Selasa, Mei 05, 2009

Anggota Pramuka Harus Kreatif

Farihah Zurni, PPA Latee II

Aku baru datang dari kantor OSIS MA 1 Annuqayah Putri saat sebagian anggota-anggota pramuka duduk bertumpu pada kedua kakinya di depan perpustakaan Pondok Pesantren Annuqayah Latee II. Di dekatnya gelas dan botol plastik bekas air minum berserakan. Sarang laba-laba menghiasi baju mereka. Tangan mereka sibuk menyusun gelas-gelas plastik bekas air minum. Satu persatu gelas itu disusun membentuk menara, memanjang seukuran lengan. Lalu mereka menjejernya sebelum dimasukkan ke dalam kantong plastik.
“Kami sudah lama mengumpulkan gelas dan botol-botol ini. Makanya penuh dengan debu. Dan sekarang kami akan menjualnya,” kata Faizah menjawab pertanyaanku.
Aku duduk di serambi perpustakaan. Kulihat Eva, panggilan akrab Binti Ifadah Saifi, berdiri menegakkan tubuhnya. Dengan cepat tangannya meraih kantong plastik yang sudah penuh, menentengnya, dan meletakkannya di tumpukan yang sudah menggunung. Faizah berdiri di sampingnya. Jari-jemarinya sibuk memutar tutup botol plastik itu, mencoba membukanya. Setelah tutup botol terbuka, dia melepas botol itu. Botol terempas ke tanah. Dengan cepat kakinya menginjak-nginjak botol itu, menjadikannya tak lagi berbentuk. Lalu dia membungkuk, tangannya meraih botol yang sudah gepeng itu dan menutupnya kembali. Lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik besar di sampingnya.
Kualihkan pandanganku ke Eva. Tangannya semakin sibuk memasukkan gelas-gelas yang sudah tersusun ke dalam kantong plastik berukuran besar. Lalu dia berdiri, menegakkan tubuhnya. Tangannya kembali meraih kantong plastik itu, dan melangkah untuk meletakkannya di tumpukan.
Tiba-tiba Uyun, nama panggilan Qurratul Uyun, muncul dari gang di samping perpustakaan dengan kardus berukuran besar di tangannya. Gang itulah yang mereka jadikan sebagai tempat untuk menyimpan gelas-gelas dan botol tersebut. Uyun meletakkan kardus tersebut di hadapan Eva, mengeluarkan isinya. Lalu membantu Eva menyusunnya.
“Ini mau dijual kepada H. Zahir. Uangnya akan kami jadikan sebagai pendapatan kas Pramuka,” kata Uyun saat aku bertanya padanya. Tangannya semakin cepat meraih gelas-gelas itu, menyusunnya, kemudian memasukkannya ke dalam plastik. ”Kalau dulu harganya tiga ribu rupiah per kilo, entah sekarang berapa,” lanjutnya.
Matahari beranjak turun menuju pembaringannya, menyemburkan semburat merah keemasan saat Uyun beranjak meraih sapu lidi yang tersandar di sampingku. Dengan lincah tangannya mengayunkan sapu itu pada sampah yang berserakan. Mengumpulkan sampah itu jadi satu, lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah. ”Nanti setelah shalat Isya’ kita ke sini lagi ya, buat nyelesain ini, mengumpulkan sampah yang tersisa,” katanya pada yang lain.

Senin, Mei 04, 2009

Liburan UAM, Lubangsa Adakan Pengajian Kitab Pagi dan Malam

Fandrik Hs Putra, PPA Lubangsa

GULUK-GULUK—Demi mengefisienkan waktu liburan sekolah untuk kelas 1 dan 2 karena siswa kelas tiga sedang menghadapi Ujian Akhir Madrasah (UAM) Madrasah Aliyah/SMA/Sederajat, Pengurus PPA Lubangsa seksi Pendidikan, Pengajaran, dan Pengembangan Intelektual (P2PK) mengadakan pengajian kitab Kifayatu al-Akhyar dan kitab Al-Kasyfu wa al-Tabyin mulai Ahad (3/5) kemarin.
Kedua pengajian kitab itu diampu oleh ustadz yang berbeda. Namun, keduanya masih sama-sama aktif di pesantren Lubangsa. Mereka adalah Ustadz Amirul Khotib, pengampu kitab Kifayatu al-Akhyar yang menjabat sebagai pengurus P2PK dan Ustadz Mohammad Ali, mantan ketua pengurus PPA Lubangsa 2007-2008, pengampu kitab Al-Kasyfu wa al-Tabyin
Kedua pengajian kitab itu sudah dijadwal berbeda. Kitab Kifayatu al-Akhyar pagi, dimulai pada pukul 06.30 sampai 07.30 WIB, dan malamnya, selepas shalat Isya’ berjamaah, pengajian kitab Al-Kasyfu wa al-Tabyin sampai bel jam belajar berbunyi.
Pengajian kitab Kifayatu al-Akhyar membahas Bab Puasa. Menurut Amirul Khotib, bab ini dipilih karena sebentar lagi santri akan menghadapi liburan puasa. “Meski masih cukup jauh jaraknya, yakni empat bulan, tapi ini adalah salah satu kesempatan yang tepat. Jarang ada kesempatan selain hari-hari biasa,” ungkapnya.
Sufyan Auri, salah satu pengurus P2PK, menambahkan bahwa pengajian ini dilaksanakan agar santri tidak terlalu santai dalam liburan Ujian Akhir Madrasah (UAM). ”Percuma kan, waktu terbuang sia-sia, sedangkan kakak kelas mereka deng-bhindeng (bingung) mengerjakan soal UAM di kelasnya. Lebih baik digunakan hal yang bermanfaat,” ungkapnya ketika ditemui di kantin Sufi PPA Lubangsa.

Gara-Gara Gatal, Para Santri ”Main Gitar”

Farihah Zurni, PPA Latee II

Matahari tergelincir. Panasnya tak lagi menyehatkan. Aku baru pulang dari sekolah. Kulihat Nurul Qamariyah, yang akrab disapa Kam, sedang duduk di depan kamar Al-Qudusi 01. Tangannya sibak menggaruk-garuk betisnya. Kuletakkan buku yang kudekap di sampingnya. Kubuka sepatuku, dan meletakkannya di rak. Kemudian aku kembali duduk di sampingnya.
”Rasanya gatal sekali Fan!” katanya saat sudah duduk di sampingnya. Kulihat betisnya. Bintik-bintik hitam menghiasi kulitnya yang putih. ”Oh iya, kamu kan juga ’kena’, apa sudah sembuh?” tanyanya padaku.
”Kalo yang bintik-bintik hitam sudah sembuh, tinggal bekasnya aja. Tapi sekarang tumbuh bintik-bintik merah. Rasanya gatal banget,” ucapku sambil menyingsingkan lengan bajuku. Kam melongok, mencoba melihat lenganku lebih dekat. Matanya lekat menatap bintik-bintik merah yang hampir memenuhi lenganku.
Aku menggaruk lenganku. Berusaha mengurangi rasa gatal bercampur panas yang kurasa. Namun rasa itu tak kunjung berkurang. Malah semakin perih. Malah bintik-bintik merah itu mulai mengeluarkan air yang bercampur darah. Karena kulit yang melapisinya mulai mengelupas, menjadikan darah segar itu mengalir bebas tanpa penghambat. Aku meringis menahan rasa perih dan gatal yang menyerangku. Namun tanganku tak mampu tuk menghentikan gerakku. Rasa gatal telah menguasaiku, seolah menuntut tanganku untuk selalu menggaruk lenganku.
”Sebenarnya walau digaruk sampai luka kek gitu, tetap aja gatal. Tapi setidaknya kita merasa puas,” ucap Kam mengagetkanku. Rupanya dari tadi dia memperhatikanku.
Aku alihkan pandanganku pada sebagian santri yang sedang duduk di serambi mushalla. Rupanya mereka sedang asyik ’main gitar’ alias garuk-garuk. Mereka juga terkena penyakit gatal-gatal seperti aku dan Kam. Memang hampir dapat dipastikan 75% santri Pondok Pesantren Annuqayah Putri terkena penyakit gatal-gatal. Tapi sampai sekarang belum ada tindakan lebih lanjut untuk mengetahui apa penyebabnya.
”Apa mungkin penyebab penyakit ini karena alergi air atau karena kita nggak cocok dengan air di sini ya Fan? Soalnya kalau aku pulang ke rumah penyakit sembuh total. Tapi kalo sudah balik ke sini, pasti deh kambuh lagi,” kata Kam kembali mengagetkanku. Aku menggeleng. Kualihkan pandanganku padanya. Ternyata dia sedang menggaruk lengan kirinya yang terasa gatal. Gayanya sudah kayak gitaris yang sering nongol di layar kaca.
”Kalo dipikir-pikir asik juga ya. Kapan lagi kita main gitar kek gini,” ucapnya tersenyum mengedipkan mata.

Minggu, Mei 03, 2009

Cerita di Balik SMS Berantai Shalat Tahajjud di Nirmala

Sumarwi, PPA Nirmala

GULUK-GULUK—Efektifnya program baru yang ada di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Nirmala, yaitu SMS Berantai Shalat Tahajjud oleh-oleh dari para peserta yang berkunjung ke YPI Al-Hikmah Surabaya baru berjalan sekitar seminggu. Program ini cukup berhasil untuk mendukung para pengurus Nirmala untuk melakukan Shalat Tahajjud, terlihat dari banyaknya pengurus yang bangun pada pukul 03.00 WIB dini hari.
Dari situ kemudian ada cerita-cerita menarik yang disampaikan oleh para pengurus. Keluhan, dan ide-ide gila pun juga muncul. Seperti yang dilontarkan oleh Ahmad (bukan nama sebenarnya), salah satu ide gilanya ialah melompati urutan pengiriman SMS yang diatur sebelumnya agar SMS yang dikirim oleh temannya langsung sampai ke pengasuh. “Nanti kalau saya dapat SMS dari teman yang ada di atas saya, saya akan langsung kirimkan ke kamu (teman yang ada di urutan terakhir, Red.), kemudian dari kamu langsung kirim ke pengasuh,” katanya sambil tertawa. Tapi untung rencana itu tidak kesampaian karena ternyata dia berkomitmen untuk melaksanakannya, dan itu hanya merupakan guyonan saja. Kebetulan juga teman-temannya tidak setuju dengan ide gila itu.
Ada juga yang merasa kerepotan dengan program ini. Sebut saja Fatur (bukan nama sebenarnya). Dia merasa kerepotan dengan masalah pulsa sebab katanya pemberitahuan ini harus dengan SMS. ”Wah… payah ini. Bagaimana kalau nanti saya tidak punya pulsa, SMS teman bisa nggak sampai kepada teman yang ada di bawah urutan saya,” katanya. “Itu gampang, langsung aja kamu datangi ke pondoknya. Yang penting teman yang ada di bawah urutan kita itu bisa terjaga alias melek!” celetuk salah seorang teman dalam rapat beberapa hari yang lalu.
Subaidi, salah satu peserta yang ikut kunjungan dan magang di YPI Al-Hikmah Surabaya menjelaskan kalau umpamanya teman yang ada di urutan terakhir tidak kunjung menerima sms dari teman yang ada di atasnya, maka dia harus sensitif untuk menghubungi temannya duluan. Bisa dengan miskol, SMS, atau langsung mendatangi pondoknya. “Pokoknya harus berurut. Tidak boleh ada yang ketinggalan,” ujarnya.
Salah seorang pengurus mengaku senang dengan adanya program ini, seperti yang dituturkan oleh Azhari. “Saya suka dengan program ini sebab dulu-dulunya saya biasanya bangun beberapa menit setelah adzan Subuh dikumandangkan. Alhamdulillah sekarang sudah nggak lagi, berkat adanya progam SMS berantai ini. Sekarang HP betul-betul barokah seperti yang diharapkan oleh K. Hanif dalam rapat beberapa waktu yang lalu,” katanya.

Pengurus Darul Lughah Kembali Adakan Pemutaran Film Bahasa Arab

Ahmad Al Matin, PPA Latee

GULUK-GULUK—Pada Jum’at malam (1/5) kemarin, untuk kedua kalinya pengurus Darul Lughah Latee mengadakan pemutaran film berbahasa Arab. Film yang diputar pada kesempatan tersebut adalah Ashabul Kahfi Disc 1.
“Pemutaran film adalah program bulanan departemen pendidikan dan pengajaran. Jadi acara yang seperti ini akan ada terus setiap bulan,” kata Umarul Faruq pengurus departemen pendidikan dan pengajaran Darul Lughah.
Namun pemutaran film yang disambut meriah oleh seluruh santri Darul Lughah itu harus terganggu saat film tengah berjalan 30 menit oleh datangnya pengurus keamanan PPA Latee yang mengira pemutaran film itu belum mendapatkan izin. “Dia mengira kami belum izin ke pengurus PPA Latee untuk mengadakan pemutaran film. Ini kesalahpahaman saja,” jelas Faishal Khair, Direktur Darul Lughah.
Namun meskipun kehadiran pengurus keamanan tersebut hanyalah salah paham, hal itu cukup mengganggu kelancaran pemutaran film. Pasalnya, pengurus keamanan tersebut masuk ke ruang kelas Diniyah yang menjadi tempat pemutaran film dengan suara keras dan langsung marah-marah. “Ya mengganggulah. Wong dia datang sambil marah-marah,” kata Ahmad Zairi yang juga menjabat sebagai pengurus pendidikan dan pengajaran Darul Lughah.
Film yang berdurasi 58 menit itu mengisahkan perjalanan tujuh orang pemuda dan seekor anjing mereka yang hidup pada masa sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw yang menentang raja mereka yang terkenal dengan keserakahan dan kesombongannya yang mengajak mereka untuk ikut memeluk agamanya, tapi tujuh orang yang memang iman kepada Allah sangat tebal itu menolak dengan ajakan tersebut. Karena ajakannya ditolak dan menganggap tujuh pemuda itu mengkhianatinya, raja itu lalu memerintahkan bala tentaranya untuk mengejar mereka. Tujuh pemuda yang tahu dengan rencana pun lari dari kejaran tentara sang raja. Mereka pun sampai di sebuah gua yang bernama Tarthus, lalu tujuh orang pemuda tersebut bersama anjingnya tertidur selama kurang lebih 3 abad.

Sabtu, Mei 02, 2009

M. Haukil Kembali Jadi Finalis LKTI Nasional

Fahrur Rozi, PPA Lubangsa Selatan

GULUK-GULUK—Mengulang kesuksesan pendahulunya, Ach. Fawaid, pada 2006, kini M. Haukil juga menjadi finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) IX 2009 yang diadakan oleh Magistra Utama, Malang, pada 31 Maret-26 Mei 2009. Empat tahun lalu, Ach. Fawaid, yang kini menjadi alumnus, berhasil pulang dengan menyabet juara II. Mampukah Haukil, sapaannya, pulang dengan keberhasilan yang sama, bahkan melebihi, pada kompetisi kali ini?
Ditemui di Perpustakaan Lubangsa Selatan Rabu siang, (29/4), M. Haukil mengatakan, pemberitahuan tentang nama-nama yang masuk nominasi sebagai finalis LKTI itu dikirim panitia melalui fax ke Madrasah Aliyah (MA) 1 Putri Annuqayah, karena MA 1 Putra, yang dikontak panitia, tidak memiliki fax. Haukil sendiri sebenarnya adalah siswa MA Tahfidz Annuqayah, akan tetapi panitia mengirim informasi ke pihak MA 1 Putra, karena dari sana juga mengirim kompetitor dalam ajang lomba tersebut walaupun belum masuk dalam daftar finalis. Pemberitahuan itu dikirim pada hari Ahad (26/4) dan sampai ke tangan Haukil keesokan harinya, Senin.
Lewat karyanya yang berjudul, Menjadi Pembelajar di “Universitas Besar Kehidupan”, M. Haukil berhasil menyisihkan sedikitnya 207 naskah dari 223 naskah yang masuk ke panitia. Dia menjadi finalis bersama 15 orang lainnya dari berbagai penjuru nusantara. Dialah satu-satunya peserta dari Madura yang lolos ke babak final. Lainnya tumbang di tingkat seleksi karya.
Menurut Haukil, konsep yang ditawarkan dalam karyanya adalah tentang pembelajaran seumur hidup kepada anak didik. Dia mengampanyekan konsep pembelajaran Active Learning dalam kehidupan mereka. Agar belajar tidak hanya berhenti pada ruang dan waktu. “Hidup adalah karya, bukan usia,” kata pria yang murah senyum ini, mengutip selarik sajak K. M. Faizi.
Haukil akan mempertanggungjawabkan karyanya di hadapan para juri pada 25-26 Mei 2009 yang akan datang. Dia menjadwal keberangkatannya pada 24 Mei 2009, satu hari sebelum acara berlangsung, untuk mempersiapkan segala keperluannya di rumah pamannya di Malang. Dia tidak ingin kecolongan kembali mewarnai kompetisinya, seperti yang terjadi beberapa bulan lalu saat akan presentasi karya tulisnya di Universitas Paramadina, Jakarta. Dia harus menelan pil pahit sebagai juara harapan II karena terlambat datang yang menyebabkan dirinya tidak bisa presentasi.
Selain presentasi, dia juga akan menampilkan kebolehan dalam berakting. Acara ini juga satu dari serangkaian program yang akan berlangsung pada acara tersebut. Ditanya apa yang akan ditampilkannya dalam unjuk kebolehan tersebut, Haukil mengatakan dirinya ingin menampilkan monolog, peran yang selama ini belum pernah dilakukannya. Alasannya, selain lebih mendidik, juga lebih atraktif dan menantang. Saat ini dia sedang menyiapkan naskah yang akan dilakoninya. Dan dalam waktu yang masih agak lama ini ia akan mempersiapkan segalanya dengan sangat matang. Secara keseluruhan persiapannya masih 50%, katanya. Itu karena, akunya, dia sedang sibuk dengan Ujian Nasinal (UN) dan mempersiapkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Perpustakaan Lubangsa Selatan yang tidak lama lagi akan digelar. Dia kebetulan saat ini menjabat sebagai ketua.
Haukil menargetkan dalam kompetisi ini dirinya harus menjadi juara I. Dia ingin mengungguli keberhasilan Ach. Fawaid pada empat tahun silam. Dia merasa kalau dirinya bisa menjadi juara I, berarti ada perkembangan. “Kalau tetap nomor dua, kan berarti mandeg,” lanjutnya. Dari rekam jejaknya, remaja yang masih berumur 18 tahun ini (lahir pada 16 Januari 1991), sudah menorehkan segudang prestasi, baik tingkat lokal maupun nasional. Dua kali menjadi juara I lomba LKTI se-Sumenep, masing-masing diadakan oleh Perpustakaan Daerah Sumenep, Agustus 2008, dan STKIP PGRI Sumenep, Juni 2008; juara I LKTI tingkat nasional di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat, November 2008; juara harapan II penulisan esai tingkat SLTA se-Indonesia, Januari 2009 (tanpa presentasi) di Paramadina, Jakarta. Selain itu, karya-karyanya tersebar di beberapa media antara lain, Radar Madura, Tabloid Info, dan beberapa media online.
Ditanya tentang berapa jumlah hadiah untuk kompetisi kali ini, dia mengatakan bahwa jumlahnya tidak terlalu besar. Total hadiah sebanyak Rp. 19 juta. Namun jumlah itu dibagi-bagikan kepada 16 finalis. Untuk juara I hanya mendapatkan Rp. 2.250.000,-. Tapi meski tak sebesar yang diberikan oleh beberapa kompetisi lainnya, ia merasa bangga jika ia pulang dengan prestasi yang membanggakan. “Yang penting dapat juara. Hadiah sedikit tak jadi masalah. Hadiah itu nomor 23, tapi dari 1-22 tidak ada?” katanya lantas tertawa.
Kesibukan lain Haukil saat ini adalah mempersiapkan diri untuk menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu menjadi mahasiswa. Keinginan besarnya adalah kuliah di luar kota, yaitu Universitas Paramadina, Jakarta.. Dia ingin mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI). Berkat keberhasilannya menjadi juara pada kompetisi LKTI beberapa bulan lalu, membuatnya dibebaskan dari beban biaya dan persyaratan tes tulis. Saat ini dia hanya disibukkan dengan menyiapkan berkas-berkas administrasi. Jadi, setelah berkas administrasi rampung, dia hanya menunggu keputusan dari pihak kampus.

Pengurus PPA Latee Adakan Silaturrahim dengan Pengasuh

Ahmad Al Matin, PPA Latee

GULUK-GULUK—Kamis malam (30/4), untuk pertama kalinya di masa bakti 2008-2009, pengurus PPA Latee mengadakan silaturrahim dengan Dewan Pengasuh PPA Latee.
“Kami mengadakan silaturrahim ini untuk mempererat hubungan antara pengurus dengan pengasuh dan antara pengurus itu sendiri,” kata Abd. Rafiq Abdullah, ketua pengurus PPA Latee.
Silaturrahim yang diletakkan di Mushalla Latee ini diisi dengan pembacaan Surat Yasin bersama yang dipimpin oleh K.H. Musthafa Erfan dan tausiyah dari K.H. A. Hanif Hasan.
Dalam Tausiyahnya, Kiai Hanif menceritakan tentang study visit dan magang para guru dan wali kelas se-Annuqayah ke YPI Al Hikmah Surabaya. Beliau menjelaskan bahwa di YPI Al Hikmah para siswa sangat tertib, patuh terhadap undang-undang dan menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar. Mereka tidak pandang bulu untuk mengamalkan hal tersebut, meski pada para guru mereka sekalipun, jika mereka melihat para guru berbuat salah. Juga para siswa mengamalkan syari’at terutama terhadap lawan jenis. “Seperti suatu waktu ada tiga siswa yang lagi nongkrong di depan kelas, kemudian ada seoarang siswi keluar dari kelas itu. Yang membuat saya kagum adalah tiga siswa tersebut langsung bubar tanpa disuruh saat mereka tahu kalau ada siswi yang mau keluar dari kelas. Saya mengharap hal ini bisa diterapkan di Annuqayah,” kata beliau.
Beliau juga menyarankan agar para santri yang memegang alat elektronik seperti handphone, flashdisk, MP3, MP4 dan MP5 untuk diperketat pengawasannya. “Karena kita tidak tahu apa isinya juga kita tidak tahu untuk apa aja alat itu digunakan,” jelas beliau.
Sayangnya, silaturrahim yang berjalan meriah ini harus terganggu oleh padamnya listrik sehingga Mushalla Latee yang ditempati menjadi gelap gulita. Namun hal itu tak berlangsung lama karena para pengurus menggunakan mesin diesel untuk menyalakan penerangan di Mushalla Latee.

Jumat, Mei 01, 2009

Kegiatan KCN Kembali Diaktifkan

Fandrik Hs Putra, PPA Lubangsa

GULUK-GULUK—Setelah berhasil menerbitkan kumpulan antologi cerpen yang kelima dengan judul Lembaran yang Hilang, Komunitas Cinta Nulis (KCN) Annuqayah Sabtu malam (25/4) kemarin mengaktifkan kembali acara rutin bedah cerpen bersama.
Pada malam pertamanya, keceriaan dan rasa gembira sangat tampak dari wajah-wajah anggota lama maupun anggota baru. Mereka merasa bahagia karena pada malam itu bisa kembali berkumpul lagi dengan suasana yang berbeda.
Rutinitas bedah cerpen bersama itu dimulai dengan membedah cepen anggota baru, Moh. Jazuli, yang berjudul "2 Menit 22 Detik Bersama Bidadari" dan Djunaedi yang berjudul "Ketika Rindu Mencekam". Suasana kembali meriah dengan kehadiran anggota baru itu. Maklum, mereka menghiasi anggota lama yang hanya bersisa empat orang.
“Alhamdulillah, setelah lama vakum, kini diaktifkan kembali. Semoga saja para laskar cerpenis yang baru ini tetap intens menulis dan tetap dalam pendiriannya,” ungkap Badrus Syamsi, ketua komunitas itu.
Banyak kesan yang menarik dari para anggota baru, terlebih pada Moh Jazuli dan Djunaedi, angota baru yang mendapat tugas pertama mempresentasikan cerpennya dan membedah bersama-sama.
“Saya sampai berkeringat ketika mempresentasikan cerpen saya. Maklum pengalaman pertama. Banyak hal baru yang saya dapatkan dari mereka mengenai apa yang membangun karya sastra, khususnya cerpen. Judulnya saja punya saya dikritik habis-habisan,” kata Djunaedi ketika menceritakan pengalamannya.
Komunitas yang dibangun pada tahun 2006 itu dimulai dengan ikrar bersama untuk tetap komitmen dalam menulis cerpen dan memperjuangkan kesusastraan tanah air. Sebagaimana yang diungkapkan Badrus, ia sangat optimis dengan komitmen mereka, meski hanya beranggota tujuh orang.
“Komunitas kami tidak memerlukan bayak anggota. Yang penting tetap intens dalam menulis itu sudah modal lebih. Dari awal berdirinya, memang kami menargetkan anggota paling banyak sepuluh orang,” ungkapnya lagi.
“Saya kembali bergairah dengan hadirnya anggota baru itu. Seakan memori saat-saat berdirinya KCN terlahir kembali. Saat masih ada pengasuh kita (Zaiturrahiem RB),” ungkap Mohammad Rifqi, salah satu anggota lama KCN.

90 Persen Santri Lubangsa Selatan Kena Gatal-Gatal

Fahrur Rozi, PPA Lubangsa Selatan

GULUK-GULUK—Di antara ragam penyakit yang diderita santri PPA Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk Sumenep, menurut pengurus departemen Olahraga Kesehatan dan Seni (Orkesen) PPA Lubangsa Selatan, penyakit gatal-gatal menempati rangking satu. Dalam catatan statistiknya, secara berurutan santri yang mengidap gatal-gatal mencapai angka 90%, koreng 50%, dan kadas 60%. Keseluruhan angka itu tidak kesemuanya bisa dipecahkan oleh departemen ini.
Abd. Basith, pengurus Orkesen bidang kesehatan ditemui Selasa malam (28/04) mengatakan bahwa tingkat keberhasilan penanganan penyakit yang diderita santri hanya pada penyakit koreng. Sampai saat ini untuk penyakit gatal-gatal dan kadas belum bisa secara total disembuhkan. “Namun, kami tetap akan berusaha untuk mencari jalan keluarnya,” kata Basith, panggilan sehari-harinya.
Basith mengakui, selama ini tim kesehatan PPA Lubangsa Selatan memang belum profesional untuk menangani penyakit-penyakit seperti itu. Hal ini didukung oleh banyak faktor. Di antaranya kemelut biaya dan miskinnya Sumber Daya Masyarakat (SDM). Biaya kesehatan yang cukup sedikit membuat pelayanan Orkesen menjadi kurang maksimal memberikan bantuan kepada santri yang mengidap penyakit. Selain itu, akunya, timnya belum bisa mendeteksi dan mendiagnosa penyakit karena minimnya pengetahuan tentang dunia medis. “Sebenarnya kami ingin sekali mengutus santri yang dianggap mampu dalam bidang kesehatan untuk mengikuti pelatihan dan kursus-kursus tentang kesehatan. Namun itu tadi, biayanya tidak ada,” lanjut mahasiswa semester IV Tafsir Hadits ini.
Saat ini bidang keahlian yang sudah sedikit banyak dikuasai oleh departemen Orkesen adalah pijat akupuntur. Beberapa waktu lalu departemen ini mengutus dua orang pada acara pelatihan Akupuntur yang diadakan oleh Balai Kesehatan Pondok Pesantren (BKPP) Annuqayah. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Dua orang tersebut bisa menangani sakit yang diderita oleh beberapa santri. Namun, pengobatan pijat ini hanya untuk penyakit yang mengenai otot dan tulang-tulang. Tidak bisa untuk penyakit kulit seperti gatal-gatal, koreng, kadas, dan lainnya.
Selama ini satu-satunya jalan yang dilakukan untuk memberantas penyakit kulit tersebut adalah dengan mengonsumsi obat-obatan. Obat-obatan itu didapat dari apotik, toko, dan juga meracik sendiri. Ditanya apakah pernah membangun jaringan untuk distribusi obat-obatan ini, Basith mengatakan pernah mengajukan kerja sama, yaitu dengan BKPP Annuqayah. Namun, kerja sama itu batal karena obat-obatan yang ada di BKPP hanya untuk dijual. Tidak ada yang gratis. Menurut Basith, selama ini obat-obat diberikan kepada santri yang sakit secara cuma-cuma. Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun.
Ketidakberhasilan Orkesen dalam memberantas penyakit kulit ini dibenarkan oleh Syamsuni (21), salah satu santri yang berasal dari Dungkek, Sumenep. Dia mengidap penyakit koreng dan gatal-gatal sudah agak lama. Hingga kini hanya penyakit korengnya yang sembuh, sedang gatal-gatal masih menderanya. Korengnya pun bukan sembuh total. “Kadang-kadang kalau makan-makanan yang berlemak koreng saya bisa tumbuh kembali,” kata ketua Perpustakaan Annuqayah ini. Dia mengatakan, dirinya bahkan lebih enak dirawat di rumah ketimbang ditangani oleh Orkesen. Karena di rumahnya perawatan lebih intensif dan betul-betul diperhatikan. Dia sembuh dari penaykit koreng karena berkat perawatan orang tuanya di rumah. Ini pula, menurutnya, yang menyebabkan tingkat kepulangan santri mengalami fluktuasi.
Agenda Orkesen ke depan adalah membangun kerjasama dengan departemen Kebersihan Lingkungan Hidup (KLH). Dalam kontrak kerjasama itu disepakati untuk intens menjaga kebersihan lingkungan PPA Lubangsa Selatan. Agenda ini akan dikongkritkan dengan mengaktifkan kebersihan tiap pagi dan menguas kamar mandi minimal satu kali seminggu. Motor penggerak agenda ini adalah Forum Komunikasi Seni (FKS) yang menjadi bawahan dari depertemen Orkesen.
Agenda lain Orkesen yang belum terealisasi adalah memberikan penyuluhan kesehatan kepada santri. Dalam agenda ini kembali Orkesen menggaet BKPP untuk kerjasama. Pihak BKPP sudah menyanggupi, namun sampai saat ini kesanggupan mereka belum jua terbukti. Untuk periode sebelumnya penyuluhan memang pernah dilakukan, bahkan pernah mendatangkan seorang dokter dari Surabaya.
Sebagaimana diberitakan ini beberapa waktu lalu, penyakit mata telah mewabah di beberapa daerah selain PPA Lubangsa Selatan. Ditanya antisipasi apa yang akan diambil oleh departemen Orkesen, Abd. Basith belum bisa menegaskan secara rinci. “Kami belum bisa memastikan antisipasinya. Tapi, kami coba mancari jalan keluarnya, misalnya membiasakan kehidupan santri yang bersih dan menghindari tertularnya penyakit mata tersebut,” katanya mengakhiri perbincangan.