahmad Al Matin, PPA Latee
GULUK-GULUK—Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) untuk SMA dan yang sederajat tinggal menghitung hari. Senin (20/4) mendatang, ujian yang cukup “menakutkan” itu akan dilaksanakan di seluruh penjuru Indonesia. Bermacam-macam persiapan yang dilakukan oleh para siswa menghadapi ujian itu, mulai dari mengadakan Bimbingan Khusus, isthigasah, dan belajar kelompok.
Tak mau ketinggalan dari hal itu, siswa kelas XII MA Tahfidh Annuqayah juga ikut menyibukkan diri menyambut UN. Setelah satu bulan yang lalu mereka memulai istighasah yang diadakan setiap malam, kini giliran belajar kelompok yang mereka laksanakan. Belajar kelompok yang diikuti oleh dua puluh siswa tersebut mereka mulai sejak Ahad malam (12/4) kemarin dan akan dilaksanakan setiap malam sampai UN berakhir.
“Belajar kelompok ini adalah salah satu persiapan kami untuk menghadapi UN,” kata Ahmad Faruqi salah satu siswa kelas XII MA Tahfidh yang mengusulkan adanya belajar kelompok. Dia juga menambahkan bahwa belajar kelompok tersebut bukanlah rencana seluruh siswa kelas XII. “Belajar kelompok ini hanya inisiatif kami yang dari Latee saja, makanya anggotanya cuma dua puluh orang,” lanjut Faruqi.
Belajar kelompok ini disambut dengan gembira oleh semua siswa. Tak terkecuali Ahmad Mukhlas, ketua Kelas XII. Dia mengungkapkan bahwa dia merasa bangga dengan antusiasme teman-temannya menyambut datangnya UN. “Saya bangga. Ini menunjukkan bahwa teman-teman siap menyonsong datangnya UN,” cetus Muhklas.
Tidak jauh dengan pendapat Muklas, Ahmad Baiquni mengatakan bahwa belajar kelompok tersebut akan mematangkan persiapan dia dan teman-temannya. “Belajar kelompok ini untuk mengingat kembali pelajaran yang telah kami serap di kelas khususnya yang menjadi materi UN,” kata Baiquni. Dia juga berharap niat mereka mengadakan belajar kelompok ini bukan untuk UN saja. “Tapi dengan niat lillahita’ala dan untuk mencari ilmu Allah,” lanjutnya.
GULUK-GULUK—Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) untuk SMA dan yang sederajat tinggal menghitung hari. Senin (20/4) mendatang, ujian yang cukup “menakutkan” itu akan dilaksanakan di seluruh penjuru Indonesia. Bermacam-macam persiapan yang dilakukan oleh para siswa menghadapi ujian itu, mulai dari mengadakan Bimbingan Khusus, isthigasah, dan belajar kelompok.
Tak mau ketinggalan dari hal itu, siswa kelas XII MA Tahfidh Annuqayah juga ikut menyibukkan diri menyambut UN. Setelah satu bulan yang lalu mereka memulai istighasah yang diadakan setiap malam, kini giliran belajar kelompok yang mereka laksanakan. Belajar kelompok yang diikuti oleh dua puluh siswa tersebut mereka mulai sejak Ahad malam (12/4) kemarin dan akan dilaksanakan setiap malam sampai UN berakhir.
“Belajar kelompok ini adalah salah satu persiapan kami untuk menghadapi UN,” kata Ahmad Faruqi salah satu siswa kelas XII MA Tahfidh yang mengusulkan adanya belajar kelompok. Dia juga menambahkan bahwa belajar kelompok tersebut bukanlah rencana seluruh siswa kelas XII. “Belajar kelompok ini hanya inisiatif kami yang dari Latee saja, makanya anggotanya cuma dua puluh orang,” lanjut Faruqi.
Belajar kelompok ini disambut dengan gembira oleh semua siswa. Tak terkecuali Ahmad Mukhlas, ketua Kelas XII. Dia mengungkapkan bahwa dia merasa bangga dengan antusiasme teman-temannya menyambut datangnya UN. “Saya bangga. Ini menunjukkan bahwa teman-teman siap menyonsong datangnya UN,” cetus Muhklas.
Tidak jauh dengan pendapat Muklas, Ahmad Baiquni mengatakan bahwa belajar kelompok tersebut akan mematangkan persiapan dia dan teman-temannya. “Belajar kelompok ini untuk mengingat kembali pelajaran yang telah kami serap di kelas khususnya yang menjadi materi UN,” kata Baiquni. Dia juga berharap niat mereka mengadakan belajar kelompok ini bukan untuk UN saja. “Tapi dengan niat lillahita’ala dan untuk mencari ilmu Allah,” lanjutnya.
Rabu, April 15, 2009
LS Creative, Makin Hari Makin Kreatif
Fahrur Rozi, PPA. Lubangsa Selatan
GULUK-GULUK—“Tuhan tidak melempar dadu,” begitulah kata Albert Einstein sekitar satu abad silam. Kata-kata tersebut tak lekang dimangsa waktu hingga bisa bertahan sampai kini. Ada banyak faktor yang mendukungnya. Salah satunya, karena kata-kata itu menemukan relevansinya dari waktu ke waktu dengan realitas kehidupan manusia. Tuhan tidak akan memberikan kesuksesan kepada mereka yang memang tidak pernah bekerja keras. Maka dalam bertindak, Tuhan tidak melempar dadu, Dia selalu menyesuaikan dengan kadar manusia itu berusaha.
Demikianlah barangkali yang menjadi spirit perjalanan kehidupan LS Creative, sebuah usaha percetakan yang berada di kompleks PPA Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep. Khalis Munif yang ditemui Ahad pagi (12/4), mengisahkan bahwa percetakan ini memiliki sejarah panjang yang berliku dan penuh tatangan. LS Creative berdiri pada tahun 2001 dengan nama pertamakali Loc-Lac Komputer yang dikomandani oleh Haryono Isman dan A. Khalish Munif. Pada masa itu Loc-Lac Komputer hanya menerima jasa rental dan sekali-kali kursus komputer. Tempatnya pun masih menggunakan ruang pondok Blok B (sekarang Blok C).
Perjalanan rental ini kian hari makin bersinar. Tahun 2002-an mulai mengembangkan sayap garapannya, yaitu usaha sablon yang diberi nama Karya Nurani. Masa ini, Loc-Lac Komputer dan sablon Karya Nurani dikucuri dana oleh Madrasah Diniyah PPA Lubangsa Sealatan. Sejak saat itu keduanya pindah tempat. Karya Nurani pindah ke Madrasah Diniyah dan Loc-Lac Komputer pindah ke kantor Diniyah. Dengan usaha sablon tersebut, kahadiran Karya Nurani dan Loc-Lac Komputer mendapat tempat di hati konsumen. Perlahan-lahan mulai banyak pemesan, baik sablon kartu nama, stiker, spanduk, kaos, dan lainnya. Juga menggarap pesanan stempel. Masa tersebut juga ada penambahan karyawan, yaitu Moh. Ashim Rasyad.
Karena permintaan yang banyak, laba yang diterima usaha ini juga semakin meningkat. Para karyawan mulai membuat ancang-ancang baru untuk memperluas jangkauan jasa yang ditawarkan. Mulailah membuat percetakan sederhana, editing foto, cetak foto, dan lay out Buletin. Komputer yang disediakan pada waktu itu hanya satu unit dengan satu printer warna. Melalui komputer ini foto dan buletin dicetak. Lagi-lagi sambutan luar biasa dihadiahkan oleh konsumen.
Kira-kira pada tahun 2003, rental dan sablon itu berubah nama menjadi LS Creative. Awal tahun 2007, dengan mengajak pesantren, LS Creative membuat rental baru yang representatif dengan tiga unit komputer. Ruangan desain dan ruangan rental berbeda. Ruangan rental berada di ujung timur blok A, sementara ruang desain dan sablon tetap seperti semula. Namun, beberapa waktu kemudian tempat sablon harus pindah karena Madrasah Diniyah akan ditempati oleh SMK Annuqayah. Dengan berbagai cara, terpaksa ruang rental ditempati oleh ruang sablonm, sehingga menjadi cukup sesak, karena ukuran ruangan itu hanya berkisar 4x2 m².
Baru pada akhir tahun 2007 dirintislah ruangan yang lebih bagus. Tidak lagi numpang seperti sebelumnya. Ruangan itu dibangun di bagian barat blok B. Ukurannya tidak terlalu besar, kira-kira 3x3 m². Biaya untuk pembangunan markas baru ini murni hasil usaha LS Creative. Secara keseluruhan, biaya yang harus dikeluarkan berjumlah 4 juta-an.
Di tempat yang baru ini LS Ceative makin berkembang. Segmen garapannya makin jauh. Tidak hanya soal cetak-mencetak, tapi juga sudah bisa menservis komputer yang rusak, menerima pesanan pembelian komputer, dan membangun network di luar Annuqayah. Menurut Khalis, nama panggilannya, sekarang LS Creative sudah memiliki jaringan di Surabaya yang siap menerima pesanan cetakan dari LS Creative. Selain itu fasilitas yang dimiliki LS Creatif juga semakin berkembang. Kini ia sudah memiliki 2 Laptop, 3 unit komputer, 2 Scanner dan 1 mesin laminating.
Karyawan yang bekerja saat ini berjumlah 4 orang. Jumlah itu ternyata tak sebanding dengan jumlah pesanan yang diterima oleh LS Creative. Dengan karyawan yang terbatas itu otomatis memaksa mereka harus kerja ekstra. Bahkan tidak jarang mereka bekerja sampai pagi. Memang ada waktu istirahat, yaitu hari Ahad. Tapi itu hanya berlaku untuk pengguna rental saja. Kalau masih ada pesanan, karyawan LS Creative harus rela membuang jauh-jauh waktu istirahat itu. Itu barangkali didukung oleh luasnya jangkauan konsumen yang diterima oleh LS Creative. Menurut Khalis, jangkauan konsumennya sudah tersebar di Sumenep, Pamekasan, dan Sampang.
Ditanya tentang penghasilan yang diterima LS Creative, Hariyadi, salah satu karyawan yang menemani Khalis Munif pagi itu mengatakan, tiap bulannya, kalau sedang sepi, berkisar 1-2 juta dan kalau sedang ramai bisa mencapai 3-4 juta, sebagaimana juga dilansir oleh Radar Madura (24/3). Penghasilan itu akan dibagi-bagi kepada beberapa lembaga yang menaungi LS Creative. 60% untuk fasilitas percetakan dan 40% untuk Pesantren, Madrasah Diniyah, dan karyawan. Rincian dari 40% itu masing-masing 60% untuk Pesantren dan Madrasah Diniyah dan 40% untuk karyawan. Sementara laba kotor terakhir dari hitungan bulan Januari-Maret berjumlah 12 Juta. Penghasilan yang terbanyak adalah dari pesanan kartu identitas dan pesanan stiker pada pemilihan legislatif beberapa waktu lalu. Bahkan, pada musim kampanye itu LS Creative meraup pengahsilan tertinggi dari penghasilan sebelumnya.
Januari lalu LS Creative membuat acara yang sangat heboh. Yaitu diskon besar-besaran hingga 70%. Acara tersebut dihelat untuk memperingati hari ulang tahun LS Creative yang ke-7 dan juga sebagai media promosi kepada konsumen. Program itu mendapat sambutan meriah, sehingga menurut Hariyadi, selepas acara itu seluruh karyawan harus istirahat total untuk memulihkan tenaga yang tersedot ketika program ulang tahun berlangsung.
Saat ini karyawan LS Creative juga mulai memberikan pelatihan-pelatihan yang berkait-erat dengan dunia desain grafis. Selain itu juga membuat agen-agen di beberapa daerah yang ada di PP Annuqayah dan beberapa daerah di luar Annuqayah. Kabar terakhir menyebutkan bahwa salah satu dari karyawan LS Creative mendapat tawaran bekerja di sebuah percetakan di Surabaya. Di sinilah kiranya motto LS Creative menemukan titik pembenaran: “LS Creative, Makin Hari Makin Kreatif”.
GULUK-GULUK—“Tuhan tidak melempar dadu,” begitulah kata Albert Einstein sekitar satu abad silam. Kata-kata tersebut tak lekang dimangsa waktu hingga bisa bertahan sampai kini. Ada banyak faktor yang mendukungnya. Salah satunya, karena kata-kata itu menemukan relevansinya dari waktu ke waktu dengan realitas kehidupan manusia. Tuhan tidak akan memberikan kesuksesan kepada mereka yang memang tidak pernah bekerja keras. Maka dalam bertindak, Tuhan tidak melempar dadu, Dia selalu menyesuaikan dengan kadar manusia itu berusaha.Demikianlah barangkali yang menjadi spirit perjalanan kehidupan LS Creative, sebuah usaha percetakan yang berada di kompleks PPA Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep. Khalis Munif yang ditemui Ahad pagi (12/4), mengisahkan bahwa percetakan ini memiliki sejarah panjang yang berliku dan penuh tatangan. LS Creative berdiri pada tahun 2001 dengan nama pertamakali Loc-Lac Komputer yang dikomandani oleh Haryono Isman dan A. Khalish Munif. Pada masa itu Loc-Lac Komputer hanya menerima jasa rental dan sekali-kali kursus komputer. Tempatnya pun masih menggunakan ruang pondok Blok B (sekarang Blok C).
Perjalanan rental ini kian hari makin bersinar. Tahun 2002-an mulai mengembangkan sayap garapannya, yaitu usaha sablon yang diberi nama Karya Nurani. Masa ini, Loc-Lac Komputer dan sablon Karya Nurani dikucuri dana oleh Madrasah Diniyah PPA Lubangsa Sealatan. Sejak saat itu keduanya pindah tempat. Karya Nurani pindah ke Madrasah Diniyah dan Loc-Lac Komputer pindah ke kantor Diniyah. Dengan usaha sablon tersebut, kahadiran Karya Nurani dan Loc-Lac Komputer mendapat tempat di hati konsumen. Perlahan-lahan mulai banyak pemesan, baik sablon kartu nama, stiker, spanduk, kaos, dan lainnya. Juga menggarap pesanan stempel. Masa tersebut juga ada penambahan karyawan, yaitu Moh. Ashim Rasyad.
Karena permintaan yang banyak, laba yang diterima usaha ini juga semakin meningkat. Para karyawan mulai membuat ancang-ancang baru untuk memperluas jangkauan jasa yang ditawarkan. Mulailah membuat percetakan sederhana, editing foto, cetak foto, dan lay out Buletin. Komputer yang disediakan pada waktu itu hanya satu unit dengan satu printer warna. Melalui komputer ini foto dan buletin dicetak. Lagi-lagi sambutan luar biasa dihadiahkan oleh konsumen.
Kira-kira pada tahun 2003, rental dan sablon itu berubah nama menjadi LS Creative. Awal tahun 2007, dengan mengajak pesantren, LS Creative membuat rental baru yang representatif dengan tiga unit komputer. Ruangan desain dan ruangan rental berbeda. Ruangan rental berada di ujung timur blok A, sementara ruang desain dan sablon tetap seperti semula. Namun, beberapa waktu kemudian tempat sablon harus pindah karena Madrasah Diniyah akan ditempati oleh SMK Annuqayah. Dengan berbagai cara, terpaksa ruang rental ditempati oleh ruang sablonm, sehingga menjadi cukup sesak, karena ukuran ruangan itu hanya berkisar 4x2 m².
Baru pada akhir tahun 2007 dirintislah ruangan yang lebih bagus. Tidak lagi numpang seperti sebelumnya. Ruangan itu dibangun di bagian barat blok B. Ukurannya tidak terlalu besar, kira-kira 3x3 m². Biaya untuk pembangunan markas baru ini murni hasil usaha LS Creative. Secara keseluruhan, biaya yang harus dikeluarkan berjumlah 4 juta-an.
Di tempat yang baru ini LS Ceative makin berkembang. Segmen garapannya makin jauh. Tidak hanya soal cetak-mencetak, tapi juga sudah bisa menservis komputer yang rusak, menerima pesanan pembelian komputer, dan membangun network di luar Annuqayah. Menurut Khalis, nama panggilannya, sekarang LS Creative sudah memiliki jaringan di Surabaya yang siap menerima pesanan cetakan dari LS Creative. Selain itu fasilitas yang dimiliki LS Creatif juga semakin berkembang. Kini ia sudah memiliki 2 Laptop, 3 unit komputer, 2 Scanner dan 1 mesin laminating.
Karyawan yang bekerja saat ini berjumlah 4 orang. Jumlah itu ternyata tak sebanding dengan jumlah pesanan yang diterima oleh LS Creative. Dengan karyawan yang terbatas itu otomatis memaksa mereka harus kerja ekstra. Bahkan tidak jarang mereka bekerja sampai pagi. Memang ada waktu istirahat, yaitu hari Ahad. Tapi itu hanya berlaku untuk pengguna rental saja. Kalau masih ada pesanan, karyawan LS Creative harus rela membuang jauh-jauh waktu istirahat itu. Itu barangkali didukung oleh luasnya jangkauan konsumen yang diterima oleh LS Creative. Menurut Khalis, jangkauan konsumennya sudah tersebar di Sumenep, Pamekasan, dan Sampang.Ditanya tentang penghasilan yang diterima LS Creative, Hariyadi, salah satu karyawan yang menemani Khalis Munif pagi itu mengatakan, tiap bulannya, kalau sedang sepi, berkisar 1-2 juta dan kalau sedang ramai bisa mencapai 3-4 juta, sebagaimana juga dilansir oleh Radar Madura (24/3). Penghasilan itu akan dibagi-bagi kepada beberapa lembaga yang menaungi LS Creative. 60% untuk fasilitas percetakan dan 40% untuk Pesantren, Madrasah Diniyah, dan karyawan. Rincian dari 40% itu masing-masing 60% untuk Pesantren dan Madrasah Diniyah dan 40% untuk karyawan. Sementara laba kotor terakhir dari hitungan bulan Januari-Maret berjumlah 12 Juta. Penghasilan yang terbanyak adalah dari pesanan kartu identitas dan pesanan stiker pada pemilihan legislatif beberapa waktu lalu. Bahkan, pada musim kampanye itu LS Creative meraup pengahsilan tertinggi dari penghasilan sebelumnya.
Januari lalu LS Creative membuat acara yang sangat heboh. Yaitu diskon besar-besaran hingga 70%. Acara tersebut dihelat untuk memperingati hari ulang tahun LS Creative yang ke-7 dan juga sebagai media promosi kepada konsumen. Program itu mendapat sambutan meriah, sehingga menurut Hariyadi, selepas acara itu seluruh karyawan harus istirahat total untuk memulihkan tenaga yang tersedot ketika program ulang tahun berlangsung.
Saat ini karyawan LS Creative juga mulai memberikan pelatihan-pelatihan yang berkait-erat dengan dunia desain grafis. Selain itu juga membuat agen-agen di beberapa daerah yang ada di PP Annuqayah dan beberapa daerah di luar Annuqayah. Kabar terakhir menyebutkan bahwa salah satu dari karyawan LS Creative mendapat tawaran bekerja di sebuah percetakan di Surabaya. Di sinilah kiranya motto LS Creative menemukan titik pembenaran: “LS Creative, Makin Hari Makin Kreatif”.
Label:
Feature,
PPA Lubangsa Selatan
Guru Ekonomi Ikuti Pelatihan Subject Content
M Mushthafa, Sekretariat PPA
GULUK-GULUK—Setelah guru-guru pemegang materi Matematika dan Geografi tingkat SLTA di lingkungan PP Annuqayah awal Maret lalu mengikuti pelatihan subject content, Sabtu hingga Senin (11-13/4) kemarin giliran guru-guru Ekonomi yang mengikuti kegiatan serupa. Pelatihan subject content ini juga diselenggarakan dalam kerangka kegiatan Program Peningkatan Mutu Madrasah, kerja sama Pondok Pesantren Annuqayah dengan Sampoerna Foundation Jakarta.
Acara ini diselenggarakan di Balai Kesehatan Pondok Pesantren Annuqayah (BKPPA) dan diikuti oleh sembilan guru pemegang materi ekonomi. Sebenarnya guru-guru Ekonomi tingkat SLTA di Annuqayah semuanya berjumlah 18 orang, tetapi hanya sembilan orang yang bisa mengikuti kegiatan ini.
Pelatih pada kegiatan ini adalah H. Abdul Haris, pelatih dari Klub Guru Surabaya. Peserta memberikan apresiasi positif atas kegiatan pelatihan ini. “Pak Haris tidak saja menguasai materi Ekonomi, tetapi juga bisa menghubungkannya dengan konteks kekinian. Maklum, beliau juga praktisi,” tutur Asnawi Susanto, guru Ekonomi SMA Annuqayah. Asnawi juga menambahkan, bahwa Haris mampu menghubungkan materi Ekonomi dengan bidang atau wawasan keagamaan.
Saat pembukaan acara ini dilangsungkan pada hari Sabtu, K.H. A. Hanif Hasan menyatakan bahwa forum semacam ini sangat positif bagi para guru yang memang haus ilmu. “Apalagi ilmu Ekonomi berkembang sangat pesat. Termasuk tema Ekonomi Syari’ah yang belakangan ini marak dibicarakan,” tambahnya. Kiai Hanif berharap guru-guru yang mengikuti kegiatan ini dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya.
Selama tiga hari di Annuqayah, Haris juga sempat berbincang lepas dengan pengurus Annuqayah Business Center, untuk berbagi masalah pengelolaan unit usaha di pesantren.
GULUK-GULUK—Setelah guru-guru pemegang materi Matematika dan Geografi tingkat SLTA di lingkungan PP Annuqayah awal Maret lalu mengikuti pelatihan subject content, Sabtu hingga Senin (11-13/4) kemarin giliran guru-guru Ekonomi yang mengikuti kegiatan serupa. Pelatihan subject content ini juga diselenggarakan dalam kerangka kegiatan Program Peningkatan Mutu Madrasah, kerja sama Pondok Pesantren Annuqayah dengan Sampoerna Foundation Jakarta.
Acara ini diselenggarakan di Balai Kesehatan Pondok Pesantren Annuqayah (BKPPA) dan diikuti oleh sembilan guru pemegang materi ekonomi. Sebenarnya guru-guru Ekonomi tingkat SLTA di Annuqayah semuanya berjumlah 18 orang, tetapi hanya sembilan orang yang bisa mengikuti kegiatan ini.
Pelatih pada kegiatan ini adalah H. Abdul Haris, pelatih dari Klub Guru Surabaya. Peserta memberikan apresiasi positif atas kegiatan pelatihan ini. “Pak Haris tidak saja menguasai materi Ekonomi, tetapi juga bisa menghubungkannya dengan konteks kekinian. Maklum, beliau juga praktisi,” tutur Asnawi Susanto, guru Ekonomi SMA Annuqayah. Asnawi juga menambahkan, bahwa Haris mampu menghubungkan materi Ekonomi dengan bidang atau wawasan keagamaan.
Saat pembukaan acara ini dilangsungkan pada hari Sabtu, K.H. A. Hanif Hasan menyatakan bahwa forum semacam ini sangat positif bagi para guru yang memang haus ilmu. “Apalagi ilmu Ekonomi berkembang sangat pesat. Termasuk tema Ekonomi Syari’ah yang belakangan ini marak dibicarakan,” tambahnya. Kiai Hanif berharap guru-guru yang mengikuti kegiatan ini dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya.
Selama tiga hari di Annuqayah, Haris juga sempat berbincang lepas dengan pengurus Annuqayah Business Center, untuk berbagi masalah pengelolaan unit usaha di pesantren.
Selasa, April 14, 2009
Nonton Bareng Laskar Pelangi di Halaman STIKA Putri
Khatim Maulina, PPA Lubangsa Putri
GULUK-GULUK—Mungkin ini adalah peristiwa yang jarang terjadi di bumi Annuqayah. Pada Kamis (9/4) malam kemarin, di halaman STIKA Putri diadakan acara nonton bersama. Film yang ditonton adalah sebuah film yang memang sudah ditunggu-tunggu banyak warga Annuqayah, yakni film Laskar Pelangi. Acara nonton bersama tersebut digelar setelah jam solat Isya’. Yang hadir hampir seluruh santri dari berbagai komplek dan beberapa guru Annuqayah.
Sebelum acara nonton bersama dimulai, para santri disempatkan menyaksikan proses di balik layar film Laskar Pelangi. Para santri merasa terpana dengan apa yang mereka lihat. Layar yang digunakan ketika itu adalah layar lebar dari Djarum Pamekasan berukuran lebar sekitar 4 meter. Tak heran pada malam itu, halaman STIKA putri dipadati oleh seluruh santri.
Berbagai tanggapan yang diungkapkan oleh beberapa santri mengenai film Laskar Pelangi. Sebagian dari mereka mengungkapkan bahwa film Laskar Pelangi adalah film yang terbaik untuk masalah pendidikan.
Ada juga yang menanggapi bahwa Laskar Pelangi lebih hebat dari novelnya. Film Laskar Pelangi yang berdurasi dua jam itu cukup membuat para santri merasa antusias. Tawa ria dan linangan air mata menyelingi mereka ketika itu.
GULUK-GULUK—Mungkin ini adalah peristiwa yang jarang terjadi di bumi Annuqayah. Pada Kamis (9/4) malam kemarin, di halaman STIKA Putri diadakan acara nonton bersama. Film yang ditonton adalah sebuah film yang memang sudah ditunggu-tunggu banyak warga Annuqayah, yakni film Laskar Pelangi. Acara nonton bersama tersebut digelar setelah jam solat Isya’. Yang hadir hampir seluruh santri dari berbagai komplek dan beberapa guru Annuqayah.
Sebelum acara nonton bersama dimulai, para santri disempatkan menyaksikan proses di balik layar film Laskar Pelangi. Para santri merasa terpana dengan apa yang mereka lihat. Layar yang digunakan ketika itu adalah layar lebar dari Djarum Pamekasan berukuran lebar sekitar 4 meter. Tak heran pada malam itu, halaman STIKA putri dipadati oleh seluruh santri.
Berbagai tanggapan yang diungkapkan oleh beberapa santri mengenai film Laskar Pelangi. Sebagian dari mereka mengungkapkan bahwa film Laskar Pelangi adalah film yang terbaik untuk masalah pendidikan.
Ada juga yang menanggapi bahwa Laskar Pelangi lebih hebat dari novelnya. Film Laskar Pelangi yang berdurasi dua jam itu cukup membuat para santri merasa antusias. Tawa ria dan linangan air mata menyelingi mereka ketika itu.
Magang Calon Pustakawan Perpustakaan Lubangsa Selatan
Fahrur Rozi, PPA Lubangsa Selatan
GULUK-GULUK—Memasuki detik-detik terakhir kepemimpinan Mohammad Hauqil, internal perpustakaan PPA Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, mulai mempersiapkan diri merekrut pengurus baru. Proses perekrutan ini dimulai Februari kemarin yang menghasilkan sebelas orang masuk dalam daftar nominasi. Kesebelas orang tersebut masing-masing tiga orang masih duduk di bangku MTs dan delapan orang lainnya mendiami bangku MA/sederajat. Sekadar informasi, di perpustakaan Lubangsa Selatan memang menetapkan peraturan bahwa pengurus perpustakaan harus dari siswa MTs dan MA/sederajat. Mahasiswa tidak mendapat jatah. Kesebelas orang tersebut telah menjalani seleksi dengan berbagai pertimbangan dan musyawarah yang matang. Pengurus perpustakaan menetapkan beberapa kriteria sebagai barometer untuk mengukur kemampuan calon pustakawan. Sebelum benar-benar menjalani kehidupan sebagai pustakawan, mereka juga terlebih dahulu harus melewati proses magang.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini proses perekrutan benar-benar sangat diperhatikan. Alasannya, menurut Mohammad Faizun, penasihat Perpustakaan Lubangsa Selatan, yang ditemui Jum’at (10/4), hal itu karena melihat hasil seleksi sebelumnya yang out put-nya banyak yang tidak akrab dengan dunia buku. Dia sangat menyayangkan bilamana perpustakaan sebesar Lubangsa Selatan harus dikelola oleh orang-orang yang tidak banyak tahu tentang dunia perbukuan.
Melihat realitas demikian, Faizun, panggilan sehari-harinya, merasa perlu merombak sistem perekrutan. Barangkali dari sinilah awal mula kesalahan itu terjadi. Kalau dulu seluruh santri yang masuk seleksi rekrutmen sudah pasti menjadi pengurus perpustakaan, tapi sekarang lain cerita. Mereka ditempa dulu dengan berbagai materi dan pelatihan-pelatihan. “Jika mereka tidak lolos dalam beberapa materi yang kami berikan, kami tidak akan mengangkat mereka,” katanya.
Proses magang berlangsung selama sebulan lebih, mulai 16 Februari-26 Maret 2009. Acara-acara yang dilaksanakan dalam kegiatan tersebut meliputi, latihan menulis, presentasi, diskusi, jaga perpustakaan, dan sosialisasi kepustakaan. Latihan menulis, presentasi, dan diskusi dilangsungkan pada setiap hari Senin dan Kamis pagi, selepas jamaah Subuh. Di dalam latihan menulis ini peserta magang diharuskan menulis karangan secara bebas dan dalam bentuk esai. Tema yang diangkat berkisar dunia buku dan perpustakaan. Setelah menulis mereka bergantian mempresentasikan hasil tulisannya. Tulisan itu kemudian didiskusikan bersama letak kelebihan dan kekurangannya.
Sementara tugas menjaga perpustakaan dilakukan tiap malam, kecuali malam Jum’at. Mereka bergantian menjaga sambil didampingi oleh pengurus perpustakaan. Pustakawan selain melayani kebutuhan pengambil jasa perpustakaan, juga melayani pertanyaan dan keluhan yang dilontarkan oleh peserta magang ketika jam buka berlangsung.
Selain itu, sosialisasi diberikan untuk mengetahui secara menyeluruh tentang perpustakaan PPA Lubangsa Selatan. Sosialisasi ini akan disampaikan oleh ketua dan koordinator masing-masing divisi yang ada di perpustakaan. Divisi-divisi itu meliputi Pengadaan, Inventaris, Pelayanan, Jildanrana (Penjilidan dan Prasarana). Sosialisasi ini akan diberikan setelah semua program sebelumnya terlaksana atau mendekati masa-masa penentuan magang resmi menjadi pustakawan.
Kini semua program itu sudah dilaksanakan. Hanya menunggu waktu untuk menentukan kapan acara penentuan itu akan dilaksanakan. Ditanya kapan waktunya, Abd. Wahid Muslim, sekretaris perpustakaan, yang dikonfirmasi Sabtu (11/4), menyatakan, dirinya tidak bisa memastikan kapan acara penentuan itu akan dilangsungkan. “Kami merasa kesulitan karena Ketua dan Wakilnya dalam beberapa hari terakhir ini tidak ada di sini,” jelasnya. Muslim, nama panggilannya, juga memaklumi karena kebanyakan pengurus harian terdiri dari siswa kelas tiga MA/sederajat. Mereka disibukkan dengan persiapan Ujian Nasional (UN) yang hanya menunggu beberapa hari saja. “Mungkin selepas UN nanti acara tersebut baru akan kelar,” katanya mengakhiri perbincangan.
Moh. Kayyiz, salah satu yang masuk nominasi magang, Ahad (12/4) kemarin mengatakan tetang perasaannya jika dirinya tereleminasi dari pengurus perpustakaan PPA Lubangsa Selatan. Ia merasa kecewa karena baginya perpustakaan merupakan tempat yang didamba-dambakan selama ini. “Saya kecewa karena peluang untuk membaca buku semakin sempit,” lanjutnya. Remaja yang masih duduk di bangku kelas tiga Madrasah Tsanawiyah ini memang sudah akrab dengan buku semenjak baru masuk di MTs. Ia juga termasuk calon pustakawan termuda tahun 2009 ini. Umurnya baru menginjak 14 tahun.
GULUK-GULUK—Memasuki detik-detik terakhir kepemimpinan Mohammad Hauqil, internal perpustakaan PPA Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, mulai mempersiapkan diri merekrut pengurus baru. Proses perekrutan ini dimulai Februari kemarin yang menghasilkan sebelas orang masuk dalam daftar nominasi. Kesebelas orang tersebut masing-masing tiga orang masih duduk di bangku MTs dan delapan orang lainnya mendiami bangku MA/sederajat. Sekadar informasi, di perpustakaan Lubangsa Selatan memang menetapkan peraturan bahwa pengurus perpustakaan harus dari siswa MTs dan MA/sederajat. Mahasiswa tidak mendapat jatah. Kesebelas orang tersebut telah menjalani seleksi dengan berbagai pertimbangan dan musyawarah yang matang. Pengurus perpustakaan menetapkan beberapa kriteria sebagai barometer untuk mengukur kemampuan calon pustakawan. Sebelum benar-benar menjalani kehidupan sebagai pustakawan, mereka juga terlebih dahulu harus melewati proses magang.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini proses perekrutan benar-benar sangat diperhatikan. Alasannya, menurut Mohammad Faizun, penasihat Perpustakaan Lubangsa Selatan, yang ditemui Jum’at (10/4), hal itu karena melihat hasil seleksi sebelumnya yang out put-nya banyak yang tidak akrab dengan dunia buku. Dia sangat menyayangkan bilamana perpustakaan sebesar Lubangsa Selatan harus dikelola oleh orang-orang yang tidak banyak tahu tentang dunia perbukuan.
Melihat realitas demikian, Faizun, panggilan sehari-harinya, merasa perlu merombak sistem perekrutan. Barangkali dari sinilah awal mula kesalahan itu terjadi. Kalau dulu seluruh santri yang masuk seleksi rekrutmen sudah pasti menjadi pengurus perpustakaan, tapi sekarang lain cerita. Mereka ditempa dulu dengan berbagai materi dan pelatihan-pelatihan. “Jika mereka tidak lolos dalam beberapa materi yang kami berikan, kami tidak akan mengangkat mereka,” katanya.
Proses magang berlangsung selama sebulan lebih, mulai 16 Februari-26 Maret 2009. Acara-acara yang dilaksanakan dalam kegiatan tersebut meliputi, latihan menulis, presentasi, diskusi, jaga perpustakaan, dan sosialisasi kepustakaan. Latihan menulis, presentasi, dan diskusi dilangsungkan pada setiap hari Senin dan Kamis pagi, selepas jamaah Subuh. Di dalam latihan menulis ini peserta magang diharuskan menulis karangan secara bebas dan dalam bentuk esai. Tema yang diangkat berkisar dunia buku dan perpustakaan. Setelah menulis mereka bergantian mempresentasikan hasil tulisannya. Tulisan itu kemudian didiskusikan bersama letak kelebihan dan kekurangannya.
Sementara tugas menjaga perpustakaan dilakukan tiap malam, kecuali malam Jum’at. Mereka bergantian menjaga sambil didampingi oleh pengurus perpustakaan. Pustakawan selain melayani kebutuhan pengambil jasa perpustakaan, juga melayani pertanyaan dan keluhan yang dilontarkan oleh peserta magang ketika jam buka berlangsung.
Selain itu, sosialisasi diberikan untuk mengetahui secara menyeluruh tentang perpustakaan PPA Lubangsa Selatan. Sosialisasi ini akan disampaikan oleh ketua dan koordinator masing-masing divisi yang ada di perpustakaan. Divisi-divisi itu meliputi Pengadaan, Inventaris, Pelayanan, Jildanrana (Penjilidan dan Prasarana). Sosialisasi ini akan diberikan setelah semua program sebelumnya terlaksana atau mendekati masa-masa penentuan magang resmi menjadi pustakawan.
Kini semua program itu sudah dilaksanakan. Hanya menunggu waktu untuk menentukan kapan acara penentuan itu akan dilaksanakan. Ditanya kapan waktunya, Abd. Wahid Muslim, sekretaris perpustakaan, yang dikonfirmasi Sabtu (11/4), menyatakan, dirinya tidak bisa memastikan kapan acara penentuan itu akan dilangsungkan. “Kami merasa kesulitan karena Ketua dan Wakilnya dalam beberapa hari terakhir ini tidak ada di sini,” jelasnya. Muslim, nama panggilannya, juga memaklumi karena kebanyakan pengurus harian terdiri dari siswa kelas tiga MA/sederajat. Mereka disibukkan dengan persiapan Ujian Nasional (UN) yang hanya menunggu beberapa hari saja. “Mungkin selepas UN nanti acara tersebut baru akan kelar,” katanya mengakhiri perbincangan.
Moh. Kayyiz, salah satu yang masuk nominasi magang, Ahad (12/4) kemarin mengatakan tetang perasaannya jika dirinya tereleminasi dari pengurus perpustakaan PPA Lubangsa Selatan. Ia merasa kecewa karena baginya perpustakaan merupakan tempat yang didamba-dambakan selama ini. “Saya kecewa karena peluang untuk membaca buku semakin sempit,” lanjutnya. Remaja yang masih duduk di bangku kelas tiga Madrasah Tsanawiyah ini memang sudah akrab dengan buku semenjak baru masuk di MTs. Ia juga termasuk calon pustakawan termuda tahun 2009 ini. Umurnya baru menginjak 14 tahun.
Langganan:
Postingan (Atom)