Kamis, September 15, 2011

Pra-Ordik Instika Putri yang Mengesankan

Khusnul Khatimah Arief, PPA Latee II

Senin, 12 September 2011 Pra-Orientasi Pendidikan Kampus (Ordik) untuk mahasiswa baru Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) putri dilaksanakan selama satu hari di halaman kampus. Tepat pukul 07. 30 WIB, acara Pra-Ordik dimulai dengan dihadiri oleh kurang lebih 250 mahasiswa baru. Walaupun sinar matahari tampak begitu ganas, namun pancaran semangat dan gairah masih terlihat dari wajah-wajah peserta Ordik. Sebab, acara ini adalah eskalator pertama bagi mereka untuk mengenali perguruan tinggi dan hal ihwal kemahasiswaan.

Kegiatan Pra-Ordik ini bertujuan untuk mempersiapkan kegiatan Ordik selama empat hari ke depan. Dalam hal ini, terdapat empat pos yang mesti dilalui oleh peserta Ordik untuk bisa memenuhi persyaratan menjadi peserta Ordik 2011, yaitu Pos 1: Informasi . Di pos ini peserta dicek kelengkapan aksesorisnya. Pos 2: keorganisasian, peserta Ordik akan ditanyakan berbagai hal mengenai keorganisasian di pos ini. Pos 3: Herregistrasi, adalah pos untuk mendaftarkan diri sebagai peserta Ordik. Peserta harus mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkn foto kopi ijazah. Pos 4: legalisasi, adalah pos untuk menampung barang yang menjadi persyaratan Ordik. Dalam hal ini adalah STMJ dan Roti.

Setelah melewati empat pos yang dimaksud, semua peserta berbaris kembali di halaman kampus untuk mengikuti pelatihan LKBB dan persiapan upacara pembukaan Ordik 2011. Acara pembukaan Ordik 2011 akan digelar keesokan harinya.

Anis, salah seorang mahasiswa baru jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), mengemukakan perasaan senangnya pada panitia ketika diwawancarai. Alasannya, karena Ordik kali ini bisa dikatakan tidak menggunakan tindakan anarkis pada peserta ordik. Dia berharap agar panitia tetap mempertahankan kesabarannya, tidak marah-marah atau membentak ketika peserta melakukan kesalahan.

Rabu, September 14, 2011

Kiai Miftah: Aswaja itu Asal Wajar-Wajar Saja

Fandrik HS Putra, PPA Lubangsa

Guluk-Guluk—Seiring dengan banyak bermunculannya paham, aliran, gerakan, ataupun organisasi yang tidak sejalan dengan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang sesuai dengan visi misi Pondok Pesantren Annuqayah, maka perlu kiranya diberikan “pemurnian” pemahaman tentang Aswaja kepada para calon mahasiswa baru.

Itulah alasan Ach. Qusyairi Nurullah, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), memilih tema “Tantangan Ideologi Aswaja dalam Bingkai Keindonesiaan” pada sesi Stadium General Orientasi Pendidikan Kampus 2011 (Ordik’11) yang dilaksanakan pada Selasa (13/09) pagi kemarin.

Acara itu dimulai pada pukul 09.23 WIB, bertempat di Aula Asy-Syarqawi. Turut hadir dalam acara itu Drs. K.H. A. Warits Ilyas (Dewan Masyayikh PP Annuqayah), K.H. Ahmad Basyir AS (Dewan Masyayikh PP Annuqayah, Rois Syuriah PCNU Sumenep), H. A. Pandji Taufik (Ketua Tanfidziyah PCNU Sumenep) dan beberapa dosen di Instika sekaligus menyambut kedatangan K.H. Miftahul Akhyar, Rois Syuriah PWNU Jawa Timur yang diundang sebagai penyaji pada acara tersebut.

K.H. A. Warits Ilyas dalam sambutannya memberikan pemahaman bahwa Aswaja yang diajarkan di PP Annuqayah adalah Aswaja Annahdliyyah yang dalam bidang fiqih condong kepada madzhab Syafi’ie.

Sementara K.H. Miftahul Akhyar mengatakan bahwa aqidah Aswaja adalah aqidah yang seimbang, tidak ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Itulah mengapa Aswaja banyak diterima oleh kalangan masyarakat Indonesia.

Alumnus PP Sidogiri itu memberikan alasan mengapa Aswaja dalam bidang fiqih, misalkan, lebih condong kepada Imam Syafi’ie. Menurutnya, imam dari suku Quraisy itu pendapatnya lebih seimbang daripada Imam Hanafi, Hanbali, dan Imam Maliki.

“Kalau boleh saya mengatakan, Aswaja itu asal wajar-wajar saja. Tidak ekstrem kanan, tidak ekstrem kiri. Seperti hadits nabi, perkara yang baik adalah perkara yang seimbang,” ungkapnya kepada 243 peserta Ordik.

Beliau menyatakan bahwa tantangan Aswaja di era kekinian amat kompleks. Ancaman itu bukan hanya datang dari paham yang berbeda pandangan dengan membangun gerakan kontradiktif dalam segala lini, melainkan juga dari gerakan-gerakan halus yang tidak mengatasnamakan paham ataupun ideologi. Contoh kecilnya berupa bantuan sosial dan perkembangan teknologi.

“Pengaruh gerakan itu lambat laun mengubah pola hidup mereka (nahdliyyin), keluar dari pola tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) dan i’tidal (adil),” tutur kiai yang mengaku hanya tamat Madrasah Tsanawiyah itu.

Dengan sedikit bercanda beliau juga menyatakan bahwa PP Annuqayah ini Aswaja sekali. Alasannya, tak ada yang komplain meskipun penyajian di tingkat Perguruan Tinggi penyajinya memakai sarung, surban dan kopiah.

“Kalau di Perguruan Tinggi lain mungkin saya sudah dianggap nyeleneh berpakaian seperti ini. Itulah sebabnya mengapa saya berani mengisi di sini,” pungkasnya sembari tersenyum.

Acara Stadium General itu berjalan khidmat dan lancar. Pada awal acara, melalui time keeper, panitia mewanti-wanti peserta untuk menyimak secara seksama mengingat tema tersebut sangat berkaitan erat dengan visi misi Instika dan Pondok Pesantren Annuqayah.

Bahasa Arab Harus Membumi

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Sebagai bahasa agama, Bahasa Arab mesti melekat dalam keseharian umat Islam. Ia tak layak diabaikan keberadaannya. Sayang, hal itu masih belum tecermin pada kehidupan bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Penyebab utamanya ialah karena penggunaan Bahasa Arab sampai kini tak juga membumi di negeri ini.

Begitulah pernyataan ketua Markaz Bahasa Arab PP Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Ibnu Hajar saat diwawancarai di kantornya, Selasa (13/9) pagi. Santri yang beberapa minggu lalu didaulat sebagai juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Bahasa Arab se-Madura itu, menyatakan miris menyaksikan kenyataan betapa penguasaan Bahasa Arab di dunia Islam masih jauh panggang dari api.

“Dari itulah, upaya membumikan Bahasa Arab dalam kehidupan umat Islam amat mendesak untuk dilaksanakan,” tegasnya meyakinkan.

Pembumian tersebut di Indonesia bisa dimulai dari dunia pesantren, karena pesantren merupakan dunia yang sangat efektif meleburkan Bahasa Arab dengan ragam aktivitas di dalamnya.

“Tentu harus dimulai dari para kiainya. Kiai dituntut menjadi uswah bagi para santri dengan mempraktikkan Bahasa Arab secara berkesinambungan,” katanya.

Dalam batas tertentu, tambahnya, Pondok Pesantren Annuqayah masih belum bisa dikatakan telah melakukan pembumian terhadap Bahasa Arab. Hal tersebut terlihat dari minimnya penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa keseharian santri.

“Sekalipun Annuqayah jarang absen sebagai juara di bidang Bahasa Arab, baik dalam skala lokal, regional, maupun nasional, ini tak dapat dijadikan tolok ukur utama untuk menyatakan bahwa Bahasa Arab telah membumi di pesantren tertua tersebut di Madura ini. Sebab, Bahasa Arab belum dijadikan alat komunikasi utama setiap harinya,” tandasnya detail.

Selasa, September 13, 2011

Panas Menyengat, Tetap Semangat!

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

“Waduuh, panas sekali mas. Ingin pingsan rasanya,” kata salah satu peserta Ordik Instika, Muhammad Kholil sembari memelankan suaranya, Minggu (11/9) siang.

Pemuda asal Pragaan Daya, Sumenep itu tak berani menyaringkan suaranya tatkala diam-diam diwawancarai, saat mengikuti arahan baris berbaris dari Panitia Apel. Tepat di bawah terik matahari, dia tetap tegak berdiri seakan tak peduli dengan keringatnya yang kian berderai.

Peserta yang lain pun tak jauh beda. Mereka terlihat kurang bernyali mendapati bentakan menggetarkan dari Panitia Apel. Mengenai keseraman para wajah Panitia Apel ini, siapapun tak punya alasan untuk menepisnya.

Sekalipun begitu, Kholil tetap menyatakan akan semangat mengikuti Ordik Instika tahun ini.

“Biar menjadi mahasiswa yang bermental baja mas. Tak mudah minder. Makanya saya tetap semangat meski matahari terasa menyengat,” katanya diiringi dengan senyuman.

Anshori, peserta Ordik Instika yang lain, juga meneguhkan kesemangatannya. Santri PP Annuqayah Latee ini bilang sudah mempersiapkan diri untuk menjalani Ordik sampai berakhir nanti.

“Saya sudah minum jamu. Siap tempur. Namun, saya ingin cepat keluar dari barisan ini. Tak tahan dengan panasnya sinar matahari,” ungkap pemuda asal Bilapora Timur, Sumenep itu dengan wajah pilunya.

Berbeda dengan Amirul Mukminin. Pemuda asal Jember yang mengambil jurusan PAI ini menyatakan ragu dengan kesiapannya.

“Saya ikut Ordik hanya untuk mendapat sertifikat. Andai tak ada sertifikatnya, saya tak bakal ikut. Buat apa panas-panasan begini,” katanya dengan polos.

Lebih lanjut, Amir menyatakan bahwa kalau sudah tak tahan berdiri, dia akan melakukan beragam cara untuk mengelabuhi panitia.

“Ntar kalau tak tahan, saya berencana mau pingsan-pingsanan,” ujarnya dengan suara lirih diiringi senyuman.

Senin, September 12, 2011

Ordik Instika Angkat Tema Tantangan Aswaja

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Orientasi Pendidikan Kampus (Ordik) yang digelar oleh Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Guluk-Guluk, Sumenep mengangkat tema Tantangan Ideologi Aswaja dalam Bingkai Keindonesiaan. Tema dalam kegiatan yang berlangsung dari 11-15 September 2011 ini dilandaskan pada kenyataan bahwa Aswaja kini mulai mengalami benturan ideologi lain yang cukup memiriskan, termasuk di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Dari hasil diskusi ringan panitia Ordik Instika, dapat digarisbawahi bahwa selain alasan di atas, unsur perbedaan dan keragaman yang terdapat di Indonesia menjadi catatan tersendiri berkenaan dengan tantangan yang mesti dihadapi oleh bangsa Indonesia yang menganut paham Aswaja (kaum Nahdhiyyin).

“Perbedaan dan keragaman adalah sunnatullah. Dengan banyak variasi, hidup lebih berwarna dan bermakna. Namun tak juga bisa dielakkan bahwa dengan keberagaman budaya, etnis, bahasa, agama, persepsi dan lainnya juga terkadang memicu konflik antar sesama,” ujar salah satu panitia Steering Commette (SC), Paisun.

Terangkum dalam sejarah, lanjut Pemimpin Redaksi Majalah Fajar LPM Instika itu, Indonesia yang dikenal dengan kekayaan alam dan budayanya pun memiliki catatan kelam tentang konflik antar etnis, ras, suku, agama dan budaya. Tragedi Mei 1999, tragedi Sampit-Madura, Poso dan selainnya merupakan bukti tak terbantahkan akan imbas dari perbedaan.

Ach. Taufiqil Aziz, panitia SC lainnya, juga mengungkapkan pandangannya terkait dengan tantangan Aswaja yang diarahkan pada dunia pendidikan.

Menurutnya, sebagai negara yang bersemboyankan bhinneka tunggal ika, Indonesia senantiasa berusaha menjadikan multi kultur sebagai salah satu jalan kemakmuran dan kerukunan. Kemakmuran suatu bangsa dapat dicapai oleh bangsa yang merdeka, dan kemerdekaan sejati dapat diperoleh oleh mereka yang berpendidikan. Pendidikan yang memerdekakan bangsanya adalah pendidikan yang tidak tercerabut dari akar budaya di mana pendidikan itu diterapkan.

“Sejalan dengan nafas pemberdayaan tersebut, Aswaja yang dijadikan pijakan interaksi sosial dalam Islam juga bermuarakan pada rahmatan lil ‘alamin. Tapi tak diingkari pula bahwa perbedaan mazhab dalam Islam juga mampu memecah ukhuwah islamiyah yang terbangun. Dan Aswaja telah membuktikan mampu mengantisipasi hal itu,” papar pemuda yang digadang-gadang sebagai calon ketua komisariat PMII Guluk-Guluk itu.

Penting diinformasikan, bahwa materi Studium General yang mengacu pada tema utama tentang tantangan Aswaja di atas bakal didiskusikan secara mendalam pada hari Selasa (12/9) siang. Panitia sudah mengundang Ro’is Syuriyah PW NU Jatim, KH Miftahul Akhyar sebagai pembicara.

Pesantren & Wali Santri Harus Bersinergi

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Hubungan pesantren dan wali santri harus terjalin secara sinergis. Mesti terbangun kerja sama yang kukuh antara keduanya. Ketika penanganan santri hanya dipasrahkan sepenuhnya kepada pesantren, maka tidak menutup kemungkinan bakal terjadi ketidakmaksimalan. Terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan akhlak santri itu sendiri.

Demikian pesan dan harapan pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura saat sambutan dalam acara Ikatan Wali Santri di mushalla Latee, Sabtu (10/9) pagi.

Menurut tokoh NU Sumenep itu, “pesantren” dan “sekolah” terdapat perbedaan. Perbedaannya ialah terletak pada penanaman nilai-nilai keagamaan di dalamnya.

“Menanamkan spirit akidah dalam diri anak didik merupakan suatu hal yang amat mendasar yang terdapat di dunia pesantren. Inilah yang jarang didapati di bangku sekolah,” tegas K Basyir sembari didengarkan oleh para wali santri secara khidmat.

Lebih jauh, K Basyir menyatakan miris mencermati kenyataan pola hidup glamor yang dilakoni kebanyakan pemuda saat ini. Sebut saja misalnya, tradisi pacaran dan mabuk-mabukan.

“Kita seakan mudah mendapati kabar mengenai gencarnya pemuda sekarang berpacaran dan mabuk-mabukan. Belum lagi persoalan narkoba yang dapat mengancam masa depan mereka,” tambahnya.

Dalam pertemuan yang dihelat setahun sekali itu, K Basyir menyitir hadis yang menyatakan bahwa orang yang sakit karena mabuk-mabukan tidak perlu dijenguk dan tidak usah disalati bila mati.

Masih menurut K Basyir, mereka yang sudah tergelincir pada persoalan pacaran dan mabuk-mabukan serta sejenisnya, terbilang sudah kehilangan iman.

“Kalau masih punya iman sekalipun secuil, tak mungkin melakukan maksiat,” imbuhnya.

Dari itulah, K Basyir mengimbau kepada para wali santri agar memperhatikan kehidupan putra-putrinya ketika pulang dari pesantren, baik tatkala liburan pesantren maupun tatkala sudah berhenti kelak. Di situlah jalinan sinergi antara pesantren dan wali santri dapat dilabuhkan.

Pada kesempatan itu, K Basyir juga menyinggung persoalan politik ke-NU-an. Menurutnya, orang-orang NU tak arif menakala bergelut dengan dunia politik. Lebih-lebih bila sampai “memperjualbelikan” organisasi yang didirikan oleh para ulama itu.

“NU merupakan organisasi pemberdayaan, amat tak layak bila sampai dinodai dengan ragam kepentingan yang tidak selaras dengan visi-misinya,” tandasnya.

Minggu, September 11, 2011

Empat Piala Buat Latee

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Guluk-Guluk—Pertengahan bulan Ramadan kemarin, empat santri PP Annuqayah Latee berhasil menyabet empat piala dalam lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) se-Kabupaten Sumenep. Lomba yang digelar oleh Darul Qur’an Kabupaten Sumenep ini berlangsung sejak tanggal 10-18 Agustus 2011, bertempat di Masjid Agung Sumenep dan Masjid Al-Aqsha Tarate.

Sekitar 170-an peserta beradu keahlian. Mereka adalah delegasi dari sekolah-sekolah diniyah dan formal, pondok pesantren, organisasi kemasyarakatan, dan umum.

Setelah melalui persaingan ketat, jebollah nama Abdurrahman Junaidi (Juara 1 MTQ cabang tilawah), Abd. Ghani (Juara 2 MTQ cabang tilawah), Muhammad Malik Al-Farobi (Juara 2 MTQ cabang tartil), dan Moh Farid (Juara Harapan 1 MTQ cabang tilawah).

Ustadz Harun Adiyanto (24), Koordinator Lomba, saat diwawancarai Sabtu (10/9) pagi menyatakan bahwa pelaksanaan lomba kali ini berlangsung sesuai harapan bersama. Tidak ada kecurangan di dalamnya. Hal ini bisa dimaklumi mengingat para jurinya terdiri dari orang-orang yang sudah berpengalaman. Yaitu, ustadz Syafa’ad, ustadz Dasuqi Yahya, ustadzah Mamluatul Hikamah, dan ustadzah Nur Asiyah.

Sebagai Pembina Qori’ PP Annuqayah, ustadz Harun Adiyanto menyatakan bangga atas prestasi anak-anak didiknya. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak dapat dilepaskan dari semangat untuk selalu membenahi diri yang tertanam kuat dalam diri mereka.

Lebih dari itu, ustadz Harun Adiyanto berpesan agar prestasi-prestasi itu tidak melahirkan kesombongan diri. Sebab, menurutnya, kesabaran dan keikhlasan serta rendah hati adalah kunci mencapai kesuksesan.

Jumat, Juli 29, 2011

Lima Santri Annuqayah Juara Nasional

Ach. Rofiq, PPA Lubangsa

Guluk-Guluk—Kamis (28/07) pagi kemarin, Aula Asy-Syarqawi disesaki ribuan santri PP Annuqayah. Mereka mengikuti acara penghargaan terhadap para santri yang telah meraih juara dalam perlombaan tingkat nasional.

Perlombaan yang diikuti oleh santri Annuqayah adalah Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ) di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) khusus mahasiswa di Makassar, Sulawesi Selatan.

Ada tiga orang yang berhasil meraih juara dalam perlombaan yang dilaksanakan di NTB. Satu orang santri putra juara 1 dalam lomba tafsir wustha, yakni Iskandar Yasin. Dua orang santri putri; satu orang juara 1 dalam lomba tarikh wustha (Aimmatul Muslimah) dan satu orang juara 1 dalam lomba debat bahasa Arab (Siti Romlah Ahsan). Sedangkan dalam perlombaan yang diadakan di Makassar, Umarul Faruq dan Abd Muqit berhasil meraih juara 2 dalam lomba debat kandungan al-Quran bahasa Arab.

Acara yang ditempatkan di aula Asy-Syarqawi itu dihadiri oleh semua Dewan Masyayikh Annuqayah dan semua santri, baik putra maupun putri. Aula itu tampak penuh dengan jumlah santri yang berjumlah lebih dari empat ribu santri putra dan putri. Mereka duduk di lantai saling berdempetan satu sama lain hingga menjadikan ruangan agak riuh dan sulit untuk dikondisikan.

Pada acara tersebut, semua juara diperkenankan untuk menyampaikan pesan dan kesan yang telah mereka alami selama mengikuti perlombaan hingga mereka menjadi juara.

Pertama kali yang diberi kesempatan adalah Abd Muqit, utusan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) yang telah berhasil meraih juara 2 dalam lomba debat kandungan al-Quran bahasa Arab di Makassar. Dia menuturkan bahwa tahun 2011 ini merupakan tahun yang penuh dengan berkah bagi PP Annuqayah. Pada tahun ini santri PP Annuqayah berhasil mengukir sejarah dengan meraih juara di tingkat nasional.

Setelah itu Umarul Faruq, yang juga utusan Instika sebagai mitra Abd. Muqit dalam perlombaan tersebut, diberi waktu untuk berbicara. “Kita punya taring dan gading yang bisa kita tunjukkan, terbukti ketika kita masuk dalam putaran final, Said Aqil Husein Al-Munawar, mantan Menteri Agama RI, memanggil nama Annuqayah dengan antusias, sedangkan yang lain tidak,” tuturnya. Dengan demikian, meskipun Instika adalah kampus yang terletak di lereng Bukit Lancaran, bukan di kota, ternyata dapat mengalahkan perguruan tinggi lain yang sudah tidak asing didengar.

Selanjutnya para santri yang mendapatkan juara di NTB dipersilakan satu demi satu. Pertama kali juara 1 tafsir wustha, yaitu Iskandar Yasin. Dia menuturkan bahwa keberhasilannya ini diraih berkat doa dan usaha. “Semua yang diusahakan tanpa doa maka akan sulit untuk dicapai, bahkan tidak akan dicapai,” katanya.

Siti Romlah Ahsan menyampaikan bahwa tanpa doa harapan tidak akan tercapai. Sedangkan Aimmatul Muslimah tidak dapat menyampaikan pesan dan kesan seperti halnya teman-temannya yang lain, karena dia dalam keadaan kurang sehat.

Setelah para santri yang mendapat juara tersebut menyampaikan pesan dan kesan, acara dilanjutkan dengan tawshiyah dari Dewan Masyayikh Annuqayah. Yang pertama disampaikan oleh KH Ahmad Basyir AS. Beliau menuturkan bahwa acara ini dilaksakan untuk mendorong santri yang lain agar giat dalam belajar. Beliau juga berpesan agar santri yang pulang ke rumahnya hendaknya menjaga akhlaq dengan baik dan jangan sampai terpengaruh oleh hal buruk di lingkungan di sekitarnya.

Selanjutnya tawshiyah yang kedua disampaikan oleh KH A. Warits Ilyas. Beliau menuturkan bahwa acara ini juga dimaksudkan sebagai bentuk tahadduts binni‘mah atas keberhasilan santri PP Annuqayah dalam perlombaan di tingkat nasional. Beliau juga berpesan agar para juara tidak menjadi sombong sebab telah meraih juara nasional.

Selasa, Juli 26, 2011

Kerja Keras, Persiapkan Kursus Ramadhan

Hairul Anam Al-Yumna, PPA Latee

Pengurus Markaz Bahasa Arab Annuqayah bekerja keras untuk menyukseskan pelaksanaan kursus yang bakal digelar pada bulan Ramadhan tahun ini. Mereka sampai rela mengurangi jam istirahatnya.

Setidaknya, itu terlihat Jumat malam (22/07) di kantor Markaz. Sebanyak sepuluh orang pengurus Markaz, sejak sore hari mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kursus. Terutama, materi yang akan diberikan kepada peserta kursus nanti.

Semalam suntuk, mereka bersama-sama mengurusi materi muhadatsah, muthala’ah, qawa’id, dan insya’. Materi muhadatsah disusun sendiri oleh Wakil Ketua dan Sekretaris Markaz, Ibnu Hajar dan Dedi Anwari. Sedangkan materi muthala’ah memanfaatkan karangan salah satu pengasuh Annuqayah, Drs. Moh. Muhsin Amir. Begitu halnya materi Qawa’id yang memakai karya salah satu pendidik di Annuqayah, K Muhammad Sirri.

“Saya sebenarnya sedang sakit gigi. Tapi, ini adalah amanah yang memang harus segera dijalankan dengan penuh kesabaran. Apalagi sebentar lagi sudah liburan Ramadhan, ”ujar Ibnu Hajar yang beberapa minggu lalu menorehkan prestasi sebagai Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Bahasa Arab se-Madura di STAIN Pamekasan.

Adapun Ketua Markaz, Abd. Muqit, mempersiapkan materi istima’ hingga sekitar pukul 00.30 WIB.

“Kami melakukan itu semua demi kemajuan Markaz. Kami akan lebih menyeriusi penanganan Kursus Ramadhan ini melebihi tahun-tahun sebelumnya. Insya Allah,” ujar Muqit, mahasiswa Instika yang 15 Juli kemarin bersama salah satu pengurus Markaz yang lain, Umarul Faruq didaulat sebagai juara II Lomba Debat Kandungan Al-Qur’an Bahasa Arab Tingkat Nasional di Makassar, Sulawesi Selatan.

Kinerja para pengurus Markaz tersebut sedikit banyak teringankan oleh fasilitas yang cukup memadai. Sebagaimana dikatakan ketua panitia kursus, Ahmad Fauziy, bahwa panitia mendapat pinjaman komputer dari salah satu kiai Annuqayah, K Muhammad Tsabit.

“Tidak hanya dipinjamin komputer, K Tsabit juga menyumbang uang sebesar Rp. 4 juta. Demikian pula tahun-tahun sebelumnya,” kata santri asal Batu Putih, Sumenep, itu sembari tersenyum.

Penting pula diketahui, kursus yang bakal digelar pada tanggal 1 Agustus itu akan difasilitatori oleh orang-orang yang sudah ahli dalam bahasa arab. Mereka adalah Drs. KH Abdul Wadud Munir, Ust. Sudarmin Hamzah, S.Hi, Ust. Abdurrahman Ali, S. Pd.I, Ust. Amirul Khotib, Ust. Izzul Muttaqin.