Minggu, November 25, 2012

Pesantren Krisis Air


K. M. Faizi, Pengasuh PP Annuqayah al-Furqaan

Hingga pertengahan Nopember 2012, hanya 2 kali hujan turun di daerah Guluk-Guluk, Sumenep. Masyarakat Guluk-Guluk, khususnya kampung Daleman dan sekitarnya, mulai khawatir karena debit air di Sumber Daleman sangat minim. Cuaca tetap panas di siang maupun di malam hari.

Menjelang akhir bulan, saat ini, hujan telah turun hampir setiap hari. Akan tetapi, debit air di Sumber Daleman belum bertambah juga, masih seperti hari-hari sebelumnya; kotor, hijau gelap, nyaris tidak dapat digunakan. Beberapa sumur yang ada di sekitar mata air itupun semakin dalam. Pompa air elektrik tidak mampu menyedot air lebih melimpah daripada sebelumnya.

Kesulitan mendapatkan air bersih bukan hanya menjadi masalah masyarakat, melainkan juga menjadi masalah serius bagi santri dan pesantren. Kebutuhan air masyarakat sekitar masih tercukupi oleh sumur yang ada di rumah mereka. Pesantren membutuhkan debit air lebih banyak mengingat akan dipergunakan oleh santri yang relatif banyak. Masalah ini terjadi di Pondok Pesantren Annuqayah, khususnya di daerah Alfurqan Sabajarin.

Selama ini, para santri Alfurqan Sabajarin menggunakan air yang berasal dari mata air Sumber Daleman, kira-kira berjarak 100 meter dari pesantren. Air yang disedot dengan pompa elektrik itu tidak mampu lagi terkirim ke pondok. Puncaknya kesulitan ini terjadi pada hari Rabu malam Kamis, yakni ketika para santri hendak memperingati Malam 1 Muharram 1434 H (14 Nopember 2012). Para santri kesulitan untuk ambil air wudu’ karena air di jeding sudah habis sama sekali. Rencana doa bersama dan mengaji Alquran yang semula akan dilaksanakan seusai shalat Maghrib pun tertunda hingga sesudah shalat Isya’. Para santri bersepakat sewa mobil bak terbuka untuk mandi dan ambil air wudu’ di Sumber Payung, Ganding, yang jaraknya berkisar 2,5 kilometer dari pesantren. Adapun ongkos untuk sewa mobil ini diperoleh dari hasil patungan 35 orang santri.

Sejatinya, di pondok terdapat sumur yang airnya dapat digunakan untuk kepentingan santri, sekurang-kurangnya untuk bersuci. Namun, belakangan, sumur yang letaknya persis di samping kiri mushalla pondok dan telah berusia puluhan tahun itu juga semakin dangkal. Airnya baru dapat disedot setelah dibiarkan bertambah debitnya beberapa hari terlebih dulu.

Melihat situasi seperti ini, Khotim, seksi peribadatan Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Alfurqan Sabajarin, mempunyai gagasan untuk meminjam kendaraan pick up milik salah seorang wali santri. Kendaraan inilah yang akhirnya digunakan santri untuk pergi mencari air di sumber atau mataair terdekat.

“Jika banyak santri yang ikut, maka mobil tidak dapat mengangkut air. Namun, jika hanya sebagian orang saja, maka kami dapat mengambil air dari sumber dan membawanya di bak belakang mobil Carry ini dengan wadah terpal,” begitu dia menjelaskan.

"Jeding bergerak"
“Orang tua wali santri Miftahul Ulum selaku pemilik kendaraan telah memberikan izin atas penggunaan kendaraan tersebut sepanjang untuk kepentingan pesantren, bahkan hingga pada waktu yang tidak ditentukan,” imbuh Khotim. “Kami menarik sumbangan uang bensin setiap kali pergi mencari air,” tambahnya begitu ditanya menyangkut danaoperasional mobil. “Biasanya seribu rupiah sudah cukup untuk beberapa kali angkut air.”

Sumber Daleman biasanya akan leddu’ (istilah masyarakat setempat untuk menyebut muncratnya mataair kembali dalam debit besar) setelah hujan turun setiap hari selama kurang lebih sebulan. Ketika air sumber Daleman telah melimpah, kebutuhan air untuk masyarakat dan santri di Annuqayah pun akan tercukupi. Para santri berharap, curah hujan akan segera menyemburkan mataair Sumber Daleman kembali yang saat ini merupakan situasi terburuknya.

Selasa, Juli 31, 2012

Kronologi Kasus Ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah yang Dianggap Tidak Memenuhi Persyaratan Penerimaan Brigadir Brimob dan Dalmas Tahun 2012 oleh Polres Sumenep




1.      Pada tanggal 17 Juni 2012 pengurus Annuqayah telah menerima laporan dari pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah yang menuturkan bahwa Moh. Azhari, salah seorang lulusannya, dinyatakan tidak lulus dalam seleksi penerimaan brigadir brimob dan dalmas di Polres Sumenep. Penyebab ketidaklulusannya adalah karena ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah yang digunakan Moh. Azhari dalam pendaftaran itu oleh Polres Sumenep dianggap sebagai ijazah pesantren yang tidak diakui atau tidak memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan Polres.
2.      Anggapan tersebut didasarkan pada ketentuan persyaratan lain yang tercantum dalam brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas Polres Sumenep yang berbunyi:
1. Berijazah serendah-rendahnya SMU/MA jurusan IPA/IPS atau SMK yang sesuai dengan kompetensi dengan tugas pokok Polri (kecuali Tata Busana dan Tata Kecantikan) dgn nilai rata-rata HUAN (Hasil Ujian Akhir Nasional) min 6,25 (enam koma dua lima) untuk IPA dan 6,5 (enam koma lima) untuk jurusan IPS dan SMK;
2. Khusus untuk lulusan pondok pesantren sesuai dengan Surat Departemen Pendidikan Nasional yang diakui setara dengan SMU dan diperbolehkan mendaftar menjadi anggota Polri antara lain: a. Ponpes Gontor Ponorogo; b. Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep; c. Ponpes Mathabul Ulum Sumenep; d. Ponpes Modern Al-Barokah Patianrowo Nganjuk;
3.      Pada tanggal 18 Juni 2012 pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah mendatangi Polres Sumenep yang kemudian diterima oleh Kepala Bagian Sumber Daya (Kabag Sumda), Kompol Rahwini WTP, untuk menanyakan langsung penyebab ditolaknya ijazah Moh. Azhari tersebut. Kabag Sumda menjelaskan bahwa penolakan ijazah Azhari sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.
4.      Pada tanggal 20 Juni 2012, pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah melapor kejadian ini kepada Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.
5.      Pada tanggal 21 Juni 2012, jajaran Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep meminta klarifikasi kepada Kapolres Sumenep. Kapolres Sumenep, AKBP Dirin, melalui Wakapolres, Mohammad Fadil, menyatakan bahwa Polres Sumenep hanya menjalankan tugas dari Polda, dan penolakan ijazah Moh. Azhari sesuai dengan isi telegram Polda No. Tel ST/1361/VI/2012/ RO SDM tanggal 05/06/2012.
6.      Pada tanggal 5 Juli 2012, pengurus Yayasan Annuqayah, pengurus Pondok Pesantren Annuqayah, dan unsur Annuqayah yang lain serta pengurus LKP2M mendatangi DPRD Sumenep untuk menyampaikan pernyataan sikap dan permohonan agar DPRD Sumenep memfasilitasi pertemuan pihak Annuqayah dengan Polres Sumenep yang juga dihadiri oleh Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Dinas Pendidikan Sumenep, dan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep. Pernyataan sikap Annuqayah tersebut disampaikan juga dalam bentuk surat kepada DPRD Sumenep dengan tembusan kepada Polres Sumenep, Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Dinas Pendidikan Sumenep, dan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.
7.      Pada tanggal 16 Juli 2012, Annuqayah mengirimkan surat kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep yang berisi permohonan klarifikasi agar Kementerian Agama Kabupaten Sumenep memberikan penjelasan kepada Polres Sumenep bahwa ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah adalah sah dan diakui oleh sistem pendidikan nasional dan seharusnya diterima sebagai salah satu persyaratan yang sah dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas Polres Sumenep.
8.      Pada hari Senin tanggal 16 Juli 2012, sekitar pukul 16.00 WIB, Wakapolres Sumenep, Kabag Sumda Polres Sumenep, Kasat Intel Polres Sumenep, didampingi oleh Kapolsek Guluk-Guluk menemui K.H. Ahmad Basyir AS didampingi dengan K. M. Ainul Yaqin (Ketua Pelaksana Pengurus PPA), K.H. Muhammad Husnan A. Nafi’ (Bendahara Pengurus PPA), K. M. Mushthafa (Sekretaris Pengurus PPA), K. Moh. Naqib Hasan (Kepala Biro Madaris PP Annuqayah) dan K. A. Syauqi Ishom (Kepala Biro Keamanan PP Annuqayah). Wakapolres membawa surat dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Timur nomor B/4953/VI/2012/Ro SDM tertanggal 27 Juni 2012 yang menjelaskan masalah penerimaan brigadir brimob/dalmas. Surat itu berisi penjelasan tentang poin (2) persyaratan lain dalam brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas, yakni pengakuan terhadap beberapa lembaga pendidikan pesantren yang dianggap setara dengan SMA. Padahal ijazah yang diajukan oleh Moh. Azhari adalah ijazah Madrasah Aliyah/MA (yakni Madrasah Aliyah 2 Annuqayah), dan bukan ijazah pesantren, sehingga surat tersebut tidak relevan.
9.      Pada hari Jum’at tanggal 20 Juli 2012, Annuqayah menghadiri undangan DPRD Sumenep dalam rangka dengar pendapat bersama komisi A, komisi D, Kapolres Sumenep, Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep, Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, jajaran Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep, untuk membahas masalah tersebut. Dalam dengar pendapat tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep dan Kepala Dinas Pendidikan Sumenep menegaskan keabsahan status ijazah dan lembaga Madrasah Aliyah 2 Annuqayah sebagai lembaga pendidikan formal yang diakui negara. Kapolres Sumenep secara pribadi menyalahkan Dinas Pendidikan Sumenep yang dianggap telah memberikan masukan menyesatkan dengan menyetujui keputusan untuk menilai ijazah Moh. Azhari sebagai tidak memenuhi persyaratan administrasi. Namun pihak Annuqayah bersikukuh bahwa persoalan ini adalah persoalan internal Polres Sumenep dengan Dinas Pendidikan Sumenep sebagai bagian dari panitia penerimaan.
Dalam acara ini, Annuqayah menyampaikan pernyataan sikap yang di antaranya berisi tuntutan permohonan maaf dari institusi Polres Sumenep.
10.  Pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012, jajaran Polres Sumenep mendatangi Masyayikh Annuqayah yang diterima oleh K.H. Ahmad Basyir AS dan K.H. A. Warits Ilyas dan juga didampingi oleh pengurus Pondok Pesantren Annuqayah. Pada pertemuan ini, Kapolres menyampaikan permohonan maaf secara pribadi. Sedang untuk permohonan maaf secara institusi, Kapolres masih mau konsultasi kepada Kapolda Jawa Timur yang dijadwalkan pada hari Senin, 23 Juli 2012.
11.  Pada hari Senin tanggal 23 Juli 2012, sejumlah pengurus Annuqayah, yakni Drs. H. Taufiqurrahman (Ketua Yayasan Annuqayah), K. M. Ainul Yaqin (Ketua Pelaksana Pengurus PPA), K.H. Muhammad Husnan A. Nafi’ (Bendahara Pengurus PPA), K. M. Mushthafa (Sekretaris Pengurus PPA), K. M. Zamiel El-Muttaqien (Kepala Biro Pengabdian Masyarakat PP Annuqayah) dan K. A. Syauqi Ishom (Kepala Biro Keamanan PP Annuqayah), ke Surabaya untuk dua agenda. Pertama, menyampaikan surat permohonan dengar pendapat ke DPRD Jawa Timur. Kedua, menghadiri acara di Polda Jawa Timur untuk memastikan rencana Kapolres Sumenep meminta izin soal permohonan maaf secara institusi sebagaimana dituntut oleh Annuqayah.
Berdasarkan koordinasi sebelumnya dengan salah seorang anggota DPRD Jawa Timur, dengar pendapat bersama komisi E DPRD Jawa Timur rencananya dijadwalkan pukul 10.00 WIB. Namun, ternyata pada waktu itu ada Rapat Paripurna sehingga rombongan dari Annuqayah hanya sempat berbincang secara informal dengan beberapa anggota DPRD Jawa Timur, khususnya dari Fraksi Kebangkitan Bangsa. Jadwal dengar pendapat disepakati akan diatur setelah pertemuan di Polda.
Rombongan Annuqayah ke Polda Jawa Timur didampingi oleh 5 orang anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Jawa Timur, termasuk di dalamnya Drs. H. Fuad Mahsuni (Wakil Ketua Komisi E). Dalam acara di Polda Jawa Timur yang dimulai pukul 14.10 WIB dan dipimpin oleh Kepala Biro SDM  Kombes Pol Drs. Syaiful Zachri, M.M., disimpulkan bahwa memang ada kesalahan penafsiran oleh Panitia Pembantu Penerimaan Brigadir Brimob dan Dalmas di Polres Sumenep dalam memahami persyaratan yang tercantum di dalam brosur. Untuk itu, Polres Sumenep dijadwalkan akan segera memenuhi tuntutan Annuqayah, yakni permintaan maaf secara terbuka dari institusi Polres. Acara di Polda Jawa Timur ini dihadiri oleh Kompol Rahwini WTP (Kabak Sumda Polres Sumenep), Dr. Harun, M.Si., M.M. (Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur), Drs. H. Mahfud Shodar, M.Ag. (Kepala Mapenda Kementerian Agama Jawa Timur), Drs. H. Idham Chalid (Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep), Mery Margareta (Dinas Pendidikan Sumenep), dan jajaran Polda Jawa Timur.
12.  Pada hari Selasa, 24 Juli 2012, bertempat di Mapolres Sumenep, diadakan jumpa pers untuk pernyataan maaf Polres Sumenep memenuhi tuntutan Annuqayah terkait kesalahan tafsir Polres Sumenep dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas 2012 sehingga ijazah MA 2 Annuqayah dianggap tidak memenuhi persyaratan administrasi. Pernyataan maaf dibacakan langsung oleh Kapolres Sumenep, AKBP Dirin. Undangan dari pihak Annuqayah yang ikut hadir dalam acara ini adalah: Drs. H Taufiqurrahman (Ketua Yayasan Annuqayah), K.H. Muhammad Husnan A. Nafi' (Bendahara Pengurus PP Annuqayah), K. M. Mushthafa (Sekretaris Pengurus PP Annuqayah), K. Ahmad Syauqi Ishom (Kepala Biro Keamanan PP Annuqayah), dan K. Ahmad Faris Hamdi (Kepala Biro Bahasa PP Annuqayah). Acara ini dihadiri pula oleh K.H. Imam Hasyim (Ketua DPRD Sumenep), Drs. H. Idham Chalid, M.H. (Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep), dan Drs. H. Ataur Rahman, S.Pd., M.Si. (Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Sumenep). Acara ini diikuti oleh puluhan wartawan dari media massa cetak dan elektronik.

Selasa, Juli 24, 2012

Polres Sumenep Minta Maaf Kepada Annuqayah

Pada hari Selasa, 24 Juli 2012, bertempat di Mapolres Sumenep, telah diadakan jumpa pers untuk pernyataan maaf Polres Sumenep memenuhi tuntutan Annuqayah terkait kesalahan tafsir Polres Sumenep dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas 2012 sehingga ijazah MA 2 Annuqayah dianggap tidak memenuhi persyaratan administrasi.

Undangan dari pihak Annuqayah yang ikut hadir dalam acara ini adalah: Drs. H Taufiqurrahman (Ketua Yayasan Annuqayah), K.H. Muhammad Husnan A. Nafi' (Bendahara Pengurus PP Annuqayah), K. M. Mushthafa (Sekretaris Pengurus PP Annuqayah), K. Ahmad Syauqi Ishom (Kepala Biro Keamanan PP Annuqayah), dan K. Ahmad Faris Hamdi (Kepala Biro Bahasa PP Annuqayah). Turut hadir pula sejumlah alumni Annuqayah, seperti Drs. K.H. A. Halim Ismail, Drs. Masyhuri Drajat, Ali Mufti Ahmad, Qudsi Wahid, Yussalam Muhammad, Muhri Zain, dan sebagainya. 

Acara ini dihadiri pula oleh K.H. Imam Hasyim (Ketua DPRD Sumenep), Drs. H. Idham Chalid, M.H. (Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep), dan Drs. H. Ataur Rahman, S.Pd., M.Si. (Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Sumenep).



Sabtu, Juli 21, 2012

Pernyataan Sikap Yayasan Annuqayah tentang Kasus Ijazah MA 2 Annuqayah

Pada hari Jum'at tanggal 20 Juli 2012, Keluarga Besar Pondok Pesantren Annuqayah melakukan dengar pendapat di DPRD Kabupaten Sumenep perihal kasus ijazah Moh. Azhari yang tidak diakui atau dianggap tidak memenuhi persyaratan dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas sebagaimana ditetapkan Polres Sumenep.

Berikut ini kutipan pernyataan sikap Annuqayah yang dibacakan dalam acara tersebut.


PERNYATAAN SIKAP
Nomor : 12/SN.03/A/VII/2012

1.    Pada tanggal 17 Juni 2012 pengurus Annuqayah telah menerima laporan dari pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah yang menuturkan bahwa Moh. Azhari, salah seorang lulusannya, dinyatakan tidak lulus dalam seleksi penerimaan brigadir brimob dan dalmas di Polres Sumenep. Penyebab ketidaklulusannya adalah karena ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah yang digunakan Moh. Azhari dalam pendaftaran itu oleh Polres Sumenep dianggap sebagai ijazah pesantren yang tidak diakui atau tidak memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan Polres.
2.    Anggapan tersebut didasarkan pada ketentuan persyaratan lain yang tercantum dalam brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas Polres Sumenep yang berbunyi:
1. Berijazah serendah-rendahnya SMU/MA jurusan IPA/IPS atau SMK yang sesuai dengan kompetensi dengan tugas pokok Polri (kecuali Tata Busana dan Tata Kecantikan) dgn nilai rata-rata HUAN (Hasil Ujian Akhir Nasional) min 6,25 (enam koma dua lima) untuk IPA dan 6,5 (enam koma lima) untuk jurusan IPS dan SMK;
2. Khusus untuk lulusan pondok pesantren sesuai dengan Surat Departemen Pendidikan Nasional yang diakui setara dengan SMU dan diperbolehkan mendaftar menjadi anggota Polri antara lain: a. Ponpes Gontor Ponorogo; b. Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep; c. Ponpes Mathabul Ulum Sumenep; d. Ponpes Modern Al-Barokah Patianrowo Nganjuk;
3.    Pada tanggal 18 Juni 2012 pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah mendatangi Polres Sumenep yang kemudian diterima oleh Kepala Bagian Sumber Daya (Kabag Sumda), Kompol Rahwini WTP, untuk menanyakan langsung penyebab ditolaknya ijazah Moh. Azhari tersebut. Kabag Sumda menjelaskan bahwa penolakan ijazah Azhari sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.
4.    Pada tanggal 20 Juni 2012, pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah melapor kejadian ini kepada Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.
5.    Pada tanggal 21 Juni 2012, pimpinan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah dan jajaran Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep meminta klarifikasi kepada Kapolres Sumenep. Kapolres Sumenep, AKBP Dirin, melalui Wakapolres, Mohammad Fadil, menyatakan bahwa Polres Sumenep hanya menjalankan tugas dari Polda, dan penolakan ijazah Moh. Azhari sesuai dengan isi telegram Polda No. Tel ST/1361/VI/2012/ RO SDM tanggal 05/06/2012.
6.    Pada tanggal 5 Juli 2012, pengurus Yayasan Annuqayah, pengurus Pondok Pesantren Annuqayah, dan unsur Annuqayah yang lain serta pengurus LKP2M mendatangi DPRD Sumenep untuk menyampaikan pernyataan sikap dan permohonan agar DPRD Sumenep memfasilitasi pertemuan pihak Annuqayah dengan Polres Sumenep yang juga dihadiri oleh Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Dinas Pendidikan Sumenep, dan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep. Pernyataan sikap Annuqayah tersebut disampaikan juga dalam bentuk surat kepada DPRD Sumenep dengan tembusan kepada Polres Sumenep, Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Dinas Pendidikan Sumenep, dan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep.
7.    Pada tanggal 16 Juli 2012, Annuqayah mengirimkan surat kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep yang berisi permohonan klarifikasi agar Kementerian Agama Kabupaten Sumenep memberikan penjelasan kepada Polres Sumenep bahwa ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah adalah sah dan diakui oleh sistem pendidikan nasional dan seharusnya diterima sebagai salah satu persyaratan yang sah dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas Polres Sumenep.
8.    Pada hari Senin tanggal 16 Juli 2012, sekitar pukul 16.00 WIB, Wakapolres Sumenep, Kabag Sumda Polres Sumenep, Kasat Intel Polres Sumenep, didampingi oleh Kapolsek Guluk-Guluk menemui K.H. Ahmad Basyir AS didampingi dengan K. M. Ainul Yaqin (Ketua Pelaksana Pengurus PPA), K.H. Muhammad Husnan A. Nafi’ (Bendahara Pengurus PPA), K. M. Mushthafa (Sekretaris Pengurus PPA), K. Moh. Naqib Hasan (Kepala Biro Madaris PP Annuqayah) dan K. A. Syauqi Ishom (Kepala Biro Keamanan PP Annuqayah). Wakapolres membawa surat dari Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Timur nomor B/4953/VI/2012/Ro SDM tertanggal 27 Juni 2012 yang menjelaskan masalah penerimaan brigadir brimob/dalmas. Surat itu berisi penjelasan yang sama dengan brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas, yakni pengakuan terhadap beberapa lembaga pendidikan pesantren yang dianggap setara dengan SMA.
9.    Dari awal hingga peristiwa ini mendapatkan perhatian publik yang luas dan diliput di beberapa media massa, masalah ini telah berdampak luas bagi banyak pihak, yaitu:
a.    Bagi Moh. Azhari, penolakan ijazahnya ini pada dasarnya adalah perampasan haknya untuk mendapatkan perlakuan yang sama berdasarkan ketentuan undang-undang.
b.    Kasus ini telah menyudutkan Madrasah Aliyah 2 Annuqayah dan PP Annuqayah pada khususnya; Polres Sumenep telah menafikan fakta bahwa Madrasah Aliyah 2 Annuqayah telah mengikuti sistem pendidikan nasional dan terakreditasi B yang dikeluarkan oleh BAN-S/M Propinsi Jawa Timur tertanggal 21 Oktober 2009 berlaku sampai dengan tahun ajaran 2014/2015 serta diakui kesahannya oleh Kementerian Agama RI berdasarkan SK Kementerian Agama Republik Indonesia Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur terbaru, Nomor: Kw.13.4/4/PP.00.6/1050/2010 tertanggal 1 Juli 2010 dengan masa berlaku sampai dengan 1 Juli 2015, NSM: 131235290058. Selain itu, masyarakat dan aparat yang tidak mengerti duduk persoalannya mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tak berdasar dan merugikan kepada Madrasah Aliyah 2 Annuqayah dan Pondok Pesantren Annuqayah.
c.    Penolakan Polres Sumenep mengakibatkan semua lembaga pendidikan formal yang mengikuti sistem pendidikan nasional dan berada di bawah naungan pesantren yang memiliki badan hukum tidak diakui oleh kepolisian. Akibatnya, sangat wajar jika kemudian para pengelola lembaga pendidikan formal yang mengikuti sistem pendidikan nasional dan berada di bawah naungan pesantren yang memiliki badan hukum sangat resah dan bahkan melakukan unjuk rasa terhadap kepolisian yang dianggap mendiskriminasikan mereka.
d.    Menafikan kewenangan institusi negara yang lain yang telah diatur dalam perundangan-undangan negara (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003), yakni Kementerian Agama RI dan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M).
10. Untuk itu, kami menuntut :
a.    Polres Sumenep menunjukkan dasar hukum yang sah dan relevan atas ditolaknya ijazah Madrasah Aliyah 2 Annuqayah dalam penerimaan brigadir brimob dan dalmas secara langsung kepada kami dan kepada publik melalui sekurang-kurangnya 2 media cetak lokal, 2 media elektronik lokal, 3 media cetak nasional, dan 3 media elektronik nasional paling lambat 3 hari setelah tanggal 20 Juli 2012.
b.    Jika tuntutan poin (a) tidak terpenuhi, Polres Sumenep, sebagai institusi yang bertanggung jawab atas penolakan keabsahan ijazah Moh. Azhari, harus:
1)   Mengakui kesalahan pemahamannya atas persyaratan pendaftaran sebagaimana tercantum dalam brosur penerimaan brigadir brimob dan dalmas.
2)   Meminta maaf atas kesalahan pemahamannya itu secara terbuka melalui sekurang-kurangnya 2 media cetak lokal, 2 media elektronik lokal, 3 media cetak nasional, dan 3 media elektronik nasional paling lambat 3 hari setelah tanggal 20 Juli 2012. Permohonan maaf ditujukan kepada Madrasah Aliyah 2 Annuqayah, Pondok Pesantren Annuqayah, dan semua lembaga pendidikan formal yang mengikuti sistem pendidikan nasional dan berada di bawah naungan pesantren yang memiliki badan hukum.
3)   Menjamin lulusan sekolah/madrasah yang telah diakui resmi oleh negara sesuai undang-undang yang berlaku, khususnya sekolah/madrasah yang terkait atau berafiliasi dengan pondok pesantren, untuk diperlakukan sama dengan sekolah/madrasah pada umumnya dalam penerimaan calon anggota Polri.

Guluk-Guluk, 20 Juli 2012
Pengurus Yayasan Annuqayah,
Ketua Umum


Drs. H. Taufiqurrahman
               

Selasa, Juli 10, 2012

Sanggar Tikar Tampil di Pentas Seni se-Jawa Timur



Indah Susanti, PPA Karang Jati Putri

 
Guluk-Guluk—Sanggar Tikar SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep, menghadiri undangan acara pentas seni se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumenep, Selasa (3/6) malam. Pentas seni ini adalah salah satu acara dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan se-Dunia yang dilaksanakan BLH Jawa Timur dan ditempatkan di Sumenep. Peringatan Hari Lingkungan se-Dunia ini mengangkat tema “Ekonomi Hijau: Ubah Perilaku, Tingkatkan Kualitas Lingkungan”.

Acara yang cukup meriah tersebut dihadiri oleh lembaga pendidikan se-Jawa Timur, termasuk Badan Lingkungan Hidup se-Jawa Timur. Acara ini ditempatkan di Lapangan Giling Sumenep.

Sekitar pukul 18.35 WIB sesudah shalat maghrib, rombongan Sanggar Tikar SMA 3 Annuqayah berangkat ke Sumenep. Dengan jumlah anggota 12 orang dan 3 pendamping, yaitu K. M. Mushthafa, S. Fil., M.A, kepala SMA 3 Annuqayah, K. Muhammad Affan, S. Ap, guru SMA 3 Annuqayah, dan Khofiyatul Jannah.

Dalam perjalanan menuju  Sumenep, suasana sedikit tegang, karena ada keraguan untuk tampil di panggung yang akan disaksikan oleh ratusan penonton dari Jawa Timur, dengan persiapan latihan yang hanya 2 hari. Itu pun tidak maksimal, karena keterbatasan waktu.

Tiba di Giling, rombongan Sanggar Tikar langsung mencari tempat untuk mempersiapkan kostum serta alat-alat yang akan dipergunakan ketika pementasan.  Sebelum acara pentas dimulai, Indah Susanti, salah satu anak Sanggar Tikar, mendaftar ke panitia dan meminta konsumsi. Sekitar 5 menit konsumsi datang yang disambut senyum bahagia anak sanggar yang lain.

“Maklum Bak Atul (sapaan akrab Khofiyatul Jannah),  tidak usah kaget, melihat roti langsung ludes, perut kami sudah keroncongan,” ujar Darna Ningsih melihat ekspresi Khofiyatul Jannah kaget, melihat konsumsi langsung ambles, yang disambut tawa oleh yang lain.

Acara pun dimulai dengan sangat meriah. Sanggat Tikar mendapatkan giliran tampil urutan kelima. Sebelum tampil mereka doa bersama.

“Ba’ Indah, aku deg-degan nih!” ucap Novia Verawati. “PD saja Vi..anak sanggar pasti bisa,” kata Indah memberi semangat. Maklum, semua anak Sanggar Tikar sebelum tampil sedikit grogi, karena ini baru pertama kali tampil pentas se-Jawa Timur.

“Kalian tidak usah minder, dari tadi penampilan yang lain tidak ada hubungannya dengan lingkungan, jadi kalian harus semangatl,” ujar K. Muhammad Affan memberi semangat.

Sanggar Tikar tampil mulai pukul 20.45 WIB. Pukul 21.18 WIB, pementasan Sanggar Tikar usai, yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars Lingkungan yang diiringi musik lokal dan petikan gitar K. Muhammad Affan. Terdengar tepuk tangan meriah dan pujian dari ratusan penonton setelah pementasan teater yang dimainkan Sanggar Tikar berakhir, yang mengangkat  judul “Amarah Bumi “.

“Satu-satunya penampilan yang mampu menghipnotis penonton,” ujar K. Muhammad Affan, menghampiri anak Sanggar Tikar yang bersiap-siap berganti pakaian. Mereka pun mengucapkan syukur dengan tersenyum bahagia.

Menjelang pukul 10 malam, rombongan Sanggar Tikar bersiap untuk pulang. Dalam perjalanan menuju mobil, Darna Ningsih salah satu anak sanggar, dipanggil oleh salah seorang penontoh.

“Nak, kamu salah satu yang tampil tadi?” tanya bapak setengah baya menghentikan langkah Darna Ningsih. “Iya, Pak?” jawab Darna. “Kalian sungguh hebat! Pementasan kalian sangat bagus! Cara menjiwainya kalian sungguh bagus!” ujar bapak setengah baya itu mengangkat dua jempolnya. Darna hanya tersenyum.

Dalam perjalanan pulang, anak Sanggar Tikar sibuk bercerita, menyanyikan lagu Mars Lingkungan dengan diiringi lelucon Fatim, salah satu anak Sanggar Tikar yang memang terkenal dengan komedinya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, rombongan Sanggar Tikar tiba di sekolah.


Berita ini dikutip dari blog Madaris III Annuqayah.

Selasa, Juni 26, 2012

Rasyifatul Ma’rifah Terpilih sebagai Ketua Pengurus PPA Lubri 2012/2013


Nur Faizah, PPA Lubangsa Putri

Guluk-Guluk—Kepemimpinan Kurratun Aini di PPA Lubangsa Putri purna sudah. Sabtu (16/06) pada pukul 20.30 WIB bertempat di serambi pengasuh PPA Lubangsa Putri, Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) pengurus PPA Lubangsa Putri diterima oleh pengasuh, dan kepengurusan secara resmi dinyatakan demisioner oleh Drs. K.H. A. Warits Ilyas selaku pengasuh PPA Lubangsa.

Dalam sambutannya, K.H. A. Warits Ilyas menyampaikan rasa terima kasihnya atas pengabdian pengurus selama satu periode ini. Ia juga mengharapkan agar pengurus di periode yang akan datang dapat membenahi kekurangan yang terdapat pada kepengurusan yang lalu.

Keesokan harinya, Senin (17/06) dilangsungkan pemilihan ketua pengurus yang bertempat di Musholla PPA Lubangsa Putri. Ada  tiga calon yang menjadi kandidat untuk pemilihan ketua pengurus pada periode ini. Dua kandidat diajukan oleh tim formatur, yakni Kurratun Aini (ketua pengurus periode 2011/2012) dan Rasyifatul Ma’rifah. Sedangkan kandidat yang diajukan oleh santri yang dipilih oleh perwakilan blok adalah Nur Faizah.

Pemilihan ketua pengurus kali ini tidak melibatkan seluruh santri sebagaimana pemilihan ketua pengurus dua tahun yang lalu. Pemilihan kali ini hanya melibatkan seluruh pengurus PPA Lubangsa Putri dan santri yang dipercaya untuk mewakili bloknya menyumbangkan suaranya pada Musyawarah Besar VI (Mubes VI) yang salah satu agendanya adalah pemilihan ketua pengurus PPA Lubangsa Putri.

Setelah dilakukan penghitungan suara, akhirnya ditetapkan Rasyifatul Ma’rifah sebagai ketua pengurus terpilih periode 2012/2013 dengan perolehan suara 26. Sedangkan Kurratun Aini mendapatkan 12 suara dan Nur Faizah memperoleh 19 suara.

Pada kesempatan ini, Rasyifatul Ma’rifah menyatakan keberatannya untuk memikul amanah sebagai ketua pengurus PPA Lubangsa Putri. Ia merasa tidak pantas menjadi ketua pengurus karena tanggung jawabnya amatlah besar dan jika ia salah langkah, maka taruhannya adalah PPA Lubangsa Putri. Namun dukungan pengurus yang lain serta keinginan untuk membenahi Lubangsa Putri ke depan membuatnya menerima kepercayaan santri untuk mengemban amanah di PPA Lubangsa Putri.

Di kesempatan yang sama, Rasyifah meminta kepada seluruh pengurus untuk menyampaikan harapannya terhadap kepengurusan periode 2012/2013 serta evaluasi kepada Rasyifah secara pribadi. Ada beberapa pengurus yang menyampaikan harapannya. Di antaranya adalah Qariatul Hasanah, wakil bendahara pengurus PPA Lubangsa Putri 2011/2012. Ia menyampaikan agar kepengurusan di masa yang akan datang bisa menjadi figur yang baik bagi santri. Selain itu, ia juga meminta Rasyifah agar lebih bersikap bijak dan lebih lembut terhadap mitra kerjanya. Tanggapan yang terakhir ini ditanggapi dengan senyum oleh Rasyifatul Ma’rifah.
           

Sabtu, Juni 23, 2012

Alumni Annuqayah Rapatkan Barisan di Pamekasan



Anam Al-Yumna, Alumnus PPA Latee

Pamekasan—Sebagai pesantren besar dengan ribuan santri di dalamnya, Pondok Pesantren Annuqayah telah melahirkan ratusan ribu alumni, termasuk pula di Kota Pendidikan semacam Pamekasan. Hanya saja, mereka belum solid dan kuat karena belum terwadahi dalam sebuah organisasi yang ditangani secara utuh nan serius.

Setidaknya, pernyataan di atas cukup mengemuka dalam acara silaturrahmi dan rapat pembentukan Ikatan Mahasiswa Alumni Annuqayah (Iman) di Aula Kemenag, Pamekasan, Minggu (17/6) pagi. Acara ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan alumni Annuqayah di daerah Pamekasan.

“Awalnya kami diundang oleh senior untuk membentuk Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) sebagaimana di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Dalam kesempatan itu, dibangunlah komitmen untuk membentuk “Iman” yang kini sudah diresmikan secara bersama,” beber ketua panitia, Dedi Anshori.

Dalam kesempatan ini, alumnus senior Annuqayah yang kini menjadi asisten bupati Pamekasan, Anwari Khalil, memberikan arahan kepada segenap hadirin. Santri keluaran Annuqayah pada 1988 ini menegaskan, dirinya sangat mendukung dengan adanya organisasi yang nantinya menguatkan alumni Annuqayah.

“Annuqayah ini pesantren besar. Alumninya banyak dan berperan aktif dalam memajukan bangsa ini. Sebut saja A Bakir Ihsan, dan termasuk bupati kita KH Kholilurrahman yang pernah lama mengabdi sebagai dosen di Annuqayah,” ujar Anwari sembari menegaskan bahwa dirinya pasti mendukung penuh organisasi alumni Annuqayah.

“Kalau nantinya butuh sekretariat, kita bisa bicarakan. Saya siap bantu,” paparnya yang disambut tepuk tangan oleh hadirin.

Kalau nantinya Iman terbentuk secara resmi, Anwari berharap gairah kajian keilmuan digalakkan. “Jadikan organisasi ini sebagai wahana untuk memicu inspirasi untuk menjadi orang hebat, cerdas, dan betul-betul beriman,” tandasnya.

Masih menurut Anwari, organisasi Annuqayah semacam Ikatan Alumni Annuqayah yang telah tersebar sepanjang nusantara ini masih tak ubahnya ekor tikus.

“Awal-awalnya semangat dan banyak yang aktif di dalamnya, tetapi ke belakang kian sedikit dan akhirnya mati,” tegasnya sambil lalu berharap agar organisasi alumni Annuqayah di Pamekasan betul-betul dihidupkan dan kalau perlu bisa menjadi organisasi yang disegani di Pamekasan.

Beberapa jam kemudian, forum mengadakan pemilihan ketua Iman. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya Dedi Anshori yang sedang menjadi ketua panitia didapuk sebagai ketua Iman.

Saat dikonfirmasi, Dedi berniat kuat untuk memajukan Iman.

“Insya Allah, saya tetap pada komitmen awal saya dalam menjalankan amanah kepemimpinan di organisasi ini. Secara umum, kami hendak mengkombinasikan esensi visi-misi Annuqayah dengan idealitas mahasiswa,” ujar Dedi.

Dikatakan, sebagai langkah pertama, pihaknya bakal memfokuskan terlebih dahulu pada pengembangan khazanah keilmuan dan kegiatan pengabdian.

“Kami mengharap dukungan dan kontribusi dari semua pihak untuk kebaikan organisasi ini. Semoga benar-benar bisa menjadi media yang pas untuk teman-teman mahasiswa guna berproses menjadi lebih baik lagi,” harapnya.

Kamis, Juni 07, 2012

Ikstida Raih Penghargaan Orda Terbaik dan Juara Umum


Nur Faizah, PPA Lubangsa Putri

Guluk-Guluk—Di PPA Lubangsa pada khususnya, Ikatan Keluarga Santri Timur Daya (Ikstida) dikenal sebagai organisasi daerah (orda) yang tidak hanya besar jumlah anggotanya, namun juga berkualitas. Nyaris setiap tahun Ikstida mendapat gelar sebagai juara umum atau orda terbaik di Lubangsa. Tetapi dua periode belakangan ini, prestasi Ikstida menurun drastis dan tak mendapat predikat apa pun di tingkatan orda.  

Namun pada Sabtu, 2 Juni 2012 pada acara Penutupan Aktivitas Santri (PAS) dan Penutupan Aktivitas orda (PAO) PPA Lubangsa Putri, Ikstida dinobatkan sebagai orda terbaik sekaligus Juara umum di PPA Lubangsa Putri dan menyisihkan empat orda lainnya. Empat orda tersebut adalah Ikatan Santri Pantai Utara (Iksaputra), Ikatan Santri Annuqayah Pamekasan-Sampang (Iksapansa), Ikatan Keluarga Santri Guluk-Guluk-Ganding (Iksagg) dan Persatuan Santri Lenteng (Persal).

Adapun kriteria penilaian dalam penentuan juara umum ini adalah banyaknya penghargaan yang didapat oleh orda dalam lomba-lomba yang diadakan oleh Pengurus Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (P2O). Ikstida meraih juara di setiap lomba yang diadakan oleh P2O, yaitu juara ketiga pada lomba pembacaan burdah, juara ketiga pada lomba kreasi masak memasak dan juara kedua di lomba buletin sederhana (buser).

Sementara kriteria utama penilaian untuk penghargaan orda terbaik adalah sportivitas. Hal ini disampaikan oleh Siti Khairiyah, koordinator pengurus seksi P2O. Menurutnya inovasi yang dilakukan oleh tiap-tiap orda sudah lebih baik dari sebelumnya, namun masih ada orda yang kadang tidak menghiraukan nilai-nilai sportivitas. Ia mengimbau kepada seluruh anggota orda agar inovasi yang dilakukan tetap dipertahankan untuk orda masing-masing dengan menyadari keragaman serta tidak terjebak pada fanatisme dalam berorganisasi.      

Mengenai penghargaan yang diraih Ikstida ini, Nurul Alfiyah Kurniawati, ketua umum Ikstida, menyampaikan bahwa apa yang diperoleh Ikstida saat ini adalah anugerah terbesar dari Allah swt sekaligus buah dari perjuangannya bersama pengurus yang lain selama satu tahun. Kini ia bernapas lega karena sebentar lagi akan segera melepas jabatannya dan akan digantikan oleh orang lain, walaupun ada kemungkinan dirinya akan terpilih kembali.

Menanggapi hal ini, siswa kelas XI IPA MA 1 Annuqayah Putri ini hanya tersenyum masam dan menjawab dengan santai. “Masih banyak orang-orang Ikstida yang lebih mampu dan siap membawa Ikstida lebih maju ke depan, saya akan membuktikan bahwa Ikstida punya kader. Sekarang sudah saatnya saya istirahat, fokus ke sekolah. Lagi pula sebentar lagi saya kelas XII, siap-siap menghadapi Ujian Nasional,” pungkasnya sembari tersenyum ketika ditemui di MA 1 Annuqayah Putri.

Minggu, Juni 03, 2012

Mengantar Sang Juara

Farhatin Habibah bersama guru Matematika MTs 3 Annuqayah, H Hazin, B.A.
M. Faizi, Direktur Madaris III Annuqayah

 
“Pak, pulangnya lewat Karduluk, ya, Pak!”

“Wah, nggak mungkin, Dik. Ini sudah malam, sudah hampir jam 5. Nanti saya ditanyain orang rumah,” kata sopir itu, menolak ajakan anak-anak MTs 3 Annuqayah, peserta olimpiade yang diselenggarakan oleh Kankemenag Sumenep.

“Tapi, kasihan ini, Pak. Kami ingin membawa berita kemenangan Farhatin Habibah, teman kami ini, pada orang tuanya di Karduluk,” kata anak-anak, teman Titin—panggilan Farhatin—merengek-rengek kepada sopir L300 yang mereka sewa.

Akhirnya, mungkin juga karena kasihan, sopir putar balik. L300 biru itu melewati jalan lingkar, tembus ke Jalan Raya Sumenep-Pamekasan. Hitungannya, cara ini buang waktu dan buang solar. Kembali ke Guluk-Guluk lewat jalur selatan itu sama artinya buang-buang jarak sekitar 10-an kilometer. Lebih dari itu, sopir tentu lelah karena mereka berangkat jam 8 pagi dari sekolah. Karena sopir telah setuju, anak-anak bersorak gembira. Bapak-ibu Farhatin akan senang luar biasa menyambut putrinya yang datang sebagai juara, pikir mereka. Terbayang ibu Titin sibuk membuat teh. Sementara sang ayah melayani dua guru pendamping, Pak Hazin dan Pak Naufan, dengan seyum tak henti-henti dikulum.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar isak tangis di kursi belakang. Pak Hazin menoleh. Farhatin menangis sesenggukan.

“Ya, kamu harus bersyukur, Nak, karena telah menjadi juara pertama. Teman-teman yang lain ini peringkat belasan saja.” Pak Hazin menyambut tangis bahagia itu. Dia mafhum, sebab, selama ini, belum pernah satu pun siswi dari madrasah tempat beliau mengajar memperoleh juara di bidang Matematika.

Mobil terus melaju dan Titin masih menangis.

“Kenapa, Tin?” Pak Hazin mulai curiga. Adakah salah seorang temannya telah mencuranginya? Adakah di antara teman Titin yang mengancamnya? Adakah dia takut pada sesuatu yang berada di luar keinginannya? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak terjawab.

“Sudah, nggak perlu menangis. Kami semua akan mengantarkan kamu ke rumah, menemui orang tuamu, dengan piala ini. Mereka pasti bahagia.”

* * *

Pak Hazin berjalan di depan, di belakang Farhatin yang menjadi penunjuk jalan, disusul Pak Naufan, dan keempat belas anak yang lain. Mereka telah tiba di lokasi menjelang Maghrib.

Seorang ibu menyambut mereka dalam keadaan kaget tak percaya. Ia ingin tersenyum, tapi ada suasana batin lain yang membuat senyum itu tertahan. Pak Hazin mengalihkan pandangan. Semua anak menunduk. Sontak, tenggorokan mereka menjadi kering mendadak.

Apa yang mereka lihat? Rumah itu tak berlepa tanpa beranda. Lantainya tanah, pun tidak rata. Dindingnya burbur, terkelupas di sana-sini. Semua tamu dipersilakan masuk ke “beranda” dalam. Ya, beranda yang menjadi satu dengan kamar dan dapur. Perkakas-perkakas tampak berserakan. Si ibu menghilang. Farhatin terdiam.

Tak ada percakapan kala itu. Semua tercekat. Mereka baru sadar, mereka telah datang pada saat yang tidak tepat. Lalu, si ibu datang tergopoh-gopoh membawa tikar dari tetangga sebelah. Jangankan meja-kursi, tikar pinjaman yang ia bawa itu tak cukup untuk mempersilakan duduk para tamu yang mengantar sang juara, putrinya ini.

Untunglah, Pak Hazin segera berinisiatif, ia berkata pelan pada anak-anak. “Nak, kalian sebagian duduk, secukupnya. Yang lain biarlah berdiri.” Lalu berkata pada ibu, “Bu, tidak perlu repot. Kami hanya ingin mengabarkan bahwa putri Ibu meraih juara ke-1 Matematika dalam olimpiade yang diselenggarakan oleh Kankemenag di Sumenep. Anak-anak yang lain ini juga ikut serta, namun mereka berada di peringkat belasan. Hanya Titin  yang juara pertama.”

“Iya, Pak. Terima kasih,” jawab si ibu dalam bahasa Madura. “Minta maaf, ya, Pak. Bapaknya Titin tidak bisa menyambut Bapak karena dia baru saja berangkat 3 hari lalu ke Kalimantan untuk mencari nafkah.”

“Oh, tidak apa-apa, Bu. Ini sudah cukup. Kami juga minta sambung doa karena Titin akan menjadi perwakilan Sumenep untuk penyisihan di tingkat provinsi, di Surabaya.”

Mestinya, si Ibu akan girang alang-kepalang mendengar berita ini. Namun, barangkali perasaan sedih melihat tamu yang berdiri (karena memang tidak ada tempat untuk duduk), tanpa jamuan, tanpa minuman, lebih kuat menguasai perasaannya. Titin dan ibu sama-sama diam. 

“Ini, Bu, untuk Ibu,” kata Pak Hazin segera ambil keputusan untuk menyerahkan amplop berisi uang pembinaan itu pada si ibu. Perlu diketahui, hadiah untuk Titin sebagai juara pertama Matematika pada Olimpiade Matematika, Sains, dan Agama adalah uang tunai Rp.150.000.

Adzan Maghrib telah berkumandang. Teja merah di ufuk barat mewarnai suasana batin semua orang yang ada di sana. Ibu terharu tak bisa bicara apa-apa. Pak Hazin kini mulai mengerti makna tangisan Titin di mobil tadi. Farhatin pun kembali ke pondok bersama teman-temannya. Juara matematika itu berjalan tertunduk, sambil berusaha mereka-reka: jika “perasaan bahagia sebagai juara” dikalikan dengan “perasaan sedih karena ia bersama ibunya tak bisa menyambut guru dan teman-temannya”, berapakah jumlahnya? Itulah pertanyaan matematis yang tidak ia jumpai dalam soal olimpiade siang tadi.

Farhatin Habibah (paling kiri) berfoto bersama para juara yang lain.


Tulisan ini semula dipublikasikan di sini.